Kungkungan Cinta Sang Senja

Kungkungan Cinta Sang Senja
Sakit


__ADS_3

Hari itu, Langit dan Elya kembali ke kota. Senja masih enggan bertemu dengan Langit dan memilih berada di taman bunganya. Asman dan yang lainnya sedang memperbaiki pintu yang telah di buat rusak oleh Langit. Setelah itu menghampiri Senja yang masih asyik dengan bunga-bunganya.


“Nona, apakah kau yakin akan tidur di taman malam ini?” tanya Asman.


“Ya, malam ini biarkan aku tidur dengan berteman bunga dan rembulan,” jawab Senja seraya tersenyum. Senja tidak ingin membuat Asman khawatir akan dirinya.


Di dalam taman terdapat sebuah gazebo yang di lengkapi dengan kelambu indah di sekelilingnya. Ada tirai untuk menutup pintu dari Gazebo tersebut.


“Baiklah, semoga kau tidur dengan nyenyak. Bermimpi indah lah,” ucap Asman sambil pamit keluar.


Senja mengangguk dan menutup tirainya. Sedangkan Asman kembali mengunci pintu taman tersebut dan segera kembali ke kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya.


“Aku ingin seperti dirimu, bulan. Berada di atas sana tanpa harus memikirkan siapa pun. Kau tinggal sendiri tapi terlihat begitu bahagia, bahkan bintang pun memilih mengelilingi mu tanpa kau pinta,” ucap Senja menatap sang rembulan.


Mata indah itu perlahan menutup dengan air mata yang masih tersisa di sudut matanya. Langit yang baru saja pulang langsung memasuki kamar Senja, tetapi tidak mendapati sang adik di sana.


Asman menempelkan sebuah memo di kaca rias Senja memberi tahu keberadaan sang adik yang tidur di taman. Langit berlari kecil menuju taman dan melihatnya dari luar.


“Apa kau begitu sangat marah padaku. Sampai kau memilih mengunci dirimu di sini,” ucap lirih Langit seraya menyentuh dinding kaca itu.


Kebohongan yang disembunyikan oleh Langit bagaikan penghianatan bagi Senja yang tidak boleh berinteraksi dengan dunia luar. Sedangkan, Langit bisa dengan bebas keluar masuk bahkan sampai mempunyai seorang kekasih di belakang dirinya.


“Ayah, Bunda, maafkan aku sudah membuat Senja menangis.” Suara Langit tercekat karena perasaan menyesalnya.


Langit duduk tepat didepan dinding kaca itu, menatap tirai yang menutupi Senja di dalamnya. Malam itu, Langit terus terjaga memandangi sang Senja yang tertidur dengan lelap di dalam sana.

__ADS_1


* Mentari telah*


tersenyum di ufuk timur, memancarkan sinar terangnya yang menghangatkan bumi.


Hembusan angin,


membawakan seluruh rasa yang berada di dalam relung hati,


Rindu, kesedihan,


kebahagiaan dan juga kebebasan.


Keesokkan harinya,terlihat sosok ayu itu sedang berada di dekat pantai dengan bertelanjang kaki. Membiarkan kaki jenjangnya terkena air laut yang terus menyeretnya ke dalam air. Rambut panjang ikalnya, terbang oleh angin yang menyelimutinya dalam pagi itu.


Senja sudah bangun sejak pagi, melihat Langit yang tertidur di depan pintu kaca taman. Tetapi, entah mengapa gadis itu hanya memandangnya sekilas lalu pergi begitu saja tanpa membangunkannya.


Bukan cemburu yang dia rasakan, lebih pada merasa terkhianati akan kepercayaannya pada Langit. Senja kembali menitikkan air matanya, gadis itu semakin berjalan maju ke dalam air laut. Menenggelamkan seluruh tubuhnya.


“Rasa apa ini, mengapa aku merasakan sakit yang teramat. Aku ingin menghilang saja,” ucap Senja dalam hati. Membiarkan laut terus menariknya ke dasar. Senja menutup matanya merasakan tubuhnya semakin berat.


BYURRR...


Senja mendengar sesuatu akan tetapi begitu samar.Matanya terbuka dan melihat seseorang yang berenang di atasnya dengan cepat menghampiri dirinya yang ternyata susah tidak bisa menggerakkan tubuhnya karena kram.


BLUBUK,,,

__ADS_1


Air masuk ke dalam mulutnya, membuat Senja tersedak dan merasakan tercekik. Lelaki itu semakin mendekat, menggapai Senja dan segera berenang kembali ke permukaan laut. Senja tak sadarkan diri, karena banyaknya air laut yang masuk ke dalam mulut dan hidungnya.


“Hei, bangun! Cepat bangun!” seru lelaki itu seraya menepuk-nepuk pipi putih Senja.


“SENJA!!!” teriak Langit yang melihat sang adik sudah tergolek lemas tak sadarkan diri di dekat pantai.


Langit dan Asman berlari cepat menghampirinya. Melihat tubuh sang adik yang basah kuyup, Langit melepas handuk piyama yang dia pakai untuk menutupi tubuh Senja yang transparan.


“Senja, Senja, aku mohon bangun!” pinta Langit begitu cemas. Lelaki itu menekan-nekan dadanya lalu memberikan napas buatan untuk Senja. Langit melakukan itu berkali-kali, sampai akhirnya Senja batuk dan mengeluarkan air


dari mulutnya.


“Uhuk ... uhuk ... uhuk ...." Senja membuka matanya. Terlihat kabur melihat ada dua lelaki di sampingnya. Kemudian, tak sadarkan diri.


“Tuan, sebaiknya bawa Nona ke Villa saja!” pinta Asman. Langit menggendong tubuh mungil itu dan bergegas kembali ke dalam Villa. Sedangkan,  Asman memberikan sebuah handuk kimono pada lelaki yang sudah menolong Senja.


“Terima kasih, sudah menolong Nona.” Asman segera berbalik setelah memberikan handuk tersebut dan mengucapkan terima kasih.


“Jadi gadis itu, Senja? Gadis yang selama ini tidak pernah ku lihat. Langit menjaganya dengan sangat baik,” ucap Antonio dengan tersenyum senang.


Asman menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan dari Antonio. Lelaki itu mencoba menahan amarahnya pada Antonio, mencoba bersikap wajah agar tidak memperlihatkan betapa dia dan Langit begitu menyayangi Senja dan mati-matian menjaganya dari Antonio.


“Ya, Anda benar. Gadis itu, Senja! Gadis yang tidak boleh Anda sentuh,” balas Asman seraya berbalik menatap Antonio.


“Huh, hahahaha ... tapi nyatanya, hari ini Tuhan membiarkan aku menyentuh gadis itu setelah sepuluh tahun aku tidak melihatnya,” ujar Antonio tertawa keras. Lelaki itu berjalan melewati Asman yang masih terpaku di tempatnya.

__ADS_1


Antonio yang pagi itu ingin menemui Langit, terhenti saat melihat sosok gadis muda yang berjalan ke arah pantai. Karena merasa penasaran, akhirnya Antonio mengikutinya dan betapa terkejutnya saat melihat gadis itu dengan


sengaja menenggelamkan dirinya.


__ADS_2