Kisahku (Patah Hati)

Kisahku (Patah Hati)
Melanjutkan Perjalanan


__ADS_3

Tak terasa waktu istirahat pun berlalu dan sekarang saatnya melanjutkan perjalanan. Semua orang sudah duduk ditempatnya masing-masing. Pak sopir mulai melajukan busnya memasuki area jalan tol lagi. Suara rintik-rintik hujan yang terdengar disertai suhu udara yang semakin dingin. Bus melaju dengan hati-hati.


"Dek." panggil mas Agung.


"hmm." sahutku dengan mata masih terpejam.


"Ya udah lanjut tidur aja. Biar mas yang jagain" ucapnya.


Aku pun melanjutkan tidurku dan tidak menghiraukan suara sekeliling yang mulai ramai karena kondisi jalan macet.


Suara rintik hujan masih terdengar namun tidak sederas tadi.


Entah sudah berapa lama bus ini terjebak macet. Sudah berapa lama juga aku tertidur.


"Dek...dek...bangun dek..."ucap mas Agung membangunkanku.


Ku buka mataku perlahan dan melihat wajahnya tepat didepan mukaku. Aku kaget dan melihat kearah lain sambil berkata "ada apa mas?" ucapku pelan.


"Kita harus pindah bus dek, ayo turun dan ambil semua barang-barangmu."ucapnya lagi.


Aku pun mengikuti ucapanya kemudian turun melalu pintu belakang dan jalan mengikuti orang di depanku.

__ADS_1


Aku duduk di belakang bus bersama beberapa penumpang lain.


"ternyata kamu disini ya dek." kata mas Agung sambil menarik nafas panjang.


"aku emang dari tadi duduk disini. Lho memangnya kenapa?" jawabku seenaknya.


"kamu dari Jakarta bareng saya jadi kamu selamat sampai tujuan itu tanggung jawab saya."ucapnya tegas.


Deg...seketika aku terpesona dengan kata-katanya dan rasa tanggung jawabnya. Padahal kita baru bertemu dan kenal tapi dia merasa bahwa aku adalah tanggung jawabnya yang harus dijaga.


Cukup lama sudah kami menunggu dan bus pengganti pun datang. Namanya saja bus pengganti pasti yang datang tidak seenak bus yang pertama belum lagi harus berebutan untuk masuk.


Perjalanan panjang dimulai lagi. Tapi sepertinya rasa kantuk pun hilang dan aku memutuskan untuk mengobrol dengannya mumpung kami duduk bersebelahan.


"ikut proyek kuli bangunan."


"sudah berapa lama mas tinggal di Jakarta?"


"Dari orde baru lah."


"hah..." ucapku sambil mengeryitkan dahi seakan tak percaya.

__ADS_1


Dia tertawa tergelak melihat ekspresi mukaku. Seketika aku tersadar kalau dia sedang mengerjaiku.


"kalau kamu dek, di Jakarta kerja apa? tinggal dimana sama siapa?" tanyanya.


"Tenang mas satu-satu aja nanyanya. Perjalanan kita masih lama."ucapku sambil tertawa." aku kerja di PT garment. Tinggal di Cakung dan sendirian."


"berani kamu dek tinggal sendirian?" tanyanya seakan tak percaya.


"berani lah mas. Kan aku udah gede." ucapku membanggakan diri.


"hahaahaa."


"kok malah ketawa sih mas, nda jelas."


"Gak pa-pa kok dek." sahutnya sambil tersenyum.


"memangnya kamu sayang banget ya sama adikmu?"


"kalo bukan aku yang sayang ke mereka siapa lagi." jawabku


"ohhh...pantes kamu pulang bawa oleh-oleh banyak begitu." ucap mas Agung sambil menujuk keatah tas yang dibawah tempat duduk kami.

__ADS_1


Entah apa saja yang kami perbincangkan mulai dari keluarga, teman kerja dan keseharian atau kekonyolan kalo lagi sendiri. Obrolan semakin akrab dan sesekali diselingi dengan canda dan tawa. Tidak akan ada yang menyangka kalau kami baru saja bertemu hari ini. Kami bagaikan sepasang kekasih yang melakukan perjalanan jauh. Aku yang merasakan perhatian dan kasih sayang tulus ohh tidak bukan kasih sayang melainkan rasa kasihan yang muncul ketika melihat orang lain kesusahan. Bukankah itu hal yang wajar. Sesama mahluk harus saling tolong menolong.


__ADS_2