Kungkungan Cinta Sang Senja

Kungkungan Cinta Sang Senja
Taman Kota


__ADS_3

“Paman, jika hari ini datang. Aku seakan sedang menunggu kematianku saja, sungguh aku tidak mau    kehilangan dirinya,” ucap Langit begitu lirih dengan raut wajah yang sedih.


“Kau adalah sumber kehidupannya. Kau sudah cukup baik bahkan sangat baik menjaganya, Tuan.” Asman yang sudah ikut dengan mereka sejak kecil pun mengerti akan kekhawatiran dari Langit akan senja.


“Hei, gadis bodoh! Sedang apa kau berdiam diri di situ. Apa kau tidak mau melihat gemerlapnya lampu kota, huh?” tanya Langit dengan sedikit berteriak.


Senja mendongak dengan air mata yang mengalir di wajahnya. Namun, terlihat senyuman kebahagiaan dari wajahnya. Gadis itu berlari ke arah Langit, melompat tepat di atas tubuh sang kakak, mencium pipi dan bibir Langit sekilas. Setelah itu beranjak turun dan segera berlari ke kamarnya.


Para pelayan di buat kewalahan dengan sikap Senja yang masih begitu labil. Asman tersenyum melihat Senja yang kembali ceria.


“Baiklah. Kau juga harus bersiap-siap, Paman! Aku akan membersihkan tubuhku dahulu,” ucap Langit seraya pergi.


Asman hanya mengangguk dan berjalan ke arah lain. Sampai saat ini, semuanya berjalan dengan baik. Langit mampu menjaga Senja selama sepuluh tahun. Langit bisa menekan Antonio dengan tidak mengusik kehidupannya dan Senja. Sedangkan lelaki itu sedang berfoya-foya dengan semua harga dan hasil kerja keras Langit selama ini.


Taman Kota


Senja sudah berbaur dengan para pengunjung lainnya. Para pelayan pun sama menyebar untuk terus mengawasi Senja dari jauh. Langit berjalan lima lnagkah di belakang Senja yang sedang melihat semua lampion yang tergantung di setiap jalan.


“Lampionnya sangat bagus dan indah. Aku mau beli beberapa jenis lampion untuk di bawa pulang,” ucap Senja sambil tersenyum.


Pelayan pun bergegas membeli lampion yang di minta Senja. Mereka akan selalu mendengar apa yang Senja katakan karena terhubung oleh earphone. Langit hanya tersenyum tipis akan keinginan Senja.


“Baiklah, Nona. Lampionnya sudah di dapatkan,” seru salah satu dari para pelayan.

__ADS_1


Senja tersenyum mendengar itu, berbalik menatap sang kakak dengan menunjukkan jari berbentuk love pada  Langit. Langit melototkan matanya pada Senja yang mengodanya. Tanpa mereka tahu, jika terlihat dua orang yang sedang mengawasinya dari jarak jauh bahkan tidak akan ketahuan oleh mereka. Karena dua orang itu terdapat di atas sebuah gedung dan terus mengawasi mereka dari sebuah teropong.


“Langit benar-benar menyiagakan banyak anak buahnya untuk menjaga Senja, Tuan. Bahkan mereka menyamar dengan sangat baik,” ucapnya pada sang Tuan.


“Kau lihat bukan, bagaimana cantiknya Senja? Senyumannya begitu manis melebihi madu, gadis itu membuatku mabuk kepayang.” Lelaki itu begitu terobsesi dengan Senja dan melupakan jika tujuannya adalah Langit dan seluruh harga warisan keluarga Sastro Atmojo.


 “Ya,kau benar Tuan. Nona muda begitu sempurna, banyak yang melihatnya dengan terkesima di luar sana,” balasnya kembali.


“Aku harus mendapatkan gadis itu, setelah aku selesai dengan Langit.” Lelaki itu pun beranjak turun dari tempatnya di atas gedung.


Kembali dengan aktifitasnya dengan para wanita penghibur yang sudah menunggu antrian bermalam dengannya. Antonio yang sudah berusia 40 tahun itu tetap tampan dengan tubuh yang kekar, lelaki itu terus merawat dirinya agar terus terlihat muda di usianya yang tidak lagi muda.


