
Kami sampai di depan sebuah gedung besar dengan tulisan besar After Life Foundation.
"Hah?? Lah? Kok kita kesini?" Tanyaku yang kebingungan.
"Wah! Perusahaan surga!" Ucap adikku Miva yang sangat bersemangat.
"Ayo anak-anak, turun." Ibu panti kemudian turun dan menuntun kami satu per satu keluar dari mini van.
"Bu... Errr... Aku penasaran." Tanyaku sesudah turun dari mini van.
"Hmmm? Kenapa Eril?"
"Ummmm... Kenapa mereka gak ke sekolah hari ini? Memangnya sekolah mereka kena serang mutan juga?"
Ibu panti hanya tersenyum dalam diam, ia seolah mengabaikan pertanyaanku dan berbalik menuntun yang lain untuk masuk ke dalam gedung. Hahhh.... Mungkin pertanyaanku bodoh? Mungkin saja sih kalau begitu, ibu panti saja kelihatannya malas menjelaskan hal yang tidak perlu ditanyakan lagi.
"Huft... Aku ingin pulang dan belajar sendirian... Hiks-hiks..." Keluhku yang berakting nangis, padahal tidak ada air mata sama sekali yang menetes.
Kami memasuki perusahaan ini dengan disambut oleh beberapa pria berjas hitam. "Madame Laefuer! Lama tak jumpa! Wah! Les filles et les garçons! Sungguh anak-anak yang mungil dan menggemaskan." Ucap salah satu pria berjas hitam.
"Huhuhu! Lama tak jumpa juga, monsieur. Jadi gimana? Bisakah kita langsung saja?" Ucap ibu panti yang sekarang berjabat tangan dengannya.
"Silahkan lewat sini~"
Kami pun dipimpin untuk berjalan di sepanjang lorong oleh beberapa pria berjas hitam. Gedung ini sangat besar, rasanya seperti puluhan kali lebih besar dari panti asuhan kami dan ini baru lorongnya, bagiku lebih terlihat seperti aula yang besar. Kami kemudian menaiki lift, lift tersebut membawa kami turun.
Setelah layar lift menunjukan tulisan basement, kami pun keluar dari lift dan dipimpin ke sebuah lorong yang sekarang ukuran lorongnya seukuran dengan lorong di panti asuhan, yakni kecil. Saudara-saudaraku melirik kesana-kemari dipenuhi semangat yang menggebu-gebu. Yaa... Sebenarnya aku juga baru pertama kali sih ke tempat seluas ini, tapi untuk terkejut ataupun terkagum ya tidak terlalu juga. Lagian sekolahku tergolong elite, jadi hal-hal seperti ini bagaikan pemandangan biasa bagiku meskipun aku tergolong miskin.
Kami sampai di sebuah ruangan. Di ruangan tersebut pencahayaannya agak redup dan terdapat banyak sekali kursi dengan senderan dan sanggahan tangan yang berjejer.
"Anak-anak. Hari ini kita akan mendengarkan cerita dari Tuan Sreedé. Tolong duduk di kursinya ayo." Ucap Ibu panti yang menunjuk pada deretan kursi itu.
Anak-anak yang kegirangan karena ingin mendengarkan dongeng yang akan diceritakan langsung menduduki kursi tersebut satu per satu. Huft... Kurasa aku juga harus ikutan duduk... Huft... Menyebalkan. Terjerat di dalam dongeng yang sudah bisa tertebak akan membosankan.
Dengan sebal aku menurutinya dan duduk sambil berdengus kesal. "Hmph!... Ehh? Ehh!?- Ahn!" Apa ini!? Di saat aku mendudukinya kursi ini langsung mengeluarkan besi yang menjerat kedua tanganku untuk tertahan di sandaran tangan dan ada pula besi yang muncul menjerat perut, kaki dan dadaku.
"Hwaaaaa! Sakit!" Pekik Michelle yang diiringi tangisannya.
"Argh!! Aduh! Lepasin!! Huweeeee! Sakiiiit!" Petra pun ikut menjerit kesakitan.
Mereka berusaha memberontak untuk melepaskan diri, tetapi hal itu justru semakin membuat mereka kesakitan, sedangkan aku tidak berusaha melepaskan diri melainkan memperhatikan apa yang sedang terjadi. Mungkin saja kursi ini mengalami malfunction dan lebih baik tidak panik dari pada membuat diri sendiri sakit.
__ADS_1
"Pffffft.... Ara-ara~ kalian manis ya kalau sudah begini." Terdengar suara kekehan dari ibu panti. "Monsieur, aku serahkan kepadamu yaw~ aku mau pulang dulu dan menikmati 36 ribu Euroku." Ucap Ibu panti yang kemudian berbalik arah menuju pintu keluar.
"Ap- Apa maksudnya ini??" Perlahan aku berani bertanya akan hal yang sebenarnya sudah terlihat sangat jelas.
"Hmmm? Oh. Jadi Madame Laefuer tidak memberitahukan kalian?" Tanya pria yang dipanggil sebagai Tuan Sreedé.
