Larme Brisée

Larme Brisée
Chapter 3: Symbiosis Mutualism [ part 2 ]


__ADS_3

TING... TING... TING... TING... TING...


"Baiklah anak-anak, waktunya pulang. Silahkan beristirahat yang cukup untuk hari esok," ujar Professor Clamingon yang mengajar mata pelajaran rumus sihir, dirinya mengemas barang-barangnya dan segera pergi dari kelas tersebut.


"Egh ..." Hari sudah sore, bel yang berbunyi tetap membuatku sedikit bergidik tidak nyaman meskipun sudah mendengarnya selama beberapa kali. Aku akan tinggal di asrama untuk sebulan sebelum akhirnya liburan musim panas dan kembali pulang pada akhir Mei.


Kukeluarkan kertas yang berisi nomor alamat kamar asrama dari sakuku. "Huft ... Pulang, mandi, ngemil, tidur," gumamku setelah melihat sebentar ke kertas alamat dan kemudian mengantunginya kembali sembari beranjak dari kursi.


"Konon katanya ngemil malam tidak baik," celetuk Edwardian yang membuatku terhenti sejenak dan meliriknya dengan tatapan sinis sebelum kemudian ku membuang muka ke pintu kelas. "Tentu saja berat badan yang naik bukan pertanda bagus."


Sabar Eril ... Sabar ... Ugh, sabar sekali diriku meladeni cowok yang sok gentleman ini. Rasanya ingin ku sahuti dengan nada tinggi, tetapi tentu saja citraku bisa menjadi buruk kalau sampai terpancing oleh hal sepele seperti ini.


Jika ada kesempatan praktek sihir pertahanan dan serangan dan jika kebetulan berpasangan denganmu ... AKAN KUSENGAT DENGAN MANA YANG KU SIMPAN NANTI!!! Nyebelin banget ihhhhh!!!!


"Pulang, yey! Ayo Eril!" Alviria menyambar lenganku dan menggandengnya bagaikan cewek yang hendak mengajak sahabatnya pulang bersama. Astaga ... Dia malah tambah merusak suasana hatiku saja.


Aku yang kesal pun melepaskan gandengannya dari lengan kiriku dan berjalan keluar tanpa melihat ke belakang, Alviria terdengar seperti mendengus kesal dan langsung menabrak punggung serta memelukku yang kuat hingga aku pun sesak napas karena ulahnya. "Ugh! Khk ... Haah ..."


"Ihhh Eriiiiiil! Jangan abaikan aku dong! Lagian kita kan satu asrama. Mendingan jalan bareng aja!" Rengek Alviria yang membuatku tambah kesal, tetapi pernyataannya ada benarnya juga. Bakalan lama jika aku harus mencari sendiri gedung asramanya.


"Hahhhh... haah... Ayo," dengusku yang kemudian pelukan dari Alviria mengendurkan gandengannya dan berjalan ke sampingku dengan riangnya. "Tolong tunjukkan arahnya ya," ujarku yang berusaha menepis rasa kesalku sedikit kepada cewek menyebalkan ini dengan tersenyum berat, bahkan alis sebelah kiriku berkedut.


"Ayo ayo!" Alviria menarik tanganku dengan tergesa-gesa melewati lorong.


Di sepanjang perjalanan kami menuju asrama, Alviria terus mengoceh mengenai berbagai gedung yang ada di sini. Ia menunjuk ke gedung dengan bentuk persegi panjang tersebut sebagai gedung untuk menyimpan sampel dari berbagai macam kutukan sihir yang dikoleksi oleh Professor Grandler yang merupakan seorang guru mata pelajaran kutukan sihir dan penangkalnya.

__ADS_1


Lalu Alviria menunjuk lagi ke gedung lain yang merupakan rumah kaca di mana biasanya digunakan untuk praktek mata pelajaran ramuan sihir dan tanaman mistis. Aku heran dengan cewek ini, mengapa ia bisa tahu banyak padahal gedung-gedung yang ia tunjuk itu bahkan mata pelajarannya belum dipelajari hari ini.


