Korban Cinta Oppa

Korban Cinta Oppa
Bab 21. Stalking


__ADS_3

“Na ... Na ... Nanana! Eh artis SCBD udah pulang.”


Tas selempang yang tadinya anteng di bahu kanan menjadi batu utama mau melempar si bang Sat. Kenapa dia menyebalkan sekali? Pingin kugigit sampai mampus, atau sampai daun telinganya menjadi musnah dari muka bumi. Gue? Artis SCBD?  Maksudnya yang runaway banyak-banyak nyebrang kali? Lah itu mah juga tiap hari gue jabanin asal sampe ke seberang tanpa dimangsa buaya. Candi, eh canda.


“Busyett! Serigala ngamuk karena ditinggalin tengah jalan yah? Habisnya kamu mana ada pantes-pantesnya dengan Juan. Dia bergengsi, mapan, keluarga terhormat, lah kamu mah seupil aja kagak ada.”


Sialan! bang Sat merendahkan adiknya sendiri, saudara sedarah dan setanah air! Wah! Ada yah modelan kakak macam dia. Aku tahu semua yang dia katakan itu benar, tapi setidaknya coba bermanis-manis kek, pikirin perasaan orang tuh kayak gimana.


“Nih ya dek, waktu zaman SMP dulu, Abang sekelas sama dia dan setiap jam istirahat, bejibun cewek datang ke kelas cuma buat ngantarin makan siang Juan.”


“Trus? Masalahnya?” aku makin ngotot.


“Masalahnya Juan tak pernah menggubris satu cewek pun! Dan itu yang bikin gue suka sama dia!”


Astaghfirullah! Maksudnya apaan yah? Apa jangan-jangan ...


“Lo belok bang?”


Kulihat mulutnya yang tebal sedikit menganga seraya pandangan seakan mengintimidasi daku di atas lantai yang penuh es. Jam menunjukkan pukul 21.30 wib. Cicak di dinding bersenandung ria menobatkan diri sebagai penguasa penuh atas seluruh bagian rumah. Enak saja! Harta warisan tetap jatuh ke anak kandung yah cak!


“Pantesan Lo ... Lo selalu ditinggalin pacar-pacar Lo, karena Lo gak normal gitu?”


Seketika tampolan gue terima di atas jidat yang penuh dengan minyak. Gue ngomong penuh fakta, soalnya sejak dari zaman jahiliyah juga, abangku selalu memiliki kisah cinta yang berujung tragis, alias menyedihkan. Nih pernah, pas SMA kelas dua bang Sat bawa cewek ke rumah. Orangnya cakep, putih, mulus, tinggi dan alim pula. Ala-ala cewek hijabers gitu lah pokoknya. Terus belum sehari datang ke rumah, malamnya udah minta putus. Dengan alasan yang asli beneran  gua anggap tu cewek songong banget. Gegara waktu itu pas keluar kamar aku maskeran putih banget kayak tepung sajaku dikasih irisan timun dan tomat-tomatan. Kan rumah tuh walaupun siang tanpa lampu gelap banget, namanya aja hidup di kota, pas pula lampu di ruang tengah tak nyala. Aku yang bertepatan sangat haus menabrak pintu kamar sampai hordennya lepas. Alhasil, sampai ke lantai bawah ketutupan sama gorden putih, belum lagi gue jatuh sampe keguling-guling pas mau sampe 4 tangga lagi. Tau kan gimana bayangannya? Bayangin aja guys! Sebelum benar-benar sadar kalau baru saja sedang terpentok anakan tangga malah menimpa sesuatu yang perawakannya persis kek badan aku. salah aku buka mata? Salahnya di mana coba? Cewek itu menjerit histeris terus kabur, balek ke rumahnya mungkin. Kagak sopan, barang nyapa hai doang nggak mau. Terus mau ke rumah ngapain? Bukankah mau kenalan sama keluarga bang Sat? atau mau main Ludo?


“Kamu kesambet jin Mimin lagi ya? Keluar gak??!!”


“Adoooh bang! Kau bilang suka sama mas Juan itu maksudnya apa? Lagipula aku sangat heran sama kejombloanmu di usia senja ini, apa ada hubungannya sama mas Juan?”


“Sembarangan! Sekali lagi berpikir seenaknya, Abang buang kamu ke jalanan!”

__ADS_1


“Emang bisa? Mas bukan pemilik rumah tuh.”


