
“Hem ... Mina eonni ...”
“Eonni? Kau bilang eonni?”
Arin mesem-mesem, sesuatu yang akan keluar sebentar lagi dari mulut kataknya itu sepertinya akan sangat menjengkelkan. Tanda-tanda sudah kelihatan, tingkahnya bikin muak dan geli diriku. Selalu begitu. Jika dia berbicara lembut beserta aksen manja, pasti ada sesuatu hal diinginkan dan yang paling gak enak bangetnya itu pasti akan melibatkan aku. Erlangga cuek, menyapu jalanan sore dengan kedua mata elang tajam tanpa kedipan. Cowok sok cool itu akan menyesal ketika debu jalanan memasuki area mata.
“Mina, Jadi begini ... Juna bilang ingin mengajakku ke caffe buat ngobrol sebentar, ...”
“Jadi maksudmu kamu mau ninggalin aku?” kalau benar, wah parah si dia.
“Bu-bukan! Kalau kamu dan ... Langga mau ikut, yah lebih baik.”
Pria yang merasa namanya diucapkan tersebut langsung melirik, entah ia mau ikut apa tidak. Tidak mungkin juga nanti aku pulang sendirian ketika orangtua Arin tahunya kami pergi berdua. Ibu juga akan mencecar jika kami berdua berbohong. Soalnya bukti paling akurat itu kan ada di diri Arin, kawat behel.
“Caffe mana?”
Tak kusangka makhluk tuhan paling seksi di sebelah menyahut dan berkeinginan pula. Tapi tunggu, bukan berarti kami mulai akrab yah.
“Gak tau sih. Tunggu Juna sampe aja dulu. Ya Min? Kau mau kan?”
Kuanggukkan saja. Gimana gak bisa coba? Daripada nanti jadi tersangka utama mending ke neraka bareng-bareng. Belum lagi Arin bisa lupa waktu ketika bersama pacarnya. Nah, berarti Ini apaan sih maksudnya? Aku dan Erlangga jadi nyamuk atau pasangan juga?
“Ya udah. Aku juga belum mau pulang.”
“Mana mungkin anak sosial pulang sore-sore kan?” (nyindir)
“Terus cabe-cabean juga biasanya pulang malam.” Erlangga menyusuri penampilanku dari ujung kuku ke ujung rambut. Pliss lama-lama itu mata gue tabok! Ngelihat aku segitu amat ...
Otak mesum!
Cute-cute girl gini dibilang cabe-cabean, jangan-jangan yang lihat itu dengkulnya bukan pake mata.
“Udah si, terima aja kalau kalian berdua nanti lama-lama bakal benci jadi cinta.”
“Rin! Di mana sih Lo ketemu kolor ijo ini? Bukannya diobatin, malah diajak nongkrong sama kita.” Sewot banget gue.
“Kolor gua tuh hitam ta ...”
Kulihat Arin ketawa ngakak setengah mati. Hanya pria gila yang membocorkan warna ****** ******** di hadapan para gadis-gadis polos. Udah gitu, dia ikutan malu. Kan it’s not available banget!
“Freak banget sih kalian dua. Ampe segala warna kolor aja dibahas. Gak ada bahan lain apa buat berantem?”
“Diam lo Rin! Teman lo emang suka bikin malu kayaknya dari dulu.” Ekspresi Langga bak kepiting rebus plus titik-titik air di udara pindah ke dahinya semua.
Enak aja!
Kebalikan kali, dia yang buat aku selalu malu di depan banyak orang semasa sekolah dulu. Dia bilang ke orang-orang bahwa seorang Mina adalah fans berat dari Erlangga Panji. Meskipun dia tampan, dan ya, sempat juga menyukainya ... Tapi bukan berarti seberani itu menyebarkan rasa tanpa penerimaan dari dia yang bersangkutan. Ogah gue! Tampang yang tidak ada 1/16 dari mbak sayang ini juga memperhatikan gengsi dan harga diri.
“Cuss berangkat!”
“Ariiinnnn!!
Wah hebat tuh anak. Jadi dia membiarkan aku mengendarai motor sendirian sedangkan dia enak-enakan digonceng Juna. Hari panas, terik, debu berterbangan, sampai lambungku saja tidak tahan ingin mengeluarkan isinya.
“Hati-hati bawa motornya, oke cantik?”
Dan setelah itu mereka berdua melaju. Sudah. Mau bagaimana lagi, tidak mau juga menumpang motor si Erlangga. Lagian motor nyokap Arin bisa hilang saat ditinggalkan. Akhirnya, kami berkendara sekitar 20 menit dari resto ke caffe yang dikatakan Juna. Dua kampret sejoli itu malah ketawa-ketiwi seakan tiada dosa, lah gue diem aja kek patung di Pancoran dengan gaya bak kuda besi. Nah, sementara si Langga santai mengendarai motor Harley dengan gaya yang keren. Cocok banget deh pokoknya.
“Min, tebak deh ini caffe siapa?”
