
“Xiu Huan! Hai kawan lama… Apa kabar…” kata Yuan Di ketika melihat Xiu Huan. Lalu mereka berdua melakukan tos.
“Hai. Oh ini kamu, Ellena?” sapa ketika melihatku.
“Iya. Eh, Kamu,… beneran si kutu buku Xiu Huan?” tanyaku takjub.
Penampilannya sangat berubah. Sekarang ini ia tidak lagi menggunakan kacamata tebal. Juga proporsi badannya, meski tidak sebagus Yuan Di, tetapi tidak jelek juga. Ia mengangguk mantap.
“Kenalkan, ini Lisa, teman baikku. Kami baru saja kehilangan pekerjaan, dan kamipun diusir dari tempat tinggal kami… Yuan Di mengajak kami kemari. Maafkan aku harus bertemu dalam keadaan seperti ini…”
Lisa memberikan salam kepada Xiu Huan.
“Ah kita semua adalah kawan lama. Jangan pernah sungkan kepadaku. Yuan Di sudah meneleponku tadi. Kalian bisa tinggal di sini untuk sementara. Karena ini peternakan, eh, mungkin kalian akan sedikit tidak terbiasa bau-bauan yang ada...” kata Xiu Huan sambil tertawa.
“Xiu Huan adalah manajer peternakan ini. Dia memiliki cukup banyak kebebasan untuk mengatur segala sesuatu di peternakan ini.” Terang Yuan Di.
“Nah, kalian dari jauh, ayo masuk ke ruang makan dulu, silakan makan makanan khas pedesaan kami.” Ajak Xiu Huan.
Di meja makan sudah disediakan beberapa macam sayur dan lauk.
Akhirnya kami makan bersama, dan Xiu Huan menjelaskan beberapa hal.
“Di Peternakan Sapi ini terdapat 50 ribu ekor sapi perah dan sapi pedaging, dan memiliki luasan sekitar 12 juta hektar. Namanya adalah Moow Dairy dan Moow Beef. Kebetulan, aku yang menjadi manajer di sini. Kalau kalian membutuhkan sesuatu, jangan sungkan mengatakannya kepadaku. Kami beroperasi di bawah grup RUBY FOOD.”
Sebagai orang restoran, tentu saja kami berdua tahu Ruby Food. Salah satu konglomerasi produsen daging dan susu terbesar dunia.
“Yuan Di sudah mengatakan kepadaku, kalian adalah orang-orang yang berpengalaman di dunia rumah makan. Dan kebetulan, Moow Dairy dan Moow Beef sedang membutuhkan beberapa pekerja baru untuk restoran kami.”
“Selain memiliki peternakan sapi, kami juga membuka wisata pembelajaran, dan memiliki area restoran serta penjualan produk peternakan seperti daging sapi, susu, dan yoghurt.”
“Cuaca di sini cukup ekstrem, saat musim dingin bisa mencapai suhu 3 derajat Celsius dan saat musim panas bisa mencapai 32 derajat. Huangsan (Yellow Mountain) terdapat di sebelah barat kita. Kita dapat melihatnya dari sini. Sangat indah, terutama saat awan terlihat menyentuh puncak-puncaknya. Sungai YangTze juga mengalir melewati Anhui. Kota ini cukup moder, terdapat beberapa Plaza berkelas internasional.”
“Dan restoran kami juga merupakan restoran Internasional, sehingga menyajikan juga western food. Kami sedang mencari chef dan juga beberapa pelayan tambahan. Selain itu, kalian juga bisa bekerja di bidang yang lain, kebetulan kami membutuhkan juga tenaga administrasi di perkantoran kami dan juga tenaga lapangan di peternakan.”
__ADS_1
“Kalian cobalah mendaftar ke salah satu bidang yang kalian rasa cocok, tetapi kalian masih harus menyiapkan profil dan lamaran kalian, serta tetap mengikuti interview. Tapi jangan kuatir, aku yakin dengan kemampuan orang yang di bawa Yuan Di, pasti tidak akan mengecewakan. Kalian akan mudah lulus, ujian yang sesungguhnya adalah saat kalian sudah masuk diterima di sini.”
“Bagaimana menurut kalian?” tanya Yuan Di.
“Kak Yuan Di, tentu saja kami sangat menghargai kesempatan yang diberikan, kami tidak akan melewatkannya. Terimakasih banyak, kak Yuan Di, kak Xiu Huan.” Kami berdua mengucapkan terimakasih kepada mereka.
