
“E-eitts!! Ada yang beda dari si Upik abu.”
“Sembarangan!”
Dongkol banget ini hati mendengar mulut Arin kadang-kadang lupa disaring. Nyerocos terus kayak bebek betutu yang habis dimarahi engkong Badrun. Secara kan ini hari jalan-jalan yang tidak boleh terlewatkan dengan penampilan yang harus kece badai juga. Masa keluar nyabu make kaos oblong dan jeans belel. Palingan nanti yang ngelirik kita cuma om-om perut buncit minta dijadikan sugar Daddy. Hiiii ...
“Lu cantik banget dah. Kayak member Girls Preparation.” Puji Arin. Tumben-tumbenan mujinya selangit bilang aku mirip salah satu member girlband K-Pop yang mendunia itu. Senang sih iya, senang banget malah.
“Siapa?”
“Sunyi dong.”
“Yah gapapa deh mirip Sunyi juga, meski biasku itu mbak sayang.”
“Oke. Kalau begitu kita berangkat sekarang saja.”
“Oke. Naik bus? Grab? Atau ojek?”
“Hari ini kita bebas mau ke mana aja tanpa hambatan. Lihat nih!”
Arin menggantung kunci motor di antara jari-jarinya yang gemuk. Hoki banget dia, itu motor mamanya yang sedang nganggur karena ini weekend. Jadi me time mereka dengan bed rest total seharian di rumah, bukan keluar menyibukkan diri dengan hal melelahkan yang lain. Syukurlah kalau begitu, ongkos kendaraan juga aman.
“Full tank kagak?”
“Ya elah ... Nyokap gue itu gak pernah isi bensin mabelas rebu. Tahan hayukkk!”
“Nah ... Kalau ini bikin senang.”
Segera Arin menduduki kemudi dengan gadis diboncengannya yang super imut and cantik. Gapapa lah lelah juga pada akhirnya, tapi memanjakan mata dengan pemandangan luar itu bisa jadi obat tersendiri.
“Kamu yakin kita ganti kawat behel dulu? Gak sayang kalau rusak?” ajakku mengobrol supaya suasana lebih rame.
“Yakin. Lagipula gimana makannya kalau sebelah atas udah rusak juga. Yang ada nanti malah tambah lekang dan malu-maluin di depan Abang tukang masak.”
Hooh ...
Masuk akal juga. Meski Arin ini agak centil, tapi soal lelaki limited edition yang gantengnya minta ampun plus wangi bunga Kamboja, aku juga gak bakal kalah. Tapi dari semua itu masih gantengan Kay oppa loh! Aku suka memuji paras indah, namun tidak melupakan keindahan sejati itu milik siapa juga.
“Okelah.”
Singkat waktu, ternyata klinik tempat dia ganti behel itu kami tempuh hanya 15 menit dari rumah. Sembari menunggu mereka di dalam, aku duduk di tempat yang disediakan bersama dua orang gadis muda yang juga menunggu antrian. Aneh zaman sekarang, kok banyak orang bisa-bisanya magar gigi padahal kan isinya cuma gigi dan lidah. Yaelah gak bakal bisa digondol pencuri kelas kakap manapun. Kata eomma yang begituan memang sedang ramai dan jadi trend, tapi jika alat yang dipakai tidak cocok pada diri kita bisa menjadi bumerang sendiri. Menyakiti tubuh yang ada. Untung si Arin gak pake behel KW, kalau iya bisa hilang semua gigi dan gusi-gusinya.
“Eh, ke caffe di jalan CLBK itu yuk! Katanya siapapun yang udah lama putus bakal balikan jika ke tempat itu.” Ujar sese-embak dengan kawat behel warna hijau nampak tersenyum bangga. Temannya tak kalah semangat menanggapi ucapan si gadis. Emang ada yang kayak gitu? Datang ke suatu tempat bisa balikan. Cocok gak tuh sama yang belum move on?
“Beneran? Gue masih cinta banget sama Dion. Kemaren pas gue putusin ternyata dia mau kasih gue hadiah berupa uang skincare bulanan.”
