
Sepulang dari mesjid, Adam mengobrol dengan Abah dan uminya di ruang tamu. "Kak Sakinah nggak pulang bah?" tanya Adam pada abah nya. Sakinah adalah kakak kandung Adam yang sedang berkuliah di sebuah UIN di kota. Tentu Adam ingin bertemu kakaknya karena mereka sudah cukup lama tidak bertemu langsung.
"Mereka belum libur Adam, mungkin nanti menjelang lebaran," jawab Abah
"Bagaimana perasaan kamu setelah sekian tahun mondok nak?" tanya Umi menatap putranya.
"Intinya aku tidak bosan umi, aku menikmati hari hariku menuntut ilmu, memang resikonya adalah jauh dari keluarga, tapi Alhamdulillah aku sudah sangat betah di pesantren, tapi setelah lulus nanti aku bercita-cita ingin mengabdi di sini untuk sementara waktu, sepertinya warga di sini sangat membutuhkan guru mengaji, nanti aku berniat ingin memajukan ilmu agama masyarakat kampung kita,"
"Niat mu bagus nak, tapi apa kamu tidak berniat untuk bekerja di kota saja," lanjut Abah
"Untuk sekarang aku belum berpikir ke sana bah, tapi kita tunggu saja nanti, lagi pula kan masih lama Abah," jawab Adam, kini ia tengah melepas rindu dengan mengobrol bersama keluarganya.
...**...
Sore hari,
"Hana..." panggil Sulis si kakak ipar Hana.
"Iya bentar kak.." Hana yang baru usai memasak buru-buru menemui Sulis di kamar. Saat ini Utsman sedang tidak ada di rumah hingga Sulis bagai ratu di rumah itu.
Hana pun sampai di hadapan Sulis. "Ada apa lagi kak.."
"Aku butuh madu, kata bidan di kampung sebelah aku harus rajin rajin minum madu biar daya tahan tubuh aku tuh makin bagus,"
"Terus.."
"Tolong belikan madu, tenang aja, ini ada duitnya kok, kembaliannya buat kamu aja," ucap Sulis sembari memberikan uang pada Hana.
"Tapi belinya dimana kak? di warung cuma ada madu kemasan, kakak mau?"
"Nggak..nggak..harus madu yang asli, murni dan belum bercampur dengan apa pun," tegas Sulis.
"Cari dimana coba, itu kan susah kak,"
"Kamu nggak harus nyari, itu tinggal beli sama Bu Saudah," lanjut Sulis.
Hana seketika terkejut mendengar itu. "Bu Saudah istrinya pak Sobri?" tanya Hana dengan kagetnya. Karena itu adalah rumah Adam. Pak Sobri dan Bu Saudah adalah orang tua Adam hingga Hana sedikit takut untuk ke sana.
"Iya ...kamu kenapa sih, kayak orang habis kena tipu, udah sana sana buruan..mumpung si Zakia masih bobo tuh,"
"Ya-ya udah deh, aku pergi ya kak, Assalamualaikum.."
__ADS_1
"Waalaikumussalam..cepetan.."
Hana masih khawatir jika ia akan bertemu dengan Adam. Namun dengan bismillah ia berjalan cepat ke rumah Abah Sobri.
Sampailah di depan rumah.
"Assalamualaikum.." ucap Hana sembari mengetuk pintu.
"Waalaikumussalam.." suara sahutan dari dalam.
Bu Saudah membuka pintu itu. Hana menghela nafas lega karena bukan Adam yang membukakan pintu.
"Hana..ada apa nak.." sapa Bu Saudah
"Saya mau beli madu Bu, emangnya ibu jual madu ya.."
"Oh madu.. iya ...untung masih ada satu botol lagi, ayo masuk dulu nak, madunya ada di dalam,"
"Nggak usah Bu, saya tunggu di sini aja,"
"Nggak pa pa..ayo masuk dulu, kebetulan ibu ada perlu sama kamu," tutur Bu Saudah seraya mempersilahkan Hana duduk.
"Ayo duduk dulu.. biar ibu ambilkan madunya," Bu Saudah menyambut hangat kedatangan Hana.
"I- iya Bu," Hana masih malu malu jikalau nanti ia tak sengaja bertemu Adam. Dan benar saja tiba-tiba Adam muncul dari arah kamarnya.
