Korban Cinta Oppa

Korban Cinta Oppa
Bab 24. Gosip Penyembuh


__ADS_3

"Nih!" Arin di jendela seberang menyodorkan sesuatu ke depanku yang juga persis berada depan jendela. Bentuknya pipih, kaku, dengan warna merah menyala seperti cabe dalam blender. Bengong, aneh juga ... Kenapa pagi-pagi dia sudah kasih yang bukan-bukan.


"Ini apa?"


"Baca tuh pake mata! Bukan mulut."


Hah? Yang benar aja! Baca itu pake mulut dong.


"Tiket?"


Gadis di seberang jumpalitan sampe gaya ikoniknya berwujud kayang terjadi lagi. Entah setan apa yang merasuk wahai! Kenapa dia seekstrim itu hanya karena gegara baca tiket pake mulut. Akhirnya aku berusaha mencari letak kesalahan di mana, daripada entar dia jadi lebih parah, kerusupan misal.


"Tiket VIP Ex ..." Jinjja? Ini kan tiket yang kami nanti-nantikan kelanjutannya sejak kemaren, akhirnya dapat juga. Hiks! Dewi fortuna yang tinggal di mana kali ini datang berpihak? Kalau paling dekat kan cuma di Curug Bangkong.


"Sumpah ini nyata gak sih?" Ucapku masih tak percaya.


"Ya maksud Lo gue tukang tipu? Atau itu tiket-tiketan yang dijual dekat tukang bajigur depan kios Lo?"


Sewot banget sih. Ini tuh karena luapan kegembiraan gue yang sudah tertahan sejak bertahun lamanya.


"Itu tiket VIP yang aku dapat dari Juna."


"Hah? Masa sih? Emang dia penggemar EXE juga? Perasaan gak ada cowok yang mau jadi fans dari idol K-Pop. Kok Juna bisa?"


Arin tersenyum kemayu, menyusun anakan rambut menjuntai melewati hidung sambil ditiup-tiupkan ke arah depan. "Kamu nanyea?"


Plakkk!!!


"Adoohhhh!! Kamu bertanyea-tanyea?"


Sumpah! Sikapnya bikin mood indahku menjadi dark kali ini. Sudah tahu aku tidak suka ucapan itu sampai kapan pun. Ya jelas bikin kesal, udah tahu aku nanya malah ditanya-tanya, kamu nanyea? Kamu bertanyea-tanyea?


Jidat yang seluas lautan pantai selatan dia kugetok pakai kemoceng berbulu mammoth supaya tahu diri! Eh, tahu rasa.


"Jangan sampai appa membawaku ke klinik karena darah tinggiku naik."


"Sensi amat lo! Napa main getok-getok jidat gue hah??? Emang kamu mamah aku?"


"Makanya jangan bikin kesal Arinta kasiaaannn deloooooooo!"


Gigit-gigit gemeretak tangkai kemoceng milik nyonya Lusi dibuat si dark Arin. Dia kagak tahu susahnya dapat benda itu minta ampun. Lah kan bulunya juga nggak biasa, nggak pakai bulu ayam Teletubbies peliharaan si abang.


"Yaudah, gue tarik tiketnya! Mana?!!"


Seketika gue ngerasa telah berbuat kesalahan begitu fatal terhadap makhluk absurd tak berperasaan di depan gue. Sekate-kate dia bilang mau narik, padahal tiketnya udah dikasih ke aku.


"Jangan ngambekan napa, aku bayar lebih deh."

__ADS_1


"Gak perlu." Ia masih sinis.


"Serius, nanti yang beli jajan di sana pake uang tabungan aku, gimana?"


"No need."


Busyet!


Baru lihat kadal betina ngambek sedemikian rupa sampe-sampe melupakan persahabatan diantara kami. Jelas, kalau Arin marah, satu kampung dan gang seke-rt an bakal panik luar biasa. Harus dibujuk sampai 17 kali baru dah bisa reda.


"Ih, aku serius tahu!"


"Balikin aja. Biar gue jual tiga kali lipat ke EXE-L yang lain."


"Idihh, mana ada. Orang yang beli juga Juna kan? Bukan kamu."


"Juna siapa?"


"Pacar kamu." Emang siapamu lagi markonah?


"Dia pacarku, dan sesukaku juga ingin apa atas titahnya."


