Korban Cinta Oppa

Korban Cinta Oppa
Bab 9. Aku dan Bang Satria


__ADS_3

"Woiii, chinguu!!!"


Itu suara toa sembelit asalnya dari atas kepalaku. Dan benar saja kan, Arin lagi nongki sambil menatap kedatangan istri Kay Oppa ini sejak dari gang depan sana. Apa dia sudah tidak punya kerjaan lain selain tiba-tiba muncul dari jendela? Persis banget sama Mak kun-kun penghuni pohon pisang dekat pertalian si Mimin.


"Apa?"


"Idihhh!! Galak bener ..."


"Capek aku. Oh ya! Ada gosiip." Cecarku bersemangat setelah ingat pertemuan dengan mas Juan di toko. Nah, bagai layangan kayang langsung dah tuh si Arin turun dari jendela sembari merayap-rayap ke arahku.


"Oh ya?? Apaan?" Ucapnya tak sabar. Dasar tukang rumpi!


"Bentar, aku parkir sepedaku dulu." Stang karatan itu kubelok ke sebelah kanan, dekat pot bunga mahkota dewa peliharaan eomma yang katanya juga sekaligus bunga sambung nyawa, herbal turun temurun dari nenek moyang kami. Entah eomma kenal atau tidak, pokoknya he'euh saja. Percaya yang dikatakan nenek dahulu itu adalah hal mutlak untuk dijaga sampai sekarang.


"Nah, apaan sekarang?"


"Jadi begini ..."


Aneh banget dah! Itu stang sepeda kuno malah berbalik arah membuat tanaman eomma sedikit ketiban. Was-was tingkat dewa juga kalau ibu sempat melihat, nanti terjadi perang dunia ke-empat. Berdoa saja, soalnya gosip ini lebih indah daripada kemarahan eomma.


"Mas Juan datang ke toko."


"Hah? Kok bisa?" Ya jelaslah Arin tak percaya. Pertemuan pertama sebelum di alun-alun itu bahkan belum kuceritakan. Jadi dia anggapnya kami baru saja berkenalan di malam itu.


"Beli kain batik."


"Kok mas Jiny bisa tau kau jualan batik?"


Songong!


Aku bukannya jualan batik macam di emperan, ini di toko! Tokoooo!


Ente kadang-kadang ente!


"Yah orang mas Juan langganan ayah katanya."


"Pantas Min!"


"Pantas apanya?" Dia sadar tidak sih manggil sembarangan? Mimin lagi, Mimin lagi ...


"Kemarin sebelum ketemu Juna di alun-alun, sebenarnya kami sudah bertemu di toko DVD bajakan langganan kita loh."


"Hah? Masa sih?"


Kok kebetulan sekali, kami sama-sama bertemu dua orang itu di lain tempat sebelum di satu tempat. Iya kan?

__ADS_1


"Iya, dia itu pake baju kemeja batik yang kayaknya pernah aku lihat coraknya deh. Tidak salah, itu pasti beli di tokomu."


"Bisa jadi. Soalnya mas Juan bilang dia pecinta batik tuh!"


"Wihhh, cakep tahu! Aura oppanya keluar."


"Oppa dari mana? Batik itu kan pakaian lokal kita dodol! Kalau di Korea sana mana pakai yang begituan."


"Yah kan siapa tahu nanti Juna viral, trus diundang masuk ke televisi, dan gayanya ditiru sama oppa- oppa sana?"


"Ah, sudahlah! Kau terlalu halu!"


Kutinggalkan saja si Arin sendirian. Badan juga mulai terasa letih, untuk bergosip sudah tidak kuat lagi. Terakhir kali memandang, si Arin berhasil naik lagi dengan cara kayang ke kamarnya di atas. Serem juga itu gadis culamitan.


"Dek, sudah pulang?"


Bang Satria anteng nonton film kartun di ruang tengah, ingin acuh tapi penasaran juga apa yang hendak disampaikan.


"Apa?" Jawabku akhirnya.


"Gimana sama pekerjaan yang mas bilang? Minat tidak?"


"Hhhuuftthh ...."


Tarik nafas dalam-dalam Mina!


"Bang Sat ..."


"Mau yah?"


"Heran deh Mina, kenapa mas getol banget nyuruh-nyuruh aku buat ngajar di sana? Ada rencana apa?"


"Tuh, kalau dibilangin kamu malah salah sangka. Padahal niat Abang itu baik banget loh."


"Baik sih baik, tapi gak terlalu begitu juga dong."


"Lah apa salahnya? Kamu sarjana, ekonomi, bisa jadi guru juga kan?"


