Larme Brisée

Larme Brisée
Chapter 1: Sinking Into the Flowerbed [ part 1 ]


__ADS_3

21 April 2060


Ting ting ting ting ting!


"Tch! Berisik banget." Keluhku yang menutup telinga dari nyaringnya suara lonceng yang dibunyikan oleh ibu pengurus panti asuhan.


"Semuanya ayo bangun! Sudah jam 05:30!" Teriak ibu panti dari bawah tangga yang suaranya sangat melengking.


Hari-hari yang menyebalkan. Tidak bisa kah si tua bangka itu ngomongnya lembut sedikit saja untuk sehari? Huft.... Biarlah. Aku sebagai yang muda harus mengalah pada yang sebentar lagi mati- maksudku yang sudah tua.


Aku beranjak dari tempat tidur dengan mata yang masih sayup serta raut wajah cemberut, pagi buta sudah diteriakin begitu siapa coba yang suasana hatinya bakalan bagus hah?


Sambil mengucek sebelah mataku dan berjalan menuju cermin di lemari baju. Terlihat pantulan diriku yang memakai piyama hitam bergaris putih dengan rambut yang dikepang ke depan, mataku berwarna hijau pucat bagaikan zamrud.


Sesegera mungkin aku langsung mengambil ember dan melemparkan peralatan mandi ke dalamnya, kusambar handuk yang menggantung di tembok. Mandi pagi di sini ibarat berperang demi secuil roti di keramaian, banyak yang membutuhkan sehingga sangat ramai dan sesak, maka dari itu sesegera mungkin aku harus memakai kamar mandi terlebih dahulu karena hanya ada satu kamar mandi di panti asuhan ini.


Ceklek!


Dengan cepat aku langsung melesat ke arah kamar mandi yang ada di ujung lorong. Bunyi 'ceklek' di seberang pintu pun juga ikut terdengar dan itu merupakan warning kalau ada peserta lain yang ikut andil dalam balapan menuju kamar mandi. Tidak akan kubiarkan! Ia berlari di belakangku sembari menarik piyamaku dari belakang namun dengan cepat langsung ku jegal kakinya hingga ia terjatuh dan terdengar suara 'BRUK!' yang keras di belakangku.


"Kak Eril Begoooooo!!!!" Pekik adik laki-lakiku si Petra yang sekarang langsung beranjak mengejarku.



Aku menoleh ke belakang sambil meledek dengan menjulurkan lidah dan gelak tawaku memenuhi lorong sebelum aku sadar ada yang...


Gubrak!


Aku terjungkal. Ada benda keras yang tertabrak oleh kepalaku yang membuatku berakhir telentang di lantai, benda itu sebuah payung yang di rentangkan oleh saudariku yang lain, Sara. Ia pun segera kabur tanpa menutup pintu kamarnya, melesat langsung ke kamar mandi dan membanting pintunya.


"Pfffff- Jadi Déjà vu gini." Ucap Petra sambil melewatiku dengan muka yang puas.


"Hahhh..." Dengusku, pagi buta begini sudah membuat suasana hati tidak enak saja.


Tidak lama kemudian saudara serta saudariku yang lain keluar dari kamarnya masing-masing dan mengantri untuk giliran mandi, kami sebenarnya bukan saudara kandung tetapi kami semua selalu menganggap satu sama lain sebagai saudara. Kami adalah satu saudara yang sama-sama dibuang oleh orang tua kandungnya. Kata ibu panti, itu marak terjadi karena dampak krisis global akibat amukan para mutan yang memporak-porandakan berbagai negara di dunia.


Krisis moneter membuat pandangan manusia terhadap pembuangan anak-anak menjadi hal yang lumrah sehingga tidak membuat orang terkejut lagi, namun seharusnya hal seperti ini bisa saja dicegah jika para bedebah yang mau enaknya saja pakai pengaman, ****** ada tapi tidak dipakai ya buat apa ya kan? Ada pil, ada juga nano-contraception tapi mereka dengan otak nafsuannya tidak memakai itu semua dan pada akhirnya anak-anak tidak berdosa terlahir hanya untuk dibuang ke panti asuhan.

__ADS_1


Harapan untuk diadopsi pun bagaikan khayalan belaka, di zaman yang seperti ini akan sangat menguntungkan untuk tidak memiliki anak sepertinya.