Kembali lagi bersama Senja dan Langit yang sedang makan di sebuah taman yang terlihat begitu sepi. Senja meminta Asman dengan para pelayannya untuk beristirahat dan memakan semua makanan  yang dia inginkan tadi.


“Mereka itu ikut dengan kita sejak dulu. Jadi aku yakin jika mereka juga ingin memakan makanan jalanan ini dan kau tahu ini sangat nikmat,” jawab Senja dengan memakan sebuah roti panggang selai kacang.


Para pelayan yang mendengar itu begitu terharu. Bahkan mereka sampai menitikkan air matanya karena merasakan kebaikan dari Senja. Langit yang pasrah dengan sang adik pun hanya bisa mengusap lembut kepala Senja.


“Sifatmu terlalu baik. Bahkan kebaikanmu melebihi Bunda, Senja!” gumam Langit mengenang sosok mendiang sang ibu.


Asman yang mendengar gumaman itu menjadi semakin sedih. Dia lah salah satunya yang mendapatkan kebaikan dari Dwirani saat dia bekerja dengannya. Senja begitu menikmati malam hari dai luar istananya. Villa yang sudah seperti sangkar untuknya.


“Aku harap, Kau segera mengabulkan doaku. Aku  harap ada seseorang yang akan membawaku keluar selamanya dari istana itu,”batin Senja penuh harap. Bahkan gadis itu sampi menutup matanya sembari menatap sinarnya bulan yang begitu indah.

__ADS_1


Langit mengusap lembut rambut Senja.  Senja memeluk tubuh Langit dari samping, terlihat mereka seperti sepasang kekasih yang begitu romantis. Tetapi kenyataannya, mereka adalah kakak beradik yang saling menyayangi.


“Tuhan, maafkan aku yang telah menyembunyikan Senja dari dunia luar. Rasa sakit dan kehilangan ayng sejak dulu


aku rasakan, membuatku begitu egois mengekangnya untuk terus berada di sisiku,” batin Langit mengadu pada Sang Kuasa.


Jam sudah menunjukkan pukul 22.15, Senja masih berkeliling di keramaian kota. Gadis itu akan melewati malam ini di dekat pantai, tak menghiraukan hari sudah larut dan dinginnya angin malam. Senja berjalan mendekati bibir pantai, merasakan air laut yang menyapu kaki jenjangnya.


“Kenapa masih terlihat cantik saat tengah malam seperti ini? Aku begitu iri denganmu yang selalu di temani oleh rembulan, tersenyum riang bersama ribuan bintang,” ucap Senja seraya menatap ciptaan Tuhan itu.


Langit dan para pelayan hanya bisa melihat Senja daripantai. Membiarkan Nona kecil mereka berpuas diri melakukan apa yang dia inginkan, Senja semakin berjalan kea rah laut. Membiarkan setengah tubuhnya tenggelam oleh air laut, merasakan ombak yang terus menyapu dirinya.


“Aku tidak mau pulang,” gumam Senja sembari menitikkan air matanya.


“Senja! Waktunya kembali, ini sudah larut malam dan segera keluar dari laut!” pinta Langit sedikit berteriak.


Senja mencoba tersenyum, Langit melambaikan  tangannya. Senja berjalan menjauhi laut dan segera menghampiri sang kakak. Pelayan memberikan sebuah selimut untuk menutupi tubuh Senja yang basah.


“Langit, terima kasih. Sudah membawaku keluar dari Villa itu,” ucap Senja sembari menyenderkan kepalanya di dada bidang Langit.


Langit memeluk tubuh Senja. Terlihat mata bening dan indah itu tertutup, membiarkan Langit menggendongnya ala bridal.


Semuanya kembali ke Villa, Langit merebahkan tubuh Senja di ranjangnya. Membiarkan para pelayan wanita mengganti pakaiannya yang basah dan kotor. Begitu pula dirinya yang kembali harus membersihkan diri karena terkena pasir yang ikut menempel dari tubuh Senja.

__ADS_1


"Setidaknya, malam ini aku sudah menuruti apa yang dia inginkan. Dan, rasanya begitu berbeda saat melihatnya tersenyum dan tertawa diluar sana," ujar Langit sembari menatap langit malam.


__ADS_2