Kumohon Cintai Aku

Kumohon Cintai Aku
Malam yang menyakitkan


__ADS_3

Musim gugur telah datang.


Daun dan bunga mulai berjatuhan,


Seakan menggambarkan jiwa seseorang yang jatuh tanpa tangisan.


Angin berhembus membawa rindu yang menggebu,


Rindu seorang kekasih yang tak terbalaskan..


Menerbangkan sebuah rasa kesepian,


Menusuk relung hati yang semakin hari semakin terluka.


Tak ada canda tawa kebahagiaan.


Yang ada hanyalah fatamorgana dalam bayang semu.


***


Di sebuah kota dengan kawasan penduduk yang padat.


Sebuah mension mewah berdiri kokoh di kota itu,membuat iri setiap mata yang memandang nya.


Sebuah mansion yang berdiri kokok bak kastil kerajaan.


**


Suara pintu terbuka dari salah satu pintu kamar yang ada di mansion itu.


"krekkk" sosok lelaki dengan postur tubuh yang proporsional melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar itu.


tap....tap.....tap...


Laki laki itu berjalan dengan langkah tegap menelusuri kamar tersebut


Sorot matanya yang tajam seakan ingin segera menerkam mangsa yang ada di hadapannya ,membuat semua orang yang melihatnya bergidik ketakutan.


Seorang gadis bertubuh mungil,dengan wajah cantiknya terbaring di tempat tidur dengan selimut yang membungkus tubuhnya.


Gemercik hujan malam itu menambah hawa dingin ruangan itu.


Hembusan angin seakan terus menerjang masuk melalui celah-celah jendela ruangan itu.


Laki laki itu berjalan semakin mendekat ke arah ranjang, Di lihatnya sosok orang yang tengah meringkuk dengan selimut yang membungkus tubuhnya itu.


Sorot matanya begitu tajam mengarah pada orang yang tengah berbaring itu.


"brukkkk" laki laki itu terduduk di kasur masih dengan sorot mata tajam menatap gadis di depannya.


Gadis yang sedang tertidur itu pun terkejut dan mulai membuka matanya.


"Alvarendra..."kata gadis itu yang terkejut melihat kedatangannya.


Gadis itu kemudian terbangun dan mulai mendudukkan tubuhnya.


Laki laki itu masih terdiam memandang sosok gadis di depannya.


"kamu sudah kembali"kata gadis itu dengan tatapan penuh cinta.Tapi tidak dengan laki laki itu yang memandngnya dengan tatapan penuh kebencian di matanya.

__ADS_1


Dasi yang tadinya mengikat lehernya kini sudah terlepas dari lehernya, dia segera melemparkan dasi itu ke wajah gadis yang ada di hadapannya.


"awww"pekik gadis itu yang terkejut karena alvarendra melemparkan dasinya tepat di wajahnya.


"krekkkk" suara kancing baju mulai terlepas secara paksa.


Alvarendra mulai membuka bajunya dengan kasar hingga kancingnya ikut terlepas dari baju itu.


Dia mulai mendekati gadis di depannya menindih nya dengan kasar.


"tidak....jangan"teriak gadis itu dengan wajah yang begitu ketakutan.


Alvarendra tidak peduli dengan teriakannya. Ditariknya tangan gadis itu menuju atas kepalanya dan di genggamnya erat erat agar pemilik tangan itu tidak bisa berkutik.


"berhenti berpura pura" Kata Alvarendra dengan sorot mata ingin menerkam mangsa di depannya.


Menyunggingkan senyum sinis seakan sedang memberikan sebuah penghinaan pada seseorang yang ada di hadapannya.


"Bukannya kamu sendiri yang menginginkan semua ini. Menjadi bagian dari keluarga ku seutuhnya"kata Alvarendra masih dengan tatapan yang dingin seolah ingin segera mencabik cabik mangsa di depannya.


Gadis itu wajahnya mulai pucat,rasa takut menyelimuti tubuhnya. Tubuhnya bergetar,nafasnya memburu , jantungnya berdetak tak beraturan seakan ingin segera loncat dari tempatnya.


"kamu selalu bilang pada orang tuaku bahwa aku mengabaikanmu,bukankah itu hanya trikmu agar aku mau menyentuhmu kan?"kata laki laki itu terus mendekati tubuh gadis itu.Gadis itu semakin meringkuk ketakutan, matanya yang tadi berkaca kaca mulai meneteskan air matanya. Tubuhnya terasa dingin karena rasa takutnya.


Alvarendra memegang ke dua tangan gadis itu dengan satu tangannya, mencengkram dagu gadis yang ada di depannya dengan kasar.


"akan segera aku kabulkan keinginan mu itu. "kata Alvarendra.


Alvarendra mulai menarik paksa gaun tidur milik gadis di depannya.


"jangan Al, ku mohon jangan lakukan ini"kata gadis itu dengan isak tangisnya.


"besar juga nyalimu untuk menyusup menjadi bagian dari keluargaku setelah apa yang dulu kamu lakukan di belakangku"umpat Alvarendra dalam hatinya.


"Catherine.....tidak perlu kamu melakukan trik tarik ulur seperti ini....aku sudah sering bertemu dengan wanita sepertimu. ..aku paling benci dengan wanita yang rela melakukan segala cara demi kepentingannya sendiri"bentak Alvarendra yang kini sudah mengikat kedua tangan Catherine menggunakan dasi miliknya.