Entah apa yang harus kukatakan lagi pada manusia bebal ini ya tuhan! Aku tuh gak mau jadi guru! Aku gak mau dapat karma karena sering mengerjai guruku di sekolah dahulu. Lagipula aku sama sekali tidak cocok mengasuh anak-anak ingusan, kan aku juga masih ingusan. Nanti bukannya belajar, malah ngajak main perosotan tuh!


"Nggak! Sekali nggak yah nggak!"


"Kan gak ada salahnya juga Min."


"Jangan panggil Mimin!"

__ADS_1


Ee busyet! Yang ngomong itu adalah appa, masa ia aku bentak-bentak orangtua sendiri? Kualat nanti berarti double dapat karmanya. Ternyata mereka sedang sama-sama menikmati tayangan televisi. Cuma bedanya ayah sedang berbaring saat masuk tadi, jadi tidak kelihatan.


"Lagi sensi yah?" Ucap ayah melongok. Duh maafkan aku appa!


"Masalahnya itu yah, Mina sama sekali gak ada bakat jadi ustadzah, jadi guru, jadi pengasuh. Ishhh ... Gak ngerti sama pemikiran Abang dan ayah gimana, Mina itu maunya kerja kantoran! Wanita karir!"


"Cihh ...wanita kantoran! Noh di kantor KUA mau?"


Bang Satria tertawa geli mendengar apa yang baru saja dipertuturkan.


"Mana ada wanita karir di kantor KUA!" Mulut ini tambah nyolot.


"Ada dek, jadi tukang jaga 24 jam, kan kalau ada yang kawin lari langsung lancar urusannya."


Seenaknya saja bilang begitu. Pokoknya aku cuma akan menginjakkan kaki ke KUA itu nanti hanya kalau sama Kay Oppa saja, minta dihalalin terus dibawa pulang.


"Huuuu, eomma Abang mau kawin lari!"


Awas kau bang, biar kucuci pikiran eomma kalau kau mau kawin lari ke KUA.


"Siapa?"


Ibu keluar sambil memegang tinggi-tinggi sendok goreng penuh tepung dan minyak. Tak lupa celemek ungu favorit ibu ketika memasak masih terpasang. Harum makanan tercium syahdu, bikin hidung kembang kempis sampe bulu-bulunya serasa berjatuhan.


"Etttdah! Ngada-ngada aja ini anak orok! Bukan eomma!" Bang Satria berkilah.


"Ibuuu!! Panggil eomma ibuuu!"


Sekarang appa terbengong melihat tingkah istrinya yang menggemaskan. Mungkin heran, kenapa sekarang rumah terbawa arus dariku yang suka oppa-oppa. Lah namanya suka yah mau gimana lagi? Kalau eomma senang dan terbiasa kan bagus juga? Setidaknya Kay Oppa cepat nyamannya nanti kalau datang ke rumah. Hehehe ...


"Ibu ... Bocah kutu kupret itu tak mau ditawari pekerjaan bagus." Akhirnya si Abang mengadu.


"Pekerjaan jadi guru bantu di MIN yang kau bilang itu?"


"Iya, kan bagus eom-bu, bisa belajar untuk beberapa waktu dulu sampe punya pengalaman. Nanti saat melamar di tempat lain sudah ada pengalaman kerja yang baik."


Terus saja Bang Sat! Terus komporin eomma!


"Eom-bu? Bahasa apa lagi itu? Yang satu suka KPop, yang satu entah suka apa. Kalian ini, wong cuma berdua saja aneh-aneh terus."


Untunglah eomma kembali ke dalam dan melanjutkan acara memasaknya dengan bahagia. Bahagia lah terus eomma ... Asalkan jangan pernah membela perbuatan Abang lagi kepadaku yang lugu dan manis ini.


"Sudah yah, kalau Abang mau, Abang saja yang jadi guru bantu di sana. Sekalian cari ustadzah-ustadzah muda biar hidup abang gak kesepian." Kakiku langsung berlari ke atas, menuju kamar tercinta yang penuh dengan kenangan Oppa untuk berehat sejenak. Kenapa banyak sekali sih yang menghalangi kita?


"Bocah ingusan!" Samar-samar masih terdengar teriakan Abang sampai ke kamar. Dia paling tidak suka diejek kesepian karena selalu ditinggal sang kekasih. Abangku itu bisa jadi pintar, tapi kalau soal asmara, heh! Nol besar! Gak ada apa-apanya, yakin deh!

__ADS_1


"Sudah! Biarkan saja." Lerai appa.


Dasar Abang sok sibuk!


__ADS_2