
Kata orang bangun pagi itu harus, tapi bagiku itu tidaklah mulus. Seperti pagi ini, ketika eomma mengomel di dapur, aku baru saja keluar kamar, menguap lebar-lebar mengumpulkan kesadaran penuh sambil sedikit berjinjit mengangkat badan tinggi-tinggi. Dari situ tumbuh harapan, semoga tinggiku bertambah meski dua sentimeter agar tak diejek semekot (semeter kotor) lagi. Pelakunya yah bangsat itulah, abangku, bang Satria. Mentang-mentang tinggi jangkung, semena-mena dengan si mungil imut istri Kay Oppa ini.
Oke sekalian ngehalunya.
"Mina! Kau tidak sholat?" Ucap eomma dengan tatapan menyelidik.
Ah, eomma mulai lagi. Ibu kan tahu dua hari yang lalu aku sedang berada di zona aman, istimewa, apa mungkin sekarang ibuku ini pelupa?
"Ampun deh eomma! Sedang tamu bulanan."
Sreengggg!
Srenggggg!
Bunyi sendok beradu dengan kuali di atas kompor sudah menjawab semuanya. Bukan eomma lupa, hanya begitu gengsi mengatakan secara langsung supaya aku harus tetap bangun pagi. Selama ini begitu kok, tapi mumpung ada kesempatan luang, kebablasan sedikit tidak apa-apa kali.
"Eomma ..."
Srengggggggggggg!!
"Hehe ... Bunyinya makin nyaring dan panjang yah ma ..."
Ibu mengernyitkan dahi, me-lap keringat di wajah dengan lengan baju dasternya. Salah satu tipe ibu rumah tangga yang rajin, bersih, siaga 24 jam setia menyiapkan segala kebutuhan kami semua meski harus diawali omelan. See, akhirnya semua orang terbiasa. Dan yang paling the best of the bestnya adalah eomma tidak suka berbaur ke luar jika hanya untuk diajak bergosip, katanya dosa, membuka jalan ke neraka. Lain denganku dan Arin yang malah menganggapnya sebagai hobby.
"Eom ..."
"Tidak usah panggil eomma! Ibu saja, ibuuuu saja."
ibu memonyongkan bibir, membuat pagiku lucu tak terkendali.
"Kan artinya sama, tetap ibu."
"Eomma suka bahasa lokal, bukan luaran!"
Nah!! Loh??
"Ma-maksudnya ibu!" Diralat dengan cepat. "Besok bangun seperti biasa, tidak ada alasan sedang istimewa segala. Eom ... Ibu! Ibu saja tidak pakai alasan begitu! Terlalu klasik Mina."
"Baiklah, baiklah nyonya Hermansyah yang bawel. Pagi ini Mina langsung berangkat saja ke toko. Biar ayah libur, istirahat seharian di rumah kelonan sama eomma."
"Apa katamu?? Bocah yang masih digigit capung pusarnya saja sudah pandai bilang begitu?"
__ADS_1
Salahkan Arin eomma! atau Drakor on going yang sedang kupantengin karena menyuguhkan ke-uwuan tiada tara! Bukan salahku jika otak ini cepat tanggap mengenai hal-hal begituan. Canda uwu! Hehe ...
"Nah, biar pagiku semangat, buatkan Mina sandwich telur yah ma?"
Hampir saja sendok goreng itu melayang dari tangan ibu menuju dahiku yang jenong. Lagipula kau cari gara-gara Mina! Sudah tahu eomma masak nasi dan gulai ayam masih mengharap hal lain, sesuatu yang tidak diminati eomma sebagai generasi klasik katanya. Yang setiap pagi carinya nasi, bukan roti. Yang sukanya sambel, bukan ketchup.
"Baiklah, telur mata lembu saja ibu." Ucapku sambil berlalu ke kamar mandi. Pasrah.
Syukurnya, setelah selesai mandi, telur kesukaanku sudah terhidang manis di atas meja makan. Eomma juga sudah tidak nampak lagi, barangkali mengurusi hal lain di kamar. Membersihkan tas mahalnya mungkin? Profesi boleh ibu rumah tangga, tapi ketika keluar rumah kalian boleh percaya, malah lebih modis ibu daripada anak. Kata orang-orang, kami ini kakak adik, bukan orangtua dan anak. Bahkan sempat saat jalan berdua ke mall, ada pemuda yang meminta nomor eomma, bukan aku! Malah tampan lagi, tipeku banget ya Allah ...!!
"Kenapa ibu masih tetap kelihatan muda di umur kepala empat ini?" Tanyaku pada suatu hari karena sudah tidak tahan lagi. Kalau ada resep rahasianya supaya bisa berbagi denganku. Wajar dong, turun temurun dari sang ibu ke putrinya. Toh nanti yang bangga juga ibu, dipuji memiliki putri cantik secantik diriku.