"Hehe! Kamu pasti mikirnya kenapa aku bisa tahu banyak banget soal fasilitas di sini ya kan? Padahal belum ada pelajarannya hari ini. Fufufu~" celetuknya yang memecah lamunanku dengan berbalik ke belakang dan berjalan terbalik dengan muka sombongnya yang terlalu kekanak-kanakan.


"Gak juga," balasku "Wa-wajar kan ya? Kalau... kalau murid baru mencari tahu lingkungan sekolah barunya... Mmmm ... Otodidak kan?" sahutku yang berusaha untuk menutupi isi pikiranku yang dengan mudah tertebak olehnya dengan membuang lirikan mataku darinya.


"Ehh? Emmm iya sih... Gak salah... Cuma kok rasanya... Ah, sudahlah. Tuh bentar lagi sampai!" Tunjuknya pada gedung bertingkat lima. Gedung itu dipagari dengan pagar yang tinggi dengan besar.


Alviria memutar tubuhnya dengan girang dan berjalan terlebih dahulu ke pintu masuknya sambil melambai-lambaikan tangannya mengundangku masuk. Cewek ini tidak sabaran atau memang terlalu bersemangat untuk mengajakku berkeliling asrama ya? Aku hanya tersenyum tipis saat menghampirinya kemudian ia membukakan pintu tersebut. Aulanya terlihat seperti lobi hotel yang megah, lantai dan pilar-pilarnya sangat mengkilap.


Para siswi berlalu-lalang. Ada yang sedang mengobrol membicarakan lukisan di koridor, ada yang berjalan bersama menaiki tangga ke lantai selanjutnya, ada pula yang sedang mengobrol santai dengan perkumpulannya di meja kaca dengan sofa empuk berwarna cream dan terdapat beberapa toples aneka kue di atas mejanya.


Bahkan di tengah aulanya terdapat meja resepsionis dengan seorang wanita paruh baya yang mengenakan pakaian maid. Kami berdua pun mendekatinya untuk bertanya mengenai asrama beserta peraturan yang berlaku di sini.


Seusai menjelaskan berbagai hal mengenai asrama ini serta mendata informasi dari kartu pelajar kami, resepsionis tersebut kemudian tersenyum dan bertanya apakah kami juga merupakan siswi baru di akademi ini. Ia pun lanjut menanyaiku terlebih dahulu mengenai beberapa hal sehingga membuat Alviria menunggu gilirannya dan setelah selesai bertanya padaku ia pun mengarahkanku untuk pergi ke lantai tiga, kamar nomor 16. Aku pun meninggalkan Alviria sendirian karena dia masih harus menyelesaikan pendataannya dan segera pergi ke kamar melalui tangga.


"Eh? Eh, eh, eh! Eriiiiiil! Tungguiiiiiin!" Sayup-sayup panggilan Alviria terdengar dari lantai dasar sedangkan sekarang diriku sudah di lantai 1.


Meresahkan sekali jika harus berjalan bareng dirinya, membuatku pusing saja. Sembari mengisi waktu aku pun mencoba-coba mengisi lingkar sihir atau yang lebih suka kusebut sebagai cetak biru versi ghaib, pfffffft... Cetak biru ghaib, pfffftt, jelek banget rasanya. Memang terasa seperti mimpi saja untuk bisa terlahir kembali ke dunia di mana sihir atau hal ghaib itu ada.


Terserahlah. Kucoba untuk memunculkan lingkar sihir secara perlahan dengan mengalirkan aliran mana null dan einer secara simultan, ini adalah salah satu contoh untuk memvisualisasikan seperti apa nanti bentuk lingkar sihirnya dan urutan mana yang harus kuisi kelak saat akan menggunakannya. Lingkar sihirku kali ini hanya muncul sebatas di benakku pribadi, berbeda dengan Ibu Stella yang bisa memberikan visualnya ke khalayak kelas.


Tertelan oleh lamunanku yang sibuk menyusun berbagai kombinasi mana di lingkar sihir, tidak sengaja diriku menyenggol pundak salah satu siswi yang melewatiku secara berlawanan arah hingga dirihnya sedikit merintih kesal dan menengok ke arahku.


