Korban Cinta Oppa

Korban Cinta Oppa
Bab 18. Kau Bagaikan Lampu Jalan Bertenaga Surya


__ADS_3

“Mimin!”


“Kamchagiya!” kaget bukan main, manusia laknat macam Arin ini memang bagusnya dimasukkan ke dalam kerangkeng dan dikirim ke hutan hujan tropis sana. Sudah tahu hari sangat terik mau mengageti orang di toko yang senyap. Entah apalagi yang mau dia perbuat, luar biasa, dia itu tak tertebak. Ada-ada saja tingkah laku yang membuat dada nyut-nyutan.


“Apa sih ... Orang pelan juga.” Ujarnya merasa tak bersalah.


“Pelan kepalamu!”


“Soryy! Eh gue mau tanya, semalam ada nomor baru yang chat atau nelfon Lo gak?”


Umhh ... Kesannya sedikit mencurigakan. Jangan-jangan dia bagi-bagi kontak aku sama orang lalu lalang di jalanan. Pake toa, dan energik pakai tari-tarian K-Pop. Tapi e tapi yah, dia gak sadar gerakan dia itu malah miripnya ngereog.


“No.”


“Masa sih? Nge-dm? Permintaan pesan Facebook? Email?” cecarnya ramai.


“Enggak ada Arinta kasian delooooo! Lo bagi ke siapa lagi kontak gue kali ini??” (Sekian lama telah pasrah).


“Bu-bukan siapa-siapa.” Mimiknya ancur, wajah menguning, mata belo, dan bibir bergetar. Apakah dia sakit?


“Nugu?”


“Hehe ... Aniyo chingu!” Arin berbalik arah hendak kabur lagi dari pembicaraan. Oh tidak bisa dong! Sebelum dia melangkah jauh, kuraih topi Hoodie yang ia pakai, kemudian membuatnya terjengkal ke belakang.


“Ya!!”


Marah lah tu! But i don’t care.


“Siapa lagi? Kalau kamu gak kasih tahu ... Jangan harap mau ditemani pas ketemu Jun-gu!”


“Ah! Lepas dulu!”


Kaitan terlepas. Awas aja kalo mau kabur nanti yah.


“Jadi kemar ...”


“Oh non Arin? Tumben main kesini toh?”


Apaan sih mang Sakti tiba-tiba muncul kek pokemon di mari. Arin jadi terjeda kan ceritanya!


“Sorry dorry stroberi yah non berdua, tapi itu ... Kayaknya ada temen non berdua di tempat kang es dawet lagi ngadem. Maklum, cuacanya panas bingits non.”


“Hah? Teman? Siapa mang?” seingatku gak ada yang janjian mau ketemuan atau datang ke toko deh. Trus siapa yang di sana sambil minum es dawet? Mana letaknya dekat tempat parkir depan, pasti dia lihat ke sini bakal ketemu gue sama Arin, Ini segala numpang ngadem ke sana. Kami berdua berjalan lebih ke depan demi memastikan siapa gerangan yang sedang duduk menikmati teriknya es di bawah dinginnya siang.


“Laki-laki Min!”


“Kok rasanya kenal? Kayak baru-baru aja ketemu gitu lho.”


Kuperjelas lagi mataku yang sudah sedikit rabun jauh. Sedikit lagi ...


“Bengek! Itu kan Juna begooo!” Arin terpekik seakan menyadari sesuatu. “Kan gue ke sini bareng dia!”


What?


Arin sontoloyo!!! Emang bener-bener dah itu bocah songongnya minta maaf! Masa sama pacar sendiri lupa, sampe minta ngadem ke lapak tetangga. Jelas aja nih nanti kalo udah jadi suami istri, si Juna tuh bakal jadi tipe-tipe yang suka makan rumput tetangga. Kan rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri. Lebih ngeunahh,  Mbekkk ...


“Hehe .. lupa.”


“Kalian dari mana sih?”


“Habis mampir ke CLBK, ke tempat sepupunya.”


