Kungkungan Cinta Sang Senja

Kungkungan Cinta Sang Senja
Tragedi


__ADS_3

Terdengar sebuah jeritan dari dalam rumah yang begitu besar dan mewah. Isak tangis pun tak kalah kencangnya dengan jeritan itu. Terlihat bayangan dari balik hordeng yang tersingkap oleh angin malam dan melihatkan suatu tragedi yang tidak akan pernah terlupakan.


Mata bening nan cantik itu masih terus mengeluarkan tetesan air mata. Sebuah tangan mungil anak lelaki memeluk tubuhnya dengan sangat erat, mencoba melindungi gadis cantik itu. Teriakan ampun dari suara wanita dewasa terus teringang di telinga kedua bocah tersebut. Tanpa mereka tahu apa


yang terjadi di dalam ruangan tersebut, kamar itu tertutup dengan lampu yang di padamkan.


“Antonio aku mohon, lepaskan mereka!” teriak wanita itu seraya memegang kuat kaki dari lelaki yang di panggil Antonio itu. Seperti orang tuli, Antonio tidak menjawab dan semakin berbuat kasar pada wanita tersebut. Dengan menendang sekuat tenaganya dan berhasil membuat wanita itu tersungkur menjuh dari kakinya.


“Mereka juga anak-anakku. Aku berhak atas mereka dan kau harus membiarkan mereka bersamaku!” ujar Antonio menyeringai menatapnya.


“Tidak. Anak-anakmu sudah tiada! Mereka berdua adalah anakku, darah dagingku!” bantah Elisa mencoba berdiri dengan sisa tenaganya dan berjalan pelan menuju pintu.


Antonio terlihat begitu kesal dengan jawaban Elisa yang mengatakan jika Senja dan Langit bukanlah anaknya. Lelaki itu pun melepaskan gesper yang melilit pinggangnya, Elisa terlihat bergetar melihat benda tersebut. Antonio berjalan pelan dengan smirk-nya yang menakutkan.


“Jika mereka bukan anakku. Akan Ku buat mereka menjadi milikku!”  seru Antonio seraya mengayunkakn ikat pinggang tersebut ke arah tubuh Elisa dengan sangat keras.


Jepret....


Terdengar suara rintihan dari Elisa yang begitu kencang mengisi seluruh ruangan tersebut. Setelah beberapa lama tak lagi terdengar suara rintihan itu begitu juga suara dari ikat pinggang dari Antonio.


KRIIEETTT,,


Antonio keluar dari ruangan tersebut dengan keadaan tangan yang berwarna merah. Ya, itu adalah noda darah yang dia dapat setelah menyiksa Elisa sang adik iparnya.Mata Langit membelelak penuh saat melihat keadaan Elisa yang tergletak di atas lantai dengan banyak darah di tubuhnya. Sedangkan Senja menyusupkan wajahnya pada dada kecil Langit karena ketakutan.


“Langit, wajah itu kenapa begitu tampan.” Lelaki itu mendekatinya lalu dengan cepat menghimpit wajah bocah lelaki itu dengan tangannya yang penuh noda darah.


Langit masih terpaku menatap tubuh Elisa yang sama sekali tak bergerak. Air matanya mengalir begitu saja, dadanya terasa begitu sesak melihat wanita yang selama ini mencintainya, menyayanginya dan selalu melindunginya penuh dengan sayatan, pukulan bahkan darah di seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Tangan Langit semakin memeluk erat tubuh Senja. Tatapan matanya begitu tajam saat melihat seperti apa wajah lelaki yang telah melukai Elisa, Antonio semakin menyukai Langit yang menurutnya sangat manis dan begitu menggoda dirinya.


“Tatapanmu itu sangat mempesona. Aku akan membuat hidupmu begitu bahagia, Langit!” ujar Antonio dengan menyeringai. Tangan Antonio bergerak ke arah tubuh Senja, akan tetapi terhenti saat tangan kecil Langit


menghalanginya. Antonio menatapnya dengan bingung dengan sikap Langit.


“Jangan sentuh adikku!” ujar Langit dengan tatapan penuh kemarahan.


Antonio menjauhkan tangannya lalu berdiri. Senyuman di wajah Antonio semakin membuat Langit ingin sekali merobek mulut itu, memotong kedua tangan itu karena telah melukai Elisa dan mencoba menyentuh Senja sang adik.


“Senja,” panggil Antonio dengan lirih.