"Eril nee-chan! Jangan melamun dong, tuh giliran nee-chan!" Celetuk adik perempuanku si Miva yang selalu membawa-bawa perkataan dari anime ke percakapan sehari-hari. Wibu.


"Ehh? Ah, iya iya." Aku tidak sadar sudah melamun lumayan lama ternyata.


Secepat mungkin aku menyelesaikan mandiku karena hari ini ada kegiatan OSIS di Notre-Dame International High School. Alasanku menjadi anggota OSIS adalah jika prestasi dan performaku bagus di OSIS selain di bidang akademik maka aku bisa mendapatkan rekomendasi untuk masuk universitas terbaik di dunia saat ini, yaitu University of Humanity Gate. Cita-citaku adalah untuk menjadi seorang ilmuwan dan memakmurkan saudara dan saudariku di panti.


Setelah selesai mandi aku pun bergegas memakai baju dan berlari kecil menuju ruang makan yang ada di lantai dasar.


"Tumben gak lama mandinya." Ejek Miva yang sekarang adalah gilirannya untuk mandi.


Aku tidak membalasnya karena aku langsung menuju ke ruang makan. Di sana terlihat beberapa dari mereka sudah sibuk menyantap sarapannya, sebelum ikut sarapan aku masuk ke sebuah ruangan yang terdapat sebuah lubang dengan pipa di dalamnya. Terdapat beberapa tombol dengan angka yang merujuk kepada nomor kamar tiap anak di sini, pipa ini berfungsi sebagai jalan pintas untuk mengambilkan tas dari kamar kami.


Tombol bernomor enam kutekan dan kutunggu beberapa saat, beberapa detik kemudian terdengar suara seperti ada benda yang meluncur mendekat dan akhirnya tas beserta seragam sekolahku datang. Tidak berlama-lama langsung kupakaikan seragamnya, seragam sekolah ini cukup simpel tetapi kesan elegannya tetap ada. Kemeja putihnya kukenakan dengan rapi, roknya yang berwarna abu-abu sangat keren saat kukenakan. Bahkan dasinya yang baru saja kukalungkan terlihat begitu fancy, dengan corak bergaris antara warna hitam dan abu-abu yang diiringi warna merah. Sweater abu-abu yang merupakan atribut lengkap sekolah pun kupakai beserta blazer-nya dan terakhir kuikatkan rambutku seperti biasa, yaitu kuncir kuda dengan pita berwarna biru.


Setelah selesai berpakaian aku memasuki kembali ruang makan dan ikut makan bersama mereka, hari ini ibu panti memasakan pain perdu serta chocolate chaud. Menu biasa sehari-hari yang di ulang terus-menerus, terkadang saking muaknya aku akan melewati jatah sarapanku dan langsung ke sekolah. Tapi hari ini aku sedang tidak ingin makan di luar.


Akupun duduk dan menikmati sarapan pagi hari ini. Anak-anak dengan riangnya begurau dengan gelak tawa yang mengganggu, aku berusaha menghiraukan mereka dengan memperhatikan berita yang ada di TV hologram.


"Tahu kah kalian bahwa After Life Foundation mengumumkan dengan percaya dirinya bahwa mereka dapat mempertahankan kesadaran dari orang-orang yang meninggal dengan syarat, kondisi otak yang belum mati." Ucap pembawa berita wanita kepada pembawa berita pria di sebelahnya.


"Anda tak perlu khawatir untuk hidup selamanya dalam bentuk data digital karena After Life Foundation sedang mengembangkan Artificial Neuron Fiber demi menampung kesadaran atau bisa disebut juga sebagai otak buatan. Hal tersebut-"


"Hoaaaaaaaammmmmm... Omong kosong, omong kosong. Janji terus. Lagi pula bisanya cuma menguras dompet orang kaya saja." Celetukku yang hampir menghabiskan sarapanku.


"Ara? Tapi bisa saja harganya terjangkau untuk golongan bawah seperti kita lho, Eril-chan." Sahut ibu panti dengan tawa ringan beserta senyumannya.