Oh my God! Dia benaran marah deh kayaknya. Harus dengan apa biar mood Arin kembali seperti semula? Kerusuhan ini di luar kendaliku, dan aku telanjur membuat dia marah sampai ke ubun-ubun.


"Balikin."


"Ayolah rin, aku hanya bercanda hehe."


"Rin, sini deh! Ada gosip soal bang Satria!"


Matanya yang judes itu terlihat membulat. Pasti ia tak tahan mendengar kata gosip. Seberapa marah pun ia, obatnya hanya satu, tau kan? Kadang-kadang gosip bisa menjadi obat terampuh buat gadis itu. Tapi, kulihat dia masih tak bergeming dan diam di bingkai jendela.


"Kamu tau kan si Cici, mantannya yang ke-12 itu?"


Masih tak bergeming, namun mulai curi-curi dengar.


"Ternyata udah Hamidun say!"


Kena kan! Pupilnya sebesar kelereng hampir mencuat keluar. Kita lihat mau seberapa lama dia bertahan tak tertarik dengan gosip kebenaran ini. Soalnya dikasih info sama Tamia kemaren, pas baru pulang beli odol di kedai depan gang, bahwasannya Cici (mantan bangsat) tengah hamidun 6 bulan tanpa tahu siapa lakiknya. Panas gak tuh?


"Katanya ..." Sengaja kugantung agar ia semakin penasaran. "Katanya ..."


"Minggir!"


Belum sempat selesai, aba-aba dadakan sang gadis hendak mendarat secepat kedipan mata juga berhasil mulus. Yah, dia mulus sekali huweee ...


Dia mendarat di atas diriku yang ketimpa badannya super berat. Pagi ini, entah pengawalan yang bagus atau tidak.

__ADS_1


"Terus gimana?"


"Aduh pinggangku ..."


"Terus hamidun sama siapa dia? Apa sama si Dikta, pacarnya setelah bang Sat itu?"


"Aduh, ... Rusukku pa-patah ..."


"Apa dia gak ada lakik?"


Tuhan ... Jika memang Arin tak punya kepekaan batin, tolong hindarkan saja dia dari atas diriku. Mendaratnya dua menit yang lalu, tapi sampai sekarang gak berdiri-berdiri. Badanku remuk bagaikan kerupuk kena tinju.


"Da-da ku ..."


"Apanya??? Kalau cerita itu yang lengkap."


Kalau kamu orang lain, sudah kuretakkan ginjalmu duhI gadis error'!! Sudah tahu kau menimpa diriku dan lebih mementingkan gosip? Ketimbang keselamatanku? Sahabat macam apa dia?


"To-tolong dulu ... Biar ku jawab."


Baguslah ia langsung berdiri, mengulurkan tangan seraya menarik untuk bangkit. Tidak tahu dia rasanya habis ketindihan seperti apa, mau bangun tapi gak bisa, kalau gak bangun malah tersiksa.


"Gimana? Gimana?"


"Baiklah. Kamu benar, dia gak ada lakiknya pas hamidun."


"Tuh kan! Gue udah peringatkan bang Sat buat batalin niatnya serius sama si Cici. Ngeyel sih, sekarang ketahuan kan siapa yang benar? Cici terlalu bajingan buat bang Sat yang kebucinan."


"Yah kan kalo cinta gitu, tapi baguslah mereka putus sejak lama dan tak membawa bang Sat dalam masalah ini."


"Iya gitu, trus? Trus?"


"Terus apa?"


"Gimana lagi ceritanya?"


"Kagak ada. Mandi sana! Bau jigong, masa sarapan pagi gue seuprit jigong nyempil di gusimu sih? Bikin mual saja."


"Tapi bener kan? Bukan bang Sat?"


"Walaupun bang Sat itu betul-betul bodoh, terutama sama gue adiknya yang manis manjah unyu-unyu, tapi soal begitu, ia tak berani coba-coba."


"Eh bisa aja tau orang berubah tanpa sepengetahuan orang lain."


Aku memikirkan itu, tapi tetap percaya sama bang Sat. Karena apa gunanya kami sebagai kakak adik tidak saling mempercayai?


"Sudah sana! Aku mau mandi, trus ke toko."

__ADS_1


"Tidak asyik lu!"


Arin cepat-cepat berjalan dan mendarat dengan sedikit kasar ke rumah sebelah. Kakinya nyangkut lagi duhaii!


__ADS_2