"Air wudhu!" Jawab eomma singkat, padat, jelas.
Jawaban yang selalu membuatku bungkam.
Pliiss eomma! Mina juga sejak resmi menjadi dewasa selalu menjalankan sholat lima waktu. Tapi kenapa tidak mempan juga? Misteri yang belum terpecahkan sampai sekarang ini.
"Jangan bertanya lagi pada ibu, karena kau lihat sendiri ibu tak memakai skincare apa pun. Malahan bejibun di kamarmu sendiri, dan tak ada efek."
Jleb!
"Baiklah, tapi ada lagi tidak bu? Atau ibu minum jamu? Pil kecantikan? Susuk?"
Waktu itu aku berhasil keluar dari kamar ibu dengan selamat. Soalnya kemoceng yang digunakan untuk menampar debu-debu itu hampir melayang lagi ke jidatku. Tidak boleh terus begitu dong, nanti jadinya selebar apa dahi ini.
"Makan dengan pelan dan banyak mengunyah." Ucap ibu seketika muncul di hadapanku bersama bang Satria yang sudah rapi dengan seragam kerjanya. Iri sekali, kapan aku bisa seperti dia?
"Biar saja Bu, biar dia kembaran sama si pinky gendut hidung bulat."
What?? Piggy maksudnya?
"Heh, bangsat! Sembarangan!"
Eomma dan Abang melotot ke arahku, menatap tajam dan heran mengapa pagi-pagi aku kesurupan. Bukan!
"Apa kau bilang Min?"
"Bangsat ...," Jawabku polos, "Oww ... Maksudnya bang Satria, disingkat Bang Sat kan?" (Masih tak merasa berdosa)
"Hee! Siapa yang memperbolehkanmu menyingkat nama orang?" Abang kesal, "Kalau begitu mulai sekarang kau menjadi si Mimin!"
__ADS_1
"No! Nooo! Itu terlalu jelek."
"Lah kau kan memang tidak cantik-cantik amat." Jawab bang Satria tak mau kalah. Sedangkan eomma hanya bisa geleng-geleng kepala dan membiarkan kami menjalani rutinitas ini setiap hari.
"Memangnya kau sangat ganteng bang? Nohh! Masih kalah jauh sama bebeb di dinding!"
"Idiihh ... Jangan samakan aku dengan binatang peliharaanmu itu yah!"
Binatang peliharaan mana pula? Maksudku oppa Kay bang! Oppa Kay! Apa dia berfikir kalau aku menyamakannya dengan cicak-cicak di dinding itu?
"Ooppwwwpppwaa! Oppa!" Jelasku monyong-monyong.
"Hidupmu terlalu banyak kehaluan, sadar dong dek kau itu harus bisa terima kenyataan kalau itu gak bakal berhasil, mustahil!"
"Mana ada yang mustahil di dunia ini? Kun fayakun!" Rasanya dongkol setengah mati selalu diremehkan.
"Yeee ... Dibilangin malah ngeyel! Sakarepmu."
"Sudah! Cepat sarapan dan keluar dari rumah! Eomma pusing mendengar kalian selalu ribut, unfaedah!"
"Eomma?" Bang Satria bingung.
"Ibu!!! I-ibu mau jemur pakaian."
Satsetsatset!
Ibu langsung melipir lewat pintu dapur dan berakhir di halaman belakang tempat tali jemuran berada. Ingin terbahak, tapi ini eomma. Tampaknya sudah terbiasa dengan panggilan itu, jadinya selalu keceplosan.
Apa ia kalau aku lebih berusaha mengajak eomma nonton Drakor akan kebablasan suka juga? Bisa jadi jalan pintas kan, jika eomma langsung suka produk negeri ginseng tersebut, hoki seabreg banget kalau diajak liburan ke sana.
"Eh dek, teman Abang ada yang nawarin kerjaan."
"Oh ya? kerja apa? kalau jualan cilok sama basreng sih aku no! lebih baik jaga toko appa!"
"Betul nih dek, serius bukan itu tau. Ada lowongan jadi guru di MIN 2. Minat?"
Serbet di tangan sudah remuk, sekate-kate kau bang! aku ini lulusan ekonomi, bukan pendidikan agama! Well, untuk waktu sekarang memang banyak jurusan yang tidak sesuai sama pekerjaan, tapi tolonglah ... ini tuh udah gak ada kecocokan sama sekali. Diri ini bisa dikatakan masih kurang betul paham soal itu.
"Wkwkwkwkw ..." Bang Satria malah ngakak, ini nih yang bikin candaannya kelewatan. "Abang berharap kamu coba lamar dek, siapa tau nanti ketemu jodoh ustadz di sana, bukan oppa-oppa khayalanmu itu."
"Bang Sat .....!!!!!"
__ADS_1