Ku Kejar Cinta Adam

Ku Kejar Cinta Adam
11. Terkunci


__ADS_3

"Diharapkan kepada remaja mesjid supaya datang ke mesjid kita ini untuk membersihkan pekarangan mesjid, berhubung kita akan menyambut bulan suci Ramadhan," suara pengumuman dari toa mesjid terdengar ke telinga Hana dan Anya yang baru saja pulang dari toko buku.


"Han..gimana? kita pergi nggak?" Anya sepertinya sedikit malas untuk gotong royong di pekarangan mesjid.


"Iya pergilah Anya..kan ini cuma sesekali aja, lagian itu mesjid satu satunya yang kita punya di kampung ini, nggak enak kalau nggak ikut gotong royong," balas Hana.


"Ih..tapi malas Han.."


"Jangan malas, kita masih muda loh, masa anak muda mager kayak gini, ayok gerak.." Hana menarik tangan Anya menuju ke mesjid.


Sampailah di sana, remaja mesjid yang datang masih terhitung jari. Mungkin sebagian masih di perjalanan.


Adam dan temannya yang bernama Zaki telah datang lebih dulu di sana. Tentu mereka juga sangat bersemangat untuk menyambut bulan suci ramadhan.


"Adam..itu ada Hana sama Anya, samperin yok," usul Zaki pada Adam, Zaki memang akrab dengan Anya dan Hana di sekolah, tentu saat bertemu pun mereka selalu menyapa.


Adam hanya mengikuti perkataan Zaki itu


Hingga Zaki menarik tangan Adam ke hadapan Hana.


"Hana..Anya..kalian di sini juga ya.." sapa Zaki yang datang beriringan dengan Adam.


"Eh Zaki, iya nih, tapi kok pak marbot nggak keliatan ya, soalnya peralatan kebersihan kayak sapu sama yang lainnya kan ada sama pak Surya marbot di mesjid kita ini," ujar Hana sembari menyapa Zaki dan Adam.


"Ada kok, tadi lagi bersih-bersih di tempat wudhu laki-laki," balas Zaki.


"Ini kuncinya ada sama aku kok, kalian tunggu di sini ya, biar aku ambilkan peralatannya ke gudang," ucap Adam sembari menunjukkan kunci yang ternyata di berikan marbot mesjid.


Adam pun bergegas ke gudang untuk mengambilkan peralatan yang diperlukan untuk kebersihan. Sedangkan Hana, Anya dan Zaki menunggu di depan mesjid.


Tak berapa lama, Adam pun kembali membawakan beberapa peralatan kebersihan seperti sapu, sekop, kemoceng, kain pel dan lain lainnya.

__ADS_1


Hana mengambil salah satu dari alat kebersihan itu. "Aku di dalam aja ya dam, bersihin lantai mesjid," ucap Hana sembari mengambil sapu beserta kain pel.


"Iya," jawab Adam, sedang pandangannya tetap ia tundukkan.


Hana pun bergegas ke dalam mesjid untuk membersihkan bagian dalam mesjid. Diikuti dengan Anya yang juga mengambil kemoceng untuk membersihkan debu debu di kaca dan peralatan di dalam mesjid.


Saat ini Hana dan Anya sedang bekerja sama membersihkan bagian dalam mesjid. "Han..kamu jadi kursus menjahit nya?" tanya Anya saat ia mengelap jendela.


"Iya Nya, aku mau mengasah bakat aku di bidang itu, kamu gimana? mau kuliah?" balas Hana yang juga sambil menyapu.


"Setelah aku pikir pikir ..kayaknya aku pengen ikut kamu kursus aja deh," jawab Anya


"Anya...jangan gitu lah, kamu harus pikirin baik baik dulu, jangan cuma ngikut aja, coba pikirkan lagi, lagi pula kamu kan bisa kuliah, orang tua kamu masih sanggup,"


"Aku malas belajar Han, lulus SMA aja aku udah Alhamdulillah, pusing belajar mulu, mending aku cari bakat terus buka usaha, iyaa sih ...papa ku maksa bangat biar aku kuliah, tapi kan..aku nggak pengen kuliah," balas Anya yang hampir tidak punya tujuan untuk masa depannya. Ia hanya mengikut Hana saja.


