
Matahari mulai terbangun dari peraduannya, memancarkan sinarnya dan menghapuskan titik titik embun yang ada di dedaunan.
Menghangatkan tubuh dari hawa dingin yang menimpa.
Tidak ada malam yang bisa melawan matahari terbit begitu pula dengan sebuah masalah.
Tidak akan ada masalah tanpa adanya sebuah harapan.
Pancaran sang fajar di pagi hari adalah pancaran semangat baru.
Pagi hari selalu mengajarkan kita bahwa akan ada harapan di setiap langkah kehidupan.
***
Pagi ini Catherine terbangun dari tidurnya.
Dia merenggangkan otot otot tubuhnya yang terasa kaku.
Badanya terasa remuk dan sakit saat itu.
Sekujur tubuhnya penuh memar akibat ulah Alvarendra semalam.
Dia melihat ke sekeliling dan tidak menemukan Alvarendra di sana.
Catherine mencoba terbangun dari tidurnya. Namun gesekan tubuh yang dia alami saat dia terbangun menimbulkan rasa sakit yang begitu menusuk di area tubuh bagain bawahnya. Perih dan panas, seakan ada sesuatu yang terbakar itulah yang dia rasakan saat itu.
"auuwwww" Ringis Catherine tat kala dia mencoba terbangun.
Catherine mencoba terbangun dan membiasakan diirnya dengan rasa sakit itu.
Di singkapnya selimut yang menutupi tubuh Catherine.
"kenapa sesakit ini"gumam Catherine menahan rasa sakitnya dengan menggigit bibir bagian bawahnya.
Catherine melihat ke arah tempat tidurnya.
Ada noda darah yang bercampur dengan ****** ***** milik Alvarendra. Noda itu tampak sudah mengering .
"ternyata ini benar benar bukan mimpi"gumam Catherine yang terlihat sangat sedih.
Malam pertama yang harusnya di lakukan dengan penuh cinta,penuh kasih sayang dan keromantisan justru di laluinya dengan brutal.
Harapan setiap wanita agar bisa memberikan kehormatannya untuk laki laki yang dicintainya dan mencintainya,tapi tidak bisa Catherine wujudkan. Karena saat itu hanya dialah yang mencintai. Mencintai tak terbalas,itulah yang dia alami saat ini.
__ADS_1
Kalau saja dia bisa kembali memutar waktunya, Catherine akan memilih di cintai dari pada mencintai.
Ketika kita mencintai dan cinta itu tak terbalaskan yang akan kita dapatkan hanyalah rasa sakit. Begitulah yang Catherine alami saat ini.. Tapi jika kita yang di cintai, kita tidak perlu untuk mengejar sebuah kebahagiaan karena kebahagiaanlah yang akan menghampiri kita melalui orang yang mencintai kita.
Catherine mencoba berdiri perlahan.
Sesaat dia melirik ke bawah, melihat beberapa pakaian miliknya yang telah koyak berceceran di lantai kamarnya.
Dia juga melihat beberapa kancing baju milik Alvarendra yang berceceran.
Dasi berwarna dark blue , yang dia gunakan untuk mengikat tangan Catherine semalam juga masih berada di tempat tidur itu.
Catherine memandangi tubuhnya di sepan cermin.
Catherine tersenyum miris melihat kondisi tubuhnya yang penuh dengan ****** dan memar.Dia begitu sedih dan muak membayangkan apa yang telah dia alaminya semalam.
Betapa terhinanya dia sebagai seorang perempuan.
Keperawanan nya di renggut tanpa perasaan.
Catherine pun memilih berjalan menuju kamar mandi, menyalakan air shower untuk membasahi tubuhnya.
Di bawah guyuran air shower itu Catherine kembali menangis.
"aku pikir dengan menyetujui pernikahan ini,semua akan baik baik saja....tapi ternyata aku harus kehilangan ke perawananku sebelum kamu kembali mencintaiku"gumam Catherine yang masih menangis di bawah guyuran air shower itu.
Aku akan berusaha melihat setiap hal positif setiap harinya, walaupun aku harus melihat lebih keras untuk mendapatkan nya... semangat Catherine."gumam Catherine menyemangati dirinya sendiri untuk bangkit dari keterpurukannya saat ini.
"mungkin suatu saat nanti beberapa hal yang menyakitkan ini akan berubah"gumamnya lagi.
