Korban Cinta Oppa

Korban Cinta Oppa
Bab 10. Di Malam yang Mendung


__ADS_3

Ting!


[Ke jendela yuk!]


"Ini anak emang suka banget gentayangan sehabis Maghrib!"


Kaki ini langsung mengarah ke jendela, menyibak tirai biru laut dengan motif bunga-bunga putih yang terpasang manis. Bersenandung kecil seraya membuka daun jendela memenuhi panggilan si Arin. Untung dasarnya agak lebar, aku bisa duduk lega tanpa gantung sebelah.


"Mimin!"


"Allahu Akbar kariim! Kau yah ...!!"


Mengagetkan saja. Ini jantung sudah dipastikan tak bertali, jadi kalau jatuh gimana? Apa gak bertambah namaku menjadi almarhumah Mina, lagipula dia itu ada-ada saja, tidak tahu aku ini tukang kaget.


"Wkwkwkkw, segitunya dih ..."


Segitunya dia bilang? Coba kalau nanti gantian, bagaimana reaksinya yah?


"Ngagetin juga kira-kira! Nanti kalau terjadi sesuatu gimana?"


"Alah lebay amat sih! Lagipula aku tahu jantungmu itu kan bukan jantung normal." Kilahnya.


Aneh. Kalau jantungku gak normal, berarti aku pesakitan maksudnya?


"Sembarangan kau! Doain aku penyakit jantung?"


"Bukan Mina-ya. Aigooooo!!! Kau itu sensitif sekali. Maksudku jantungmu tidak normal karena tidak pernah berdebar."


"Astaghfirullah! Sini dekat dan rasakan, kalau tidak berdebar bagaimana aku masih bisa berdiri di depanmu Arin???"


"Ah sudahlah! Intinya kau memang tidak normal!"


Huuffhhh!


Makhluk random itu memperbaiki posisi tubuhnya di jendela. Dari yang tadinya berdiri sambil bertopang dagu, kini duduk memenuhi bingkai jendelanya sendiri dan menaruh kaki ke arah luar. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai, acak-acakan karena jarang di sisir. Itu katanya, karena dia itu tipe yang malas segala-gala. Kalau tidak salah dua bulan lalu masih sebahu deh, sekarang ada pertambahan, sepinggang.


"Itu rambut diikat napa!? Kek Kunti pesugihan!"


Arin malah mengibas-ibaskannya beberapa kali, makin amburadullah ceritanya. Hiiiii!!! Jadi parno itu Arin apa bukan ya?


"Ini tuh sengaja diginiin biar natural aja gituh kayak eonni-eonni Koreah."


"Bukan kayak eooni, jatuhnya malah kayak keonnilanak tahu!"


"Ishh sembarangan!"

__ADS_1


"Yaudah paan? Manggil ke sini maksudnya gimana?" Aku mulai tak sabar.


"Kau ini ... Kan biasanya juga kita nongkrong di mari! Apa mau ke alun-alun lagi?"


"Gak deh kalo sekarang. Capek banget karena jaga toko seharian." Aku jujur, meski cuma diam menerima pembayaran dan sesekali memberikan pendapat, tubuh tak bisa memberikan performa terbaiknya untuk tetap terlihat bugar. Bukannya mengeluh, cuma memang yang dirasa seperti itu persis. Kalau jadi Arin mungkin enak, kedua orangtuanya menjadi pegawai bank dan tinggal ongkang-ongkang kaki menerima jajan setiap hari. Sementara dia? Sama kayak aku, pengangguran. Bedanya dia ambil jurusan konseling di kampus yang sama. Tapi janggal deh menurutku, dia ambil konseling, justru bicara dengannya tuh malah membuat orang semakin stres. Kalo tak percaya tanya saja eommanya!


"Gue tuh lagi mikir, gimana cara kita dapetin tiket VIP tanpa keluar banyak duit."


Songong banget sekarang dia malah pake gue-gue segala.


"Yaelah, mana ada yang begituan. Kalau mau VIP, istimewa, yah kudu bayar ekstra lah! Gimana sih Arinta kasian deloo???"


Sorry, nama sebenarnya itu Arinta Maydalene Flo. Entah apa motivasi orangtuanya ngasih itu nama, biar keren dan kekinian mungkin. Yang namanya plesetan kata-kata itu paling enak diucapin lidah tanpa aba-aba. Kayak gue ini, cobain deh kalau gak percaya!


"Untung sahabat, kalo si Mimin beneran gue kepret juga muke Lo!" Ucapnya sebal. Emang kamu doang yang bisa cari gara-gara?


"Yah kamu sih! Mikir itu yang warasan dikit! Harusnya anak konseling tuh kalau cari jalan keluar paling logis gitu, paling real dan bisa dilakuin tanpa kesia-siaan. Wah, pantas gak dapat-dapat kerjaan!"


"Sekali lagi ngomong di luar topik, gue tarik itu congor!"


"Oke! Yaudah lanjut dah mau bilang apa."


"Gue tuh serius! Soalnya bokap Ama nyokap gak bakal kasih uang lebih buat bayar VIP."


