
Lamunanku tersentak,hasratku meronta,
Terpaku sukma,terpana senyuman yang penuh dengan misteri..
Mulut dan hatiku tidak sejalan lagi,
Kini ku tutupi hatiku yang menangis dengan senyuman,
Terlalu berat untuk bertahan , tapi sulit untuk melepaskan.
Karena di antara bertahan dan melepaskan sama sama butuh perjuangan.
Catherine yang terjatuh merasakan sakit di bagian punggungnya akibat benturan barusan.
Alvarendra tidak menghiraukan Catherine, dia justru memilih pergi meninggalkan Catherine yang sedang terjatuh.Dia memilih peegi ke kamar mandi dari pada menolong Catherine yang baru saja terjatuh.
Catherine bangun sendiri dan mendudukkan tubuhnya di pinggiran ranjang itu.
Kini Alvarendra telah ke luar dari kamar mandi.
Dia melirik ke arah Catherine yang tengah bersandar di pinggiran ranjang.
"siapa yang menyuruhmu duduk di situ?"bentak Alvarendra.
Meskipun sedikit berteriak namun suaranya tidak akan terdengar dari luar karena ruangan itu kedap suara.
Catherine sesikit tersentak mendengar kata kata Alvarendra barusan.
"kamu jangan di situ...turunn"kata Alvarendra lagi.
Catherine pun memilih berdiri dari ranjang itu dan berjalan menuju sofa yang terdapat di ruangan itu.
Matanya kini berkaca kaca mwnahan isak tangis yang sedari tadi ia tahan.
"teganya kamu al.... bahkan sudah melukaiku pun masih bisa sekasar ini... apa tidak ada sedikit ruang di hatimu untukku"gumam Catherine di dalam hatinya.
Setelah kepergian Catherine dari tempat tidur itu, Alvarendra lantas berjalan menuju kasur itu dan segera merebahkan tubuhnya yang terlihat lelah dan letih.
Catherine memandang tubuh Alvarendra yang sedang terbaring di tempat tidurnya.
Sesaat dia membayangkan saat saat dimana dia dan Alvarendra masih sangat dekat dulu.
Alvarendra begitu perhatian padanya bahkan begitu mengkhawatirkan nya saat dia terluka.
Catherine teringat akan salah satu momen manisnya bersama Alvarendra dulu.
***FLASHBACK***
Saat itu mereka masih kuliah di salah satu universitas ternama di kota itu.
Catherine adalah sosok wanita yang cantik dan sempurna.
Fisiknya bisa terbilang sempurna sebagai seorang wanita.
Bahkan di sana banyak laki laki yang begitu mengidolakannya.
Catherine sedang berjalan menaiki tangga menuju kelasnya bersama salah satu temannya.
Saat hendak.menaiki tangga tanpa di sengaja kakinya terpleset hingga membuat kakinya terkilir.
"auuuw"ringis Catherine yang ke sakitan.
Dari belakang Alvarendra yang melihat Catherine terjatuh segera datang menghampiri nya.
"Catherine...kamu kenapa....mana yang sakit"tanya Alvarendra penuh dengan kecemasan melihat Catherine yang meringis menahan sakitnya.
__ADS_1
"tidak apa apa al... kakiku hanya sedikit terkilir"jawab Catherine.
"ayo ke rumah sakit" kata Alvarendra kemidian membopong tubuh Catherine dengn ke dua tangannya.
"al...turunin aku...malu di lihat yang lain"kata Catherine meminta Alvarendra agar menurunkannya.
"peduli apa sama mereka...kamu terluka..hasrus segeralah mendapatkan penanganan dokter"kata Alvarendra yang masih membopong tubuh Catherine
"aku tidak apa apa al...tidak perlu sampai ke dokter"kata Catherine mencoba menolak Alvarendra.
"kamu bisa diem nggak....atau mau ku cium di sini"ancam Alvarendra.
"ahh..tidak"jawab Catherine.
"kalau kamu malu...kamu bisa sembunyiin wajah kamu"kata Alvarendra pada Catherine.
Catherine pun akhirnya memilih menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Alvarendra.
Alvarendra berjalan menuju mobilnya dan meletakkan tubuh Catherine secara perlahan karena dia takut menyakiti tubuh Catherine.
Tak lupa Alvarendra memasangkan seatbelt untuk Catherine.
Setelah meletakkan tubuh Catherine , Alvarendra kemudian berjalan menuju kursi pengemudi.
Alvarendra mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Alvarendra memarkirkan mobilnya.
Alvarendra berjalan menuju tempat Catherine duduk, melepaskan seatbelt pada tubuh Catherine kemudian mwmbopongnya menuju UGD.
