
Saat matanya terbuka, Senja mengedipkan matanya berulang kali. Menghembuskan napas panjangnya karena dunianya dan kehidupannya kembali lagi dengan semula. Terpenjara di istananya, terkurung dengan semua pelayannya.
Senja berbalik menatap ke arah yang berbeda,terlihat jelas gemburan ombak di tengah laut. Tetapi dia tidak bisa mendengarkan suara itu karena terhalang oleh dinding kaca yang sangat tebal.
“Aku ingin kembali lagi ke sana,” gumam Senja dengan nada sedih. Gadis itu memeluk selimut tebalnya dan menyembunyikan air matanya yang mengalir begitu saja.
“Nona, selamat pagi,” sapa pelayan yang baru saja masuk.
“Pagi,” sahut Senja dengan lirih.
“Nona, sarapanmu sudah siap.” Pelayan meletakkan sebuah nampan berserta isinya.
“Apa, Langit sudah kembali pergi?” tanya Senja.
“Tuan muda masih ada di ruang kerjanya,” jawab pelayan.
Senja yang mendengar itu, segera turun dari ranjangnya dan berlari keluar tanpa memakai sendal dan masih memakai piyama tipisnya. Pelayan begitu terkejut mellihat nona mudanya berlari hanya memakai piyamanya, segera mengambil rompi dari piyama itu dan berlari menyusul Senja.
“Nona, pakaianmu!” seru pelayan dengan berlari menyusulnya.
Senja yang sudah berlari jauh pun tak mendengarkan ucapan dari pelayan itu dan terus menuju ruang kerja dari Langit tanpa menyadariitu. Asman yang baru saja keluar dari ruangan Langit begitu terkejut melihat Senja hanya memakai piyama tipis dan melihatkan tubuh putih susunya.
“Astaga, Nona. Pakaianmu!” seru Asman seraya berbalik dan memegang knop pintu.
Pelayan yang sedari tadi mengejarnya pun akhirnya sampai dan langsung memakaikan rompi tersebut.
“Oh, astaga! Maafkan aku, aku sungguh tidak mengingat itu.” Senja tersenyum kuda melihat sang pelayan dan Asman yang sedang memunggunginya itu.
“Langit ada di dalam bukan?” tanya Senja seraya menerobos masuk.
“Nona ...-“ Suara Asman terhenti karena Senja sudah mendorong pintu itu dan masuk ke dalam.
__ADS_1
“Lang ...-“ Suara Senja terhenti mana kala melihat Langit sedang bersama sosok wanita di dalam sana dengan posisi yang sangat anti di lihat oleh Senja.
“Ma-maaf.” Senja menutup matanya dengan kedua tangannyalalu segera berlari kembali ke kamarnya.
Langit begitu terkejut melihat Senja yang masuk ke dalam ruangannya. Dan, sialnya melihat dirinya dan sekretaris pribadinya sedang dalam posisi berciuman dan saling berpangkuan.
“Astaga, Senja.” Langit menurunkan tubuh Elyadari pangkuannya dan segera berlari menuju kamar sang adik.
Senja yang baru pertama kali mellihat itu begitu terkejut dan begitu syok. Dadanya naik turun karena berlari dengan cepat di dalam Villa itu. Langit sampai di depan pintu kamar Senja dan berhenti sejenak untuk merapikan kemejanya yang terbuka.
“Senja, Senja, kau ada di dalam?” tanya Langit seraya mengetok pintu tersebut.
Namun tidak ada jawaban dari Senja di dalam sana. Langit mengusap kasar wajahnya dan terus meminta Senja membuka pintunya.
“Pergilah! Aku ada di dalam dan tidak akan pernah bisa keluar dari kamar ini, jadi kau bisa tenang.” Suara Senja begitu lirih, tetapi penuh dengan penekanan atas apa yag terjadi pada dirinya.
“Senja! Buka pintunya, aku ingin berbicara padamu,” ucap Langit sedikit bernada tinggi.