__ADS_1
“Engkong Badrun kali.” Jawabku ngasal. Lagian mana gue tau sih! Ini kan pertama kalinya ke sini.
“Kamu gak lihat papan nama jalan tadi?”
“Jalan CLBK.”
Oh! Teringat sesuatu. Betul kan! Plangnya jelas tertulis Masih Sayang Caffe yang imagenya katanya bisa buat balikan lagi sama mantan. Konsepnya unik, nuansa black dark night dan cahaya rembulan sangat terasa meski hari masih terang. Begitu masuk ke dalam, berasa kita sedang dinner romantis bareng pasangan di kelilingi galaksi dan bintang yang mewah. Pantas kalau ke sini dengan mantan bakal balikan. Terbawa suasana gitu.
“Menakjubkan sekali.”
Kulirik Erlangga yang sedang menyusuri setiap sudut dengan ekspresi biasa. Walau nampak memang biasa, tapi aku yakin kalau ia juga sama. Kagum dengan interior terbaik dari caffe ini.
“Paling mengejutkan sebentar lagi akan datang.” Timpal Juna. Cowok dengan potongan rambut cepmek berjaket Dulah persis menggenggam erat tangan kekasihnya. Aishhhh! Dasar tidak menghargai jomblo!
“Oh ya? Apa?” Arin berbinar.
“Duduk di sini saja.” Erlangga memutuskan. Dan benar, di sinilah kami, tempat paling pojok yang berasa banget cocok jadi tempat nyamuk berngiang. Cowok aneh. Selain sok dingin dia kayaknya punya jiwa psikopat juga.
“Sudah sampai?”
Begitu terkejut!
Arin dan aku tak menyangka mas Jin muncul di hadapan kami memakai pakaian karyawan dengan pesona yang aduhai ...
Pakaian hitam di tubuhnya melekat manis menambah daya tarik dan pastinya salah satu orang itu adalah aku sendiri. Tak bisa berkedip sampai Langga menyentak menyadarkan dari lamunan. Mas Juan mendekat, tersenyum manis menyodorkan buku menu dan sigap menulis pesanan kami berempat.
“Oke, silahkan tunggu pesanan 25 menit dan stay have fun!”
Mas Juan pun berlalu menuju ruangan dalam.
“Mas Juan kerja di sini yah?”
“Juan sepupuku pemilik caffe ini. Dia tuh anaknya mandiri dan ikut terjun langsung menjadi karyawan.”
“Oh yah?” (kagum)
“Cuman Min, dalam hidupnya yang sangat sempurna ini, belum ada gadis beruntung yang menjerat hatinya loh.”
“Masa sih mas Jin belum punya pacar?” tambah Arin sama terkejutnya dengan aku.
“Dulu ada, bahkan sempat tunangan juga.”
“Trus tunangannya kemana?”
“Kepo Amat jadi cewek!”
Langga bisa tidak sih gak usah ikut campur? Ini tidak ada hubungannya sama Lo dan keluarga Lo juga keleus. Soal mas Juan itu penting, karena yah dia teman kami .
“Meninggal 6 bulan yang lalu karena penyakit kanker.”
“Subhanallah ... Kok bisa?”
“Yah namanya juga penyakit Min. Mana kita tahu mana yang membawa maut dan yang bisa disembuhkan. Pokoknya semua atas izin yang maha kuasa kan?”
“Ternyata Juan tidak pernah tahu masalah tunangannya itu sampai pada saat Isabel menghembuskan nafas terakhir. Lo bakal liat di mana serapuh-rapuhnya Juan ditinggal orang tersayang. Gelap Min.”
“Mas Juan belum move on atau bagaimana?”
“Entablah. Tak ada yang tahu, bahkan mamanya saja tidak bisa menebak. Ia sangat ceria akhir-akhir ini dan semua berharap ia bisa segera melupakan Isabel dan mendapat seseorang yang tulus. Life must goes on, sepatah apa pun dia harus berusaha lupa kan?”
__ADS_1
Kali ini aku mengangguk. Ternyata di balik sikap mas Jin yang ramah dan selalu tersenyum selalu menyimpan sejuta luka yang sengaja dibalut agar tetap tersembunyi. Tidak ada yang tahu apa yang ia rasakan karena orang lain tak merasakan. Dari hal tersebut entah datang dari mana jika penggambaran dirinya di hatiku adalah sosok pria gentleman, setia, definisi lelaki sejati di dunia nyata.
“Yang namanya lelaki akan patah juga jika orang yang dicintai pergi. Tapi orang seperti itu tidak akan pernah jatuh cinta dengan cara yang sama saat sudah menemukan orang baru.” Langga menatap mataku mengatakan argumennya. Ada sinar beda dari dua bola mata seindah bulan. Sayang, tak bisa kubaca meski sangat ingin karena mas Juan dan dua anggotanya keburu datang membawakan pesanan.
“Silahkan dinikmati yah, dek.”
“Terima kasih mas.”
Hanya satu kalimat yang bisa kubalas, dan mereka pun cepat pergi. Mas Juan ... Kau membuatku penasaran.
__ADS_1