Gadis yag dicpanggil senja itu pun menengok dengan perlahan. Namun, Langit segera memeluknyackembali dan menyembunyikan wajahnya dari Antonio.


“Kau sudahcmembunuhnya. Lalu apa yang ingin kau lakukan pada kami?” tanya Langit dengan tatapan dingin.


“Ikut denganku. Dan hiduplah sebagai anakku, anak dari Antonio Sastroatmojo!” ujar Antonio dengan tertawa dengan senang.


Langit menunduk menatap wajah Senja yang terlihat ketakutan. Bahkan gadis kecil itu masih mengeluarkan air matanya tanpa bersuara.


Tangan kecil Senja masih memeluk erat tubuh Langit. Bahkan tangan itu terlihat gemetaran. Langit kembali menatap ke arah Antonio dan Elsa bergantian.


“Aku dan adikku akan ikut denganmu. Dengan syarat dan kau harus menuruti semuanya tanpa terkecuali!” seru Langit dengan mantap.


“Kau mau bernegosiasi denganku? Huh, bocah bodoh. Kau tahu siapa aku?” tanya Antonio terlihat kesal.


“Antonio Sastro Atmojo.Anak angkat dari Eyang, adik angkat dari Ayah. Lelaki kejam yang menhabisi seluruh keluarganya hanya untuk sebuah harga,” jawab Langit.

__ADS_1


Mata Antonio membulat sempurna mendengar jawaban dari Langit. Anak lelaki yang berusia 15 tahun itu sudah banyak tahu akan seperti apa silsilah akan dirinya.


“Aku akan jadi bonekamu untuk keluarga Sastro Atmojo. Dengan syarat, kuburkan semua keluargaku dalam satu tempat dan buat tempat itu sebagus mugkin. Yang kedua, jangan sekali-kali kau sentuh adikku jangan pernah berpikir untuk melihat seperti apa wajahnya. Jika kau melanggar akan itu, aku yang akan membunuhmu!” seru Langit begitu mantap dengan semua ucapannya.


“Hahaha ... Langit Adi Jaya, watakmu sama persis dengan Dwirani ibumu. Wanita yang sudah di nikahi oleh Sadewa, wanita yang aku cintai,” ucap Antonio sambil melihat telapak tangannya.


“Aku takut ...-“ Terdengar suara lirih nan lembut dari Senja. Antonio terpaku dengan suara itu dan kembali mencoba mendekatinya.


“Jaga batasanmu! Aku sudah mengatakan apa syaratnya, bukan!” seru Langit begitu marah dengan sikap spontan Antonio.


“Ada aku, jangan takut!” ujar Langit mengusap lembut rambut panjang hitam Senja.


Senja yang tahu akan kode yang Langit berikan hanya mengangguk dengan diam. Antonio sangat kesal dan ingin sekali membunuh Langit, jika saja dia tidak membutuhnya untuk mendapatkan semua warisan harga benda dari keluarga Sastro Atmojo.


“Baiklah, aku akan menuruti semua perkataanmu. Setelah aku melihat wajah adikmu itu untuk yang pertama dan terakhir kalinya,” balas Antonio mencoba berdiskusi dengan anak berusia 15 tahun.


Langit berbisik pada Senja. Gadis kecil itu hanya mengangguk dan menutup matanya, Langit menutup sebagian wajah Senja dengan telapak tangannya. Lalu menunjukkannyapada Antonio.


“Gadis kecil yang begitu cantik,” ucap Antonio begitu terkesima oleh kecantikan Senja yang hanya dia lihat sebagian wajahnya saja.


Senja segera berbalik lalu kembali memeluk sang kakak. Membuka mata indahnya yang harus dia sembunyikan dari Antonio.


“Jangan mencoba mendekati Senja. Jangan kau atur dia, berikan aku rumah yang luas dan hanya boleh di tempati olehku dan Senja saja!” pinta Langit.


“Ok, fine. Aku akan mengurus semuanya,” sahut Antonio dengan cepat karena sudah bosen berdiskusi dengan Langit bocah yang memiliki pemikiran layaknya orang dewasa.


Malam itu, Langit dan Senja di bawa oleh Antonio pergi keluar kota. Elisa dan semua keluarganya telah di makamkan di sebuah bukit. Langit menatap Senja yang tertidur pulas di pangguannya pun akhirnya menitikkan air matanya, sungguh sebenarnya bocah lelaki itu begitu takut luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2