"Hah?" Dengusku yang berusaha tidak menunjukan wajah kesakitan padahal tangan, kaki dan dadaku terasa sangat sakit terjerat oleh pengekang besi ini.
"Ohohoho! Jadi memang tidak diberi tahu ya? Sungguh hobi yang seram madame!" Seru Tuan Sreedé kepada ibu panti.
"Ah anda bisa saja. Tapi saya memang tidak menyangkal hal itu sih ya fufufufu." Ibu panti tampak seperti terbiasa dengan hal ini mungkin? "Anak-anak. Senang rasanya waktu yang kita habiskan bersama selama ini, namun ini adalah akhirnya. Kalian patut berbangga diri karena kalian akan berkontribusi besar dalam penelitian After Life. Baiklah, mungkin ini perpisahan? Sayonara~"
"Hah?? Apa maksudnya?? Hoi! Ibu panti! Apa maksudmu!?" Pekikku yang mulai paham apa yang sebenarnya ia maksud, ia menjual kami untuk penelitian After Life.
Ibu panti tampak tidak mempedulikan teriakanku, ia hanya tersenyum senang melihat satu per satu saudara dan saudariku menjerit histeris ketakutan dengan yang mereka lalui sekarang.
"Huwaaa I-ibu.... tolong Micheele buu...!! Mi- Michelle tatutt.. Hiks Aaaaa..!"
"U-uso deshou? Ibu panti? Bu jelaskan, ini bohongkan? IBU!"
"Buuu.. aku mohon lepaskan aku.. Hiks A-aku janji gak akan bandel lagi.."
"Hnggh.. Ibuu huwaaa!!!"
"Haah...hahhh...hahh.. Aku takut. Gimana ini? A-Aaa-Aaaaaaaaa...hh"
Teriakan demi teriakan mengisi udara di ruangan ini dan ibu panti tanpa muka bersalahnya mulai beranjak pergi meninggalkan kami.
"Jadi selama ini kami hanya ternak bagimu!? Jadi kami dibesarkan hanya untuk kau jual kepada mereka? Di mana hatimu??? Sebegitu susahnya kah kau sampai harus menjual kami demi memberi makan perut buncitmu itu hah????" Kata demi kata yang terpikirkan olehku langsung kulontarkan, sebisa mungkin kata yang menyakitkan harus kulontarkan agar si bedebah itu mau menengok ke arah kami.
Benar saja, ia menengok kepadaku dengan tatapan, seperti memberi peringatan untuk tidak keterlaluan. Namun, ia segera membuang mukanya dan kembali berjalan.
"ANAK LONT- Argh!!!.... Ahn.. Ngh..." Sesuatu melesat menusuk bahuku, aku menengok ke benda itu dan ada sebuah pisau berwarna biru gelap menancap hingga menembus bahuku. Darah segar yang hangat nan lengket mengalir membasahi seragamku.
Ibu panti menoleh padaku dan ternyata ia yang melemparkan pisau tersebut, tapi dari mana ia menyimpan pisau tersebut?
"Jaga mulutmu, kalau tidak akan kuremukan otakmu sekalian. Aku tidak masalah meskipun bayaranku akan dikurangi karena menghancurkan otak yang sudah mereka beli dariku sekarang." Ucapnya dengan nada yang mengintimidasiku.
"Uhnnn... Agh... Hah... Hah... K-kau..." Mungkinkah ia... Seorang mutan?
"Yeah, seperti yang kamu pikirkan Eril-chan. Aku mutan dan aku melakukan ini demi bertahan hidup." Ia kemudian menjentikkan jarinya dan pisau tersebut perlahan menghilang dari bahuku dengan memancarkan cahaya biru redup bersamaan dengan menghilangnya benda itu.
__ADS_1
Bahuku sekali lagi terasa seperti terbakar hebat, rasa sakit ini membuatku menangis tersedu-sedu. Perasaan marah, kecewa dan putus asa bercampur aduk di dadaku. Tuhan! Tolong bantu kami! Aku tidak ingin berakhir di sini sebagai tikus After Life! Kumohon Tuhan!! Kami hanyalah dombamu yang memohon pertolonganmu! Aku mohon... Kumohon... Tolong berikan penyelamatanmu.
"Pffffft... Percuma." Ibu panti terkekeh melihatku yang meringis meskipun aku tidak menyuarakan permohonanku, tapi ia dapat membaca pikiranku. "Tuhan? Memangnya dari awal ada? Jika Tuhan ada, maka kekacauan ini sedari awal tidak akan ada. Fufufufu..." Ibu panti terkekeh dan mendekati kursiku dengan langkah yang cepat.
"Tidak kah kamu tahu Eril-chan?" Suaranya semakin mendekat, kemudian ia mencengkeram daguku dan memaksaku mendongak menatap matanya. "Banyak agama yang mendeskripsikan Tuhan itu begini dan Tuhan itu begitu, namun banyak kesamaan yang mereka jabarkan. Salah satunya yaitu 'semua hal terjadi karena kehendak Tuhan'. Lalu? Bukankah itu berarti..."