"Jangan terlalu berharap sama para kapitalis. Bencana mutan saja biang keroknya mereka dan sekarang salah satu dari mereka mau baik-baik kasih fasilitasnya dengan harga terjangkau buat golongan kita? Tch, rasanya seperti teripang yang terisap di hidung." Dengusku yang sebal yang sekarang beranjak membawa piring dan gelasku ke wastafel dan merendamnya dengan air hangat.


"Teripang itu apa?" Tanya adik kecilku Michelle kepada ibu panti asuhan dengan mukanya yang belepotan coklat. Ia baru berusia enam tahun.


"Kamu tahu timun? Nah, celupin ke laut dan itulah yang disedot Eril nee-chan bwahahahaha." Ledek Petra yang terbahak-bahak mempermainkanku.


"Hush! Jangan tertawa keras kalau makanannya belum habis. Ayo dihabiskan dulu itu." Tegur ibu panti kepada Petra.


"Aku berangkat dulu." Ucapku yang malas meladeni Petra dan bergegas ke pintu depan panti asuhan untuk keluar.

__ADS_1


"Lho Eril? Ibu lupa memberitahumu. Hari ini lebih baik tidak ke sekolah dulu saja." Tiba-tiba ibu panti memanggilku yang sudah berada di depan pintu.


"Lah kenapa?" Tanyaku yang menoleh ke belakang.


"Maaf ibu lupa kasih tahu. Coba cek handphone-mu, cari berita tentang sekolahmu. Oh, atau tidak chat saja grup sekolahmu. Harusnya mereka sudah memberitahunya dari subuh."


Aneh, perasaan seharusnya jika ada pengumuman mendadak setidaknya diumumkan tadi malam sebelum jam tidur. Dan lagi, kenapa ibu panti seperti tahu saja apa yang terjadi tadi subuh di sekolahku. Ku keluarkan handphone-ku dan benar saja, terdapat banyak notifikasi dari Qine.


Beberapa saat berlalu dalam keheningan. Grup sekolah mengumumkan tentang penutupan sekolah untuk sementara waktu sampai waktu yang tidak ditentukan, banyak teman-teman kelasku yang kebingungan dan meminta penjelasan terkait hal tersebut namun pihak sekolah tidak memberikan kejelasan sama sekali. Aku langsung membuka grup OSIS dan hal yang sama juga terjadi, kali ini ketua OSIS, Frein, mengumumkan larangan untuk mendekati wilayah sekolah untuk sementara waktu. Karena...


"Breaking News. Amukan mutan misterius terlihat memporak-porandakan Notre-Dame International High School sejak pukul 3 dini hari. Mutan tersebut bertipe Huntiosk dan aparat keamanan sedang berusaha melumpuhkannya. Sejauh ini kondisi sedang tidak membuahkan hasil dari tumbangnya mutan tersebut." Ibu panti mengganti saluran channel lain dan berita itu menjawab alasan mengapa sekolahku diberhentikan untuk sementara waktu.


"Di samping itu, kami juga menerima laporan bahwa sejumlah panti asuhan di wilayah pinggiran melaporkan bahwa mutan memporak-porandakan panti asuhan beserta membunuh kebanyakan anak-anak yang tidak berdosa-"


Ah! Yang benar saja! Aku benci liburan sekolah! Apalagi karena Huntiosk bajingan ini muncul secara acak dan di sekolahku pula ngamuknya. Huft... Kurasa akan kupakai hari libur dadakan ini untuk pendalaman fisika kuantum saja deh. "Hahhh... Mutan sialan..." Dengusku yang geregetan dengan para mutan ini.


"Sudah, sudah. Jangan dikeluhkan. Sebagai gantinya ibu akan ajak kalian jalan-jalan hari ini. Kebetulan, ibu mau sekalian ketemu dengan investor panti asuhan kita ini lho." Ucap Ibu panti yang sembari membersihkan pipi Michelle dengan lembut. "Ayo semuanya pada siap-siap, kita berangkat habis ini. Eril, kamu panasin dulu mobilnya ya." Pinta ibu panti yang sibuk membersihkan kekacauan yang dibikin oleh anak-anak.


"Ya... Okeh." Sahutku yang kemudian mengambil kunci mobil berbentuk kartu di kotak yang menempel di tembok dekat wastafel.


