
VILLA
Di dalam Villa, Senja sudah di periksa oleh Dokter kepercayaan Langit. Terlihat jarum infus tertancap di lengannya. Senja terlihta pucat dengan wajahnya yang sangat putih bersih itu.
“Tuan, sebaiknya anda juga mengganti pakaian. Setelah itu, makanlah sesuatu!” pinta Asman seraya menaruh nampang di sampingnya.
“Aku tidak akan memaafkan diriku, Paman. Jika terjadi sesuatu dengan Senja,” ucap Langit begitu lirih dan sangat terasa kesedihannya.
“Erine sudah mengatakannya bukan. Jika, Nona akan sadar setelah 30 menit atau 1 jam kemudian,” balas Asman mencoba menenangkan sang Tuan.
Langit masih menatap lekat wajah Senja. Tangan kekar itu tak pernah melepas tangan Senja yang sangat dingin, menggenggam erat dan mencium tangan halus itu.
“Aku mohon, bangunlah. Aku berjanji akan menceitakan semuanya!” ucap Langit tanpa sadar berjanji pada sang adik.
Terlihat Antonio yang sudah kembali rapi setelah menolong Senja. Tanpa meminta ijin Antonio memasuki kamar Senja dan membuat Asman menepuk pelan pundak Langit.
“Bagiamana keadaannya?” tanya Antonio seraya berjalan mendekati tempat tidur Senja.
Langit yang sedang menunduk pun terkejut dengan kedatangan dari Antonio. Dengan segara, Asman menutup pintu kamar Senja dan membuat bodyguard dari Antonio keluar.
“Lancang sekali kau masuk begitu saja ke kamar ini, huh?” hardik Langit dengan tatapan tajam.
“Kau lupa, jika tidak aku mungkin adikmu ini akan mati,” jawab Antonio dengan tersenyum.
“Jaga ucapanmu!” bentak Langit begitu marah.
“Berterima kasihlah padaku, Langit! Aku ini Pamanmu dan Tuhan sangat baik hari ini, karena bisa mempertemukan aku dengan keponakanku yang cantik ini,” puji Antonio seraya menatap wajah dan seluruh tubuh Senja dengan tatapan penuh arti.
“Keluar kau sekarang juga!” teriak Langit dengan menarik tangan Antonio dengan kasar.
Melihat sang atasan di perlakukan kasar, membuat kedua bodyguard Antonio menodongkan pistol ke arah Langit dan itu membuat semua pengawal dan Asman serentak mengeluarkan pistolnya dan saling todong.
“Oh, tenanglah. Turunkan senjata kalian, aku benar-benar berniat baik datang kemari. Jadi, mari kita bicarakan dengan damai!” ajak Antonio seraya tersenyum melihat ke arah Langit.
Langit menatap Asman untuk menurunkan senjata mereka. Langit berjalan mendahului Antonio dan memasuki ruang kerjanya. Para pengawal segera bersiaga di depan kamar Senja, Antonio duduk di depan Langit memutar kursinya menatap seluruh ruangan tersebut.
“Apa, apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Langit tak basa-basi.
__ADS_1
“Kau harus bisa mendapatkan kontrak kerja dnegan perusahaan dari EY Company. Mereka memiliki saham yang sangat banyak, dan perusahaanmu ... ah, tidak perusahaanku membutuhkan saham dari EY Company,” jawab Antonio.
“Untuk apa saham itu? Apa yang ingin kau lakukan, EY Company itu hanya memiliki beberapa saham kecil saja,” ujar Langit menatap penuh tanya pada Antonio.
“Hahaha, aku sungguh tidak suka dengan sikapmu yang satu ini. Kenapa sama
persis dengan Dwirani yang selalu kritis dalam mendengarkan sesuatu,” ujar Antonio sembari mengusap dagunya yang di tumbuhi banyak rambut.
“Jangan sentuh sesuatu yang bukan milikmu, Antonio!” seru Langit dengan nada marah saat menyadari sesuatu.
Jantungnya berdegup kencang. Amarahnya sudah mencapai ubun-ubun, darah yang mengalir di seluruh tubuhnya seakan mendidih dan siap menyebur kapan pun. Tangannya sudah mengepal kuat di bawah meja, Asman yang melihat itu pun mencoba menganalisis apa maksud dari ucapan Langit.
“Pemikiran itu sama persis dengan Sadewa. Aku sangat benci dirimu, Langit! Kau mewarisi semua sikap, tindakan dan pemikiran dari kedua orang tuamu!” seru Antonio terlihat kesal.
“Jika kau tidak bisa mendapatkan saham dari EY Company, aku akan mendapatkan anak gadis mereka untuk ku miliki,” ucap Antonio seraya berjalan keluar dari ruangan itu.
Kemarahan Langit sudah tak tertahankan. Setelah kepergian Antonio, Langit menendang meja yang ada di depannya hingga terbalik. Asman mundur beberapa langkah karena terkejut.
“EY Company,” gumamnya seraya menatap sebuah pintu kecil di balik tirai.
