
Bahkan sekarang tubuhnya gemetaran karena mengingat seperti apa Antonio membunuh kedua orang tuanya, paman, bibinya dan sang kakek dengan begitu kejam.
“Aku akan menjagamu. Aku akan terus mengurungmu dalam sangkar emas, hanya kau harta berharga untukku! Aku pastikan akan membunuhnya dengan sangat kejam,”ucap Langit dalam hati.
Bocah lelaki itu sudah di penuhi dendam di dalam hatinya. Mata indah yang dulu teduh itu menjadi sangat dingin dan menakutkan. Supir yang membawa Langit dan Senja hanya bisa melihatnya dengan iba, tanpa Langit ketahui jika supir itu adalah seorang pegawai setia dari Sadewa Sang Ayah.
“Aku berjanji, Tuan. Sampai akhir hayatku akan menjaga mereka, melihat mereka tumbuh dengan baik di bawah tangan Antonio,”batin Asman penuh keyakinan.
BALI, 04 DEC 2000
Antoni membawa kedua anak itu ke Bali, mengajaknya ke sebuah Villa yag begitu besar dengan halaman yang sangat luas. Villa itu ternyata di kelilingi oleh laut, Langit segera membawa Senja ke dalam dan mencari sebuah kamar untuk sang adik.
Antonio hanya diam duduk bersandar di atas sofa.Terlihat beberapa pelayan wanita menghampirinya, melepaskan jas dan kemeja, begitu juga sepatunya.
“Kalian harus menjaga kedua anak itu! Mereka adalah aset berhargaku,” titah Antonio pada semua pelayan itu.
Langit begitu over protecivepada Senja. Setelah merebahkan sang adik di atas ranjang, Langit kembali keluar dengan mengunci kamar tersebut. Kembali menemui Antonio yang sedang di layani oleh para pelayan wanita, dengan tubuh yag hanya memakai underware pendek.
“Aku ingin sofa yang kau duduki itu di ganti baru. Esok pagi aku juga tidak ingin melihat para pelayan ini ada di rumah ini!” ujar Langit dengan tegas.
Para pelayan begitu syok mendengar itu. Antonio meradang dengan perintah yang Langit katakan, bukan Langit Sandara namanya jika tidak bertingkah laku tegas dan memerintah.
Langit menatap Antonio yang terlihat marah dengan tatapan dingin. Tanpa menunggu jawaban dari Antonio, Langit sudah beranjak pergi dan kembali menemani Senja yang tertidur pulas.
“Senja, teruslah bersinar demi hidupku. Kau sinar yang akan terus menerangi Ku, menuntunku ke dalam gelap.” Tangan Langit terus mengusap lembut rambut Senja penuh kasih sayang.
Langit membaringkan tubuhnya di sebelah Senja. Mencoba menutup matanya yang sudah lelah karena menangis dan melihat adegan menyakitkan selama beberapa hari ini.
“Langit, kau kekuatanku. Kau tempatku berteduh,” gumam Senja seraya mengusap wajah tampan Langit.
__ADS_1
Mata abu-abu Senja yang bening dan indah itu teus terjaga sepanjang malam. Gadis berusia 12 tahun itu, terus menatap ke arah bayangannya dalam cermin. Mengingat akan perbedaan antara dirinya dengan Langit dan juga kedua orang tuanya.
“Langit tak membolehkan Paman Antonio melihatku dan itu karena warna bola mataku. Aku harus menutupinya dengan sebuah lensa,” gumam Senja seraya mengedipkan matanya berkali-kali.
Langit yang tidak mendapatkan Senja di sampingnya membuka matanya dengan tiba-tiba karena terkejut. Mencarinya dengan terburu-buru dan menghampiri pintu kamar.
“Langit,” panggil suara merdu Senja yang baru keluar dari kamar mandi. Langit yang mendengar suara Senja pun berbalik dan menatap Senja dengan cemas. Langkah kaki Langit terlihat begitu lebar menghampiri Senja lalu dengan cepat memeluk sang adik.
“Kau membuatku takut setengah mati,” ucap Langit dengan suara bergetar menahan tangisnya.
Senja mengusap pelan punggung Langit. Gadis itu merasa sangat bersalah karena sudah membuat sang kakak khawatir akan dirinya. Senja melepaskan pelukannya dan menatap Langit dengan tatapan menyesal.
“Tidak, jangan menangis. Aku sudah tidak apa-apa, asalkan aku masih bisa melihatmu.” Langit menangkup wajah Senja dengan kedua tangannya.
“Maaf.” Senja berkata sangat lirih sembari memegang lembut tangan Langit. Langit mengecup lembut tangan lembut nan wangi milik Senja. Lalu mengusap rambut panjangnya dengan penuh kasih sayang.
Setelah menjadi ahli waris seluruh aset dan harta dari keluarga Sastro Atmojo. Langit di didik dengan keras dan tegas oleh Antonio dengan berdalih untuk bisa menangani semua warisan keluarganya. Di lapangan golf terlihat seorang lelaki tampan dengan perawakan tinggi, kekar dan sangat tampan. Lelaki itu sedang menemani seorang kolega bisnis di sana.