“Yakin Lo? Berapa? Bukannya Dion itu kere yah?”
“Iya setahuku juga begitu. Tapi apa pun, namanya rezeki kan gak ada yang tahu. Pokoknya aman uang skincare bulanan udah cukuplah.”
Cukup ndasmu!
__ADS_1
Aku gak tahu, tapi Gedeg sekali mendengar obrolan dua gadis itu. Bukannya bersyukur punya kekasih pekerja keras sampe bela-belain beli skincare buat pacar. Masih sekedar pacar loh itu, bukan istri atau emaknya.
“Yaudahlah Lo berdua datengin aja caffenya sama-sama. Tapi jangan lupa, meski nanti Lo balikan sama Dion, jangan sampai juga Lo ninggalin Boy. Gue udah kenalin boy susah payah sama Lo masa dikecewain juga.”
Ah bener-bener dah!
Pengen marah, tapi aku bukan bapaknya. Cewek-cewek otak udang yang tak bisa setia hanya pada satu jantan!
“Tapi nama caffenya apa sih? Sepopuler itu?”
“Masih sayang caffe namanya. Yang punya juga cakep banget, orang bilang mirip oppa-oppa.”
“Ish gue mah ogah sama tua bangkotan.” Jawab si behel kuning menunjukkan ekspresi jijik. Kolot sekali, masa Oppa disamain sama opah? Beda jauh neng ...
“Tau ah! Gue duluan masuk ke dalam, tuh si ibu udah keluar.” Gadis kawat hijau lari memburu takut didahului si kawat kuning.
“Wkwkwkwkkw ...”
Aku tak bisa menahan tawak. Tau siapa yang berdiri di ambang pintu hendak keluar itu? Arin! Arin dikatain ibu-ibu guys!
“Kenapa?”
“Hem ... Hem! Tidak apa-apa ibu Arin.”
Gadis behel kuning memalingkan wajah malu-malu. Mungkin teringat ucapan temannya barusan mengatai si Arin, padahal kan mereka lebih tua lagi dari wajahnya. Tebal di make up doang, coba hapus, dijamin berubah total.
“Heh! Ibu- ibu ... Lama-lama kamu kukutuk jadi burung perkutut!”
“Aduh! Yaudah yuk!”
“Selamat datang di all you can eat Resto pilihan keluarga. Mari kakak-kakak cantik kami antar ke tempat reservasi.” Ujar seorang pemuda lokal dengan ramah. Tapi yang buat aku terkejut itu adalah tempatnya sudah reservasi. Biasanya gak seperti itu, atau Arin takut kehabisan tempat karena ini libur akhir Minggu?
“Oh ya mas. Orang yang reservasi sudah datang?”
“Loh? Kita makan dibayarin siapa sih?” ucapku bingung. Soalnya daritadi janjinya cuma berdua.
“Udah, nanti kamu akan tahu ketika mereka datang.” Jawabnya santai.
“Serius dong.”
“Tenang, pokoknya makan sepuasnya karena semua itu gratis tis tis!”
Melihat ketenangan Arin, berarti kemungkinan besar orang yang traktir adalah orang yang kami kenal berdua. Tapi siapa yah? Baik benar kalau bisa traktir porsi besar.
“Oke.”
“Mari mbak, lewat sini!”
“Gumawo.”
“Ne.” Kemudian si mas pergi setelah tugasnya mengantar kami selesai.
__ADS_1
“Rin ... Kamu tau gak caffe ‘masih sayang’ di kawasan CLBK?”
“Baru dengar juga. Emang ada?”
“Aku dengar ada tadi. Katanya yang ke sana bareng mantan dijamin bakal balikan lagi.”
“Hah? Kayak Mak comblang dong.”
“Aku juga penasaran sih. Kapan-kapan ke sana yuk!” Biar gak kudet-kudet banget lah jika ditanya seseorang soal itu suatu saat nanti.
“Oke, kita ajak Juna boleh gak?”
“Serah lah.”
“Hei, sudah lama menunggu?” suara khas lelaki terdengar tepat di telinga sebelah kananku.
Mata melotot sempurna.
Dia???
__ADS_1