Kumohon Cintai Aku

Kumohon Cintai Aku
Obrolan di meja makan


__ADS_3

Catherine merebahkan tubuhnya di sofa itu.


Dia meringkuk kan badannya di atas sofa tanpa selimut.


Catherine merasakan punggungnya yang terbentur tadi sakit,sesaat air matanya kembali mengalir.


Tak lama setelah itu Catherine tertidur.


Gelapnya malam telah terganti oleh sinar mentari pagi.


Sinar yang menyapa hangat dalam fajar keabadian.


Sinarnya yang begitu cantik alami dalam simfoni di pagi hari.


Burung burung mulai berkicauan menyambut hari yang baru.


Langit biru yang cerah dengan mentari yang merekah.


Semua mata yang terpejam mulai terbuka menyambut datangnya sang mentari.


Kita memiliki dua pilihan setiap harinya.


Melanjutkan tidur dan bermimpi atau bangun untuk mengejarnya.


Catherine memilih terbangun dari tidurnya.


Dia membuka matanya perlahan, menggeliatkan badannya yang terasa pegal-pegal.


Setelah dirasanya sudah siap,dia terbangun dari tidurnya.


Catherine melihat ke sekeliling kamar itu.


Dicarinya sosok laki laki dingin yang kemarin menyiksanya.


"kemana Alvarendra"kata Catherine mencari keberadaan Alvarendra.


Catherine menuju kamar mandi untuk menyelesaikan rutinitas paginya.


Dia keluar menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya.


Karena tidak membawa baju ganti Catherine berjalan menuju wardrobe milik Alvarendra.


Dia mencari pakaian yang kiranya bisa dia gunakan.


Catherine mengambil satu kemeja berwarna putih dan mengenakan nya di tubuhnya.


Dia mulai menyisir rambutnya di depan cermin.


Tak lama pintu kamar terbuka.


"ceklekk"suara pintu terbuka.


Alvarendra memasuku kamar miliknya dengan strlan kaos dan celan training.


Alvarendra baru saja lari pagi.


Tubuhnya yang berkeringat menambah kesan sexy bagi wanita yang memandangnya.


Alvarendra menatap ke arah Catherine yang mengenakan pakaian miliknya.


Dia melototkan pandangannya pada tubuh Catherine.

__ADS_1


"kenapa kamu memakainya...lepas"kata Alvarendra.


"aku tidak membawa baju ganti al...jadi aku meminjam bajumu...maaf...jangan memintaku untuk melepasnya"kata Catherine memohon.


"siial''umpat Alvarendra kesal.


"lain kali jangan peenah menyentuh barang milikku tanpa seizin ku"kata Alvarendra.


Alvarendra memilih pergi meninggalkan Catherine menuju kamar mandi.


Di dalam kamar mandi Alvarendra menelvon asistennya.


"kirimkan beberapa stel pakaian wanita"kata Alvarendra pada asistennya itu.


"apa...aku kan sedang tidak bekerja al"bantah vincent yang menjabat sebagai asisten sekaligus temannya itu.


"laksanakan atau kamu aku pecat"kata Alvarendra.


"iya iya baiklah...aku akan segera mencarikannya"jawab Vincent.


Setelah menelvon Vincent, Alvarendra segera mengisi air di bak mandinya dan berendam di sana.


Alvarendra keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Dia berjalan memuju wardrobe miliknya dan mengambil satus stel pakaian untuk dia kenakan.


"tokk tokk tokk"suara ketukan pintu.


Catherine berjalan untuk membukanya namun di cegah oleh Alvarendra.


"apa kamu tidak malu dengan pakaian seperti itu"bentak Alvarendra.


"sana"kata Alvarendra menyuruh Catherine untuk menjauh dari pintu.


Catherine pun menuruti perintah Alvarendra.


Di luar sudah ada pelayan dengan paper bag di tangannya.


"tuan ini pesanan anda...tdi tuan Vincent yang mengantarkan"kata pelayan itu.


Alvarendra mwngambil paper bag itu dari tangan pelayan.


"dimana Vincent??"tanya Alvarendra.


"dia sudah pulang tuan... katanya dia buru buru karena ada rapat dengan kolega''kata pelayan itu.


"hmm..ya sudah.. biarlah"jawab Alvarendra.


"untung tu anak bisa di andelin di saat saat begini"gumam Alvarendra.


Alvarendra kembali ke kamarnya dengan menenteng paper bag.


