Larme Brisée

Larme Brisée
Chapter 2: Flowing Through the Vein [ part 3 ]


__ADS_3

"Selamat pagi anak-anak! Maaf ibu terlambat." Terdengar suara guru kami yang terburu-buru masuk dengan suara 'tap tap tap' dari hak sepatunya yang berwarna ungu. Guru kami memiliki rambut berwarna ungu dengan kunciran rambut gaya twin tails yang dikedepankan pada bahunya. Pria tersebut spontan menarik kembali tangannya dan menyimak apa yang akan disampaikan oleh guru.


Guru itu kemudian menuliskan namanya pada papan tulis menggunakan kapur putih, huruf di dunia ini sangat berbeda dengan huruf yang kukenal semasa hidupku di bumi tapi itu bukanlah masalah besar karena aku sudah hidup di sini selama lima belas tahun. Hum hum, masalah kecil, lagi pula jika ditotalkan maka pengalaman hidupku sudah tiga puluh tahunan dalam wujud gadis biasa hehe...


"Perkenalkan, nama saya Stella Zwergstern. Kalian bisa memanggilku Ibu Stella, mulai hari ini saya akan menjadi wali kelas kalian." Ucap Ibu Stella sambil tersenyum yang pandangan matanya menyapu seisi kelas. "Saya adalah guru teori sihir dan juga guru sejarah sihir weredragon. Oh iya dan saya ingin mengucapkan selamat kepada kalian para murid baru, selamat datang di Parádeisos Drákos! Salah satu akademi sihir terbagus di Hoffnungsstern. Kalian pasti penasaran akan kenapa tidak ada upacara penyambutan hari ini?" Tanya Ibu Stella pada kami semua.


Beberapa dari kami mengangguk mengiyakan pertanyaan Ibu Stella sedangkan aku hanya memutar bola mataku, sepertinya mereka tidak mencari tahu dulu mengenai asal-usul kebudayaan di sekolah ini. Namun, aku ingin memberikan impresi awal yang bagus untuk anak-anak kelas, maka aku pun akhirnya mengacungkan tanganku ke atas dan Bu Stella pun menangkap perhatiannya kepadaku.


"Ah! Kamu tahu mengapa?" Tanya Ibu Stella dengan raut wajah yang pura-pura terkejut diiringi senyuman yang merekah.


"Karena insiden 2586, genosida oleh Dark Phobos." Jawabku dengan santai, anak-anak kelas semuanya memperhatikanku dengan penasaran apakah jawabanku benar atau tidak. Atau mungkin mereka baru tahu?


"Yap! Benar! Karena insiden pembantaian murid saat upacara rutinan. Semenjak saat itu pihak akademi berkabung atas kehilangannya dan mengajukan permintaan untuk peniadaan upacara ke pemerintah..." Ibu Stella terdiam sejenak, ia menghela napas panjang sambil berjalan ke sisi lain papan tulis. "Nah segitu saja, sejarahnya panjang pokoknya. Kalau begitu mari kita mulai saja kelas hari ini. Mulai dari perkenalan, tolong dimulai dari murid yang paling kanan." Perintah Ibu Stella kepada murid yang berada di meja terdepan paling kanan.


Beberapa murid yang masih melihatku bertepuk tangan kecil selama beberapa saat, tepukannya tidak terlalu terdengar karena murid yang di depan sibuk menyebutkan namanya, tapi tepukan yang sangat terdengar jelas berasal dari meja kami. Si Alviria, pria berkacamata, gadis manis yang di sebelah pria ini dan pria ini pula sedang menatapku lekat-lekat sambil bertepuk tangan kecil.


Tepukan paling parah dilakukan oleh Alviria yang terlalu berlebihan seolah seperti 'Wah keren! Keren!' hingga aku sekilas merasa malu bisa semeja dengannya ditambah lagi pria ini terus menatapku dengan tatapan terpukau, padahal tidak sebegitunya hebat kok kalau tahu sejarah sekolah ini, hmph! Aaaaaaaaaaaaa!!! Dia terus menatapku! Aku terpaksa membuang muka ke kanan agar tidak melihat dirinya, bisa-bisa ekspresi wajahku terlihat makin canggung.


