Kisahku (Patah Hati)

Kisahku (Patah Hati)
Berpisah untuk bertemu kembali


__ADS_3

Jam menunjukan pukul 03.00 wib dini hari. Bus yang kami tumpangi sudah sampai daerah Tegal berarti tinggal satu jam lagi aku sampai rumah.


"lho mas kok udah siap-siap aja. Kan Comal masih jauh." kata Zahra.


"aku turun depan alun-alun Pemalang dek." jawab mas Agung.


"bukannya mas beli tiketnya ke Comal ya."ucapku heran.


"iya kan itu buat nemenin kamu. Biar kamu nggak binggung."


"aku fikir mas orang Comal lho. Soalnya kok mau gitu tak ikutin."


"heheehee."


"kok malah ketawa sih." ucapku makin bingung.


"Tak tinggal sendirian berani nggak?"

__ADS_1


"berani lah mas. Udah deket ini."


"nanti kalo kamu sudah sampai rumah kabarin ya." ucap mas Agung sambil berpamitan.


"iya...siip." sahutku singkat.


Bus berhenti tepat di depan Alun-alun kota Pemalang. Sebelum turun Mas Agung menoleh sebentar kearahku sambil tersenyum. Aku tau maksud dari senyumnya itu. Dia pasti khawatir meninggalkanku sendirian di bus tanpa orang yang ku kenal.


Bus pun melanjutkan perjalanannya.


Sesekali bus berhenti untuk menurunkan penumpang.


"Berhenti di depan masjid itu ya pak." ucapku sambil menunjuk arah masjid.


"iya neng." jawab pak supir.


Aku turun dari bus langsung banyak tukang ojek yang menghampiri.

__ADS_1


"ojek neng." kata salah seorang bapak tukang ojek.


"tidak pak. Udah jemput." jawabku ramah.


Jarak dari jalan raya kerumahku lumayan dekat. Jadi seandainya aku tidak jemput pun masih berani jalan sendirian. Meskipun kondisi jalan masih gelap dan sepi.


Aku meyeberangi jalan raya kemudian berjalan pelan kulihat dari sebrang jembatan ibuku sudah menungguku.


Sesampainya dirumah. Aku langsung masuk dan kulihat sekeliling sepi. Mungkin karena adik-adikku belum pada bangun. Aku berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian menyalakan kompor dan menyeduh teh hangat. Setelah menghabiskan segelas teh manis hangat aku masuk kamar adik perempuanku dan ikut membaringkan tubuh yang lelah karena perjalanan.


"lumayan masih ada waktu setengah jam buat ngelurusin punggung." Ucapku pelan. Sedangkan ibuku malah memasukan pakaian kotor kedalam mesin cuci. Kemudian melanjutkan membereskan rumah. Waktu subuh pun tiba. Terdengar suara ketukan pintu dan suara ibuku yang membangunkan aku dan kedua adikku.


"Zah...bangun nak. Udah subuh." panggil ibu.


Aku terbangun dan menepuk-nepuk pelan pundak adikku. "de'...bangun. Udah subuh."Ucapku dan adikku terbangun sambil meregangkan otot-otot tubuhnya. Kami berduan berjalan kekamar mandi dan disusul adikku yang cowok.


Jauh sebelum Zahra merantau mereka bertiga memang sering sholat subuh berjamaah di mushola terdekat. Jadi ketika Zahra pulang kampung pun mereka selalu melakukannya. Selain sholat subuh berjamaah mereka juga sering joging bersama diwaktu libur sekolah, karena menurut Zahra itu adalah quality time terbaik bersama adik-adiknya karena disela-sela joging adik-adiknya suka bercerita banyak hal. Mulai dari tugas guru yang susah, ada teman yang disuka atau tidak, dan banyak hal lainnya.

__ADS_1


Zahra memang sangat dekat dengan adik-adiknya. Hal sekecil apapun tetang adik-adiknya Zahra selalu tahu. Walau pun Zahra jauh dari keluarga.


Sepulang joging Zahra selalu menyapu halaman dan adik yang perempuan bertugas menjemur pakaian sedangkan yang cowok mencuci sepeda yang dipergunakan setiap hari. Maklumlah Zahra ini orangnya penyayang tapi kalo soal mendidik adik-adiknya dia sedikit tegas makanya tak heran kalo kedua adik-adiknya tidak ada yang bisa mengendarai sepeda motor padahal mereka udah masuk sekolah SMA semua. Bukan hanya itu gadget pun adik-adik Zahra tak punya dan di rumah itu hanya ada satu gadget yang khusus digunakan untuk menghubungi dirinya saja.


__ADS_2