
Langit masih memeluk erat sang pujaan hati. Membiarkan Elya menangis di pelukannya, Elya memeluk erat lelaki yang sangat dia cintai itu, menumpahkan segala rasa takut yang sekarang dia rasakan.
“Aku tidak mau dengan lelaki bajingan itu. Aku tidak mau, Lang!” seru Elya dengan masih menangis.
“Tidak akan ku biarkan dia menyentuhmu, El. Kau harus percaya denganku!” ujar Langit penuh keyakinan.
Elya mengadahkan wajahnya menatap sang kekasih, terlihat wajahnya penuh harap dengan semua apa yang Langit ucapkan. Langit hanya bisa menenangkan sang kekasih dengan perkataan itu untuk sekarang. Sedangkan, dia tahu apa yang harus di lakukannya terharap perusahaan dari sang kekasih.
“Bajingan kau, Antonio. Kau benar-benar membuat kesabaranku habis, sekarang kau sedang bermain api denganku. Mencoba menekanku menggunakan orang-orang terdekatku,” ucap Langit dalam hati.
“Kita akan cari cara untuk menyelesaikan semua ini. Kau yakin bukan denganku?” tanya Langit menatap penuh harap pada Elya.
Elya mengangguk mantap. Wanita itu adalah orang yang mengenal langit dengan baik, mengetahui bagaimana jalan pikirannya dan sangat hapal seperti apa Langit. Langit mencium kening Elya begitu lama, memberikan ketenangan untuknya dan juga Elya.
Di dalam kamar Senja, Asman masih terdiam dan menunduk di depan Senja yang menatapnya tajam. Semua pelayan pun hanya diam tak mampu menatap sang Nona muda tersebut.
Senja masih bisa mendengar ucapan yang Antonio katakan sebelum lelaki itu pergi. Senja berulang kali menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang dia katakan. Gadis itu menutup matanya, mengingat akan seperti apa lelaki yang dia lihat saat di dalam laut, tetapi semuanya percuma karena Senja tidak bisa melihat dengan jelas lelaki tersebut.
“Benarkah, dia orangnya? Dia yang menyelamatkan aku?” tanya Senja dengan lirih.
Tidak ada yang membuka suara di sana. Senja menatap Asman dan semua pelayannya, senyuman pahit terlihat di wajah ayunya.
“Astaga, apa ini. Sosok yang selalu aku hindari dan jauhi, ternyata dia menolongku.” Senja menertawakan dirinya, menertawakan sikapnya selama ini, menertawakan semua yang terjadi pada dirinya.
Asman yang melihat itu hanya bisa diam dengan cemas. Salah satu dari pelayan pun diam-diam pergi keluar untu memberitahukan Langit.
Setelah tertawa, Senja kembali terdiam dengan air mata yang mengalir di wajahnya. Tangannya mengepal dengan menepuk-nepuk dadanya yang terasa sakit. Senja menunduk melihat selimutnya yang basah oleh air matanya, semakin menangis dengan sangat menyayat hati.
“Nona, kau tidak apa?” tanya Asman seraya berjalan mendekat. Namun, langkahnya terhenti saat Senja menyuruhnya untuk berhenti mengunakan tangannya.
__ADS_1
Saat ini, gadis itu begitu sangat sedih, sangat bimbang dan begitu tersakiti dengan takdir yang dia dapatkan. Saat ini, gadis itu sedang tidak mau mempercayai siapa pun di dekatnya. Asman segera keluar kamar dan bergegas, bahkan lelaki itu sedikit berlari ke ruangan Langit karena begitu mencemaskan Senja.
“Tuan. Tuan, maafkan aku. Tapi, Nona Senja sedang dalam keadaan yang tidak baik,” ucap Asman yang berdiri di balik pintu.
Langit dan Elya yang mendengar itu pun begitu terkejut dan bergegas keluar dengan raut wajah yang khawatir. Langit dan Elya pun bergandengan tangan, berjalan dnegan cepat menuju kamar Senja. Asman mengikutinya dari belakang.
“KELUAR KALIAN DARI KAMARKU!!” perintah Senja dengan berteriak.
Terdengar lagi, suara benda pecah karena di banting. Langit dan Elya pun masuk dan melihat keadaan kamar Senja yang sudah berantakan dnegan semua benda yang tak utuh.Terlihat darah yang berceceran di atas lantai, Elya menutup mulutnya karena merasa terkejut. Sedangkan, Langit melihat Senja yang sedang mengamuk. Asman berlari ke arah Senja dan segera menekan tangannya yang berdarah karena mencabut paksa infusan tersebut.
“Lepaskan aku! Jangan sentuh tubuhku!” hardik Senja dengan mendorong tubuh Asman dengan kuat.
“Nona ... –“ Asman begitu sedih melihat Senja yang seperti itu.
Langit berjalan ke arah Senja. Mendekati sang adik, mencoba menyentuhnya dengan perlahan. Asman mundur beberapa langkah dan mengiring semuanya keluar kamar, membiarkan keduanya di dalam sana. Elya menangis, merasa sedih dan semakin bersalah karena sudah membuat Senja terpuruk seperti itu. Bahkan, efeknya lebih dari itu.
