
Pagi itu, Hana membawa bayi kecil Zakia untuk jalan jalan menghirup udara pagi di kampung Mangga Madu.
Hana mendorong kereta bayi Zakia, sedang di tangannya ia selipkan kantongan berisi sendal Adam. Rencananya Hana sekalian mampir ke rumah Adam untuk mengembalikan sendal itu. Namun siapa sangka ternyata ia bertemu Adam di jalan.
"Adam..kebetulan kita ketemu, aku mau mengembalikan sendal mu, terimakasih sudah meminjamkan sendal ini," ucap Hana sembari memberikan kantongan berisi sendal itu.
"Iya sama-sama Hana.." jawab Adam sembari mengambil sendalnya.
Keduanya tampak saling diam setelah Adam menerima sendal itu. Hingga Adam menatap bayi yang ada di kereta bayi.
"Bayi ini siapa Hana?" tanya Adam yang gemas melihat bayi lucu di depannya.
"Ini Zakia, anak bang Utsman," jelas Hana yang tersenyum menatap Zakia.
"Maasyaa Allah..cantiknya.." ucap Adam namun tatapannya tertuju pada Hana.
Hana tak menyadari itu karena ia fokus menatap bayi Zakia. "Iya dia memang cantik.." balas Hana.
Adam pun tersadar "Astaghfirullah.." ucap Adam spontan ketika ia menyadari bahwa ia telah memandangi perempuan yang bukan mahramnya.
"Kenapa dam?" tanya Hana, ia kaget mendengar Adam beristighfar.
"Nggak..aku cuma teringat sesuatu, kalau gitu aku permisi ya, assalamualaikum," ucap Adam dan langsung buru-buru meninggalkan Hana.
"Waalaikumussalam.." jawab Hana, namun matanya masih menatap langkah Adam hingga jauh. Ia tak kuasa menahan senyum karena baru kali ini ia mengobrol dengan Adam meski hanya singkat saja.
...****...
Saat Zakia tertidur lelap di siang hari, Hana menyempatkan waktu untuk menulis beberapa tugas sekolah yang harus di kerjakan semasa libur.
Namun seketika Hana mengingat momen momen ketika ia melihat tatapan indah dari Adam. Tak sadar ia telah menulis sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang ingin ia tulis.
Tangannya tak sadar menuliskan Nama Adam dan Hana di buku latihannya. "Astaghfirullah..." ucap Hana ketika ia menyadari kekhilafan nya. Ia buru-buru mencoret tulisan singkat itu.
__ADS_1
"Astaghfirullah aku kenapa sih, kok malah teringat Adam terus, ya Allah tolong hilangkan kekaguman ku pada Adam jika itu bisa merusak diriku sendiri," batin Hana yang tak ingin terbayang wajah Adam lagi.
...*...
Di sisi lain Adam tengah mengobrol dengan temannya di kampung, yang bernama Zaki. Zaki adalah satu satunya teman Adam yang cukup dekat dengannya di kampung ini.
Kini Zaki sengaja mengunjungi rumah Adam untuk bertemu karena setelah sekian lama mereka tidak bertemu.
"Wah makin keren aja kamu dam, gimana kabarnya, betah nggak di penjara suci?" sapa Zaki, keduanya duduk santai di teras rumah Adam.
"Alhamdulillah betah, lah kamu sendiri gimana? pasti masih betah kan tinggal di kampung yang indah ini?"
"Mau gimana lagi dam, di sini kan biaya pendidikan murah, kalau aku ke kota pasti mahal tuh, rencananya sih setelah lulus baru aku merantau," balas Zaki
"Iya aku ngerti kok, lagian kamu harus bersyukur zaki, di luar sana banyak orang yang nggak bisa sekolah, aku yakin kalau kamu giat pasti kamu bisa meraih cita-cita kamu,"
"Iya sih.. Alhamdulillah di kelas aku selalu dapat juara dua,"
"Pamer nih.."
"Iya iya deh..terus perjuangin biar dapat rangking satu," kata Adam menyemangati Zaki.
