
21 April 2746
21 April, Hari ulang tahunku di dunia ini, juga merupakan hari di mana ingatanku di kehidupan sebelumnya kembali seutuhnya dan... Hari kematianku di kehidupan yang sebelumnya.
Aku terlahir kembali sebagai putri kedua dari pasangan suami istri Dragdrhurl, yaitu Egreel Von Dragdrhurl dan Filena Von Dragdrhurl. Hah... Mengapa ingatan ini baru pulih di kala setelah aku merayakan ulang tahunku ke-15? Ditambah lagi setelah mengingat hal ini termasuk hari kematianku malah membuat hatiku jadi gelisah tidak karuan. Ingatan yang membuatku merinding sekaligus menyesakkan dadaku.
"Madame Laefeur... Si ****** buncit bangsat... Ah... Hiks... Hiks... Sialan... Agh!... Hiks" Tidak bisa menahan kemarahan dan penyesalan yang melanda, air mataku pun mengucur. "Hnggh... Adik-adikku... Hiks... Aku..." adik-adikku semuanya mati, kami mati, kami hanya ternak yang siap dipanen dagingnya. Dunia tidak peduli dengan apa yang terjadi kepada yatim-piatu tidak berharga seperti kami. "Hiks... Laefuer, kau! Andai aku bisa kembali ke bumi, akan kucabik-cabik kau mutan sialan! Hiks.... Fueeeeee!!" Diriku menangis sesenggukan tidak kuat menahan perasaan yang membara ini.
Bagaimana dengan nasib adik-adikku!? Mereka masih terlalu kecil, mereka tidak berdosa sama sekali... Namun, mereka malah harus mengalami hal seperti ini. Tuhan! Mengapa mereka harus menderita? Mereka masih polos, apakah ini rencanamu untuk mengambil mereka terlebih dahulu dan menempatkannya di surgamu? Lantas apakah yang kualami ini adalah cobaan darimu? Apakah aku harus hidup lagi untuk menyelesaikan dosaku yang pernah meragukanmu? Aku tidak tahu... Aku tidak tahu lagi apa yang harus kuperbuat.
"Hweeeeee... M-mengapa... Hiks! Hiks!... Fueeeeeee!!!..." Tangisku semakin kencang, aku tidak bisa menahan kesedihan yang membuncah ini, seperti tertumpuk untuk waktu yang lama. Dadaku sesak, aku mencengkeram piyama di bagian dadaku sekuat tenaga, jari jemariku rasanya mencengkeram terlalu kuat hingga kukuku terasa seperti menembus kulitku dengan perlahan. Namun, rasa sakit itu tidak meredakan berbagai emosi yang menyelimutiku sekarang, rasanya aku tidak ingin hidup lagi. Lebih baik aku mati... Aku tidak ingin reinkarnasi...
Ceklek!
Pintu kamarku terbuka pelan dan dari baliknya terlihat ibuku yang sekarang masuk ke kamarku dengan raut wajah yang khawatir beserta panik, ia pasti sangat kebingungan kenapa aku menangis keras di tengah malam. "Sayang, kamu kenapa?" Ibuku, ibu Filena. Ia sesegera mungkin mendekap wajahku di pelukannya yang hangat, rangkulannya begitu kuat namun lembut, begitu hangat dan membuatku nyaman.
Meskipun begitu aku tidak bisa lekas tenang semudah itu, kesedihanku yang kubawa dari ingatan ini masih juga meluap-luap hingga aku mencengkeram gaun tidur ibu dengan keras sembari menangis di pelukannya. "Hiks... Aaarghhh Hah..haah Aaaaaahh!! Huweeeeee! Aaaaaaaaaa!" Sejujurnya aku tidak ingin terus menangis, dadaku terasa semakin sesak, mataku menjadi sembab dan perih, tetapi di sisi lain aku juga tidak ingin berhenti menangis di pelukan ibuku. Ibu biologisku... Sosok yang tidak seperti orang tua di kehidupan lamaku yang tega membuangku selagi masih bayi, yang tidak menginginkanku.
