Korban Cinta Oppa

Korban Cinta Oppa
Bab 14. Curiga


__ADS_3

“Hai.”


Arin membulatkan mata menatap aku dan pria itu secara bergantian. Bibirnya digigit dan bergerak-gerak seakan sedang manyun, menyen, dan menyan. Eh, maksudnya memble dah tuh! Lagian masang kode kayak sandi pramuka yang rumitnya minta maaf.


“Hai.” Ulang si cowok. Kali ini dengan uluran tangan di depan mata langsung membuat batinku bentrok. Pasalnya, dia itu Erlangga! Erlangga Panji Nasution! Cowok yang mampu mendebarkan perasaan dua bersahabat dalam waktu yang sama.


“Pssstt!!”


“Pssstt!!”


“Kulit pisang!”


Sontak aku tersadar. Pria tersebut menunggu balasan dariku. Demi apa ya Allah ... Kenapa sekarang rasanya canggung, kikuk, dan membuat salah tingkah? Kenapa rambutnya sangat oke? Kenapa wajahnya semakin tirus dan pahatan indah tulang pipi serta dagu itu semakin tajam? Kenapa matanya semakin unik, dan ... Apa yang terjadi? Kenapa dia kelihatan makin mirip idol?


“Hai??”


“Mina-ya! Kau itu budeg atau Bolot sih? Nanti asam urat Langga kambuh kalau kelamaan nunggu!” kicau cecunguk bernama Arin.


“Ehem! O-ooo ...”


“Ooo nga ngo-nga ngo! Kebiasaan si Mina kalau liat oppa-oppa suka lupa diri!” hardik Arin. Sialan! Dia pasti sengaja mau menjatuhkan image kerenku di depan Langga.


“Kulit pisang! Kau tidak tahu sopan santun yah?”


“Idihh ... Apaan sih!” (dongkol but salting)


“Sudah Lang, duduk saja sekarang.”


Aneh. Sumpah aneh!


 Arin dan Langga sepertinya menjadi akrab. Why?


Apa jangan-jangan mereka dekat? Atau pdkt? Atau bahkan couple?


Erlangga mendaratkan tubuhnya dengan mulus, berusaha serileks mungkin meski kulihat ada sinar grogi dalam mata indah di sana. Jadi posisinya sekarang pria songong itu tepat berada di tengah-tengah dua gadis cantik, kami berdua, ciihh! Dijamin dia bakal kepedean, paling banter ketampanannya tampil maksimal 99%.


“Kulit pisang ...”


“Heh! Sembarangan kulit pisang-kulit pisang! Itu kejadian beberapa tahun lalu dan terjadi juga cuma sekali seumur hidup. Masa cuma gara-gara itu kau menamaiku dengan makanan si Mimin?” dia kira aku gak bisa marah apa, no! Mina yang sekarang adalah Mina yang berbeda! Titik!


“Kalian jangan begitu, nanti jodoh Lo!”


Apa-apaan sih Arin! Jelas aku jodohnya Kay Oppa!


“Btw, kenapa kalian bisa bikin rencana di sini? Jadian?” Tidak tahu mengapa tapi otak langsung menangkap ke arah yang sudah pasti menjadi beban pikiran cewek pada umumnya.


“Bukanlah. Kau kan tahu aku sama Juna. Kalau belum, siapa yang akan menolak Langga kalau dia mau.”


Halah ...

__ADS_1


Si Erlangga pasti mesem-mesem kegembiraan tuh.


“Hidup ini bukan cuma soal hubungan pacaran. Aku sering kali menemui bahwa setiap laki-laki dan perempuan kedapatan bersama, orang menganggapnya malah memiliki hubungan spesial.”


“Hah?” Arin memuntahkan jus apel tanpa disengaja.


“Sok keren lu!” balasku ketus.


“Ini perubahan namanya. Erlangga yang dulu dingin, kini jiwa sosialnya sangat tinggi .”


Begini doang nilai kamu di mataku bisa berkurang loh Langga. Bukan mirip yang kau bilang, tapi terkesan kemayu-kemayu manjah begitu di telinga. Apa yang kau dapatkan dari sosial-sosialmu itu mengubah karaktermu juga?


“Tapi menurutku bagus sih, tidak salah. Bahkan jarang ada cowok dengan style beginian malah mencintai kondisi sosial negerinya sendiri.”


“Terserah dah, pokoknya aku ke sini mau makan dan aku sudah lapar, kalau mau terus mengobrol kalian lanjut saja.”


