
Adipati Wisnu Wanara sedang diseba oleh Putranya yang bernama Raden Sastra Mulya dan putrinya yang bernama Putri Mayang Sari.Kedua anak dari sang Adipati ini hendak berpamitan untuk pergi mewakili ayah mereka menghadiri acara pembukaan dan peresmian Perguruan Pedang Bintang
Ditempat itu juga hadir seorang kakek berumur sekitar enam puluh tahunan bernama kakek Pangumpil yang adalah penasehat di Kadipaten
Mereka juga sedang membicarakan perihal mimpi sang Adipati dimalam tadi sebelum kedatangan Raden Risbaya ke gedung Kadipaten.Yaitu Adipati bermimpi melihat sinar hijau terang yang membentang di langit memayungi seluruh kawasan ibu kota Kadipaten
Dia merasa jika mimpinya itu bukanlah mimpi biasa dan mimpinya itu adalah pertanda akan terjadinya sesuatu yang sangat besar di ibu kota Kadipaten.Adipati Wisnu Wanara semakin yakin jika mimpinya bukanlah sekedar bunga tidur setelah kedatangan Raden Risbaya yang melaporkan adanya pergerakan sekelompok orang diluar benteng ibu kota Kadipaten
Saat kedua anak sang Adipati selesai menghadap dan telah bersiap untuk undur diri guna pergi ke Perguruan Pedang Bintang,disaat itulah seorang ponggawa atau prajurit masuk ke ruangan itu untuk menghadap memberi laporan kepada sang Adipati
" Maaf Gusti Adipati jika kedatangan hamba mengganggu Gusti dan semua yang berada disini.Hamba mau melaporkan sesuatu yang sedang terjadi saat ini di ibu kota Kadipaten " Kata prajurit itu sambil memberi sembah hormat kepada Adipati Wisnu Wanara
" Apa yang hendak kau laporkan prajurit dan apakah hal itu adalah hal yang sangat penting ? " Tanya sang Adipati dengan tatapan penuh selidik kepada prajurit itu
" Gusti saat ini langit diatas ibu kota Kadipaten dipenuhi dengan sinar hijau terang yang membentang menutupi seluruh wilayah Kadipaten " Jawab prajurit itu mengatakan apa yang hendak dilaporkannya
" Apa katamu ? "
" Coba kau katakan sekali lagi dengan jelas " Tanya Adipati Wisnu Wanara yang merasa sangat kaget dengan laporan yang diberikan oleh prajuritnya karena sebenarnya saat itu dia sedang membicarakan perihal mimpinya yang memperlihatkan pemandangan langit di ibu kota Kadipaten yang berwarna hijau terang dan sampai saat kedua anaknya sekarang hendak undur diri tafsir dari mimpinya itu belum terpecahkan
Prajurit itu pun mengulangi sekali lagi laporan yang tadi dia sampaikan kepada Adipati Wisnu Wanara
Seketika sang Adipati melirik ke arah kakek Pangumpil dan kedua anaknya dengan tatapan yang penuh arti
__ADS_1
" Terimakasih atas laporanmu prajurit dan silahkan kau kembali ke tempat jagamu lagi " Kata Adipati Wisnu Wanara kepada prajurit itu
" Baik Gusti " Jawab prajurit itu.Kemudian dia memberi sembah hormat kepada sang Adipati sebelum undur diri dari hadapannya
Sesaat setelah prajurit yang menghadap menghilang dari pandangan sang Adipati dan yang lainnya,tiba tiba dihadapan mereka semua persis ditempat tadi sang prajurit berada telah berdiri satu sosok berpakaian serba hitam dengan wajah yang tertutup kain hitam yang menutupi seluruh kepalanya terkecuali sepasang matanya yang terlihat menyorot tajam
Sosok itu tidak lain adalah Wira yang sebelum berkelebat dari atas wuwungan bangunan memakai penutup wajah dan kepalanya seperti waktu berada dipenginapan untuk menutupi identitasnya
Sesaat mereka semua terkesima dengan kemunculan sosok berpakaian serba hitam yang secara tiba tiba itu.Setelahnya Putri Mayang Sari yang terkenal berwatak keras dan garang langsung membentak ditujukan kepada Wira " Siapa kau berani menyusup kedalam gedung Kadipaten ? "
Kakek Pangumpil,Raden Sastra Mulya dan Putri Mayang Sari langsung berdiri dari duduk mereka dan segera bersiap untuk menyerang Wira.Sedangkan Wira tetap terlihat bersikap tenang
Adipati Wisnu Wanara yang saat itu masih duduk di kursinya pun terlihat menatap Wira dengan sorot tatapan menyelidik
" Katakan terus terang apa maksud kedatanganmu kisanak.Jika maksud kedatanganmu membekal niat buruk niscaya pedangku yang akan mengakhiri hidupmu " Kata Puteri Mayang Sari lagi dengan kata kata yang tinggi seperti membentak
" Kedatangan hamba ke gedung Kadipaten ini membekal maksud baik,hamba bermaksud menemui Gusti Adipati atau pejabat Kadipaten yang berwenang dengan masalah keamanan.Ada hal yang sangat penting yang ingin saya sampaikan " Kata Wira dengan bersikap sopan dan perbawaan yang sangat tenang
