
Allahuakbar Allahuakbar...
Suara azan berkumandang,
Akhirnya waktu berbuka pun tiba. Hana dan abangnya Usman makan bersama di dapur. Karena memang rumah Usman bukanlah rumah besar yang di lengkapi banyak ruangan khusus.
Kakak ipar Hana (Sulis) tidak ikut buka karena memang ia tak berpuasa. Air mata Hana tiba-tiba menetes melihat cendol di meja.
"Kenapa Hana?" tanya Usman menatap adiknya.
"Aku teringat sama ibu bang, dulu pasti ibu selalu membuatkan takjil untuk kita," ucap Hana yang merindukan sosok ibunya.
"Kita doakan semoga ibu dan ayah di tempatkan di tempat yang terbaik ya, kamu nggak usah sedih sedih gitu, kan masih ada Abang," ucap Usman untuk menghibur hati Hana.
Suara ketukan pintu terdengar.
"Hana..ada yang cariin kamu!" panggil kak Sulis dari depan.
"Iya kak.. bentar.." sahut Hana dan buru-buru keluar melihat siapa yang datang.
Hana membuka pintu dan terkejut dengan laki-laki yang berdiri di teras rumah. Begitu laki-laki itu menoleh, Hana terheran karena yang datang ternyata adalah kang Didi. Seorang pemuda pindahan di kampung ini. Ia sudah lama mengejar Hana namun Hana tak pernah menganggap serius.
"Kang Didi..mau ngapain kang? emangnya kang Didi nggak buka puasa, apa memang nggak puasa?" tanya Hana yang tak banyak waktu untuk meladeni kang Didi karena Hana pun harus buru-buru sholat Maghrib.
"Gini Hana..aku ke sini mau ngantar takjil buat kamu dan keluarga mu, aku udah buka puasa kok, kamu jangan khawatir sama aku, aku baik baik aja kok, aku tau kamu pasti khawatir kalau aku telat buka puasanya," ujar kang Didi sembari senyum sendiri.
"Kang..nggak sholat Maghrib?" tanya Hana lagi.
"Udah Hana..aku baru aja sholat,"
"Hah? kan baru azan kang??" Hana makin merasa tidak beres dengan kaki laki di hadapan nya itu.
Tiba-tiba Usman datang menemui Hana yang sedang berbicara dengan Didi. "Ehem..Hana..masuk!" suruh Usman dan kemudian ia berhadapan dengan kang Didi.
__ADS_1
"Eh ada bang Usman, gimana kabarnya bang, sehat?" sapa Didi dengan ramahnya.
"Alhamdulillah baik, kamu Didi kan? ada urusan apa ke sini?" tanya usman dengan tegas.
"Oh..anu bang..ini ada sedikit takjil buat Abang, mohon di terima bang," ucap Kang Didi yang sedikit gemetar.
Usman pun menerima takjil itu. "Makasih, udah itu aja kan..apa masih ada urusan lain lagi?" tanya Usman lagi.
"Ya udah saya pamit bang, assalamualaikum," ucap kang Didi dan buru-buru pergi dengan berlari cepat menuju rumahnya.
Hana yang masih mengintip di kaca ikut tersenyum lucu melihat kang Didi yang takut pada bang Usman.
Sebelum isya, Anya sudah mendatangi rumah Hana untuk mengajak Hana ke mesjid bersama.
"Assalamualaikum..Hana.. tarawih yuk.." panggil Anya yang berdiri di halaman rumah Hana.
Tak lama kemudian Hana pun keluar."Iya Anya..nggak usah keras keras gitu manggilnya, itu Kaka ipar aku keberatan," kata Hana saat ia menemui Anya di luar.
"Kak Sulis? biarin aja dia keberatan, biar kupingnya merah sekalian," ucap Anya sambil tertawa.
"Ya biarin ..kan dia jahat bangat sama kamu Han, kamu aja yang masih menganggap dia baik," lanjut Anya, ia memang tak pernah suka dengan Kakak ipar Hana karena Sulis sangat sering memanfaatkan Hana semaunya.