“Ngapain?” ke sana kok gak ngajak-ngajak buat ketemu mas Juan.


“Gak ada, Cuma ada yang mau dia sampein aja ke mas Juan. Tadi aku makan sendiri ditemani pegawai baru.


“Enak banget hidup Lo.”


“Btw, itu pegawai baru cakep tau! Mirip Park Seo Jaan. Beuhhh ... ,” Arin mendekat, kemudian berbisik, “kalo gak ada Juna gue bakal minta fotbar kayaknya.”


“Dasar playgirl!”


“Udahlah, kamu gak ngerti chagiya!”


“Trus sekarang Lo berdua mau ke mana lagi?”

__ADS_1


“Gak ada sih, ini makanya mampir di toko Lo.”


“Kalo enggak, bentar lagi ayah mau datang jaga toko gantian. Gimana kalau ke alun-alun saja beli es boba?”


“Cocok tuh. Sekalian ajak mas Juan boleh yah?”


Pintar banget si Arin. Selain aku bakal jadi nyamuk, dia udah siapin nyamuk jantan duluan biar aku gak kesepian. Salah satu sifat sahabat berakhlakul Karimah. Tapi ini kan masih waktunya jam kerja, apa mas Juan mau meninggalkan caffenya demi datang ke alun-alun dan cuma minum es boba?


“Tenang, kalau ada Mina mas Juan pasti mau.” Ucap Arin seakan dia tahu apa yang sedang kupikirkan. Dia memang sahabatku, meski kelakuan rada-rada minus, maklumi saja lah.


“Oke.”


Selanjutnya kami asyik bercerita di bale depan toko karena pembeli belum ada yang datang. Sedangkan Juna biarkan saja menikmati esnya ditemani kang dawet berfilosofi entah tentang apa saja. Dia jago ilmu filsafat, teori-teori yang ribetnya minta ampun akan dikupas secara tuntas hanya dalam hitungan jam berkat kejeniusannya yang tak tertandingj. Katanya. Tidak lama pun ayah sampai ke toko, membolehkan kami pulang karena memang pembagian jam kerja sudah pas. Aku dari pagi sampe siang, dan ayah sampe sore harinya. Kadang kalau banyak orderan kami semua di toko bersama-bersama, bekerja sama, di malam hari lembur sampai tengah malam. I see, itu baru namanya keluarga. Sekaligus pada waktu itu aku dan bang Sat bisa terlihat akur, saling tolong menolong sampai pekerjaan selesai. Dan ya, meski seusainya kami kembali ke kepribadian masing-masing.


“Tarik tiga nih?”


Oh iya, aku lupa tadi pagi datang dengan sepeda ontel usang kakek. Jadi tidak perlu cabe-cabean bareng mereka berdua. Biar mereka sampai dahulu, sedangkan gowesan sepedaku juga tak kalah gercep. Poin pentingnya kami akan sama-sama sampai ke tujuan dan tinggal menunggu mas Juan datang.


“Oke, sampai ketemu di sana yah.”


Aku mengangguk. Sambil terus mengayuh sepeda kunikmtai cuaca yang panas dengan santai. Bukan tak takut hitam yah, percayalah aku sudah pake sunscreen SPF 100 lima layer dan topi sebagai pelengkap biar sinar UV tak langsung mengenai kulit wajah. Sempurna sekali bukan?


“Aku pesan bobanya dulu yah.”


Juna kemudian meninggalkan kami ke tukang Boba setelah sampai. Lelaki pengertian, dan sedikit lebih peka dari Jun gu- Jun gu Arin sebelumnya. Kali ini 7 dari 10 penilaian untuk dia pantas diapresiasi menjadi pasangan terlayak gadis itu sampai sekarang.


“Udah kabari mas Juan?”


“Udah, dia bilang caffe tidak terlalu ramai saat siang jadi bisa datang. Kangen yah?” goda Arin. Ya, aku sedikit menggila saat melihat wajahnya yang tampan.


