
Hana menatap ke arah laki-laki itu, ia amat terkesan dengan pemandangan di hadapannya .
"Itu siapa Anya?" tanya Hana pada Anya yang juga melihat si laki-laki.
"Itu Adam, masa kamu nggak kenal sih, Adam itu kan teman sekelas kita pas masih SD dulu.." jawab Anya yang ternyata tau banyak tentang Adam.
"Hah..Adam.." Hana masih tak menyangka, dulu Adam adalah sosok laki-laki pendiam dan pemalu saat masih SD. Kini Adam terlihat sangat tampan dengan pakaiannya yang tampak Soleh.
"Tapi kok baru muncul aja sih.." tanya Hana lagi
"Oh..dia itu sekolah di pesantren, pasti mereka lagi libur tuh, makanya dia bisa pulang," jawab Anya
Hana masih memandang ke arah Adam hingga Adam masuk ke dalam mesjid.
Iqamah pun di kumandangkan setelah azan. Sholat Isya akan dilaksanakan. Namun pak imam tiba-tiba sedikit pusing karena tensinya naik. Semua orang bingung siapa yang akan jadi imam untuk menggantikan pak imam yang biasanya.
"Insyaallah saya bisa!" ucap Adam dengan percaya diri. Adam pun di persilahkan untuk memimpin sholat.
Kaum wanita di belakang tidak tau menahu tentang apa yang terjadi di depan karena adanya pembatas antara Saf laki-laki dan perempuan.
"Allahu Akbar ..." suara imam kali ini tampak berbeda dari biasanya. Suaranya tampak lebih muda dan lebih lantang.
Usai sholat isya dan tarawih, para kaum wanita di belakang tampak berbisik bisik.
"Itu yang imam siapa, suaranya mantap bener, merdu lagi, udah kayak imam di mesjid besar,"
"Nggak tau tuh, kayaknya sih masih muda,"
"Iya jadi penasaran.."
"Ternyata nama imamnya itu Adam, tadi saya dengar dari bapak bapak.."
"Oh Adam..itu kan anak nya pak Sobri,"
"Masa sih..nggak nyangka ya.."
Hana mendengar pembicaraan ibu-ibu itu sebelum ia keluar dari mesjid. Hana pun kagum dengan kemampuan Adam tadi yang menjadi imam dengan baik.
__ADS_1
"Maasyaa Allah Adam..nggak nyangka kamu seluar biasa itu," batin Hana sembari mengingat masa SD bersama Adam.
Saat SD dulu Adam adalah murid yang tidak pernah rapi. Ia susah bergaul dengan teman temannya. Hingga saat Hana mencoba berbicara pada Adam pun pasti tidak akan ada respon nya. Adam akan menghindar dan memilih untuk sendiri.
"Hayoo lagi mikirin siapa kamu.." sapa Anya mengejutkan Hana.
"Nggak..kamu yang kenapa..pas aku noleh ke samping ternyata kamu udah pergi, berarti kamu nggak tarawih dong," tegur Hana
"Iya Hana..tadi aku tiba-tiba pengen jajan,"
"Astaghfirullah..masa kamu pergi cuma buat jajan doang.."
"Iya iya..maaf deh, lain kali aku akan sholat,"
Hana menghela nafas melihat tingkah Anya yang sangat kekanak-kanakan.
Tak sengaja Hana menoleh ke samping.
Ada Adam yang tengah mengobrol dengan seorang jemaah mesjid. "Lama nggak kelihatan ternyata kamu udah ganteng aja ya nak," sapa seorang bapak sembari menepuk pundak Adam.
"Beruntung pak Sobri punya anak seperti kamu,"
"Bapak bisa aja, saya yang beruntung punya Abah seperti pak Sobri," balas Adam seraya merendahkan hatinya.
Hana melihat itu, ia sempat tersenyum melihat Adam yang amat ramah pada orang lain. Padahal dulu ia adalah seseorang yang tak ingin berinteraksi dengan orang banyak.