"Udah..ayo jalan..nanti keburu telat loh," ajak hana sambil menarik tangan Anya agar segera berjalan cepat ke mesjid.
"Tapi..ngomong ngomong.. kayaknya ada yang lagi berbunga-bunga nih," ucap Anya tersenyum menatap Hana.
"Maksud kamu apa sih nya? siapa yang berbunga bunga?" tanya Hana, ia tak mengerti dengan candaan Anya.
"Ya kamulah..aku tadi siang lihat kamu lewat di depan rumah aku, dan pas aku perhatiin ternyata kamu itu jalan berdua sama Adam, cie..cie.." lanjut Anya menggoda Hana
"Ih..apaan sih Anya..berdua apanya? kan ada Zakia yang aku gendong,"
"Zakia mah nggak masuk hitungan, kan masih bayi," ucap Anya.
__ADS_1
"Astaghfirullah..otak kamu tuh selalu aja nggak beres Nya, tadi Adam cuma bantuin aku doang, karena dia kasihan lihat aku bawa banyak belanjaan sambil gendong zakia," jelas Hana sejelas-jelasnya.
"Awal nya emang kasihan, lama lama jadi cinta,"
"Kamu tuh ya..selalu aja bahas cinta, ingat sekolah Anya.." balas Hana pada Anya yang memang selalu mencocok cocokkan Hana dengan Adam.
Tiba tiba saat di perjalanan ke mesjid, Hana lagi-lagi berpapasan dengan Adam. Namun keduanya tampak menjaga pandangan masing-masing. Hana pun tak menyapa hanya sekedar senyum saja. Setelah itu Hana langsung berjalan bersama Anya dengan mempercepat langkahnya.
"Cie...yang malu malu pas ketemu.." ledek Anya pada Hana hingga Hana merasa malu. Ia menutup mulut Anya yang berbicara keras tanpa rem.
"Ih Anya ..jangan ngomong gitu, nanti ada yang dengar gimana.."
"Ya nggak pa pa..kan aku nggak ngomong macam macam.." balas Anya yang selalu ada jawaban membuat Hana terdiam.
Hari demi hari berlalu, ramadhan semakin hari akan semakin berakhir. Hana hanya bisa menatap adam dari jauh. Bahkan ketika berpapasan pun pasti Hana malu untuk menyapa Adam. Begitu pun Adam yang sangat menjaga pandangannya dari wanita.
Tak terasa lebaran telah tiba.
Allahuakbar.. Allahuakbar.. Allahuakbar...
Suara takbir menggema di seluruh penjuru kampung Mangga madu.
Hana pun bermaafan dengan keluarga terlebih dahulu. Terutama pada abangnya. Ia tampak menangis di pelukan abangnya. Rasanya ia teringat ibunya di kala lebaran datang. Air mata membasahi pipinya. Namun sang Abang selalu jadi yang pertama untuk mengeringkan air mata Hana.
"Jangan sedih sedih lagi ya..kamu masih punya Abang, Abang adalah pengganti ibu dan ayah untuk menjagamu," ucap Usman ke telinga Hana.
Setelah itu barulah Hana dan Usman bersama sama sholat idul Fitri ke mesjid. Sedangkan Sulis tidak ikut karena harus menjaga Bayinya.
Hana dan abangnya berjalan bersama ke mesjid dengan pakaian yang rapi dan bersih. Usman yang mengenakan baju kokoh dan kain sarung sedang Hana memakai mukenah putih.
Sampailah di depan mesjid. Usman pergi lebih dulu ke dalam mesjid. Hana masih menunggu Anya karena sudah berjanji. Namun tepat saat itu tatapan matanya berpapasan dengan tatapan Adam yang berdiri dua meter di depan.
Keduanya hanya saling bertatapan sesaat. Adam ingin menemui untuk mengucapkan selamat hari raya namun ia mengurungkan niatnya karena khawatir itu hanya akan membuatnya semakin tak bisa menahan pandangannya.
__ADS_1
Adam pun masuk ke dalam mesjid. Sementara itu Hana masih menatap langkah Adam. "Selamat hari raya idul Fitri Adam," ucap Hana dalam hatinya.