Hana pun geleng kepala karena tak tau lagi harus berkata apa. "Ya udah deh, aku angkat tangan, terserah kamu aja," lanjut Hana.


"Pasti ada lah..bentar ya..aku ambil di gudang, biasanya pak marbot selalu simpan di sana," ucap Hana. Ia pun bergegas ke sebuah ruangan paling belakang mesjid yang memang di jadikan penyimpanan barang barang milik mesjid.


Sampailah di depan pintu gudang, Hana melihat pintu yang terbuka dan kunci yang masih menempel di pintu.


Hana pun langsung masuk untuk mengambilkan ember tersebut. Tak di sangka ternyata Adam pun ada di dalam. Ia sedang mencari palu untuk memperbaiki pintu masuk tempat wudhu.


"Adam..cari apa?" tanya Hana mengejutkan Adam yang sibuk mencari palu itu.


"Eh Hana..ini..lagi cari palu, kalau kamu mau ngambil apa?" tanya Adam balik, sedang matanya masih mencari cari palu itu.


"Mau ngambil ember dam, kamu lihat nggak?"


Sementara itu, di luar ada pak Surya sang marbot di mesjid. Ia tak sengaja melihat pintu terbuka dan kunci yang masih tergantung di pintu.

__ADS_1


"Pasti anak anak itu lupa kunci pintu nih.." ucap pak Anas sambil mengunci pintu itu. Ia tak menyadari bahwa di dalam masih ada orang. Setelah ia mengunci pintu, pak marbot langsung bergegas pergi.


Di dalam gudang, Hana sibuk mencari ember, sedangkan Adam sibuk mencari palu. Tak lama kemudian mereka pun menemukan barang yang masing-masing mereka cari.


"Alhamdulillah..ketemu ember nya ..kamu udah Nemu palunya dam?" tanya Hana sembari menoleh ke arah Adam di sana.


"Alhamdulillah udah Han.." sahut Adam sembari berjalan ke arah Hana.


"Ya udah kita pergi yuk, nanti yang lain pada nunggu," Hana berjalan keluar, begitupun Adam yang berjalan sembari memegang palunya.


Keduanya terkejut melihat pintu yang sudah tertutup rapat. Perasaan Hana mulai tidak tenang. Sepertinya ini pertanda buruk.


Adam mencoba membuka pintu, namun berkali kali ia mencobanya tetap saja gagal. "Kayaknya pintunya dikunci deh," ucap Adam yang sudah pasrah.


"Masa sih.." Hana pun mencoba mengetuk pintu dengan keras sembari meminta tolong dan berharap seseorang akan mendengarnya.


"Tolong buka pintunya! siapa pun yang di luar, tolong buka .." jerit Hana berkali kali. Namun tetap saja tak ada jawaban.


Ruangan itu agak jauh ke belakang bangunan mesjid hingga sulit bagi orang lain untuk mendengar suara Hana.


Tak ada jendela, ruangan sangat pengap. Namun kini Hana hanya pasrah setelah berkali kali ia berusaha meminta tolong.


Begitu pun Adam yang bersandar di pintu, ia mencari cara untuk keluar.


"Adam..apa kita akan kejebak di sini?" tanya Hana menoleh ke arah Adam.


"Kita berdoa aja ya han, kamu tenang aja, pasti kita bisa keluar dari tempat ini," balas Adam seraya menenangkan hati hana.


Adam menoleh ke arah Hana, ia menatap gadis yang sedang ketakutan itu. Ingin rasanya mendekat untuk menenangkan hatinya, namun sadar bahwa Hana bukanlah mahramnya.


"Tenang Hana..ada Allah, kita akan baik baik saja," ucap Adam lagi. Ia berharap Hana tidak takut dengan keadaan ini.

__ADS_1


__ADS_2