"Kalau untuk juara satu susah dam..aku nggak pernah bisa menyaingi Hana, dia itu pintar, akhlaknya juga baik, nggak pernah telat ke sekolah, pokoknya dia itu paling di sayang guru deh, tapi dia di sayang karena memang kepribadian dia yang baik, sopan dan ramah" jelas Zaki.
Adam tak heran lagi dengan ucapan Zaki. Karena memang Hana dari SD selalu mendapat rangking di kelas. Namun ia terkesan dengan kepribadian Hana yang baik tanpa menyentuh bangku pesantren.
...**...
Malam itu Hana kembali menatap Adam dari jauh saat Hana hendak memasuki mesjid. Seketika Hana bahagia meski hanya bisa menatap Adam dari jauh.
"HM..liatin siapa tuh.." Anya mengagetkan Hana.
"Astaghfirullah..Anya..ngagetin aja,"
__ADS_1
"Makanya jangan suka ngelamun, lagian aku nggak ngapa ngapain kenapa kamu kaget?"
"Udah..udah..ayo masuk bentar lagi azan," Hana pun menarik tangan Anya memasuki mesjid. Keduanya tampak duduk dengan posisi berdekatan.
Suara azan dilantunkan. Suaranya jauh berbeda dari azan biasanya. Kali ini suara azan terdengar asing dan merdu. Sangat indah untuk di dengar hingga semua jemaah wanita bertanya tanya tentang siapa yang azan.
Namun Anya sudah bisa menebak suara azan itu. "Itu pasti suara Adam, suaranya persis kayak suara Adam," bisik Anya ke telinga Hana.
"Iya mungkin.." jawab Hana yang sedari tadi menyimak azan. Ia merasa tersentuh dengan suara azan yang indah. Baru kali ini ada yang azan seindah ini di kampung Mangga madu.
"Ya Allah..kenapa kau pertemukan aku dengan Adam, aku tak ingin berlama lama dengan kekaguman ini, karena jika ku simpan terlalu lama aku takut ia akan menjelma menjadi rasa cinta, padahal sudah jelas Adam tak mungkin melirik wanita seperti ku," batin Hana yang tampak melamun sendiri.
"Hana..nggak sholat Qobliyah? biasanya kamu sholat Sunnah kan," tegur Anya pada Hana yang melamun. Karena biasanya Hana akan sholat Qobliyah sebelum sholat isya.
"Astaghfirullah..iya..makasih udah ngingetin," ucap Hana ketika ia tersadar dari lamunannya.
...**...
Keesokan harinya,
"Hana..." panggil Sulis yang sedang duduk di depan televisi sembari memakan cemilan. Ia tak puasa dan di kepalanya tertempel Koyo.
"Iya kak.." Hana yang menggendong Zakia pun menemui Sulis. Saat ini Utsman sudah berangkat kerja di sebuah PLN. hingga istrinya akan bertingkah sebagai ratu.
"Aku pusing bangat Hana..kamu tolong belikan obat ya, sama sekalian kamu belanja sembako, soalnya udah pada habis tuh," suruh Sulis yang masih rebahan di sofa.
"Iya kak .." jawab Hana sembari memberikan Zakia untuk di gendong ibunya.
"Kamu bawa Zakia aja, sekalian Zakia mau jalan jalan tuh, kan kamu bisa sambil gendong dia," ucap Sulis sambil memberikan uang belanja plus catatan sembako yang harus di beli.
"Tapi nanti kan belanjaannya berat kak.."
"Kamu masih muda Hana..masa itu aja nggak bisa sih, aku lagi sakit nih..kamu lihat sendiri kan, kepala ku pusing, nanti kalau Zakia sama aku terus dia jatuh dari gendongan aku gimana dong...takutnya nanti aku tiba-tiba pingsan," kata Sulis padahal ia terlihat sehat sehat saja.
__ADS_1
"Ya udah deh, kakak tunggu di sini biar aku beli obat sekalian belanja," akhirnya Hana pun mengalah untuk kesekian kalinya. Ia pergi sambil menggendong Zakia. Di usianya yang masih muda namun ia sudah mengerjakan pekerjaan yang biasanya di lakukan oleh ibu rumah tangga.