
Lima jam sudah perjalanan yang Zahra tempuh. Sesampainya diterminal Zahra langsung turun dan berjalan menuju lantai dasar untuk mencari ojek. Namun ketika Zahra lewat depan mushola tiba-tiba ada yang berteriak memanggil namanya.
"Zahra!!! Zahra!!! Zahra!!!" Teriak mas Agung.
"Lho kok kamu masih disini mas?" Tanya Zahra heran, karena setahu dia mas Agung sudah sampai diterminal 2 jam yang lalu.
"Iya tadi sholat dzuhur dulu terus lanjut masuk sholat azhar" sahut mas Agung.
"Oh...terus ini mas baru mau pulang?ya udah ayo barengan aja naik busway atau angkot." Ajak Zahra.
"Ya udah ayo jalan." Jawab mas Agung.
Sambil berjalan keluar terminal mereka terus berbincang-bincang hingga akhirnya sampai diparkiran.
"Kamu tunggu sini dulu. Aku ada urusan bentar." Kata mas Agung.
"Iya." Sahut Zahra.
Sudah lima menit Zahra menunggu, kemudian terdengar suara.
"Ayo naik. Aku anterin kamu pulang." Ucap mas Agung.
Zahra pun bengong dan tengelam dalam pikirannya sendiri,
"tadi katanya mau naik angkot bareng kok dia naik motor sih. Ini motor dapat dari mana lagi."
Kemudian terdengar lagi suaranya mengajak Zahra untuk segera naik motor.
"Heiii lagi mikirin apa sih, kok bengong begitu, ayo naik. Buruan. Mau pulang nggak." Ucap mas Agung lagi.
"Ehh iya maaf." Kata Zahra sambil naik keatas motor.
Motor berjalan pelan meninggalkan parkiran terminal. Didalam perjalanan mereka melanjutkan obrolannya.
"Kok mas bisa dapat motor sih. Ini motor siapa mas?" Tanya Zahra keheranan karena pikirnya mereka bakalan naik angkot bareng yang kebetulan arahnya sama.
"Ini motor saya. Kan pas kemarin pulkam aku titipin diparkiran terminal." Ucap mas Agung.
__ADS_1
"Emang parkiran terminal bisa gitu dititipin berhari-hari?" Tanya Zahra.
"Bisa asalkan bawa fotocopy sama STNK asli aja buat nanti ngambil motornya." Jawab mas Agung.
"Oh begitu...aku baru tau lho." Sahut Zahra.
"Lapar nggak?makan dulu yuk." Ajak mas Agung.
"Wah gawat nih duit cuma tinggal 50rb gimana bisa bayar taruhan yang tadi yah." Ucap Zahra dalam hati.
"Heiii...jawab, laper nggak?" Ucap mas agung lagi.
"Iya laper. Gimana kalo kita makan mie ayam aja yang dipinggir jalan." Ajak Zahra.
"Oke deh. Mau dipinggir jalan yang mana?" Ucap mas Agung.
"Terserah. Kan mas yang tau jalan. Aku mana tau jalan apalagi yang jualan mie ayam deket sini." Sahut Zahra.
"Syukurlah dia mau aku ajak makan mie ayam. Gak apa-apa deh dipinggir jalan. Mudah-mudahan aja uang sisa ongkos dari kampung cukup." Dalam hati Zahra.
Akhirnya mereka pun sampai ditukang jualan mie ayam.
"Iya mas. Silahkan duduk dulu." Sahut penjual mie ayam.
"Kamu mau minum apa?" Tanya mas Agung sambil menatapku.
Deg...deg....deg...
"Tuhan ada apa dengan jantungku. Apa ini yang namanya anak rusa menendang-nendang badai." Dalam hati Zahra.
"Heiii... mau minum apa? Udah lapar banget ya. Makanya bengong terus." Ucap mas Agung.
"Hehehe....aku air mineral itu aja yang botol tapi jangan dingin ya." Jawab Zahra.
"Aduhhh tadi aku mikir apaan sih kok sampai bengong lagi." Dalam hati Zahra.
"Nih, udah aku ambilin. Minum dulu jangan bengong terus." Kata mas Agung sambil meletakan air mineral didepanku.
__ADS_1
"Iya." Ucap Zahra singkat.
Beberapa saat kemudian pesanan kami datang. Kami menikmatinya tanpa bersuara sedikit pun seolah hanyut dengan rasa nikmat ketika memakan mie ayam dalam keadaan perut yang kelaparan sedari tadi.
"Udah selesai belum makannya?" Tanya mas Agung tiba-tiba.
"Belum mas." Sahut Zahra.
"Itu sekalian sayurnya dihabisin." Ucap mas Agung.
"Gak apa-apa mas, gak begitu suka sayur aku." Kata Zahra.
Mas Agung berjalan mengahampiri penjual dan berbisik.
"Berapa pak semuanya?"
"Tambahannya apa aja mas?"
"Itu lontong 2 sama air mineral 2 juga."
"Semuanya 35.000 mas."
"Ini pak." Sambil menyodorkan satu lembar uang 50.000 an.
Setelah selesai membayar mas Agung kembali duduk disebelah Zahra.
"Udah selesai mas." Ucap Zahra.
"Ya udah ayo pulang." Sahut mas Agung.
"Bentar aku bayar dulu. Kan tadi perjanjiannya yang kalah harus tlaktir."
"Gak usah. Udah ayo langsung pulang aja." Ucap mas Agung.
"Lho gimana masa makan gak bayar." Sahut Zahra.
"Gak apa-apa yang jualan Om aku, ora Pemalang juga dia." Jawab mas Agung.
__ADS_1
Akhirnya Zahra pun nurut dan naik keatas motor. Mereka pun melanjutkan perjalannya lagi. Sebelumnya mas Agung mengantar Zahra duluan sampai kontrakan kemudian baru sendirinya pulang kekontrakannya yang jaraknya lumayan jauh.