Satu per satu para murid memperkenalkan dirinya, mereka berasal dari berbagai macam jenis ras weredragon, tapi hanya beberapa saja yang tidak memakai sarung tangan agar mudah dikenali jenis weredragon-nya. Contohnya Alviria, ia tidak memakai sarung tangan sehingga terlihat motif di tangannya yaitu bunga berwarna merah yang menjalar hingga lengannya yang mengindikasikan dirinya seorang weredragon api. Sedangkan aku memakai sarung tangan untuk menghindari terlalu banyak perhatian yang tidak perlu.


Beberapa menit berlalu dan sebentar lagi giliranku, sejauh ini baru enam murid yang merupakan bangsawan karena gelar di namanya. Kebanyakan dari mereka merupakan bangsawan yang bukan berasal dari pulau apung di sekitar sini tapi aku tahu kedudukan mereka cukup kuat meskipun bukan jenis weredragon surgawi, lebih baik aku tidak berurusan dengan salah satunya. Akan merepotkan jika harus berdebat dengan bocah yang hanya bisa berlindung di nama besar keluarganya. Sekarang tiba giliranku untuk memperkenalkan diri, dengan sigap aku berdiri tegap serta pandangan lurus ke papan tulis. "Salam kenal, namaku Eril Von Dragdrhurl. Umurku lima belas tahun. Lulusan dari Parádeisos Vási. Mohon kerja samanya untuk setahun ini!" Kuakhiri dengan senyuman banggaku kepada mereka. Kebanyakan dari mereka hanya bertepuk tangan kecil, namun ada empat murid bangsawan yang sepertinya memasang muka tidak senang terhadapku. Mereka bertepuk tangan kecil, sedangkan duanya lagi seperti antusias sekali.


Dan sekali lagi... Tepuk tangan yang terlalu berisik berasal dari sampingku... Si Alviria ini malah bertepuk tangan sangat keras! Sedangkan pria yang disampingku ini menatapku disertai senyuman lembut. Aku sedikit bergetar aneh, rasanya aku pernah merasakan hal ini dulu. Rasa yang sangat familiar, membuatku merinding. Seusai perkenalan diri aku pun buru-buru untuk duduk.


Selanjutnya pria yang di sampingku berdiri dan mulai memperkenalkan dirinya dengan suaranya yang lantang. "Edwardian Weg hell. Umur lima belas. Rumahku di hell dam. Salam kenal semuanya." Ucapnya dengan singkat yang kemudian menoleh sebentar kepadaku untuk melontarkan senyuman tipis, lalu kembali duduk.


Murid-murid bertepuk tangan atas perkenalannya. Entah kenapa rasanya seperti Déjà vu, aku seperti pernah mengalami hal ini dengan pria ini, Edwardian. Entah mengapa pula aku seperti pernah lebih dari sekali melihat senyumannya, tapi tidak mungkin kan? Kami saja baru bertemu sekarang. Atau apakah sebenarnya ada seseorang yang mirip seperti Edwardian di kehidupan lamaku? Sebuah kebetulan? Tidak mungkin kan jika ternyata dia juga bereinkarnasi sepertiku?


Aku hanyut ke dalam pikiranku yang mulai tidak terkendali, rasanya semakin Edwardian melakukan sesuatu maka semakin kuat pula perasaan familiar ini. Mungkinkah dia pria yang sering kutemui saat berbelanja kebutuhan panti di toko tapi aku selalu mengabaikannya? Aneh... Tidak mungkin sih.


Jantungku berdebar, entah kenapa rasanya aneh sekali. Tidak bisa kukatakan bahwa perasaan ini tidak mengenakan, tetapi tidak pula kuanggap sebagai hal yang wajar. Semakin kupikirkan semakin kencang pula degupan di dadaku, sebentar lagi... Rasanya sebentar lagi aku bisa mengingatnya... Sedikit lagi...


