Kisah Tuan Muda Yuan

Kisah Tuan Muda Yuan
BAB 6


__ADS_3

“Bagaimana kau bisa membereskan preman-preman itu?” tanyaku heran.


“Mereka hanya anak-anak yang cukup disanjung dengan sanjungan kosong saja. Gayanya memang seperti itu, tapi otaknya kosong.”


“Aku akan membereskan shiftku, dan kemudian kita akan ke Cafe de Amore?”


“Ayo saja.”


Petugas shift kedua sudah bersiap. Mereka cukup terkejut melihat kenyataan bahwa tidak ada kejadian apa-apa di perjamuan makan siang ini.


Wewei, kepala kelompok shift sore, bertanya. “Aku mendengar pak King tidak masuk, juga kak Ho, sedang diare, lalu siapa yang membantu kalian memasak?”


Aku segera bertanya balik, “Pak King memang tidak masuk, tapi kak Ho diare, darimana kalian tahu?”


“Eh, kami juga sudah mendengarnya...”


“Kalau begitu, mengapa kau tidak membantu? Atau setidaknya meminta Chef kalian membantu kami?”


“Tidak bisa, chef kami juga perlu istirahat untuk tugas sore hari. Itu adalah tugasmu untuk mencari chef pengganti, dan aku akui, kau berhasil meminta bantuan dari orang baru itu, kan?” tanya Wewei menunjuk Yuan Di.


“Kau benar, dia memang membantu kami memasak. Sudahlah, aku ingin segera menyerahkan shift kepada kelompokmu.”


Aku sudah sangat lelah. Tapi setidaknya aku curiga bahwa kejadian hari ini, kecuali preman gila itu, adalah rencana mereka. Entah dari paman dan bibi, atau memang ulah mereka sendiri. Jam 15 kami menukar shift, dan aku segera berangkat ke Cafe de Amore bersama Yuan Di.


Di cafe itu, kami dulu sering datang bersama. Ayah dan ibu angkatku, Yuand Di, dan aku. Ayah suka meminum coklat panas, sedangkan Ibu suka smoothis jeruk. Sedangkan aku suka dengan coklat dingin, dan Yuan Di suka es krim.


Yaun Di melihat Cafe yang sudah banyak berubah, namun ia masih bisa mengenali beberapa bagiannya.


Kami duduk di pojokan, memesan coklat dingin dan es krim.


“Kota ini sudah banyak berubah, tampaknya, Resto Taman Masakan juga ada perubahan yang tidak kuketahui? Adik Peng, apakah kamu mau menceritakannya keapada kakakmu ini? Bagaimanapun juga, aku memiliki utang budi pada paman dan bibi, aku ingin melakukan sesuatu yang bisa aku lakukan.”


“Kak Yuan Di, ayah ibu setengah tahun lalu meninggal karena kecelakaan. Aku menduga ada yang tidak wajar, tapi polisi menyatakan ini sebagai kecelakaan tunggal. Mobil yang ditumpangi mereka, tercebur ke sungai dan mereka meninggal. Diduga rem blong. Namun, ayahku termasuk selalu rutin melakukan pengecekan, dan tidak pernah memodifikasi mobil. Yang paling aneh lagi, tiba-tiba saja kepemilikan restoran bisa beralih kepada paman dan bibi Jerry.”

__ADS_1


“Oh, seharusnya restoran ini jatuh ke tanganmu, tapi malah mereka mengambil alihnya?”


“Betul sekali. Makanlah es krim mu, kak Yuan Di.”


“Maafkan aku, aku sudah lama sekali tidak kemari, bahkan aku tidak tahu apa yang menimpa keluarga paman dan bibi... Kau pasti sudah menderita...”


“Kak Yuan Di sendiri kemana saja?”


“Oh aku... hehehe. Tidak ada yang menarik dari hidupku, sejak aku lulus SD, aku kemudian kembali ke orang tuaku. Kau tahu kan, waktu pertama kali kita bertemu, aku sedang ngambek dan minggat dari orang tuaku. Tidak sangka aku malah dititipkan di tempat paman dan bibi. Baru setelah lulus SD, aku dijemput paksa oleh orang tuaku. Kau tidak tahu, aku sangat marah besar. Tapi aku tidak bisa minggat lagi, benar-benar diawasi dengan ketat. Bahkan sekolahpun aku memakai metode home schooling sambil diawasi.”


“Hahaha. Enaknya, bisa sekolah dari rumah.”


“Tapi aku tidak punya teman. Dan aku menenggelamkan diri ke dalam duniaku sendiri, tidak bergaul keluar. Tapi yang namanya anak-anak, tidak akan selamanya menjadi anak-anak. Lama-lama aku diperlakukan sebagai orang yang lebih dewasa. Tidak terlalu dipingit lagi.”