“Mas suka karakter Juan, bukan suka orangnya. Kalau itu sih, diiih amit-amit! Abang masih laki, masih normal, masih sangat menyukai daun-daun muda di dunia bagian mana pun.”


“Oohhh.” Singkat saja, aku malas berdebat karena otak sedang dipenuhi rasa gundah. Terngiang-ngiang nama seorang Isabel memenuhi ruang pikir. Apa istimewanya gadis itu? Kenapa mas Juan sangat mencintai dia sampai hal yang tak ia sukai, bisa diterima kehadirannya di sana? Mungkin ini bukan urusanku, tetapi ... Aku rasa aku bisa mencari tahu.


***


Pagi ini, aku berencana ke toko lebih awal. Selain tidak bisa berkata beberapa hal, otak juga sedang dipenuhi beberapa entitas absurd yang tak terkatakan banyaknya. Dari Isabel, Mas Juan, kebelokan bang Satria, sampai teori ayam atau telur duluan menjadi topik hangat di kepala. Aku gitu orangnya, perlu berpikir rumit sampai meledak sendiri, barulah aku anggap namaku pantas menjadi Mina. Gadis cantik, imut, dan ber-image anggun layaknya bangsawan.


“Bubur teh?”


Ting!


“Ma Shaa allah mang Kasepp! Terkejut kan saya!”


Denting piring beradu dengan sendok serasa membuat gendang telingaku mau pecah. Gak asyik, nawarin bubur pake piring doang, sesekali pakai wajan kek.


“Pamali, pamali! Mamang kan selalu begitu. Kemaren makan sambil ngomong juga pamali, mana??”


“Eh, Ari dibejaken mah nurut teh. Buat kebaikan bersama.”


Hokelah. Kebetulan perutku yang tak sempat terisi dari rumah menjadi  berisik seperti genderang mau perang. Perang antara akal sehatku dengan cacing-caing di perut yang mencuri semua nutrisi.


“Bikinin satu bang! Ayamnya sama kacangnya yang banyak yah.”


“Atu doang, bener? Mang Teja sama mang Sakti gak dibeliin?”


“Udah pada makan dari rumah mang. Sok buat ajah!”

__ADS_1


“Wokeee neng, tunggu 2 menit dan langsung jadi.”


“Oke.”


Sambil menunggu mang Kasep buat bubur, iseng kucoba membuka sosmed. Mencari username dengan nama Juan dan ternyata ada. Postingannya tidak banyak, hanya beberapa moment terekam paling spesial lah yang dipublikasi. Paling menarik bagiku, postingan liburan ke pantai, agak jauh ke laut terlihat dua insan berenang sambil tertawa bahagia. Kira-kira siapa?


“Oh? Dilove- in sama Belisa bel?”


Isabel kah?


Benar saja, Isabel tunangan mas Juan. Pertama kali kulihat wajahnya di beberapa foto, satu kata terpikir, anggun. Tipikal cewek yang girly banget, dan pasti banyak diincar-incar pria.


“Ini neng, sudah siap.”


Kuterima mangkok, kubayar, dan akhirnya pergi juga dia. Kalau dibahas-bahas, bisa seharian dia kagak pindah jualan karena terlalu asyik ngegosip. Tak penting.


“Belisa bel? Cantik dan anggun.” Tak sadar mulut menggumam di jalan bubur tetap tersuap ke dalam mulut. Aku saja tergila-gila dengan karisma yang dia punya, apalagi mas Juan.


“Apa kutanya saja langsung sama Juna?”


Ya, mungkin nanti saat Arin memintaku jadi nyamuk dadakan lagi. Aku sangat tertarik dengan topik ini. Kalau ditanya mengapa? Karena pasti sesungguhnya berkat rasa penasaran seperti apa tipe cewek yang pernah meluluhlantakkan hati seorang Juan.


“Neng? Sedang makan yah?” mang Teja menghampiriku dengan tatapan sedang ingin menanyakan sesuatu.


“Iya mang, ada apa?”


“Mau minta tolong print alamat pemesannya neng. Soalnya barang siap di packing.”


“Oh, oke mang! Ini sudah selesai kok. Nanti Mina antar ke belakang oke?”

__ADS_1


Mang Teja mengangguk setuju dan kembali dengan pekerjaannya di ruang belakang. Ayo fokus kerja meski hati sedang terus bicara! Hwaiting Mina-ya!!


 


__ADS_2