Kungkungan Cinta Sang Senja

Kungkungan Cinta Sang Senja
Wanita Baik


__ADS_3

Pagi ini, Langit sudah berada sangat jauh dari Senja. Lelaki itu menatap awan yang berada di luar jendela pesawat yang dia naiki, pikirannya melayang jauh entah kemana. Asman yang menemaninya hanya bisa diam mengetahui jika Tuannya tidak akan bisa fokus dengan apa yang di katakan sekretaris barunya untuk menggantikan Elya.


“Kau bisa istirahat sejenak, sebelum pesawat ini take off!” Asman meminta sekretaris itu untuk kembali ke kabinnya setelah mendengar semua penjelasannya.


Asman berdiri dari kursinya dan segera menghampiri Langit dengan menepuk pelan bahu sang Tuan. Langit tersadar dari lamunanya dan menatap bingung Asman karena tidak ada sekretarisnya di sana.


“Toni sudah ku perintah kembali ke kabinnya. Tuan, kau tidak apa-apa? Tolong katakan padaku jika kau merasakan sesuatu,” pinta Asman dengan raut wajah cemas.


Langit mengusap wajahnya. Langit menatap Asman mencoba tersenyum agar Asman tidak khawatir padanya. Langit mengangguk lalu menepuk lengan Asman menandakan dirinya baik-baik saja.


“Maaf, sudah membuatmu khawatir. Sungguh aku tidak mendengarkan sama sekali apa yang Toni katakan,” ucap Langit.


Asman pun duduk di depan Langit dan menjelaskan apa yang Toni katakan. Langit mendengarkan dengan baik dan seksama, ia menerima semua ide yang Toni berikan.


“Baiklah, jika seperti itu. Aku akan melakukannya, semoga saja pangeran timur tengah itu mau menyetujuinya.” Langit kembali menatap keluar jendela. Terlihat bayangan Senja yang sedang tersenyum padanya dan terlintas pula wajah Elya yang juga tersenyum.


“Tuhan, jagalah mereka berdua. Mereka adalah dunia dan matahariku,” ucap Langit dalam hati.


Rumah Sakit


Di dalam kamar, Anita sedang menemani Senja dan memeriksanya. Senja yang ceria kini sudah tak terlihat beberapa hari belakangan ini. Anita merindukan suara lembut dan tawa dari Senja yang selalu dia dengar saat di Villa.


“Pipimu sudah tidak apa-apa, tak meninggalkan bekasnya juga.” Anita mencoba berbicara dengan gadis cantik itu, tetapi tetap tidak ada respon dari Senja yang hanya diam membisu.


“Senja,” panggil Anita seraya mengusap pipinya.


Senja ternyata melamun dan baru sadarkan diri saat merasakan sentuhan dari Anita. Senja menengok melihat Anita yang tersenyum manis padanya.


“Mau aku temani jalan-jalan di dekat taman?” tanya Anita menawarkan diri.

__ADS_1


“Apa bisa aku keluar begitu saja? Melihat semua itu?” tanya Senja balik dengan lirih.


“Tentu. Kau bisa keluar bersamaku,” jawab Anita seraya menarik tangan Senja dan keluar kamar.


Senja terkejut melihat jika ruangannya berada di dekat taman. Senja berbinar melihat bunga berwarna warni di sana, kakinya melangkah begitu saja. Bahkan, gadis itu melepas sendal untuk bisa merasakan embun di atas rerumputan.


Anita tersenyum melihat Senja yang begitu senang. Senja larut dengan segala perasaannya melihat taman tersebut, melihat jenis bunga yang belum dia lihat, melihat pohon yang jenis lain di depannya. Senja menyentuh batang pohon tersebut dengan menangis karena merasa begitu senang.


“Bunga apa ini, kamu begitu cantik.” Senja berjongkok di depan bunga menyentuh dan menyium bunga itu.


“Namanya bunga krisan putih. Lihatlah warnanya ada putih dan juga merah muda,” ucap Anita menjelaskan.


Senja yang terpukau oleh taman kecil itu sampai melupakan keberadaan dari Anita yang sudah mengajaknya keluar dan melihatkan taman itu. Senja berdiri dan menatapnya dengan wajah yang tersenyum.