"Ah, maaf, maaf, aku sedikit melamun," ucapku yang sedikit membungkuk sembari terus berjalan.

__ADS_1


Siswi tersebut hanya berdecak kesal dan lanjut berjalan meninggalkanku. Semoga dia tidak menaruh dendam kepadaku. Sampai mana tadi? Oh iya, aku kembali mengisi berbagai jenis pola sihir sesuai dengan rumus sihir yang diajarkan Professor Clamingon dan juga berkat diriku yang dari dulu suka membaca rumusan sihir milik ayah di ruang kerjanya maka aku mengatur hal yang paling kubutuhkan nanti di kamar.


Rumus ini kusesuaikan untuk benda sepanjang satu meter. Pertama, aku memasukkan rumus pola mana yang dapat bekerja ke material kayu, lalu memasukkan rumus pergerakan vertikal, gerakan maju dan mundur dan sensorik debu berdiameter 500 mm sampai 5 cm. Harusnya sudah cukup untuk kamar.


Tidak terasa karena keasyikan menyusun lingkar sihir ternyata aku sudah berada di kamar nomor 16. Maid tadi mengatakan bahwa pintu tersebut akan diatur untuk membukakan kuncinya dengan otomatis kepada siswi yang pola mana-nya dikenali, bisa dibilang mirip sebagai pemindai identitas, bedanya ia mengenali lewat pola mana yang mengalir di dalam tubuh seseorang. Setiap makhluk hidup di dunia ini memiliki pola aliran mana yang pasti berbeda, menurutku ini sama saja seperti DNA pada diri sendiri.


Pintu pun terbuka dengan sedikit sentuhan jemariku saja, di dalamnya terlihat beberapa kotak besar yang kuyakini merupakan barang bawaanku yang dibawakan Tuan Clauson tadi pagi. Sepertinya dirinya diperbolehkan masuk oleh pintu ini karena mendapatkan izin dari maid di bawah yang di mana ia juga salah satu orang yang diperbolehkan masuk ke kamar mana pun di asrama ini.


"Hahhh... Cari sapu dulu deh," gumamku yang langsung menutup pintu dan bergegas mencari sapu di dalam kotak-kotak ini.


Di dalam ruangan ini terdapat dua kasur yang letaknya berseberangan, di bagian kanan dan kiri ruangan. Terdapat dua pintu kaca di balkonnya, kurasa teman sekamarku juga merupakan siswi baru karena ia belum sampai di kamar.


Ah! Akhirnya ketemu. Sapu! Cocok buat objek sihir pertamaku. Baiklah! Sekarang saatnya menggunakan lingkar sihir yang sudah kuatur tadi. Aku harus menyentuh sapu ini dengan perlahan karena aku tidak memuat rumus untuk jarak agar sihirku aktif pada objek dalam radius tertentu, dengan perlahan aku mengaliri mana di lingkar sihir yang sekarang muncul di benakku, kemudian serangkaian pola 'e' dan 'p' saling mengisi tempatnya yang ada di lingkaran sihirku.


Prosesnya sedikit lambat karena terlalu banyak rumus gerakan yang kuatur di pola mana-nya, tetapi tidak masalah. Selama fokusku terjaga maka akan baik-baik saja. Sedikit lagi ... Beberapa pola nya sudah hampir terisi semua, terus... teruss... teruuuuus-


"Yo! Halooo teman sekamar!!" Seketika suara nyaring dari seorang cewek yang membanting pintu masuk pun terdengar.


"Bego!-" Sial! Pola rumusan lingkar sihirku menjadi buyar sehingga sihirku yang terserap sapunya hanyalah beberapa gerakan saja.


Dengan seketika sapuku melompat tidak terkendali dan menyapu ke sana kemari hingga ia menargetkan cewek tersebut sebagai target sampah yang harus dibersihkan.


"Hee!? HEEEEEEH!!!!" Pekiknya yang jatuh terduduk, Alviria.


"Vera BEGOOO!!"

__ADS_1


__ADS_2