“Hahaha. Aku membayangkan kak Yuan Di dipingit seperti anak gadis di desa-desa jaman dulu, dipingit. Hahaha.”


Kami berdua tertawa dan saling melepas rindu. Meski kak Yuan Di ingin sekali mendengar lebih lanjut mengenai apa yang menimpa diriku, tapi kak Yuan Di kelihatan menahan dirinya, ia jelas tidak mau aku menceritakan hal-hal yang akan membuat aku sedih. Ia lebih banyak bercanda, dan menyenangkan hatiku. Benar-benar menyenangkan mempunyai seorang kakak seperti dirinya.


Namun akhirnya waktu juga menjadi malam. Malam yang harusnya aku sukai. Tapi hari ini aku justru ingin malam tidak datang. Kami akhirnya kembali ke restoran saat jam sudah menunjukkan jam sembilan malam. Kami tidak masuk ke restoran, melainkan langsung lewat jalan samping untuk ke mess.


Kami berdiri di depan pintu halaman mess. “Kak Yuan Di menginap di mana? Kalau saja restoran ini masih menjadi milikku... Kak Yuan Di pasti bisa menginap di sini...” kataku, kembali kepada realita.


“Tidak apa, besok aku akan kemari lagi.” kak Yuan Di membelai rambutku, lalu memelukku dengan erat. “Kau bisa menghubungiku kapan saja lewat chatting.”


Akhirnya kak Yuan Di melepaskan pelukannya dan berpisah denganku.


Aku masuk ke dalam mess dan langsung menuju kamar.


Aku melihat Lisa sedang murung, bahkan wajahnya habis menangis.


“Ada apa, Lisa?”


“Ellena!!!! Huaaaaa....” tiba-tiba Lisa menghampiriku, memelukku dan menangis keras. “Kemana saja kau Ellena... Hiks...”

__ADS_1


Aku mencoba menenangkan Lisa. “Tenang dulu, Lisa, ada apa ini?”


“Hiks.... Tuan Jerry Peng telepon marah-marah mencarimu, karena kau tidak dapat dihubungi, maka akulah yang diteleponnya.”


“Marah-marah kenapa? Bukannya tidak ada masalah dengan restoran?”


“Itulah yang aku katakan kepada Tuan Jerry. Tapi tetap saja menurutnya, kita berbuat satu kesalahan yang sangat besar, dengan mempekerjakan chef tambahan. Setengah dari tamu VIP siang tadi, mengalami diare setelah makan dari restoran kita. Akibatnya, Restoran harus menanggung biaya perawatan tamu-tamu itu!”


“Apa? Kalau begitu bagaimana dengan para tamu kita? Aku harus ke rumah sakit. Di rumah sakit mana?”


“Tuan Jerry mengatakan, urusan para tamu sudah diurus oleh Wei-wei. Kita dilarang menemui para tamu untuk mencegah kemarahan mereka lebih lanjut. Tapi Tuan Jerry membebankan kerugian gara-gara perawatan itu kepada kelompok kita. Kecuali kepada Wen-wen yang mengantar kak Ho ke rumah sakit. Kita harus menanggung biaya perawatan dengan rata. Huaaaa....”


Setelah kak Ho ya diare, tiba-tiba saja, para tamu juga diare? Sepertinya terlalu kebetulan? Tidak bisa, ini sudah keterlaluan. Saat kak Ho diare, aku sudah curiga pasti ada yang bermain, tapi kau tidak bisa membuktikannya. Aku harus melihat CCTV dapur. Tapi kalau sekarang, mungkin sudah terlambat. Aku kurang cepat.


“Tenang dulu. Aku akan menelepon paman.”


“Jangan, itu akan membuatnya semakin marah.”


“Lalu harus bagaimana?”


“Kalau tidak mau menanggung ganti perawatannya, maka kita semua satu kelompok akan dipecat.”


“Apa?”


“Termasuk kak Ho. Kak Ho justru menjadi tersangka utamanya di sini. Dia dinilai lalai memakai bahan yang jelek, sehingga dirinya sebagai chef, juga ikut terkena diare, dan sudah tahu kalau dirinya diare, tetap menggunakan bahan yang sama untuk disajikan kepada para tamu. Kau terkena imbasnya.”


“Ah, paman ini keterlaluan. Karena sangat menginginkan aku keluar, jadi menggangu kelompokku. Tidak bisa. Kalau dia mau aku keluaar, keluarkan saja aku, jangan ganggu teman-temanku yang tidak bersalah. Dia hanya mau membuatku bertambah merasa salah.”


“Biarlah kesalahan ini menjadi bebanku.”


“Tidak bisa, Ellena. Kalau kau dipecat, aku akan ikut kamu. Ayo kita cari pekerjaan di tempat lain. Atau membuat resto sendiri!”


Aku juga merasa sesak dan tidak dapat menjawabnya.

__ADS_1


__ADS_2