"Nona Dragdrhurl, benar? Kau menjatuhkan saputanganmu." Edwardian memecah lamunanku, ia menjulurkan tangannya yang memegang sapu tangan berwarna cream dengan rajutan yang dibuat ibuku. "Tolong berhati-hatilah lain kali. Jangan melamun, sebentar lagi Ibu Stella akan memulai pelajarannya." Edwardian kini menarik tangan kiriku dan membukakan telapak tanganku untuk memberikan sapu tangan itu di genggaman tanganku disertai senyuman tipisnya yang lembut. Ternyata sesi perkenalan sudah berakhir sedari tadi dan Bu Stella menulis sesuatu di papan tulis.


Aku rasa aku ingat sekarang... Sepertinya dulu ada seseorang yang sama persis dengannya. Dia merupakan murid yang mengikuti program pertukaran pelajar dari Jepang. Namanya pun juga diawali dengan Edward dan ia bahkan melakukan hal... Yang sama persis seperti ini...

__ADS_1


Apakah jangan-jangan.. Dia Edward yang sama dengan Edward di kehidupanku sebelumnya!?


"Aa- a- terima kasih..." Aku sampai tergagap dengan perlakuan Edwardian yang mirip seperti Edward di kehidupan lamaku. Aku mengantungi sapu tanganku tanpa melirik matanya. AAAAAAAAAAAAAAA!!!! Canggung sekali rasanya!!! Mukaku sampai terasa panas saking malunya, jantungku berdegup sangat kencang dan rasanya aku sama sekali tidak berani untuk meliriknya, KARENA DIA SEKARANG MELIHATKU TANPA ALASAN YANG JELAS!


"Hari ini kita akan mempelajari prinsip dasar dari teori sihir. Pelajarannya adalah definisi pengertian mana." Ibu Stella untungnya menyelamatkanku dari kecanggungan ini! Terima kasih Bu Stella!


Aku sekarang mendongakkan kepalaku dan mengambil alat tulis serta buku dari tas dan bertingkah fokus terhadap pelajaran agar tidak menimbulkan kesan kalau aku salah tingkah gara-gara dilihati olehnya. Namun, diam-diam aku mencuri pandangan ke dirinya, apakah dia masih melihatku atau tidak?


Aaaaaaa!!!! Dia masih melihatku! Apa yang salah dengannya??? Sekarang aku jadi terlihat seolah-olah membalas balik tatapannya.


"Untuk hari ini ibu mungkin akan sedikit mundur ke prinsip yang mungkin kalian pernah pelajari di sekolah sebelumnya, tetapi hal ini sangat penting agar kesalahpahaman tidak terjadi." Ucap Ibu Stella yang selesai menulis di papan tulis, kini ia membenarkan kacamatanya. "Pada dasarnya sihir adalah fenomena yang dipengaruhi oleh suatu energi alam, energi alam ini biasa kita sebut sebagai 'mana'. Mana itu sendiri merupakan salah satu dari gaya fundamental di dunia ini." Kini Ibu Stella menggambar sesuatu seperti bola dan menuliskan deskripsinya.


"Mana itu sendiri terbagi menjadi dua jenis, yaitu null dan einer. Sihir bekerja dengan cara menerapkan dua jenis mana ini sesuai dengan urutannnya. Misalnya, jika ingin menerapkan sihir api. Kalian harus memasukkan jenis mana ini ke cetakan lingkar sihir yang ada di benak kalian." Ibu Stella berhenti sebentar, lalu ia membuka telapak tangannya dan dengan perlahan terlihat garis sihir berwarna biru pucat yang berpendar dengan lemahnya.


"Contohnya ini, kalian harus mengisi cetakan sihir ini di dalam benak kalian dengan urutan yang diwakilkan oleh mana. Misalkan mana null diwakilkan oleh ini." Ibu Stella memasukan mana null pada lingkaran sihir tersebut dan lambang 'e' pun terukir.


"Lalu masukan mana einer." Kemudian lambang 'p' pun terukir dan lingkaran sihir sedikit berubah menjadi hexagonal. "Urutan selanjutnya kalian hanya harus memasukan mana null, lalu einer, dan masukan null sebanyak empat kali lagi. Setelah itu cetakan lingkar sihir kalian sudah jadi, simpan baik-baik di ingatan kalian dan setiap kali kalian ingin menggunakan sihir api, kalian hanya harus mengisi null dan einer pada urutan yang tepat." Ucap Bu Stella yang menghilangkan lingkar sihirnya dengan menjentikan jari sehingga sepercik api kuning menyembur kecil.