Langit terus menggedor dengan keras pintu tersebut dan semakin membuat Senja takut. Senja berjalan menjauhi pintu dan memilih berdiri di sudutkamarnya dengan memeluk tubuhnya.
BRAKK,,,
Langit berhasil membuat pintu itu terbuka dengan cara menendangnya. Asman begitu khawatir pada Senja yang tak terlihat di dalam sana. Langit masuk dan melihat ke seluruh kamar, Asman menemukan Senja yang sedang berdiri dengan tatapan tajam pada Langit.
“Nona, kau tidak apa-apa?” tanya Asman seraya berjalan menghampirinya.
Langit mengikuti arah tatapan dari Asman dan melihat Senja sedang menatapnya dengan tajam. Langit menghentikan langkah Asman dan membiarkan dirinya untuk mendekati Senja.
“Jangan mendekat! Aku tidak ingin dekat denganmu!” seru Senja dan beralih menatap Asman yang terlihat begitu khawatir padanya.
“Paman,” lirih Senja dan berlari kepelukan Asman. Senja menangis begitu saja dengan lirih.
__ADS_1
Langit hanya bisa memalingkan wajahnya dan berjalan keluar tanpa mengatakan apa pun. Membiarkan sang adik dengan Asman yang memang sudah mereka anggap sebagai pamannya sendiri.
“Nona, sudah jangan menangis!” pinta Asman seraya mengusap punggung Senja dengan lembut. Semua pelayan setia dari Senja pun masuk dan menghampiri sang majikan. Mereka akan merasakan sedih jika melihat Senja yang begitu riang menjadi sedih apalagi sampai menangis.
“Nona, sudah jangan bersedih lagi! Kami pun sedih,” pinta para pelayan.
Senja menghapus air matanya, mengatur kembali napasnya dan melepas pelukan dari Asman.
“Aku tidak apa-apa. Jangan bersedih!” pinta Senja mencoba tersenyum manis di depan semuanya.
“Nyonya, Tuan besar. Lihatlah, putri kalian yang begitu baik ini. Masih bisa tersenyum di kala hatinya sakit dan sedih,”batin Asman menahan air matanya.
Senja dengan cepat berubah cepat dari sedih menjadi tersenyum. Lebih baik dia menyembunyikan segalanya dan terlihat baik-baik saja, walaupun hatinya sedih dan begitu sakit.
Langit yang masih berada di luar kamar Senja pun hanya bisa menunduk sedih. Baru kali ini, Langit melihat tatapan tajam dari mata abu-abu Senja yang sangat tajam seperti pedang menghunus jantungnya.
“Kenapa kehidupan kalian begitu menyedihkan,”batin Elya melihat sang kekasih bersedih.
Elya adalah anak dari salah satu kolega bisnis dari Langit. Mereke berkenalan saat masih remaja dan diam-diam berteman, akhirnya mereka saling jatuh cinta dan memutuskan berpacaran sejak 3 tahun yang lalu.
Langit melihat Elya yang berdiri di ujung lorong dengan tatapan sedih. Langit berjalan menghampirinya, Elya memeluk Langit dan kembali membawa Langit ke dalam ruang kerjanya.
“Maaf, membuat melihat semuanya,” ucap Langit dengan nada sedih.
“Tidak, Lang. Aku yang harusnya meminta maaf padamu, seharusnya aku tidak kemari. Sekarang apa yang sudah ku lakukan membuat Senja marah dan kecewa padamu,” balas Elya seraya mengusap lengan Langit.
Langit berbalik dan memeluk sang kekasih, mencium pucuk kepalanya penuh kasih sayang.
“Maaf karena harus terus merahasiakan hubungan kita, El. Aku harus terus menjaga Senja,” ucap Langit.
“Dia adalah segalanya untukmu. Aku tahu itu,” balas Elya mencoba menenangkan sang kekasih hati.
__ADS_1
Elya tahu akan sikap Langit pada Senja. Elya pun tahu semua tentang Senja dari apa yang di ceritakan oleh Langit padanya. Elya begitu mencintai Langit dan menyayangi Senja walaupun belum pernah bertutur sapa dan bertemu langsung.