Ku Kejar Cinta Adam

Ku Kejar Cinta Adam
9. Ibarat Timur dengan barat


__ADS_3

Seminggu kemudian,,


Seminggu berlalu, Hana hanya stay di rumah meski suasana lebaran. Sedangkan Adam telah berkeliling ke rumah saudara saudara dari orangtuanya untuk berlebaran.


Malam ini adalah malam terakhir Adam berada di kampung ini. Kini ia menatap rembulan dari jendela kamarnya. Ia harus menikmati suasana kampung ini untuk yang terakhir kalinya sebelum ia kembali ke pesantren.


Besok aku akan kembali ke penjara suci, pasti aku akan rindu kampung ku dan seorang gadis mulia yang ada di kampung ku ini


Ya, memang ini adalah semester terakhir Adam berada di penjara suci, sebentar lagi akan lulus. Namun setelah lulus pun pasti ia akan melanjutkan S1 di tempat yang jauh pula.


...**...


Di sisi lain,


Hana pun kepikiran dengan kata-kata anya kemarin, bahwa Adam akan segera pergi ke pesantren. Ada rasa yang tak bisa di ungkapkan di hati Hana namun ia mencoba mengalihkan pikirannya tentang Adam.


Astaghfirullah...apa yang aku pikirkan..tak seharusnya aku punya rasa seperti ini, tak pantas jika aku merasa sedih hanya karena dia pergi dari kampung ini


🌹


Keesokan hari,,


Abah dan umi tampak memberangkatkan Adam ke pesantren. Sebuah taksi sudah ada di depan rumah. Biasanya Adam memang selalu di antar. Namun kali ini ia hanya berangkat dengan taksi. Terlebih karena ia sudah terbiasa dengan perjalanan ke pesantren.


Air mata tentu membasahi pipi umi yang berat untuk melepas putranya kembali ke pesantren.


"Jaga diri baik baik ya nak, belajar yang baik!" pesan umi pada Adam.


"Iya umi, Adam selalu berusaha membuat yang terbaik demi Abah dan umi,"


Begitu pun Abah yang menepuk pundak Adam. Ia sangat berharap di masa depan anaknya akan menjadi laki-laki bertanggung jawab yang bisa di banggakan.


"Abah..Adam berangkat ya, Abah dan umi jaga kesehatan ya,"

__ADS_1


"Iya nak..kamu juga ya, jangan telat makan, belajarnya lebih giat lagi," tutur Abah menatap putranya dengan haru.


"Iya Abah, Adam janji,"


Dua hari yang lalu kakak kandung Adam telah berangkat kuliah. Dan kini di susul oleh Adam yang juga akan berangkat ke pesantren. Sehingga umi dan Abah merasa sedih melepas kedua anaknya untuk kembali menuntut ilmu ke tempat yang jauh.


Tepat saat ini, Hana berdiri di kejauhan, ia menatap Adam yang akan berangkat ke pesantren. Namun apalah dayanya yang hanya bisa memperhatikan dari jauh. Tak mungkin Hana langsung menemui Adam hanya untuk mengucapkan perpisahan.


Tak berlama-lama lagi, Adam pun menaiki taksi. Ia melambaikan tangan pada kedua orangtuanya yang masih berdiri di tepi jalan itu. Dan pastinya Adam pun merasa sedih karena akan jauh dari orangtuanya.


Mobil pun berjalan, dan barulah Adam meneteskan air matanya melihat kedua orangtuanya dari spion.


Tak sengaja Adam melihat Hana dari spion itu. Ia baru menyadari ternyata Hana berdiri di belakang sedari tadi. Tak ada yang bisa di lakukan lagi, Adam tak mungkin mundur hanya untuk menemui perempuan yang bukan mahramnya.


Selamat tinggal Hana, semoga Allah mempertemukan kita nanti. Jika memang jodoh pasti kita akan bertemu meski setelah berapa lama kita berjauhan. Dan jika memang tidak, sungguh Allah maha mengetahui yang terbaik untuk hambanya.