"Hana..lagi liatin apaan sih ayo pulang.." ucap Anya yang menarik tangan Hana.
Keduanya pun berjalan pulang bersama.
"Adam berubah drastis ya, sekarang dia jadi ramah, Soleh, dan ..."
"Dan apa.." tanya Anya memotong perkataan Hana.
"Dan tampan," batin Hana yang menyambung kata kata dalam hatinya.
"Dan sopan maksudnya," lanjut Hana.
__ADS_1
"Jangan jangan kamu suka sama Adam?"
"Ya nggak lah..apaan sih, kita itu masih SMA, aku mana pernah main suka sukaan," jawab Hana menyanggah perkataan Anya.
**
Keesokan harinya,
Pagi itu Hana mendorong kereta bayi Zakia untuk berjalan jalan pagi menghirup udara segar. Bang Utsman sudah tertidur seusai sholat Subuh tadi. Jadi Hana harus menjaga Zakia karena Sulis pun tengah luluran di rumah.
Hana berjalan jalan santai sambil mendorong kereta bayi. Kampung Mangga madu masih terlihat sepi karena ini adalah pagi pertama di bulan ramadhan. Mungkin orang orang masih istirahat selepas subuh.
Tiba-tiba Hana melihat Adam yang tengah berjalan ke arahnya. Hana sempat terkesima melihat Adam berjalan dengan berkharisma hingga membuat mata Hana tidak berkedip.
Hana tersenyum, namun ternyata Adam tidak menyapa, ia hanya sekilas melewati Hana. Entah karena ia tak kenal atau bagaimana. Namun Hana amat malu pada dirinya sendiri.
"Astaghfirullah..Hana..apaan sih..mana mungkin santri seperti Adam menyapa wanita seperti ku di jalan begini, apalagi mungkin Adam nggak kenal sama aku," batin Hana. Ia lalu melanjutkan jalan jalan bersama Zakia ponakannya.
Sedang Adam yang sudah lewat di samping Hana tadi seketika menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke belakang. Menatap Hana yang berjalan membelakangi arah Adam berdiri.
Adam tersenyum tipis. Ia mengingat masa masa SD dulu. Ia tak akan pernah melupakan hal hal memalukan dengan Hana.
Dulu ketika Adam dan Hana masih di bangku SD, suatu ketika Adam yang masih bertubuh kecil tak kuasa menahan diri untuk ke toilet namun ia tak berani mengatakan pada guru.
Hana yang duduk di belakang melihat Adam duduk dengan tidak tenang. "Adam..kamu kenapa?" tanya Hana namun Adam tak menjawab.
Dari tingkah Adam sangat terlihat bahwa ia ingin buang air kecil. Hana masih kecil tapi ia pemberani. Ia menarik paksa tangan Adam. Hana lalu menarik tangan Adam dan keluar dari kelas sambil berlari.
"Adam..Hana..mau kemana?" tanya ibu guru sembari sedikit melangkah menatap Adam dan Hana. Namun guru tak bisa mengomel karena dia sedang menghadapi anak kelas satu SD.
Sampailah Adam dan Hana di depan toilet. "Sana masuk..nanti kamu ngompol malah di ketawain Bu guru," suruh Hana.
Meski Adam tak berbicara namun ia buru-buru masuk ke toilet sedang Hana menunggu di luar. Keduanya masih tampak polos dan tidak mengerti aturan bahwa tidak boleh ada yang keluar pada saat jam pelajaran.
Adam tersenyum mengingat masa kecil itu. Ia malu mengingatnya namun tak bisa dilupakan. Adam hanya menatap Hana dari jauh. Setelah itu Adam pun pergi melanjutkan langkahnya untuk menuju mesjid.
Sementara itu Hana yang mendorong kereta bayi Zakia kemudian menatap ke belakang. Adam sudah jauh hingga tidak terlihat lagi. "Astaghfirullah..aku nggak boleh mengagumi Adam secara berlebihan," batin Hana yang berusaha untuk mengalihkan pikirannya dari Adam.
__ADS_1