“Kalian siapkanlah CV kalian dan lamaran kerja kalian, pergunakanlah komputer kantorku setelah selesai jam kerja, lalu besok kalian akan di antar ke kantor manajemen yang bersangkutan untuk interview.”
“Malam ini kalian adalah tamu, dan bukan karyawan di sini, jadi kalian tinggallah di kamar tamu. Sesudah kalian diterima kerja, kalian dapat tidur di bangsal karyawan. Namun tempatku ini akan selalu terbuka untuk kalian berdua kapanpun kalian mau datang kemari karena kalian adalah temanku.”
“Terimakasih kak.”
Sebentar kemudian seorang pelayan datang membantu membawakan koper kami dan mengajak kami ke kamar.
“Selamat siang nona. Mari ikut saya.”
Aku dan Lisa mengikuti pelayan tersebut, diantarkan ke sebuah kamar tamu. Memang tampak sederhana, tapi lumayan, kamar ber-AC dan tempat tidurnya juga dari springbed. Ada juga TV 32 inch layar datar dan meja kursi. Persis seperti kamar hotel dengan kamar mandi dalam.
“Silakan Nona, kalau nona memerlukan wifi maka passwordnya adalah satu kata lima huruf. Silakan beristirahat.” Kemudian pelayan itu meninggalkan kami.
“Aku tidak tahu apakah Tuhan memang memberi kesempatan, tapi aku tahu kesempatan itu ada di tangan kita. Sekarang istirahatlah dulu, aku masih ngantuk sekali setelah semalam mengais di tempat sampah. Nanti malam aku akan menyiapkan CV dan lamaran kerja, meminjam kantor kak Xiu Huan.”
“Ah, iya, kau mau mendaftar menjadi apa?”
“Aku akan mencoba sebagai Chef. Kalau kamu?”
“Aku tidak punya kemampuan sepertimu. Aku mungkin melamar menjadi pelayan saja, tapi bekerjas ebagai pelayan di grup sebesar ini juga merupakan kenaikan kelas bukan? Hahaha”
“Iya sih. Tapi kau bisa memilih divisi lain juga, perkantoran, mungkin? Atau petugas lapangan peternakan?”
“Oh nononono. Aku takut sama sapi.”
“Hahaha.”
__ADS_1
Lisa segera merebahkan dirinya di Kasur, dan kemudian berdiri lagi, rebah lagi, berdiri lagi. Wah empuk sekali! Lalu ia menyetel televisi. Hah, bahkan ada saluran TV kabelnya!
“Benar-benar beruntung kita mengenal kak Xiu Huan itu, ia jelas memiliki posisi tinggi di sini, El.” Gumam Lisa terkagum-kagum.
“Ya, kan memang posisinya manajer.”
“Eh, bagaimana, kau tertarik kepada dia tidak? Atau kau tertarik kepada kak Yuan Di? Keduanya sama baik, tapi aku menyarankanmu, kau dekati saja kak Xiu Huan, posisi kerjanya sudah jelas hehehe.”
“Hush. Mereka ini teman-teman dari SD ku dulu. Sedang kak Yuan Di, dia sudah seperti kakakku sendiri. Lain kali aku akan ceritakan lebih banyak. Eh, Lisa, apa password wifinya tadi?”
“Hah? Katanya satu kata lima huruf, tapi dia tidak memberitahu kita apa. Bukannya password harus minimal enam huruf ya, wah, ngerjain kita tuh pelayan.”
“OK, sudah menyambung.”
“Hah? Kok bisa, kamu sudah memecahkan teka teki passwordnya?”
“Tidak ada teka-teki.”
“Lho, passwordnya apa?”
“Satu kata lima huruf,” jawabku.
“Itu juga aku tahu, apaan sih passwordnya? Beneran cuma lima huruf?” tanya Lisa heran.
Aku tertawa. “Hehehe. Passwordnya satu kata lima huruf.”
“Huh, ngomong aja sama pohon.”
Sore harinya, Yuan Di dan Xiu Huan mengetuk pintu kamar kami.
“Kalian sudah selesai mandi?”
Kami baru saja selesai mandi, aku sedang mengeringkan rambutku, karena aku kuatir bau sampah yang aku bongkar semalam masih menempel di rambutku. Kupakai sedikit polesan ringan di wajah.
__ADS_1
“Ayo kita minum teh di kebun. Lihatlah pemandangan yang sangat indah, mengarah ke gunung Huangshan.”
Nikmat sekali hidup dekat dengan alam. Meski peternakan sudah tidak benar-benar alamiah, namun sangat segar karena terdapat banyak tanaman dan rumput.