
Usai membelikan obat dan berbelanja, Hana tampak kewalahan membawa belanjaannya sambil menggendong Bayi Zakia. Untungnya Zakia tak pernah rewel ketika dalam gendongan Hana karena ia sudah terbiasa bersama Hana.
Lelah sudah pasti, belum lagi Hana merasa lemas karena sedang berpuasa. Hana hampir tak kuat hingga keranjang belanjaan tak sengaja jatuh.
Kebetulan sekali Adam tengah lewat dari jalan yang sama, ia melihat Hana yang sedang butuh pertolongan. Adam pun buru-buru menemui Hana dan membereskan belanjaan yang jatuh.
Adam menatap Hana yang sudah berkeringat. "Ini lagi puasa Hana, kamu harusnya tidak mengerjakan pekerjaan yang terlalu berat, ya sudah biar aku saja yang membawa ini," ucap Adam sembari menjinjing belanjaan Hana.
"Makasih dam, maaf udah merepotkan kamu, tadi aku pikir nggak akan seberat ini, ternyata berat juga belanjaannya," tutur Hana yang tampak tak berani menatap Adam.
"Iya sama sama, lain kali kalau kamu ingin mengerjakan sesuatu, kamu harus pertimbangkan dulu kamu sanggup atau tidak, memangnya ibunya Zakia dimana?" tanya Adam sedang keduanya sama sama berjalan lurus di sepanjang jalan menuju rumah Hana. Namun tentu mereka masih berjalan dengan menjaga jarak.
"Ibunya di rumah, lagi sakit,"
"Jadi teringat sama umi ku dulu, dia selalu memperhatikan ku dalam keadaan apa pun, seorang ibu memang kuat, terutama di hadapan anaknya, maaf aku tidak bermaksud menyinggung kakak ipar mu,"
Hana hanya diam dan sedikit tersenyum, ia tak bisa menjawab perkataan Adam karena khawatir jika dijawab pasti ujung ujungnya dia hanya akan menjelekkan kakak iparnya.
Langkah kaki Hana tak begitu cepat, karena mungkin ia sudah cukup lelah. Begitu pun dengan Adam yang menyesuaikan langkahnya dengan langkah kaki Hana.
Di sepanjang jalan jantung Hana berdebar kencang melihat Adam yang berjalan beriringan dengannya. Sesekali ia menoleh ke samping ketika Adam sedang menatap ke arah lain.
Tiba-tiba sebuah mobil putih berhenti di jalan. Pengemudi mobil itu memanggil Adam dari kaca mobilnya.
"Mas.." panggil pemilik mobil itu, Adam menoleh, setelah di perhatikan orang yang memanggilnya itu bukanlah warga di kampung ini. Wajahnya terlihat asing hingga Adam dan Hana tidak mengenalinya.
"Iya ada apa pak.." sahut Adam sembari mendekat menatap bapak pemilik mobil itu dari kaca mobilnya.
"Saya mau numpang tanya, rumahnya pak Mahmud di mana ya," tanya si bapak tersebut
__ADS_1
Kebetulan Adam mengenal orang yang di maksud bapak itu, hingga Adam membantu menunjukkan alamatnya.
"Oh pak Mahmud, rumahnya udah dekat kok pak, bapak nanti tinggal lurus aja sampai ketemu mesjid, nah rumahnya ada di dekat pohon mangga yang ada di sekitar mesjid itu, pokoknya kalau ada rumah cat hijau di dekat pohon mangga, berarti itu rumahnya pak," jelas adam panjang lebar.
"Makasih ya mas, oh ya ini ada sedikit kurma, tolong di terima ya," ucap si bapak sembari memberikan sekotak kurma pada Adam.
"Nggak usah pak, pasti banyak orang yang lebih butuh," jawab Adam menolak halus.
"Jangan di tolak mas, saya juga sudah bagikan ke warga lain kok, ayo di ambil mas, pasti itu anak dan istrinya suka makan kurma," lanjut si bapak yang mengira Adam sedang bersama anak istrinya. Hana ingin menjelaskan namun si bapak buru-buru pergi.