"nih"Alvarendra melemparkan paper bag yang dia bawa tadi pada Catherine sehingga pas terkena di dada Catherine.


"aaaaa"teriak Catherine yang kaget kemudian dengan gugupnya menangkap paper bag itu.


Setelah itu Alvarendra memilih pergi meninggalkan Catherine.


Alvarendra menuruni anak tangga dan bergabung dengan ayah dan ibunya yang sedang menikmati sarapan paginya.


Ibu Alvarendra yang melihat anaknya turun sendirian pun mulai menanyakan keberadaan Catherine.


"Dimana Catherine al...kenapa kalian tidak turun bersama?"tanya ibu Alvarendra.

__ADS_1


"dia masih berpakaian bu..tadi aku duluan.. katanya dia akan menyusul"jawab Alvarendra sambil meraih swgelas susu yang sudah tersedia di atas mejanya.


Di saat yang bersamaan,Catherine membuka isi papaer bag yang di berikan oleh Alvarendra.Di dalam paper bag itu terisi tiga set pakaian.


"jadi dia memberikan ini"gumam Catherine.


Catherine mengambil satu dress dan segera mengenakan nya.Entah bagaimana baju itu terlihat pas dengan ukurannya.


Setelah selesai mengenakannya Catherine turun dan bergabung dengan suami dan mertuanya.


"pagi bu...yah"sapa Catherine.


"pagi juga nak"jawab ayah Alvarendra


"pagi juga nakk...gimana tidurnya? nyenyak?"tanya ibu Alvarendra.


Sekilas Catherine melirik ke arah Alvarendra.


"iya bu"jawab Catherine dengan melayangkan sebuah senyuman.


"gimana kinerja Alvarendra?"tanya ibu Alvarendra dengan menaikan satu alisnya.


Catherine sesikit melototkan matanya karena bingung akan pertanyaan ibu mertuanya,


Ibu Alvarendra yang tahu tentang kebingungan mennatunya langsung bicara tanpa bosa basi lagi.


"gimana semalam... Alvarendra kuat berapa ronde?"tanya ibu Alvarendra.


Catherine malah tersedak ketika mendengar pertanyaan sefrontal itu kelur dari mulut ibu mertua nya.


"uhukk.uhukkk..uhuukk"


"pelan pelan sayang"kata Alvarendra mengambilkan minum untuk Catherine.


"apa ibu meragukan keperkasaan anak ibu?kata Alvarendra yang membuatnya menjadi pusat perhatian karena sesaat semua mata memandangnya.


"astaga... pertanyaan macam apa ini....bar bar sekali ibu mertua ku ini.. dan itu jawaban macam apa yang dia lontarkan...bener benee bikin malu"gumam Catherine dalam hatinya.


Ibu mertuanya justru tertawa melihat raut wajah panik dan malunya Catherine.


"hahahaaa...ibu nggak meragukanmu saya g...ibu percaya bagaimana kemampuan tembak dalammu karena kamu mewarisi darah ayahmu"jawab ibu Alvarendra


"ibu nih apa apaan sih?kasian tu Catherine nya malu dari kemarin di tanyaani begitu terus"kata ayah Alvarendra mencoba menghentikan pertanyaan pertanyaan yang akan di lontarkan oleh istrinya itu.


Ayah Alvarendra tahu bahwa istrinya itu pasti akan bertanya lebih dari itu lagi setelahnya.


"apa sih yah...lagian sama ibu sendiri ngapaian harus malu"kata ibu Alvarendra.


"jangan malu sayang...nanti ibu bakal kasih tahu cara biar Alvarendra gak bisa lupain cara main kamu"kata ibu Alvarendra lagi.


"blush"pipi Catherine semakin merona menahan malu.


Entah kenapa dia sangat malu ketika mendengar hal hal yang berbau dewasa di depan publik.


"apa lagi ini...astaga...mana ada ayah mertua lagi...duh malunya...mau di taruh di mana ini muka"gumam Catherine di dalam hatinya.


"iya bu ajarin tu Catherine biar makin jago"sahut Alvarendra sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Catherine melirik ke arah Alvarendra dan memelototkan matanya.


"apa apaan dia ini... sandiwara sampai sejauh ini apa dia enggak lelah"gumam Catherine yang kesal dengan Alvarendra pasalnya apa yang di katakannya sangat berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada.

__ADS_1


Alvarendra yang merasakan lirikan mata dari Catherine justru memilih pura pura tidak tahu dan melanjutkan makannya.


__ADS_2