Adam terkejut melihat Hana di sana. Hana ingin tersenyum menyapa Adam namun ia takut tak di respon karena Adam tampaknya tak menyapa dirinya.
Tepat saat itu Bu Saudah datang membawakan madu ditangannya. "Eh Adam...kalau nggak salah Hana ini teman sekelas kamu waktu SD kan?" tanya Umi Saudah menatap putranya yang hendak membaca buku di sebuah bangku dekat jendela.
"Oh ini Hana ya..iya..iya..aku ingat mi, apa kabar Hana.." Adam pun menoleh ke arah Hana.
"Alhamdulillah baik," jawab Hana yang malu hingga ia menundukkan pandangannya.
Percakapan Hana dan Adam hanya sampai di situ saja. Kini Adam fokus menatap buku yang ia baca. Sebenarnya ia ingin menatap Hana, namun ia pun merasa malu untuk menatap lawan jenisnya terlebih setelah sekian lama ia di pesantren.
"Hana..ibu mau minta izin mengukur badan kamu, jadi ibu mau jahit baju buat kakaknya Adam, dan kebetulan badannya kan hampir sama dengan kamu, apa kamu mau tolongin ibu?" tanya Bu Saudah.
"Oh iya silahkan Bu..saya nggak keberatan," jawab Hana dengan ramah.
Bu Saudah pun mengukur badan Hana mulai dari lingkar pinggang, perut dan dada hingga panjangnya.
__ADS_1
"Maasyaa Allah..kamu makin cantik aja ya nak..perasaan baru aja kamu main di halaman depan rumah, eh sekarang udah jadi anak gadis," ucap Bu Saudah saat ia mengukur Hana.
Adam sesekali melirik ke arah Hana dan uminya. "Maasyaa Allah.." batin Adam yang juga kagum dengan kecantikan Hana terlebih dengan cara Hana berpakaian yang amat sopan dengan hijab panjang sempurna menutup dada.
Namun Adam selalu menunjukkan wajah cuek saat ia berpapasan dengan Hana. Ia tak berani menyapa hana karena Hana pun tampaknya sangat menjaga pandangannya.
"Sepertinya tinggi Hana hampir sama dengan sakinah, iya kan Dam.." tanya Umi Saudah pada Adam.
Adam yang tadinya bengong langsung merespon perkataan umi."Hah..i-iya mi..cuma kayaknya kak Sakinah lebih tinggi sedikit," jawab Adam.
Usai mengukur badan Hana, ia pun langsung pamit mengingat kak Sulis yang sudah menunggunya di rumah.
"Bu..saya pamit dulu ya, Adam..saya pamit ya.., assalamualaikum," ucap Hana sembari melangkahkan kaki untuk pergi.
"Tunggu.." ucap Bu Saudah menghentikan langkah Hana.
"Iya..ada apa Bu?" tanya Hana
"Besok Ibu butuh teman menyiapkan takjil untuk buka puasa bersama di mesjid, apa kamu mau bantuin ibu?"
"Insyaallah saya bersedia Bu," jawab Hana dengan senang hati.
"Makasih ya nak..ibu tunggu kedatangan kamu besok,"
...**...
Malam itu Hana bersiap siap untuk ke mesjid. Tiba-tiba abangnya Utsman datang menemui Hana yang tengah memasang mukenanya.
"Hana.."
"Iya bang Utsman.." sahut Hana.
"Ini ada sedikit uang jajan buat kamu, sekalian kamu beli mukenah baru, sudah beberapa tahun kamu cuma pake mukenah itu itu aja," ucap Utsman sembari memberikan beberapa lembar uang merah.
Sulis mendengar itu hingga membuat matanya melotot dan hidungnya mengembang. Ia ingin keberatan tapi tak mungkin ia bersikap tidak baik di hadapan suaminya.
"Makasih ya bang, aku emang lagi butuh duit buat beli keperluan sekolah," tutur Hana yang amat bersyukur dengan pemberian abangnya.
"Jangan berterima kasih, kamu itu masih tanggung jawab Abang, lain kali kalau kamu butuh apa apa, bilang sama Abang,"
"Iya bang.." jawab Hana sambil tersenyum.
__ADS_1