"tidak al....kumohon ampuni aku....aku bukan wanita seperti itu...kamu salah paham terhadapku...ku Mohon jangan seperti ini"kata Catherine yang masih terus menangis ketakutan.Kini suaranya pun mulai ikut melemah karena tenaganya yang sudah terkuras habis untuk memberontak.


"tidak usah berlagak seperti wanita polos... bukannya kamu hanya menginginkan ini"bentaknya lagi.


Kini pakaian yang tadi membungkus tubuh Catherine telah berpindah ke lantai.


Alvarendra mulancarkan aksinya.


Mencium bibir gadis di hadapannya dengan buas dan kasar.


Menggigit bibir gadis dihadapannya karena gadis yang berada di depannya itu tidak menyambut kehadirannya.


Catherine terus menangis tanpa suara karena perlakuan kasar Alvarendra.


"Berhenti al....kamu menyakiti ku"kata Catherine lirih dengan sesenggukan ketika Alvarendra mulai melepas ciumannya untuk mencari pasokan oksigen.


"dulu aku begitu mencintaimu... tapi apa yang kamu lakukan...dasar wanita tak tahu diri"umpat Alvarendra di dalam hatinya.


"berhenti kamu bilang....sudah terlambat...."jawabnya.


Alvarendra kembali mencium bibir gadis itu.


Ciumannya terus menuntut.

__ADS_1


Ciuman itu begitu kasar dan terburu buru.


"kamu bukan Alvarendra yang aku kenal dulu...kamu sungguh mengerikan"gumamnya dalam hati sambil terus menangis sesenggukan.


Alvarendra terus melancarkan aksinya, menyentuh setiap bagaian tubuh milik Catherine.


Catherine yang menerima sentuhan itu seakan tersengat oleh aliran listrik.Tubuhnya bergetar hebat saat itu.


Tubuh yang tadinya dingin kini mulai memanas.


"hentikan al"pintanya lirih masih dengan air mata yang membanjiri pipinya.


Dia berusaha menahn dan menolak gejolak yang ada di tubuhnya.


"tidak ada gunanya kamu memohon saat ini...bukannya ini yang kamu inginkan...untuk apa memasang wajah memelas seperti itu...ciiihhh....kau pikir aku akan tertipu dengan trik kotormu itu"kata Alvarendra kasar


"ku mohon lepaskan aku al...jangan lakukan itu"pinta Catherine masih terus memohon belas kasih dari Alvarendra.


"melepasmu....mimpi saja...bukannya kamu sudah memutuskan menjadi istriku... jadi lakukan saja tugasmu sebagai istriku"kata Alvarendra.


"aku pasti akan melakukan tugasku sebagai istrimu,tapi tidak seperti ini caranya....saat ini kamu benar benar menyakiti ku al...aku ingin kita melakukannya dengan penuh perasaan cinta bukan dengan kebencianmu yang seperti ini"kata Catherine masih terus memohon.


"lalu bagaimana aku harus melakukan nya.... dengan memanjakanmu kah.... mimpi saja kamu"kata Alvarendra kasar.


Alvarendra sudah enggan melakukan perdebatan dengan Catherine.


Dia terus melancarkan seenagannya ke tubuh Catherine.


Catherine terus meronta mencoba mempertahankan sesuatu yang berharaga pada dirinya. Namum naas kekeuatannya tidak sebanding dengan kekuatan milik Alvarendra.


"aaaaa....sakit"teriak Catherine merasakan sesuatu merobek area sensitif nya.


Catherine mencengkram tubuh Alvarendra kencang hingga tanpa sadar kukunya menggores punggung mulus milik Alvarendra.


Catherine hanya bisa menangis tat kala pertahanan nya mulai jebol akibat ulah Alvarendra yang kasar.


Darah mengalir melalui area sensitif nya menandakan bahwa seorang gadis kini telah berubah status menjadi seorang wanita.


Sakit...itu yang Catherine rasakan saat ini.


Alvarendra sama sekali tidak memperdulikan teriakan maupun tangisan Catherine.


Dia terus memompa tubuh itu hingga mencapai puncak yang dia tuju.


Setelah mencapai apa yang dia inginkan, Alvarendra kemudian menyingkirkan tubuhnya dari atas Catherine.


Alvarendra merbahkan tubuhnya yang begitu lelah di samping Catherine, Mengistirahatkan sejenak tubuhnya,namun tak lama setelah itu dia terbangun menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Membersihkan bau keringatnya yang telah bercampur dengan keringat Catherine tadi.


Dia menggosok tubuhnya kasar...seakan jijik dengan tubuhnya karena telah bersentuhan dengan tubuh Catherine tadi. Namun di sela sela dia yang sedang membersihkan tubuhbya justru keluar kata kata yang seolah olah menandakan sebuah penyesalan.


"apa yang ku lakukan"gumamnya.


**


Sementara Catherine begitu terpukul akan kejadian yang baru saja menimpanya.


Air matanya masih saja mengalir tanpa bisa ia hentikan.

__ADS_1


Catherine pun tertidur tanpa sempat membersihkan dirinya terlebih dahulu.


__ADS_2