“Terima kasih.”


Senja baru menyadari jika dirinya tersenyum. Menunduk malu, lalu menatap ke sembarang arah tak terlihat siapa pun di sekitarnya. Anita menyadari perubahan raut  wajah Senja pun segera menjelaskan dimana sekarang mereka berada.


“Aku tidak sedang mengurungmu. Kamu masih tetap di rumah sakit, tetapi tempatmu sangat private dan di bedakan dengan pasien lainnya,” jelas Anita sembari berjalan mendekati Senja.


“Lalu dimana mereka?” tanya Senja.


Anita pun mengajak Senja untuk mendekati sebuah kaca yang memantulkan bayangan dirinya dan Anita pun merasa aneh. Namun, setelah melihat lebih dekat ternyata dirinya dan semua pasien di rumah sakit  itu hanya di batasi oleh dinding kaca.


“Kenapa aku tidak bersama dengan mereka?” tanya Senja dengan tatapan sedih. Tangan gadis itu menyentuh dinding kaca tersebut.


“Kemarin kau berada di dekat mereka. Kau berada di sana, tetapi sejak Tuan Antonio datang dan membuat onar. Aku terpaksa memindahkanmu dari sana dan Langit ingin kau baik-baik saja,” jawab Anita.


Senja menatap Anita dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Gadis itu sungguh merasa begitu sedih dan tidak tahu harus bagaimana lagi. Anita menghampirinya lalu memeluk Senja, mencoba menenangkannya dengan mengusap punggungnya.

__ADS_1


“Maafkan kami yang selalu memisahkanmu dari yang lain. Maafkan, kami yang begitu sayang padamu dan membuatmu terasa hidup dalam sangkar,” ucap Anita begitu lirih.


Senja menangis sejadi-jadinya merasakan jika hidupnya begitu terkurung. Gadis itu benar-benar tersiksa dengan apa yang dia alami sekarang. Senja memeluk erat Anita, melepaskan semua kesedihannya yang sudah dia tahan


sejak kemarin malam.


“Maafkan kami, sayang.” Anita terus meminta maaf karena merasakan bersalah pada Senja karena terus mengurungnya.


Hari itu, Senja terus berada di taman melupakan kesedihannya dengan bermain dengan bunga di sana. Keadaannya semakin membaik, Anita terus mengawasinya dari jauh. Sore harinya, Elya datang membawa sebuket bunga di tangannya. Senja yang selalu bermain dengan bunga pun bisa mencium wangi dari bunga yang Elya bawa.


Senja beranjak berdiri dan membalikkan tubuhnya. Terlihat, Elya terkejut sendiri melihat Senja yang tahu akan kedatangannya. Senja menatap Elya lalu menatap bunga yang berada di tangannya.


“Ah, sepertinya kau tahu karena wangi dari bunga ini,” ucap Elya seraya mendekati Senja dan memberikan bunga itu.


Senja masih diam tak menjawab, tetapi gadis itu menerima bunga tersebut dan menciumnya. Senyuman manis terukir di wajah ayu nya. Elya senang karena ternyata Senja menyukai bunganya.


“Terima kasih.” Senja beranjak duduk di kursi panjang tanpa mengajak Elya.


Elya mengangguk, tak ada rasa kesal di hatinya melihat sikap Senja. Entah kenapa, wanita itu sangat menyukai Senja dan begitu menyayanginya setelah bisa bertemu dan bisa berbicara bersama.


“Kau tidak pergi dengan Langit?” tanya Senja menatap Elya.


Elya menggeleng lalu berjalan ke arahnya. Elya masih tetap berdiri, namun tangannya tak segan menyentuh wajah putih Senja. Senja membiarkan saja wanita itu menyentuhnya karena Elya memang wanita baik.


“Langit memintaku untuk menemanimu di sini. Dan, aku pun meminta padanya untuk bersamamu saja di sini,” jawab Elya.


Senja terkejut dengan jawaban dari Elya. Gadis itu mengingat akan ucapan Langit kemarin malam yang mengatakan tentang semua perasaannya akan dirinya dan Elya.


“Kau wanita baik. Tapi, maaf jika aku belum bisa dekat denganmu.” batin Senja terus bergejolak akan semua apa yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2