“Senja, maafkan aku!” lirih Elya dengan menangis.
“Pergi, kau! Aku tidak mau bertemu dengan siapapun, termasuk dirimu. “
“Lepaskan tanganmu dari tubuhku, Langit!!” hardik Senja.
Entah kenapa, gadis yang lemah lembut itu menjadi kasar dalam sekejap. Gadis yang memiliki suara lembut nan merdu itu menjadi begitu kuat dan sadis. Gadis yang lemah gemulai itu menjadi memiliki tenaga yang besar untuk memukul tubuh Langit. Sakit, memang sangat sakit yang di rasakan oleh Langit. Bukan karena sebuah pukulan dari sang adik, tetapi sakit karena melihat tangisan dan kemarahan dari sang adik.
Selama ini, Senja tidak pernah marah atau menangis di depan Langit. Tanpa dia ketahui, gadis cantik itu akan menangis di sepertiga malamnya, menatap laut lepas dengan sinar bulan di atasnya. Melihat gemerlapnya bintang yang seakan tertawa di atas kesedihannya.
“Pukul da hardik aku sepuas yang kau inginkan, keluarkan semua kemarahan mu padaku!” bisik Langit meminta pada sang adik.
Senja melebarkan matanya, meloloskan kembali butiran bening itu. Menyadari apa yang sedang dia lakukan, raungan dari Senja terdengar semakin menyayat hati. Namun kali ini, tidak ada lagi pukulan yang di rasakan oleh Langit, melainkan pelukan erat dari Senja.
__ADS_1
Langit memeluk sang adik, mengecup kening Senja. Membiarkannya menangis di pelukannya, Senja yang terbawa emosi pun kehabisan tenaga dan membuatnya lemas.Langit dengan sigap menangkap tubuh mungil itu dan segera membaringkannya kembali di atas ranjang.
“Paman, Elya!” panggil Langit dengan lantang. Membuat keduanya terkejut mendengar jeritan dari dalam kamar. Asman segera membuka pintu tersebut dan terlihat Senja yang terlihat pucat tergeletak di atas ranjang.
“Senja!”pekik Elya mendekat. Melihat gadis itu sudah tak sadarkan diri.
Langit masih menekan tangan Senja yang masih mengeluarkan darah. Asman memanggil kembali Dokter untuk melihat keadaan dari Senja. Langit menangisi sang adik yang terlihat tak berdaya itu. Elya mencoba membalut tangan Senja dengan bantuan dari pelayan untuk menghentikan darahnya.
“Paman,mana dia?” tanya Langit semakin cemas karena Dokter itu tak kunjung datang.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Dokter itu datang dan segera memeriksa keadaan Senja yang begitu lemah. Bahkan psikisnya sangat menghawatirkan, Dokter meminta Langit untuk membawanya ke rumah sakit.
“Jangan bercanda denganku! Aku tidak mungkin membawanya keluar!” bentak Langit dengan marah.
Elya begitu terkejut mendengar jawaban dari Langit dan membuatnya marahnya karena tidak melihat keadaan sang adik yan terlihat parah.
“Lang, kau jangan egois. Lihatlah Senja saat ini! Dia membutuhkan pertolongan Dokter di luar sana,” terang Elya seraya menunjuk Senja.
Langit memalingkan wajahnya dari Elya. Sungguh rasa takut akan kehilangan itu selau menghantui dirinya, bahkan selama ini dia sudah berlaku tidak adil pada Senja dan mengurungnya di sisinya. Langit meremas kasar rambutnya.
“Langit!” seru Elya dengan kesal melihat sang kekasih yang hanya diam tanpa berbuat apa pun pada sang adik.
Langit menatap tajam Elya yang terus-terusan berteriak dan memojokkan dirinya. Elya terkejut dengan seketika melihat raut wajah Langit, tetapi wanita itu tak menyerah demi menolong Senja dan menyadarkan keegoisan dari sang kekasih.
“Aku mohon, untuk sekali ini saja. Hilangkan rasa takut itu!” pinta Elya memohon pasa Langit dengan mengatupkan kedua tangannya.
Asman dan yang lainnya pun begitu terharu dengan sikap Elya yang membantah ucapan dari Langit hanya untuk Senja. Memohon dengan sangat tulus untuk keselamatan dari Senja. Melihat itu, Langit dengan cepat menggendong Senja dan berjalan cepat ke luar dari Villa tersebut.
Asman mengemudikan mobil dengan para pengawal di belakang mobil Langit. Di dalam mobil itu hanya ada Elya, Senja dan Langit sebagai pengemudinya. Elya memeluk erat tubuh Senja, tangan lentiknya begitu saja mengusap rambut panjang dan wajah ayu Senja tanpa dia sadari.
__ADS_1
Perjalanan itu membutuhkan waktu yang lumayan jauh, bahkan di setiap jalannya Langit tak akan ragu untuk mengumpat siapa saja yang menghalangi jalannya. Elya melihat wajah Langit penuh ketakutan, tetapi terlihat juga kecemasan di matanya.
“Rasa sayangmu padaku tidak sedalam rasa sayangmu pada Senja. Aku lihat itu dengan jelas di dalam matamu,” batin Elya merasa terharu pada Langit.