
Sebelum appa datang siang ini, sepertinya duduk sambil minum es dawet adalah hal menyenangkan. Untung saja mang Sakti sudah selesai packingan dan menyempatkan diri memilah barang mana lagi yang masuk untuk pesanan besok. Isu-isunya besok ia akan kerja sendiri, sedangkan appa dan mang Teja bakal ke pabrik memasok barang baru. Dan sudah jelas, penjaga toko seharian jatuh kepada Aramina. I see, itu bakal panjang.
“Mang jaga sebentar yah? Mina mau beli es dulu.”
Mang Sakti mengangguk. Dua pekerja ayah baik-baik, tak pernah mengeluh meski banyak pekerjaan di toko setiap harinya. Hal yang sangat membuat kami senang, juga tidak pernah kedapatan berperilaku curang apalagi hal licik yang lain. Appa juga royal kepada mereka, sebab appa merasakan pekerjaan itu tak pernah sebanding dengan gaji berapa juta rupiah pun. Sebab sadar, seenak-enaknya pekerjaan itu tak pernah ada yang enak banget.
“Bang, es-nya tiga! Pake mangkok gede terus punyaku banyakin dikit yah bang.”
“Hogeyyyy!” sahut si Abang sambil ngangkat kelingking. Aneh banget dah, perasaan orang kalo bilang oke tuh angkatnya jari jempol. Kelainan kali, pas lahir sukanya isep kelingking.
“Seger bener neng, kagak mau pake galon ajah?”
“Kembung bang, terlalu banyak air.”
“Kirain kembung karena ada dedeknya, hehehe ...”
“Ih amit-amit bang! Pacar aku masih jauh banget bang.” Tukang es dawet songong!
“Di mana neng? Imajinasi? Soalnya kagak pernah lihat selama 4 tahun nongkrong di sini.”
Lah itu kan bukan urusan Lo juga bang!
“Ada pokoknya, jauh.”
“Sejauh apa neng?”
Dih, kepo amat bang dawet.
“Luar negeri.” Mampus tuh kau bang! Baru tahu kan kalau pacar seorang Aramina itu bule. Macam-macamnya aja dilihat wajah tak seperti hoki, padahal calon suami berkelas. Oppa.
“Ooo ... Pacar neng TKW? Mending juga sama Abang yang selalu ada di sini setiap waktu nemenin eneng jualan batik. Uhuyyyy!!!” si Abang bersiul-siul tak tentu arah. Berasa ganteng atau gimana yah? Tiap hari digombalim sama tukang es bikin eneg tahu. Sembarangan juga ngata-ngatain Oppa TKW!
“Bukan, tapi my boyfriend is an idol.” (Biarin gak ngerti)
“Ooo tukang dodol. Tukang dodol kok jauh ke luar negeri, noh di Garut juga udah banyak dan laris manis.”
Arghhhhhhhh!
Sumpah circle gue tuh gak ada yang beres. Kalo gak bego yah bengek. Sampe aku ikut-ikutan bengek ke tulang rawan. Ada-ada aja sih tipe manusia yang muncul di hadapan gue.
“Udah siap kan bang? Nih duitnya, ambil kembaliannya!”
Selesai dah gombalan elu bang! Unfaedah. Kalo Abang setampan Oppa Suha tak apa, atau minimal seimut Oppa DA, pasti lakonan Abang aku ladenin ke Maghrib Isya.
“Eh nengggg!!!”
Aduh apalagi sihh??! Teriak-teriak di tengah panas gini apa orang-orang gak bakal aneh?
“Nenggggg!!”
“Kenapa lagi bwang?” ucapku seraya berbalik arah menatap dengan kesal pada mas penjual es. Aduhai, wajahnya yang sok salting itu malah semerah kepiting rebus di dalam kukusan.
“Neng, duitnya kurang!”
Mati aku! Kebodohan apalagi kali ini Mina??? Belagu banget kasih kembalian padahal uangnya kurang.
“Ini puluh rebu neng. Es dawet tiga kan mabelas neng. Pelupa amat, cocok jadi istri.”
Idihhh apaan?
“Maksudnya kalo pelupa, berarti yang ada di hati neng sedikit, cukup abang saja hehehe ...”
“Nih bang! Gak usah ambil kembaliannya!”
Gue balik badan, tak menoleh ke belakang, karena rasa malu tak terperikan kepada Abang es dawet. Soalnya yang menyaksikan itu bukan cuma kami berdua, ada juga mas tukang bajigur dan tukang siomay (mantan pdkt, sedikit mirip Oppa Chan) yang bahkan tak berkedip memandang adegan kami. Duh, malunya bikin pusing!
“Mang, ini bawa ke dalam buat mamang berdua. Mina akan jaga di sini.”
“Terima kasih yah non.”
“Iya mang.”
Belum hilang malu di dada, sebuah pesan terdengar dari ponselku di atas meja. Tertera nama Chan Oppa mengirim chat di aplikasi hijau. Kenapa aku kelupaan buat hapus itu nomor ya? Padahal chat terakhir itu 5 bulan lalu ketika kulihat dia ketemuan di alun-alun sama jamur (janda di bawah umur) yang tinggalnya satu gang sama gue. Pake ketawa-ketiwi segala, padahal sebelum berangkat pamitnya mau beli bahan jualan ke grosir.
[Makin cantik aja dek]
Sinting. Tiap hari kan liat-liatan, masa iya cantiknya cuma pas gue kurang uang bayar es dawet? Aneh kan? Aneh banget lah.
__ADS_1
Ting!