Setelah dua kedipan mata tidak ada yang menyela perkataannya,Wira melanjutkan lagi keterangannya " Saat ini ibu kota Kadipaten sedang berada dalam keadaan sangat gawat,ada sejumlah pasukan yang akan menyerang Kadipaten ini.Mereka sekarang sudah berada diluar benteng ibu kota Kadipaten dan mungkin sebentar lagi akan menyerang ibu kota Kadipaten ini.Meskipun mungkin jumlah mereka tidak sebesar jumlah pasukan prajurit Kadipaten tapi masing masing mereka rata rata membekal kepandaian yang lumayan tinggi.Belum lagi para pemimpin mereka yang pastinya membekal ilmu dan kesaktian yang lebih tinggi lagi.Tapi untuk sementara jangan terlalu khawatir dulu karena ada seseorang yang telah membentengi seluruh ibu kota Kadipaten ini dengan perisai energi.Sehingga musuh tidak akan dapat menerobos masuk "
Sang Adipati dan yang lainnya merasa sangat kaget dengan semua keterangan yang dikatakan oleh Wira
" Apakah kata katamu itu bukan rekayasa dan apakah kata katamu ini dapat dipercaya kisanak ? " Tanya sang Adipati kepada Wira dengan sorot matanya yang tajam menatap Wira
__ADS_1
Dalam hati mereka semua sedikit mempercayai keterangan Wira karena mengingat kedatangan Raden Risbaya dan keterangan yang dibawanya.Terus masalah fenomena sinar hijau terang yang saat itu membikin geger seluruh warga ibu kota Kadipaten sedikit mendapat titik terang dengan keterangan Wira
" Hamba tidak berharap semua keterangan ku akan dipercaya oleh Gusti Adipati,tapi itulah kenyataan yang terjadi " Jawab Wira
" Tuan bertopeng,terus sebaiknya apa yang harus kami lakukan ? " Tanya kakek Pangumpil kepada Wira
Semua yang ada disitu juga sangat penasaran dengan jawaban Wira akan pertanyaan dari kakek Pangumpil karena biasanya kakek Pangumpil lah tempat sang Adipati bertanya jika ada sesuatu hal yang menyangkut perihal di Kadipaten
" Saran hamba segeralah kirim pasukan untuk menghadang mereka diluar gerbang ibu kota Kadipaten.Tapi sisakan juga sebagian pasukan untuk tetap berjaga didalam ibu kota.Nanti orang yang telah memasang perisai energi akan memberikan celah jalan digerbang ibu kota untuk pasukan Kadipaten keluar dari gerbang dan sebaiknya hal itu langsung dilakukan sekarang juga karena waktunya sudah sangat mendesak " Jawab Wira
Sebelum ada yang mengeluarkan lagi kata kata,sosok Wira yang misterius itu tiba tiba telah raib menghilang dari hadapan mereka.Membuat mereka semua sangat kaget.Ada juga rasa kagum dihati mereka dengan kemampuan sosok misterius tadi,tapi yang lebih besar adalah rasa ngeri karena dalam lubuk hati mereka kemampuan Wira sudah bukan lumrah manusia,melainkan seperti iblis atau siluman
Sesaat setelah kepergian Wira Adipati Wisnu Wanara langsung memanggil Raden Raksa Rajasa yang adalah panglima tertinggi di ke Kadipatenan Janur Emas itu.Dia memerintahkan Raden Raksa Rajasa untuk mengatur dan mengirim pasukan dalam jumlah yang besar ke luar benteng ibu kota Kadipaten setelah dia menerangkan secara singkat tentang kedatangan orang bertopeng misterius
Sebetulnya tanda tanya besar tentang orang bertopeng misterius dan tentang siapa orang yang telah memasang perisai energi berwarna hijau terang masih menyelimuti benak Adipati Wisnu Wanara dan yang lainnya
Mereka pun segera keluar gedung Kadipaten untuk melihat sendiri perihal fenomena sinar hijau terang yang membentang di langit ibu kota Kadipaten.Dan benar saja begitu mereka keluar dan tiba dihalaman gedung,mereka menyaksikan fenomena yang sebelumnya dilaporkan oleh salah seorang prajurit
Raden Raksa Rajasa juga mengirim beberapa orang untuk memberitahukan kepada seluruh warga ibu kota Kadipaten untuk berdiam ditempat tinggalnya masing masing dikarenakan keadaan ibu kota Kadipaten yang sedang gawat
Pasukan besar pun segera berangkat keluar ibu kota Kadipaten setelah dipersiapkan dengan sangat singkat oleh Raden Raksa Rajasa
Penduduk yang kebetulan rumahnya berada dipinggir jalan utama yang dilalui pasukan yang bergerak menuju gerbang ibu kota mengintip pasukan itu melalui sela sela jendela rumah mereka.Ketegangan yang sangat mencekam pun saat itu segera terasa diseluruh kota Kadipaten Janur Emas
__ADS_1