Investor huh?... Yeah, kabar baik. Lebih banyak uang untuk fasilitas panti asuhan kami. Tapi apa untungnya mereka berinvestasi kepada panti asuhan miskin seperti kami? Untuk sekarang itu tidak terlalu penting, yang terpenting adalah fasilitas kami tercukupi. Aku yang terlalu malas untuk berganti pakaian pun tetap memakai seragam dan memutusukan untuk menunggu yang lainnya di dalam mini van yang terparkir di samping panti.


"Tidak ganti pakaianmu dulu, Eril?" Tanya ibu panti saat aku hendak menutup pintu yang menghubungkan langsung ke garasi.


"Males." Sahutku yang kemudian menutup pintu.


Aku masuk ke dalam mobil dan menunggu yang lainnya bersiap. Membutuhkan waktu yang lumayan lama juga untuk ibu panti menggiring anak-anak ke mini van, entah mungkin sudah tiga belas menitan sejak aku panasin mobil. Akhirnya mereka masuk ke garasi dengan wajah yang sangat kegirangan untuk berjalan-jalan dari pada bersekolah hari ini, entah mengapa hanya mereka saja yang senang saat libur sekolah terjadi secara mendadak. Aku tidak suka menyianyiakan hari untuk tidak belajar, meskipun otodidak bukan hal yang buruk juga tetapi bimbingan belajar dari para guru tentu saja lebih efektif dari pada otodidak. Setelah memanaskan mobil aku berpindah tempat duduk ke belakang, pintu pun terbuka dan Miva beserta Petra dengan teledornya melompat masuk dan melempar dirinya ke bangku di sebelahku dengan kencang.


Jedug!


Aduh... Sesak! Aku terhimpit oleh mereka yang baru masuk ke dalam mini van dengan rusuhnya. Ahh mo! Aku benci jalan-jalan! Aaaaaaaa! Ingin rasanya kuluapkan kejengkelan ini di depan muka mereka, tapi tentu saja tidak mungkin aku melakukannya. Setidaknya ini hanya untuk bahan kenjengkelanku pribadi.


Ibu panti pun masuk ke dalam dan mulai menjalankan mini van, dengan bunyi yang berderu mobil ini pun berangkat menuju perjalanan sempit yang panjang... Panjang... Banget.


Empat puluh menit telah berlalu dan ajaibnya aku masih bisa mempertahankan kewarasanku di samping saudara-saudariku yang berisik dan rusuh ini. Pening sekali rasanya kepalaku. Yang bisa kulakukan hanyalah bersabar dan berharap agar segera sampai di tempat tujuan ibu panti. Posisiku dekat dengan jendela, akupun menyenderkan kening di kacanya sembari melamun.


Banyak yang berkata kepadaku sedari dulu bahwa menjadi yatim-piatu bukanlah hal yang harus dipikirkan, mereka berkata bahwa tidak ada bullying ataupun pembeda-beda atas kondisi kami yang seperti ini. Namun? Nyatanya tidak seperti yang mereka pikirkan. Mereka sibuk berkata bahwa menjadi yatim-piatu adalah hal yang harus dibanggakan, alasan mereka adalah bahwa orang tua kami pasti kebanyakan mati karena berusaha melawan para mutan saat Mutant Outbreak pada tahun 2038.

__ADS_1


Padahal kenyataannya kasus melonjaknya bayi yang dibuang atau diberikan ke panti asuhan baru melonjak sejak 2043-an, sedangkan Mutant Outbreak baru terjadi selama tiga tahun dan segera setelah itu banyak pemerintahan di dunia melindungi negaranya dengan pelindung electromagnetic superconductor demi mencegah kematian yang lebih banyak. Sebenarnya kasus pembuangan bayi ini disebabkan karena sulitnya ekonomi. Padahal menurut sejarah, banyak pemerintah di berbagai negara telah melarang untuk memiliki anak terlebih dahulu sampai diperbolehkan kembali pada tahun 2050. Namun, para pasangan suami istri ini tetap membandel dan akhirnya baru menyadari bahwa kondisi ekonomi yang masih sulit membuat mereka tidak mungkin untuk mengasuh anaknya.


"Nah! Sudah sampai." Ucap ibu panti dengan riangnya yang memecah lamunanku.


__ADS_2