Memang Adam dan Hana dengan pakaiannya yang kebetulan juga berwarna sama pasti akan membuat orang mengira bahwa mereka adalah pasangan suami-istri. Terlebih pakaian Adam yang tampak alim dengan baju kokoh dan kain sarungnya karena ia akan ke mesjid. Begitupun Hana yang memakai kerudung panjang, kemeja lengan panjang beserta rok panjang yang menutupi auratnya dengan baik.
"Tapi pak..." Adam ingin menyanggah namun pengendara itu langsung memotong perkataan Adam.
"Udah di terima aja mas, saya pergi dulu ya, assalamualaikum," ucap bapak yang ada di mobil itu sembari meletakkan kotak kurma ke tangan Adam.
Mobil itu pun langsung pergi meninggalkan Adam dan Hana yang jadi malu dengan perkataan bapak tadi.
"Apa bapak itu tidak bisa melihat bahwa kita masih pelajar ya.." ucap Adam yang jadi canggung di samping Hana.
"Mungkin itu karena aku menggendong Zakia, jadi bapak tadi langsung berpikir lain,"
"Ya sudahlah ayo lanjut jalan," kata Adam sembari melanjutkan langkahnya.
Sampailah di depan rumah Hana. Adam meletakkan belanjaan itu di depan pintu rumah Hana.
"Sekali lagi..makasih ya dam, aku nggak tau kalau nggak ada kamu tadi, pasti aku tidak akan bisa pulang secepat ini," ucap Hana bersungguh sungguh.
"Iya..sama sama Hana, oh ya, kurma ini untuk kamu saja ya, soalnya umi sudah membeli stok kurma yang cukup di rumah ku, jadi ini untuk kamu saja," tutur Adam sambil memberikan kotak kurma itu pada Hana.
__ADS_1
"Ya udah kalau memang kamu tidak ingin membawanya, makasih ya Adam,"
"Iya Hana, aku permisi ya, assalamualaikum," ucap Adam sambil melangkah pergi dari teras rumah Hana.
Hana masih menatap langkah kaki Adam yang semakin jauh. Ia hampir tak bisa mengontrol jantungnya yang berdegup kencang. "Ya Allah..mimpi apa aku semalam sampai sampai aku bisa berjalan beriringan bersama Adam," batin Hana yang tersenyum senyum sendiri.
"Zakia.. bagaimana ini, tante takut baper.." Hana bahkan mengajak bayi berbicara karena ia sudah salah tingkah dengan yang ia alami hari ini.
"Tatatata..rr.." Zakia hanya mengeluarkan kalimat yang tidak bisa diterjemahkan oleh ahli bahasa mana pun.
...**...
Sementara itu Adam sudah sampai di mesjid. Ia masih teringat dengan kata kata pengemudi tadi. Entah mengapa Adam tak bisa melupakan kata-kata itu. Bahkan sesekali ia tersenyum mengingatnya.
"Astaghfirullah...aku lagi puasa harusnya ku hindarkan diriku dari perasaan perasaan yang akan merusak pahala puasa ku," batin Adam yang kemudian ia pergi berwudhu untuk menjernihkan pikirannya.
Setelah selesai berwudhu barulah Adam berjalan memasuki mesjid. Namun saat ia masih di luar mesjid, Abah yang ternyata ada di mesjid memanggilnya untuk segera azan Dzuhur.
"Adam.." panggil Abah yang berdiri di pintu mesjid.
"Iya Abah.." sahut Adam dan buru-buru menemui abah.
"Kamu azan ya dam, dua menit lagi akan masuk waktu Dzuhur," suruh Abah pada anaknya itu.
"Iya bah," Adam pun dengan senang hati mengumandangkan adzan.
"Allahuakbar Allahuakbar..."
Suara lantunan azan Adam terdengar jelas dan merdu di telinga para warga kampung Mangga madu.
__ADS_1
Begitu pun dengan gadis bernama Hana yang tiba-tiba berhenti dari aktivitas nya ketika mendengar suara azan yang sudah ia kenali itu. Ia kenal betul dengan suara azan Adam.
"Maasyaa Allah.. bagaimana aku tidak jatuh cinta setiap hari pada mu Adam, kamu selalu berhasil menunjukkan bahwa kamu pantas untuk di jadikan imam," batin Hana yang amat menikmati keindahan suara azan itu.