Mendengar penjelasannya membuatku ingin menanyakan sesuatu agar terlihat seperti murid yang sangat antusias dengan pelajaran, akhirnya aku pun mengacungkan tangan untuk bertanya.


"Bagaimana dengan alat bantu sihir yang kami pakai semasa di sekolah sebelumnya? Padahal kami biasanya tidak menggunakan lingkar sihir untuk mengisi urutan mananya tapi kami tetap bisa melancarkan sihir." Pertanyaan yang kulontarkan ini semata hanya agar dinilai bahwa pertanyaan ini sangat berbobot, menjadi murid yang aktif adalah salah satu langkah yang tepat demi menjaga orang-orang agar segan denganku.


"Ah! Pertanyaan yang bagus Nona Dragdrhurl. Sungguh sangat mendasar tetapi kadang suka membuat orang-orang lupa akan hal itu." Bu Stella bertepuk tangan kecil, ia pun langsung mengambil kapur dan dengan cepat langsung menggambar sebuah tongkat sihir yang biasa dipakai sebagai alat bantu untuk melakukan sihir.


"Seperti yang kalian lihat di sini, kebanyakan tongkat sihir menggunakan gulungan kecil yang terukir oleh lingkar sihir sintetis yang dimasukkan ke dalam rongganya." Bu Stella sangat semangat hingga membuat tiga gambar tongkat sihir yang di mana dalam gambar pertama hanya tongkatnya saja, gambar kedua yaitu isi dalam tongkat tersebut yang terdapat kertas dengan beberapa lingkar sihir tergambar dan gambar ketiga yaitu ilustrasi anak panah yang menunjukan aliran mana yang akan melewati tongkat tersebut.


"Urutan memasukkan mana null dan einer-nya pun juga sudah dirancang sedemikian rupa untuk para murid agar mereka hanya perlu mengalirkan mana saja dan tongkat sihir ini akan memilah jenis mana yang akan dimasukin terlebih dahulu sesuai urutan sihir yang diinginkan." Saking semangatnya debu kapurnya jatuh ke lantai bagaikan hujan dan papan tulis pun terus berbunyi nyaring hingga sedikit mengilukan bagi kami yang mendengarnya.


Astaga guru ini begitu antusias sampai-sampai ia menggambarnya lho, sepertinya kalau dilihat dari penampilannya saja bisa kutebak pasti dia baru lulus kuliah dan mungkin ini tahun pertamanya mengajar. Kelihatan banget perasaan senangnya saat menjelaskan ilmu yang ia ketahui kepada kami, yaaa... Aku bisa bilang begitu karena begitulah yang kurasakan dulu saat menjelaskan sains kepada adik-adikku di panti, rasanya sangat mengasyikan untuk menyampaikan sebuah informasi yang tidak mereka ketahui, tetapi lebih menyenangkan lagi jika mereka paham atau bahkan justru sudah tahu dan begitu antusias untuk mendiskusikannya bersamaku...


Rasanya aku sangat rindu sekali masa-masa itu... Apalagi Sara, adikku yang paling cepat tanggap dengan apa yang kusampaikan... Sampai-sampai dia otodidak untuk mencari tahu akan hal itu agar di lain waktu saat aku mau menyampaikannya ia malah sudah mengerti. Kami kadang jadi suka keasyikan berdiskusi topik sains yang aku sendiri pun berusaha memahaminya.


"Sekian penjelasan ibu, cukup jelas Nona Dragdrhurl?" Tanya Bu Stella yang memecah lamunanku.


"Eh?- ah! I-iya bu! Terima kasih telah menjawab pertanyaan saya." Jawabku yang terkejut karena melamun dari tadi.

__ADS_1


"Baiklah jika begitu, silahkan buka buku kalian. Tuan Weg hell, tolong bagikan buku ini." Bu Stella menunjuk Edwardian untuk membagikan buku paket.