...**...


Malam itu Hana tampak melamun di kamarnya. Ia membuka jendela dan menatap ke langit. Begitu ramainya bintang di langit. Indah, hingga ia merasa lebih nyaman menatapnya.


..........


Hari demi hari berlalu. Hana menjalani hari harinya seperti biasa. Dengan memperbanyak ibadah, Hana akhirnya bisa menjalani hari dengan mengesampingkan perasaannya.


Hana kembali sekolah dan menjalani masa SMA dengan mengukir banyak prestasi.


...Ω kurang lebih satu tahun kemudian,,,Ω...


"Rencananya kamu mau kemana Hana? kalau kamu memang mau kuliah, Abang akan berusaha membiayai," ucap Utsman pada adiknya Hana, karena Hana telah lulus SMA beberapa bulan lalu. Kini keduanya mengobrol serius di teras rumah.


Hana ingin kuliah, tapi ia ingat kembali dengan kakak iparnya Sulis. Pasti Sulis akan keberatan.


"Nggak usah bang, aku mendingan cari beasiswa aja, semoga aja ada rezekinya untuk kuliah, lagian kan Abang harus mikirin keluarga Abang juga, ada Kak Sulis dan Zakia,"

__ADS_1


"Tapi Hana, kamu itu tanggung jawab Abang, kalau kamu memang mau kuliah, pasti Abang akan usahakan," lanjut Utsman, sebagai Abang ia merasa bersalah jika membiarkan Hana tidak lanjut sekolah mengingat prestasi Hana yang sangat baik di sekolah.


"Nggak usah bang, lagi pula aku ada niat mau kursus menjahit dulu, nanti kalau udah jago menjahit, kan Hana bisa buka usaha bang, dan bisa sambil kuliah juga,"


"Ya sudah kalau memang itu yang kamu inginkan, kamu boleh berpikir lagi Hana,"


"Iya makasih bang, Hana akan pikir-pikir dulu,"


Sebentar lagi akan sampai pada bulan ramadhan di tahun ini. Setelah sekian lama Hana menjalani hari harinya tanpa berlama lama memikirkan Adam. Namun kini ia tiba-tiba teringat dengan Adam, berhubung besok akan menjadi tanggal 1 ramadhan.


Siang itu, Hana sedang bermain dengan Zakia yang kini telah berusia lebih dari satu tahun. Bayi kecil yang dulu selalu ia gendong sudah hampir bisa berjalan meski sesekali terjatuh.


"Zakia sayang..ayo jalan..pasti bisa.." ucap Hana ketika ia mengajak Zakia berjalan di teras rumah.


Namun tiba-tiba Kakak ipar memanggil Hana dari dalam. "Hana.." panggilnya sedikit keras.


"Iya ada apa kak.." sahut Hana.


"Bawa Zakia ke sini," ucap Sulis dengan suara agak kencang agar kedengaran.


Hana pun tak banyak bertanya, ia langsung membawa Zakia ke hadapan Sulis. "Ada apa kak?" tanya Hana saat ia sudah berada di kamar Sulis.


"Sini biar Zakia bobo dulu, kamu beli beras ke grosir sembako yang biasa ya, ini uangnya," suruh Sulis sembari memberikan sejumlah uang pada Hana.


"Iya kak, Hana pergi dulu ya, assalamualaikum," ucap Hana sembari melangkahkan kakinya untuk segera membeli beras itu.


Langkah demi langkah Hana berjalan di sepanjang jalan ke grosir yang tak jauh dari rumahnya.


Seketika langkahnya terhenti melihat mobil taksi berhenti di depan rumah umi Saudah. Dan memang Hana akan melewati itu untuk ke grosir.


Tiba-tiba seorang laki-laki berpeci putih turun dari taksi. Ia adalah Adam yang kini baru saja datang dari pesantren. Adam menoleh ke arah kanan jalan. Ia pun melihat Hana yang berdiri di sana


..

__ADS_1


Bersambung,,


__ADS_2