Pengen muntah, bener!


"Udah, bersyukur aja tau! Dapet tiket yang biasa aja udah susahnya minta ampun. Konon lagi VIP!" Tidak masalah bagiku tiket apa pun, asalkan jadi nonton. "Nih ya, VIP itu buat orang-orang penting kayak artis, pejabat, pengusaha, lah kita apaan? Seupil Mimin pun belum ada berpenghasilan. Beban keluarga ..."


"Kenyataan ini terlalu pahit Mina-ya." Arin mendongak ke atas memandangi rembulan yang murung karena sinarnya perlahan redup tertutupi hitam. Mendung.


"Sudah kubilang, jangan berandai sesuatu yang jauh, nanti kamu gak bisa naik ojek."


"Gak papa gak naik ojek, masih bisa naik angkot, grab, kereta, dan bus juga."


"Selalu bantah."


Kadang-kadang kesal juga. Arin tuh pemikirannya terlalu gak logis. Dibilang lebih fanatik aku atau dia soal KPop, mungkin semua orang dan semut di lubang semut pun tahu, itu aku. Tapi penyampainnya, cara-caranya, keekstriman dan ***** bengek yang lain justru keluar dari ide out of the boks nya Arin, sumpah!


"Btw, tiket biasanya aja kita belum dapet loh."


"Gue udah coba cari website resmi, dan udah mesan juga, tapi katanya untuk batch pertama ini tiket sudah habis. Tinggal tunggu selanjutnya, kata komputernya tunggu informasi sekitar 3 hari-an lah." Jawab Arin.


"Semoga dapat deh! Aku gak mau kehilangan moment ini seperti tahun lalu."


Pernah dulu, waktu itu kita lagi sibuk-sibuknya kuliah dan jadi anak rajin seantero jagat raya. EXE ngadain world tour dan salah satunya termasuk di negara tercinta ini. Udah wanti-wanti, nabung sampe cuma minum sebutir promagh tiap pagi, hanya demi tujuan bisa kebeli tiket konser. Tau-taunya terkumpul juga di akhir, dan pada saat itu ternyata semua terlambat, guys. Tiket should out! Cuma bisa nangis kejer dua hari semalam sama Arin di loteng rumahnya. Sampe tetangga dan keluarga mencari orang pintar buat memagari rumah, katanya malam-malam terdengar suara perempuan nangis kencang dari arah loteng. Pas dibuka ternyata ... Ada kami berdua.

__ADS_1


"Hahahha Lo ingat gak waktu kita kehabisan tiket konser?" Celetuk Arin bagai tahu apa yang sedang kupikirkan.


"Salah satu peristiwa tersuram dalam hidupku Rin."


"Kalau kali ini gak dapat, gue bakal mudur jadi fansnya EXE!"


"Loh? Bisa begitu?"


"Bisa lah. Kita kan juga berusaha, fans sama dia, masa mereka sediain tiket konsernya sedikit? Sudah tahu fandomnya mendunia tapi pelit juga di situ."


"Kan namanya juga kapasitas Rin. Semisal akuarium ikan mas koki si bang Sat, cuma muat 10 ikan, nah aku taruh 20 ikan lagi, apa yang bakal terjadi?" Aku mencoba memberi perumpamaan, semoga otaknya yang tersembunyi itu mampu memahami.


"Yah sempit lah, sesak gituh."


"Nah, sama kayak konser! Kalau sesak gimana?"


"Yah tinggal merapat aja. Apalagi rapat-rapat sama doi."


"Ishhh! Gak gitu juga Arinnnnn!"


"Kalau sesak di konser nanti bisa di kasih nafas buatan sama oppa min."


"Oppa dari Hongkong! Yah gak bakal lah mereka turun demi ngasih nafas buatan ke kita."


Lama-lama pengen juga menyebrang ke rumah si Arin untuk menoyor kepalanya yang hanya berisi otak udang. Dibilang pintar, tidak. Dibilang bodoh pun tidak. Memang anak aneh begitu.


"Gak pentinglah Min soal sesak atau sempit, penting mereka nyediain tiket yang banyak. Kalau tempatnya kurang, noh mending di lapangan biar masuk banyak."


"Lapangan mana pula?"


"Lapangan bung Karno."


"Astagaaa!! Stadion! Bedain mana stadion dan lapangan dong!"


Sudahlah! Aku stres jika harus bicara dengan Arin. Malam ini otaknya terlalu aktif dan jaringan urat sarafnya terlalu sensitif. Lebih baik tidur meredakan segala penat ditemani Oppa sepanjang malam. Baru saja melangkahkan kaki, Arin berteriak tak karuan.


"Woiii!!! Main tinggal aja!"


"Mau tidur udah!! Sana sleep call sama Juna-mu saja!"


"Oh iya! Beruntung kamu ingatin!"


Jadi-jadian itu malah melipir masuk lebih dahulu sambil menutup, ah bukan, membanting daun jendela keras-keras tanpa merasa bersalah.


Blarrrrrr!!

__ADS_1


"Allahu Akbar!"


__ADS_2