Perlakuan Alvarendra begitu sangat lembut.
Setelah melakukan beberapa pemeriksaan dan pengobatan akhirnuya mereka pulang.
Catherine ingin berjalan sendiri menuju mobil namun Alvarendra tidak mengizinkan nya dan memilih untuk membopongnya lagi.
Alvarendra membopong tubuh Catherine menuju kamarnya.Dia sama sekali tidak mengizinkan Catherine untuk berjalan sendiri.
"lain kali hati hati"kata Alvarendra.
"iya...tadi juga udah hati hati"jaqab Catherine.
"masih sakit nggak?"tanya Alvarendra.
"udah enggak kok...malahan sebenarnya udah bisa jaln sendiri"kata Catherine.
"jangan untuk jalan dulu"kata Alvarendra.
"aku nggak papa al...jangan terlalu mengkhawatirkan ku"kata Catherine pada Alvarendra.
"ya udah terserah kamu aja...mau makan apa?"tanya Alvarendra.
"apa aja al"jawab Catherine.
Alvarendra pun segera memaankan makanan favorit Catherine.
tak lama setelah itu pesanannya datang.
"ini makan"cata Alvarendra membukakan makanna untuk Catherine.
"biar aku sendiri al"kata Catherine.
"udah biar aku yang suapin...kamu kan lagi sakit"kata Alvarendra.
"yang sakit itu kakiku al,bukan tangannku... aku masih bisa makan sendiri"jawab Catherine.
__ADS_1
"kamu bisa diem nggak sih...aku cium nih kalau masih berisik"kata Alvarendra sedikit kesal karena Catherine terus membantah nya.
Catherine akhirnya memilih untuk mengalah, dia membuka mulutnya agar Alvarendra bisa menyuapinya.
"kamu nggak makan al"tanya Catherine.
"iya nanti aku makan... sekarang kamu habiskan dulu"jawab Alvarendra.
"kalau kamu nggak mau makan aku juga nggak mau makan"kata Catherine mengancam Alvarendra.
"iya iya bawel ahh..ini aku makan...puas"kata Alvarendra yang kini menyuali makanan ke mulut Catherine kemudian bergantian ke mulutnya sendiri.
"yahh ciuman pertamaku"kata Catherine.
"maksudnya?"tanya Alvarendra bingung.
"itu...habis dari mulut aku ke mulut kamu,itu kan namanya ciuman secara tidak langsung al"kata Catherine.
"lah kan tadi kamu yang nyuruh, apa jangan janagn emang pengen di cium beneran"goda Alvarendra.
"yer ngarep kamu al"kata Catherine.
Keduanya pun akhirnya tertawa bersama.
Catherine berdiri dari tempat tidurnya karena ingin ke kamar mandi.
Alvarendra yang melihat pergerakan Catherine pun segera mencegah nya.
"mau keman sih...bisa diem nggak"bentak Alvarendra.
"galak banget sih al,aku kan mau ke kamar mandi"kata Catherine.
"kenap nggak bilang sama aku"kata Alvarendra.
"yang bener aja masak mau pipis mesti bilang sama kamu"kata Catherine tak kalah keras.
"emangnya kenapa?"tanaya Alvarendra.
"ya Allah ni bocah otaknya di taruh dimana sih,yang bener aja pipis mesti minta tolong ke dia...nggak nyadar apa kalau dia itu cowok dan gue itu cewek..gue kan masih punya malu."umpat Catherine di dalam hatinya.
"please deh al, kamu kan cowok dan aku cewek mna mungkin aku ke kamar mandi minta tolong sama kamu..nggak ngerti banget sih"kata Catherine.
"bawel"kata Alvarendra lalu membopong tubuh Catherine mwnuju kamar mandi.
"turunin al...aku bisa sendiri"kata Catherine.
"berisik"kata Alvarendra.
Alvarendra mwngantarkan Catherine sampai di kamr mandi dan mendudukkan nya di atas closet kamar mandi.
"kalau udah selesai panggil aku"kata Alvarendra.
Catherine hanya terdiam membisu karena ternyata Alvarendra hanya akan mengantarnya sampai kamar mandi tidak sesuai dwngan apa yang Catherine fikirkan.
Sesaat wajah Catherine merona karena malu.
"kenapa diem?"tanya Alvarendra.
"mau di bantuin sekalian"goda Alvarendra.
"ahh enggak...kamu keluar dulu sana"jawab Catherine.
****FLASHBACK ON****
Itu adalah salah satu momen antara Catherine dan Alvarendra dulu.
__ADS_1
Sebenarnya masih banyak moment manis lainnya yang terjdi antara Catherine dan Alvarendra dulu.