[Adek gak mau siomay? Kalau mau biar Abang antar ke toko.]
Aduh bang ... Gini yah! Semenjak aku melihatmu di depan mata dengan si jamur sewaktu di alun-alun, hatiku perih, sakit, memberontak dan berjanji bahwa mulai saat itu aku tidak akan mau lagi makan siomay. Meski jajan favoritku, aku tetap bakal sependirian. Luka tidak bisa makan siomay itu karena trauma masa lalu yang kau buat, Bambang!
“Sok perhatian.”
Ting!
Ting!
Ting!
Mau sebanyak apa pun usaha Lo bujuk gue yang udah keram rasa, gak bakalan mau makan siomay lagi, apalagi siomay jualanmu. Sok, silahkan mau spam chat juga gak masalah.
Drtttt.
Drtttt
“Tadi chat, sekarang telfon. Emang yah penyesalan itu datang selalu terlambat. Pas gue makin glowing pula.”
E, tapi ... Itu sepertinya bukan tukang siomay. Ada nama mas Jin tertera di atas layar.
“Mas Jin? Tumben nelfon.”
Karena gue anaknya gak enakan, langsung setelah 1 detik panggilan kedua telfon mas Juan kuangkat. Mendengar suaranya, bikin nagih buat meneguk es dawet sampe tandas. Ada yah, booster penaik mood yang sangat ampuh tanpa minta sekalipun.
“Kenapa mas?”
Mas bilang sedang di jalan mau ke toko, mau mampir sebentar. Entah mau beli barang ataukah hanya sekedar ... Bertemu. Aahh, bunga anggrek plastik di samping komputer kok makin berwarna saja? Makin segar dan seperti hidup betulan.
“Aku kucel gak yah? Siang-siang begini pasti bedaknya ngembang.” Kaca super mini memantulkan bayangan di mana wajahku yang tadinya segar, glowing, dan berseri mendadak sangat kusam. Pas, bedaknya mulai mengelilingi pori-pori, area sekitar dahi, hidung, dan dagu mulai dipenuhi minyak-minyak kehidupan teramat pekat. Tidak bisa! Kalau mas Jin datang di saat tampang tak memadai, bisa-bisa luntur image gue.
Seketika ingat kalau ini juga bukanlah di rumah. Toko tidak tersedia alat-alat make up apalagi skincare yang kutaruh di atas meja rias dalam kamarku. Jadi, setidakmau apa pun aku tidak ingin mas Juan melihat dalam keadaan yang enggak banget, dia tetap harus melihatnya.
Tiiinn!
Tuh kan! Sudah sampai!
Seperti biasa, dia tersenyum dahulu dan baru akan menjawab. “Hai dek. Sedang sibuk?”
Aku menggeleng. Soalnya hanya tinggal menunggu appa bergantian jaga toko. “Sedang siap-siap mau pulang mas.”
“Dengan siapa?”
Sudahlah mas! Kau pasti ingin menawarkan tumpangan diantar ke rumah kan? Antar saja aku! Antar saja setiap hari kalau boleh! Tak perlu tanyakan karena kau tahu jawabannya.
“Sendiri mas.”
“Mas antar boleh? Sekalian ada yang ingin mas sampaikan sama adek.” Ketika kupandang dua bola matanya, ada keinginan yang sangat dia pendam. Apakah hari ini? Hari di mana dia ingin menyatakan perasaan setelah beberapa waktu berkenalan denganku? Ahhh mas, aku belum siap! Belum kucurhatkan kau kepada Oppa dan minta persetujuan apakah aku boleh dekat denganmu. Kalau sabar, sebaiknya tunggu beberapa hari lagi sampai izin Oppa kudapat.
“Mas mau bilang apa yah? Katakan saja di sini.”
“Betul di sini aja?” mas menatap menunggu anggukanku.
“Iya mas. Katakan saja, hehe ...”
“Begini, mas akan buka cabang ‘masih sayang caffe' di luar kota, dan kalau bisa ... Ini!” sebuah undangan berwarna coklat muda mas taruh di atas meja. Tertulis jelas kalau open ceremonial masih sayang caffe akan diadakan beberapa hari lagi. Astaga!! Aku mikirnya apa sampai-sampai kayak orang dongo berharap hal tak mungkin itu terjadi. Ya, mana mungkin mas suka padaku yang dekil ini?
“Maafkan aku Oppa ...” aku bersalah mengkhianatimu hanya karena sebuah notif dari mas Jin.
“Dek?”
“I-iya mas?” jawabku agak kikuk.
“Mas undang kau dan Arin untuk datang yah, kalau kalian bisa mas akan senang sekali.” Senyumnya mengembang lagi, aku merasa bersalah lagi, dan ini terjadi lagi.
“Begini mas ... Aku belum pernah minta izin sejauh itu untuk bepergian. Apalagi sama Arin berdua. Jadi aku minta maaf mas, belum bisa memutuskan bisa pergi atau tidak sekarang.”
“Kata siapa akan berdua? Kita bisa berangkat bersama dengan Juna kalau mau.”
“Hhah?”
“Apa perlu mas yang minta izin sama bapak dan ibu di rumah?” mas memandang dengan teduh, membuat relung jiwa menghangat seketika tanpa tercampur dengan panasnya siang ini. Seperti hipnotis, kali ini aku terjerat lagi, mengangguk lagi, dan jatuh dalam pesonanya yang menghantui lagi.
Lagi dan lagi.
__ADS_1
Arghhhh mas Juan!!! Aku bisa gila!!!!
__ADS_1