“Bukanlah. Tapi aku bersimpati atas cerita masa lalunya.”


“Juna bilang jangan ungkit kisah itu depan dia yah? Masih sensitif, dan bahkan keluarganya aja banyak yang gak berani.”


Aku berpikir memang luka seberat itu sangat pahit terasa. Ketika Lo sedang bucin-bucinnya dan sedikit lagi pembuktian cinta itu tiba, kekasih yang sangat Lo sayangi, Lo cintai pergi ... Dunia bakal serasa runtuh, gak adil. Teruntuk orang-orang yang tidak kuat iman, seperti gue misalnya, entah akan melakukan apa sampai pada akhirnya bisa berdamai dengan takdir. Mas Juan sekuat itu bisa melanjutkan hidup tanpa terlihat sedikit beban. Bahkan aku sempat mengira kalau dia itu sosok yang enjoyfull, menikmati hidup dengan bersyukur terhadap hal-hal kecil dan sedikit mengurangi ekspektasi. With another word, orang simpel, kalau bisa diraih why not? Kalau gak bisa diraih juga no problem. Begitu.


“Juna mana dek?”


Tiba-tiba orang yang sedang kupikirkan sudah nampak di depan mata. Seperti biasa, ganteng. Meski hanya pakai kaos putih oblong dan celana panjang coklat yang manis ditambah topi putih mempermanis mata setiap insan memandang.


“Ini bukti kalo Lo bukan mimpi.” Bisiknya. Ia cenayang kah? Atau Mbah dukun? Eh bukannya sama saja? Setiap kali apa yang kupikirkan dia selalu tahu bagaimana bertindak.


“Sini mas Juan, duduk dekat Mina.”


Demi apa ya tuhan ...


Aku tak bisa menyembunyikan rasa grogi, apalagi panas di pipi membuatku harus memalingkan wajah takut ketahuan. Ini tidak adil, aku mau tanya kenapa dia semakin hari semakin diperindah di dua bola mata yang minimalis ini? Sudah tahu hatiku lemah, lemah sama yang indah-indah.


“Makasih dek.” Balasnya sambil duduk. Bisa kurasakan lirikan matanya sebentar dan kembali mengedarkan pandangan ke seluruh sudut alun-alun.


“Juna sedang beli es nya mas.”


“Oo, kalian mau makan apa? Biar mas pesankan juga.”


“Min?”


Yang ada di pikiranku saat ini hanyalah mas Juan setampan mas Jin sedang duduk cool menikmati cuaca panas tapi serasa dibuat sedang musim dingin. Bajha! Aku menggigil dan gemetar dia buat.


“Mina-ya!!”


Allahuakbar. Gadis jelmaan siluman kayang itu membuyarkan semua lamunan. Teriak-teriak sedangkan aku ada di depannya, maksudnya?


“Kamu menghayal yah? Mas Juan tanya Lo mau makan apa biar dipesan?”


“Eh ...” salting maning, “Makan apa saja .”


“Batu mau?”


Kurang asem! Emangnya gue robot yang boleh makan benda keras. Kulihat mas Juan tertawa renyah menyaksikan kekonyolan kami berdua. Lagi-lagi hatiku luluh, saat ini semua hal terindah di dunia  berkumpul dalam dirimu, mas. Kamu bagaikan lampu jalan bertenaga surya saat mati lampu dan hujan lebat mengguyur kota. Soalnya, hanya kamulah yang bersinar. Eakkkkk!!


“Oke, mas susul Juna sekalian biar beli makanan yah?”


“Iya mas Juan, makasih yah.” Arin mencubit lenganku lebih pelan, memberikan kode kalau aku terlalu kaku dan harus bicara walaupun sekali. “Bilang sesuatu kek.”


“Mas Juan .. ha, hati-hati di jalan.” Cuma itu yang terbersit di otak, dan respon mereka berdua malah senyum-senyum geli. Karena apa? Salahnya di mana?

__ADS_1


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2