"... Hiks... Tutup mulutmu... Tua buncit!" Aku sudah tidak bisa berpikir jernih, amarahku kepadanya terlalu meluap. Ia bahkan berani menghina Tuhan, ia tidak takut akan hukuman Tuhan. Ia benar-benar harus dibalas oleh hukuman surgawi. "Orang tanpa akal lah yang meragukan Tuhan!"
Plak!
Ibu panti menamparku dengan sangat keras hingga rasanya lidahku terasa sedikit tergigit olehku, darah asin yang terasa di mulutku sampai menetes keluar. "Aku atheist, Eril-chan. Bagiku Tuhan itu hanyalah dongeng yang dibuat semata oleh manusia demi menenangkan hati mereka yang gelisah, atau bahkan bagiku agama hanyalah bisnis. Ckckckck... Tuan Sreedé, tolong langsung saja dimulai."
"Anda yakin mau menyaksikannya madame?" Tanya Tuan Sreedé.
"Ya. Dan itu anggap saja kemurahan hatiku. Hadiah perpisahan sebelum mereka menyeberang ke 'surga' yang dijanjikan." Balas ibu panti yang sekarang nada bicaranya bercampur jengkel atas konfrontasiku.
"Tapi madame, surga itu memang benar adanya. Tuhan memberikan kita akal untuk-"
"Tidak penting apa yang tiap agama katakan, Sreedé. Selama fitur neraka dan surga masih ada di ajaran mereka, bagiku sama saja."
"Baiklah saya akan berhenti berdebat denganmu madame. Ok, mari kita mulai." Tuan Sreedé kemudian mengaktifkan smartwatch miliknya dan memberikan sebuah perintah.
Kursi kami mulai bergetar. Dari sandaran tangannya keluar beberapa lubang yang kemudian perlahan jarum terlihat keluar darinya yang terhubung dengan pipa kecil transparan. Jarum itu kemudian langsung menusuk tangan kami dengan cepat dari segala sisi dan menguncinya dengan jarum tambahan di daerah kanan hingga kirinya. Semua adikku menjerit kesakitan bahkan ada yang pingsan.
Kemudian terdengar bunyi menderu seperti memompa sesuatu yang ternyata merupakan cairan berwarna biru pucat yang mengalir dan masuk dari jarum tersebut ke aliran darah kami.
"Selamat tidur anak-anak. Kalian sesegera mungkin akan berbahagia karena telah berkontribusi demi After Lab yang merupakan inti dari After Life Foundation. Mimpi indah semuanya~" Tuan Sreedé tersenyum lembut kepada kami secara bergantian dan melambaikan tangannya.
"Sampai masuk surga pun.. Hahh... Kami.. tidak akan bangga masuk ke sana de-dengan cara-ah berkontribusi demi perusahaan.... yang bahkan namanya sangat cri..cringe!"
Untuk beberapa saat aku tidak merasakan ada yang aneh, tetapi lambat laun diriku merasa sangat mengantuk, diikuti dengan sesak napas, badanku terasa sangat panas. Anehnya aku tidak bisa merasakan sekujur badanku lagi, mati rasa. Namun, rasa panas ini tetap terasa di saat bersamaan. Mataku... Berat... Rasanya sangat mengantuk... Aku bahkan tidak bisa bernapas ataupun merasakan sesak lagi... Pandanganku mulai menipis... Rasanya... Seperti... Ahh... Terlelap... Bau apa ini?... Haaah.. Wangi... Aku merasa seperti... Tenggelam di tempat tidur bunga... Yang menyeretku semakin jauh ke dalamnya dan tertidur dengan damai.
...----------------...
"Hah!!... Hah... Hahh.." Aku terbangun dari ranjangku di tengah malam. Jantungku berdegup kencang, keringat mengucur di keningku, tanganku gemetar. "Hahh... Ingatanku... Jadi selama ini... Ingatan ini... Aku ingat sekarang! Aku... Ternyata selama ini aku Eril yang sama dengan aku yang di Bumi." Ingatanku kembali.
Otakku sedang memproses semua kenangan lamaku yang sekarang semakin jelas, dulu kenangan ini hanya muncul sebatas mimpi pendek yang tidak kuanggap serius. Namun, sekarang aku bisa mengingat hampir seluruh kenanganku semasa hidup di Bumi dulu.
Namaku Eril. Eril Von Dragdrhurl. Kini aku terlahir kembali di dunia lain sebagai putri dari keluarga Dragdrhurl Weredragon yang memiliki kedudukan sebagai Weredragon Surgawi, wujud ciri khas kami saat bertransformasi ke naga adalah sisik putih yang dihiasi motif garis hitam meliuk-liuk. Aku sekarang berumur lima belas tahun, sama seperti saat aku mati. Dengan kata lain, aku.. bereinkarnasi.
__ADS_1