Catherine pun keluar kamar mandi dengan bathrobes di tubuhnya. Dia berjalan keluar sambil mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk ditangannya.
Catherine berjalan menuju walk in closet miliknya.
Mengambi sebuah Chiffon dress bermotif bunga bunga dengan warna maroon yang menjadi warna dasarnya
Tak lupa Catherine juga mengambil sebuah flatshoes berwarna senada.
Catherine berjalan menuruni anak tangga rumah itu.
Di lihatnya Alvarendra tengah duduk di meja makan menyelesaikan sarapannya.
Ada rasa takut tatkala dia melihat Alvarendra.
__ADS_1
"katakan padanya untuk duduk"kata Alvarendra pada asisten pribadinya yang juga berada di sana.
"nyonya .... kemarilah"kata asisten pribadi Alvarendra.
"apa dia memanggil untuk menyiksaku"gumam Catherine yang kini berjalan menuju meja makan.
Catherine menarik satu kursi untuknya,kemudian ikut mendudukkan badannya.
"berikan pil kontrasepsi yang aku suruh beli kemarin padanya...dan minta dia untuk meminumnya" kata Alvarendra pada asisten pribadinya kemudian berdiri meninggalkan meja makan itu.
"kenapa nggak ngomong sendiri sihh...lagian orangnya juga di depan mata....ya tuhan...kenapa engkau memposisikan ku di posisi yang sperti ini"gumam Vincent yang tak lain adalah asisten pribadi Alvarendra.
Sementara Catherine yang mendengar itu pun tanpa sadar matanya berkaca-kaca.
Vincent yang melihat mata Catherine pun merasa kasihan,tapi dia juga tidak bisa berbuat apa apa untuknya.
"nona Catherine ini obatnya"Vincent memilih segera menyerahkan obat itu dan pergi menyusul Alvarendra.
"kenapa membicarakan hal semacam ini harus melalui orang lain....ini begitu memalukan al.... segitu bencinya kah kamu padaku...hingga kamu sengaja ingin mempermalukan ku"gumam Catherine dalam hatinya.
Catherine memilih membawa pil itu kembali ke kamarnya dan meminumnya di sana.
"sabar Catherine.....sabar....semuanya akan baik-baik saja nanti...ini juga demi keluarga mu"gumam Catherine menyemangati dirinya sendiri.
Catherine menyetujui pernikahan ini karena orang tua Alvarendra yang memintanya.Meskipun kini status mereka berbeda jauh namun orang tuanya dan orang tua Alvarendra berteman baik. Orang tua Catherine dulunya adalah salah satu orang yang berjasa dalam perkembangan bisnis keluarga Alvarendra.
Orang tua Catherine dulunya juga seorang pembisnis, namun bisnis ayahnya lambat laun mulai menurun hingga pada akhirnya si nyatakan bangkrut.
Saat puta dan putri mereka lahir mereka berencana untuk menjodohkan satu sama lain.
Catherine dan Alvarendra dulu berteman baik.
Bahkan keduanya saling mencintai sebelum saling melukai.
Keduanya memiliki konflik yang menyebabkan kesalahn pahaman anatara keduanya ,yang akhirnya membuat Alvarendra begitu membenci Catherine sampai saat ini.
Di samping itu alasan Catherine satu satunya adalah karena saat ini ayahnya sedang sakit parah dan membutuhkan pengobatan yang banyak.Orang tua Alvarendra berjanji akan menanggung semua biaya pengobatan ayahnya jika Catherine mau menikah dengan Alvarendra.
Karena itulah Catherine menerima pernikahan ini,meskipun dia tahu bahwa Alvarendra akan sangat membencinya namun dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik baik saja ketika mereka sudah menikah nanti.
Dua bulan pernikahan Alvarendra tidak pernah pulang ke mansion pribadinya semenjak Catherine menempati mansion itu.
Saat itu terakhir dia menginjak kan kaki di mansion itu adalah ketika malam pernikahanannya dengan Catherine.
__ADS_1
Alvarendra hanya masuk untuk mengantarkan Catherine kemudian pergi menuju apartemen miliknya.
Dan semalamlah Alvarendra menginjakkan kakinya untuk pertama kali di mansion itu setelah dua bulan yang lalu dia datang.