Beberapa hidangan mentah tersedia lengkap dengan alat masak di atas meja. Yakin tidak? walaupun aku suka makan di sini, tapi pengerjaannya rumit sekali. Kita harus makan dengan memasak sendiri, sudah gitu telan aja langsung walaupun panasnya seperti panas lava gunung berapi, mana nunggu matangnya lama banget lagi. Di Korea akan sangat cocok, tapi di sini itu termasuk aneh. Kayak kuda kepang dikasih makan beling, muntah gak tuh?


“Kukira kamu hanya makan kulit pisang.”


Tak kuhiraukan.


“Lang, kamu gak ngajak cewek ke sini?” mereka mengobrol berdua tanpa kepedulianku sama sekali. Tapi tidak munafik seringkali sedikit curi-curi dengar, apalagi tawanya sangat renyah seperti cangkang kepiting di mangkuk nasiku.


“Aku takut ada yang tidak nyaman.”


“Tidak nyaman? Ah kamu pasti punya gebetan karyawan di sini toh?”


“Bukannya karyawan di sini cowok semua? Lo gay?” cecarku tanpa mikir pake otak. Ya iyalah, siapa yang bisa berfikir positif jika pembahasannya sangat sempit. Amit-amit jabang bayi, ya Allah ... Gak nyangka cowok Se-tulen dia bakal gagal masuk simpang.


“Enak saja! Bukan karyawan sini.”


“Trus?”


“Rahasia. Lagian lo kepo banget kulit pisang.”


“Ughhh ... Sekali lagi kamu panggil kulit pisang, kujadikan kamu pisang goreng! Beneran.”


“Gak asyik banget sih.” Tiba-tiba Arin memalingkan wajah. Ketus. Itu anak gak ada angin, gak ada hujan, kesambet apaan dah? Tadi yang ngobrol mesrah berdua kan mereka, malah cari-cari perkara sok ngambek padahal bukan pacarnya dong.


“Udah ah makan yuk! Lo yang bayar yah Lang!?”


“Boleh. Asal dikasih nomor handphone.”


Arin dan aku terbengong, seorang Erlangga meminta nomor cewek? No! No! No! Dunia pasti udah kebalik. Nomor siapa pula yang ingin dia dapatkan? Padahal kalau mau tanpa minta, semua cewek bakal minta kontak dia duluan. Kecuali aku.


“Nomor siapa?” jawab kami bersamaan.


“Uhukk!! Uhukk!!”

__ADS_1


Eh ... Dia malah batuk. Si Langga semakin besar semakin meresahkan yah Bun? Semakin misterius dan mensugesti pikiran bahwa kegemasan ini harus disalurkan. Kalau bisa cubit aja ginjalnya satu. Dia yang minta, dia yang grogi. Wanita seperti apa bisa membuat Erlangga salah tingkah begitu.


“Kenapa? Ceweknya dekat sini?”


“Anu Rin ... Makan saja dulu.”


“Nggak apa-apa kok Lang. Cerita aja buat kita. Gak usah malu, gue aja pernah di tolak sama lo  gak malu kan sekarang?”


“Sumpah dia nolak Lo?” sejak penyampaian surat waktu itu, soal balas-balasan berikutnya aku tak pernah ikut campur. Karena yang tersiksa  ...


“Lo gak tau?” Langga menatap begitu tajam. Ekspresi yang tadi terlihat kemayu berubah seakan ada hal lain dalam dirinya. Marah kah? Kecewa kah?


“Enggak.” Sambil menggelengkan kepala. Sementara sahabatku yang sebiji itu menunduk sambil cengengesan menahan malu. Dia tidak pernah bercerita apa pun perihal itu kepadaku. Rasanya ada yang patut dicurigai lagi mencurigakan. Tidak apa-apa, biar kusuruh detektif Conan mencari tahu.


“Oke guys, kita makan dulu yah? Tempatnya mau tutup!” Siapa pun akan tahu, malaikat, manusia, cicak-cicak di dinding dan demi daging dalam rebusan yang belum matang, tahu kalau Arin sedang berusaha mengalihkan pembicaraan.


“Mana ada jam segini tutup?”


“Betul. Ini bukan warteg kali Rin.” Langga setuju.


Skak mat! Kena kau kan!


"Eh ... serius tahu!" ia masih menyanggah. Sudahlah, dia pasti gengsi dan malu jika rahasianya ketahuan. Tunggu yah, lambat lain akan terbongkar juga. Seperti kata pepatah, bau busuk itu pasti akan keluar dengan sendirinya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2