Lelehan air mata sudah tak bisa di tahankan lagi oleh wanita cantk yang bersembunyi di dalam sana. Ada rasa takut saat mendengar, Antonio menginginkan dirinya. Tubuhnya gemetaran, merosot kebawah seperti tidak mempunyai tulang yang menompang tubuhnya.
Langit terdiam mematung mendengarkan isak tangis dari sang kekasih. Ya, EY Company itu milik kedua orang tua dari Elya. Langit begitu mencintai Elya begitu juga sebaliknya Elya begitu mencintai Langit, Eris dan Tania selaku
kedua orang tuanya sudah sangat dekat dengan Langit mereka sangat menyetujui hubungan keduanya.
Tetapi sekarang situasinya berbeda, Langit harus berbuat curang untuk bisa mendapatkan saham dari perusahaan EY Company.Antonio secara halus mengancam dirinya dengan menggunakan Elya sebagai jaminan. Langit menitikkan air matanya mendengar sang kekasih menangis dengan ketakutan akan nasibnyananti.
*****
Di dalam kamarnya, Senja baru saja sadar. Gadis itu di jaga 3 pelayan wanita yang diam-diam bisa bela diri untuk menjaga dirinya. Senja sedang memakan bubur yang sudah tersedia di sana, tatapan gadis itu kosong melamunkan siapa lelaki yang menolongnya. Setelah memasukkan beberapa suap ke dalam mulutnya, Senja meletakkan sendok itu.
“Nona, kau harus minum obatnya,” ucap pelayan seraya menyodorkan obat tersebut.
Senja menerima itu tanpa menjawab dan meminumnya begitu saja.
Antonio mendatangi Senja yang sedang duduk diatas ranjangnya. Tatapannya masih kosong, entah apa yang di pikirkan olehnya. Antonio semakin menyukai Senja, apalagi mata gadis itu berwarna abu-abu dengan kulit yang putih bersih, rambut bergelombang dan pirang.
__ADS_1
“Senja, aku ingin kau jadi milikku. Terlepas dari siapa kau dan siapa aku,” gumam Antonio tersenyum melihat Senja. Pelayan yang melihat Antonio yang sedang memandang Senja pun dengan segera menutup pintunya.
“Nona, di luar ada Tuan Anotonio.”
Senja yang sedang melamun pun akhirnya tersadar dan menatap ke arah pintu. Senja merapikan rambutnya lalu memerintahkan sang pengawal untuk membuka kembali pintunya.
“Tapi, Nona.”
“Tidak apa, buka saja. Ada kalian di sampingku, apa yang harus aku takutkan?” tanya Senja dengan nada lirih.
Antonio tersenyum saat pintu itu terbuka dan melihatkan Senja yang sedang menatapnya ke arahnya. Asman yang di beritahu jika Antonio menemui Senja pun bergegas menuju kamar sang Nona muda.
“Senja, nama yang cantik seperti orangnya.”
“Kau itu, lelaki yang dulu aku temui bukan?” tanya Senja dengan menatap Antonio.
Antonio menautkan kedua alisnya yang tebal itu, memicingkan kedua matanya mengingat apa yang di katakan Senja. Sedangkan, Senja memalingkan wajahnya saat melihat suara orang berlari dan ternyata Asman yang terlihat cemas.
“Paman,” ucap Senja sembari menyunggingkan senyumannya.
Untuk yang kesekian kalinya, Antonio terkejut dengan Senja. Kali ini, Antonio terkesima dengan senyuman manis dari senja dan juga suara lembut yang keluar dari mulutnya. Antonio begitu senang saat mendengar Senja memanggilnya dengan sebutan paman, tetapi Antonio salah. Sebutan itu untuk seorang pelayan di rumahnya yaitu
Asman.
Asman mendekati Senja, “Nona, kau sudah sadar. Apa kau merasakan sesuatu?” Terlihat Asman begitu khawatir padanya.
“Aku tidak apa-apa.” Senja menggelengkan kepalanya.
“Syukurlah,” ucap Asman merasa lega.
Antonio terlihat marah karena melihat kedekatan dari Asman dan Senja. Seorang pelayan yang begitu akrab dengan atasannya, apalagi Asman bisa dekat dengan Senja yang begitu cantik jelita. Antonio menatap tajam Senja yang terlihat begitu senang karena bisa melihat Asman, sedangkan dirinya mendapatkan tatapan yang berbeda dari Senja.
“Tuan Antonio, saya harap Anda bisa meninggalkan Nona yang baru saja sadar. Ini untuk kebaikannya,” pinta Asman seraya mengangguk hormat.
“Senja, apa kau tahu siapa yang menolongmu, Sayang?” tanya Antonio tersenyum penuh arti pada Senja.
“Aku hanya melihatnya sekilas dan itu pun tidak jelas. Aku yakin, dia seorang lelaki tapi aku tak tahu siapa dia,” jawab Senja.
__ADS_1
Antonio tersenyum lalu semakin mendekati Senja. Namun, di halangi oleh Asman ayng cepat berdiri di depan Antonio. Antonio terlihat kesal dengan tingkah Asman yang menurutnya kurang ajar.