“Maaf sekali, Tuan. Kami masih belum bisa melakukan kerjasama dengan perusahaan anda. Jika kualitasnya begitu buruk dan harga yang tidak sesuai dengan barang yang ada,” jawab Langit begitu tegas.
Limo, seorang lelaki paruh baya yang dulu menjadi rekan bisnis Sadewa pun bisa di tolak karena kriteria dan system yang Langit jalankan adalah paling terbaik dan canggih. Oleh karena itu, Langit dengan sangat mudah
menolak kerjasama tersebut.
“Baiklah, aku mengerti akan system di perusahaanmu.” Limo mencoba tersenyum sembari menepuk bahu dari Langit.
“Terimaksih, Anda sudah mengerti akan semua itu,” balas Langit seraya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Limo menyambut tangan itu dan saling bersalaman. Setelah bertemu dengan Limo, Langit kembali beranjak pulang ke istananya yang tertutup. Bahkan, Villa itu di tutup dengan dinding yang sangat tinggi di sekelilingnya. Langit benar-benar sangat takut akan Senja yang akan hilang dari sisinya.
Langit melangkahkan kakinya ke dalam Villa mencari sosok cantik yag biasanya selalu menyambut kedatangannya. Akan tetapi, kali ini tidak terlihat batang hidungnya dan itu membuat dirinya cemas.
__ADS_1
“Dimana, Senja?” tanya Langit pada pelayan di sana.
“Nona sedang berada di belakang Villa, Tuan,” jawab pelayan yang masih menunduk takut akan Langit.
Langit bergegas ke arah belakang Villa yang terdapat taman bunga dengan pemandangan laut lepas dari tebing. Senja meminta Langit tidak menutup bagian belakang Villa dengan tembok, tetapi memintanya di halangi dengan kaca saja agar Senja bisa melihat sunset setiap harinya.
“Senja!!” teriak Langit saat sampai di amang pintu dan kembali tidak melihat keberadaan sang
adik.
Senja yang sedang berjongkok memetik bunga pun bangun dan membalikkan tubuhnya.Tersenyum manis pada sang kakak. Anak berusia 12 tahun itu, kini sudah menjelma menjadi seorang gadis yang begitu cantik dan anggun. Senja memiliki rambut yang panjang bergelombang dengan sinar mata indahnya.
“Langit, kau sudah pulang.” Senja beranjak menghampiri sang kakak. Memeluknya dengan erat, Langit mencium pucuk kepala Senja mencium aroma harum dari rambut Senja yang menurutnya sangat menenangkan.
“Kau membuatku khawatir saja. Hari ini kau tidak menunggu di depan dan lebih memilih bermain dengan semua bungamu,hm?” tanya Langit seraya mengusap wajah Senja yang terlihat kotor oleh tanah.
“Lelaki itu datang. Untung saja, Paman Asman memberitahuku. Jadi aku bersembunyi saja di sini dan para pelayan keluar, mengatakan padanya kalau aku di kurung di sini olehmu,” jawab Senja dengan wajah polosnya.
“Antonio, mau apa dia kemari?” tanya Langit geram seraya mengepalkan tangannya. Senja yang melihat itu, segera menarik tangan Langit dan membuat lelaki itu memudarkan kepalannya seraya menatap Senja yang tersenyum cantik padanya.
“Apa, ada apa?” tanya Langit melihat ada sesuatu pada Senja.
Senja mendekatkan bibirnya pada telinga Langit, “Sudah waktunya kau membawaku keluar dan berjalan-jalan.” Langit yang mendengar itu pun melebarkan matanya dan segera melihat arlogi mahalnya.
“Ehem,, aku kira baru juga kemarin aku membawamu keluar.” Langit berkilah dengan berjalan keluar dari taman. Senja memanyunkan bibirnya dan mengejar sang kakak, semua pelayan tersenyum tipis melihat interaksi dari kedua majikannya itu.
Langit terlihat begitu dingin dan sangat menakutkan. Tapi berbeda lagi, jika sudah bersama dengan Senja. Langit akan menjadi ceria, hangat dan selalu membuat Senja tersenyum.
“Langit! Jangan berkata seperti itu, aku hanya bisa keluar sekali dalam satu tahun.” Senja berteriak pada Langit, gadis itu sampai berhenti berlari dan memilih menundukkan pandangannya.
__ADS_1
Langit yang tidak mendengar suara langkah Senja pun akhirnya berbalik dan melihat sang adik yang sedang menunduk. Asman yang berada di samping Langit pun hanya bisa mengangguk saat Langit menatapnya.
“Paman, jika hari ini datang. Aku seakan sedang menunggu kematianku saja, sungguh aku tidak mau kehilangan dirinya,” ucap Langit begitu lirih dengan raut wajah yang sedih.