Ia kemudian beranjak dari kursinya dan maju kedepan dengan cepat. "Bagikan dulu setengahnya, soalnya bukunya berat." Ucap Bu Stella yang memberikan satu per satu buku yang ada di balik mejanya, aku pun tidak sadar ada buku paket di balik meja itu sedari tadi.


"Tidak masalah Bu Stella, saya bisa membagikan semuanya sekali jalan." Ucap Edwardian yang langsung menumpuk sekaligus tiga puluh buku dan mengandalkan dadanya sebagai tumpuan untuk menjaga keseimbangan buku-buku tersebut.


Aku tidak tahu lagi... Ia sangat mirip dengan Edward si murid pertukaran pelajar itu. Aku jadi mengingat bahwa ia juga melakukan hal yang sama. Namun, waktu itu membagikan pemukul baseball yang beratnya kala itu sekitar 1,4 kg. Kenapa perasaan ini semakin membuatku yakin bahwa Edwardian dan Edward adalah satu orang yang sama? Mana mungkin ia juga mati, ya kan?


Si Edwardian sudah hampir membagikan buku paket secara merata, kemudian ia hendak memberikan buku paket ke arahku, tetapi ia malah berbelok dan memberikannya ke gadis yang ada di sampingnya.


Hah?? Kok aku di lewati? Hah??? Apa coba maksudnya? Ia bahkan sempat melirik padaku namun dengan sengaja berbelok dan memberikannya ke orang lain! Apa sih maunya?


Bukan berarti aku kesal karena urutan pemberian bukunya dilompati lho ya! Tapi dia tuh pasti sengaja meledekku, PASTI! Apa dia masih kesal karena aku menabraknya tadi? Hahh... Kekanak-kanakan banget sikapnya. Kelihatannya saja seperti gentleman, tapi sifatnya tidak dewasa. Hmph...


"Bu Stella. Maaf, buku paketnya ternyata hanya ada 29 buku. Bagaimana ini?" Ucap Edwardian yang memegang buku terakhir.


"Ara? Padahal semalam sudah ibu siapkan lengkap... Oh astaga! Ibu lupa, harusnya ibu siapkan 31 buku karena ibu juga perlu bukunya satu. Tee-hee~" Ucap Bu Stella sembari menggaruk rambutnya. Bu Stella kurang teliti, haizz... "Maaf ya Tuan Weg hell, jika tidak keberatan maukah kamu berbagi bukumu dengan Nona Dragdrhurl?"


Hah?? HAH!? Maksudnya!?


"Tidak masalah." Ucap Edwardian yang tersenyum ke arahku dan kembali duduk di bangkunya.


Ehh? EHHH!? Tunggu sebentar! Apa nih maksudnya! Aku tidak mau berbagi buku paket yang sama dengan pria menyebalkan ini! Jelas sekali seharusnya tadi aku yang dapat buku paketnya. Argh!


"Sepertinya dalam sesi pelajaran ini kita akan saling berbagi, mohon bantuannya ya. Eril." Ucap Edwardian yang kini telah duduk dan membukakan bukunya untukku.


"O-oke..." Jawabku dengan senyuman canggung yang diberati oleh sejuta KEBERATAN YANG TIDAK BISA KUTUNJUKAN!


"Oke? Apa itu?" Tanya Edwardian yang memiringkan alisnya kebingungan dengan kosa kataku.


Ah sial! Aku keceplosan mengucapkan kata dari dunia lamaku! "Bukan urusanmu." Aku memberanikan diri menolak pertanyaannya dengan nada yang angkuh diiringi dengan tatapan tajam ke dirinya agar dia tahu bahwa aku tidak ada niat untuk mengakrabkan diri padanya, hmph!


"Ahahaha... Begitu ya. Baiklah aku tidak akan memaksa." Balasnya dengan tawa kecil sambil membukakan buku tersebut untukku.


Ugh... Apa-apaan coba? Apa maunya sih? Tapi kenapa rasanya jantungku seperti berlari? Kenapa mukaku terasa memanas? Ah... Aa-... Aku memalingkan lirikan mataku ke arah lain, kenapa aku tidak berani membalas tatapannya? Rasanya seperti bukan diriku saja! Kenapa sih dengan pria ini!? Argh!!!

__ADS_1


__ADS_2