"Cup cup cup... Sayang, sayang... Tenang ya. Mama di sini, tidak apa-apa. Tidak masalah. Apa yang bikin kamu sedih, sayang?" Tanya ibuku dengan lemah lembut sembari membelai rambutku yang tidak dikuncir.
__ADS_1
Aku tidak sanggup menjawabnya, aku terus terisak di pelukannya, aku tidak ingin menjawabnya, aku ingin melupakan kenangan ini! Aku tidak membutuhkan kenangan ini sama sekali! Tidak peduli aku reinkarnasi ataupun bukan, jika kenangan penderitaan yang kembali padaku maka lebih baik aku tidak pernah mengingatnya sama sekali! "Mamaaa... Mamaaaa! Peluk Eril!... Jangan lepaskan Eril!" Hatiku seperti kehausan cinta kasih ibu. Padahal selama ini aku bersikap acuh tak acuh pada keluargaku sebelum ingatan ini kembali padaku, tetapi sekarang, saat ini juga aku sangat kehausan kasih sayang.
Aku tahu... Mungkin kenangan ini kembali kepadaku agar diriku di kehidupan ini bersyukur atas kehidupanku yang sekarang dibandingkan dengan kehidupan lamaku. Mungkin ini adalah rencana Tuhan yang terbaik untukku, mungkin ini akan menjadi titik balik untukku agar lebih menghargai keluarga utuh yang kumiliki sekarang.
"Cup cup cup~ tidak apa. Mama akan menemanimu malam ini. Tidak apa-apa jika terlalu berat untuk diceritakan, mama di sini akan mendukung apapun yang kamu lakukan. Cup cup cup..." Ibuku membelai kepalaku sekali lagi dan mengecup keningku, matanya terlihat sangat indah dikarenakan pantulan rembulan, mata hijau zamrud, seperti milikku. Di kehidupan ini pun mataku tetap berwarna hijau zamrud, hanya warna rambutku saja yang berubah mengikuti warna rambut keluarga Dragdrhurl yang merupakan abu-abu gelap.
Lambat laun isakanku pun mereda, begitu pula dengan kesadaranku, semakin lama mataku semakin terasa berat. Aku sangat mengantuk, letih. Ibu pun menidurkanku dengan perlahan ke tempat tidur dan juga ikut tidur di sampingku meskipun tidak ada bantal tambahan untuk dirinya, ia merangkulku hingga aku pun tertidur lelap.
______________________
25 April 2746
Pagi ini pun terasa begitu menyejukan. Pagi yang penting untukku, karena hari ini adalah hari pertamaku masuk akademi sihir Parádeisos Drákos setelah lulus dari Parádeisos Vási.
Aku memasuki ruang makan, di sana terlihat ayahku, Igreel Von Dragdrhurl, sedang sibuk membolak-balikan koran. Hari ini ia memakai tuksedo putih dengan motif garis hitam di pinggirannya, matanya berwarna biru cerah, rambutnya sedikit bergelombang berwarna abu-abu gelap.
Ibuku, Felina Von Dragdrhurl. Sedang sibuk menata piring makan di meja, ia mengenakan gaun yang seperti era renaissance di zamanku dulu yang berwarna putih ke biru-biru-an, rambutnya panjang lurus dengan warna putih seperti susu.
Kakak laki-lakiku, Evantz Von Dragdrhurl atau yang biasa kupanggil sebagai Eve. Dia sibuk bermain-main dengan sihir spesialnya yang biasa disebut sebagai special witch, sihir ini tidak menggunakan mana sama sekali, kakakku sibuk mengembangkan sihirnya dengan melakukan penciptaan beberapa macam kayu di atas meja. Mata yang berwarna hijau pekat, begitu tajam dan sangat fokus, rambutnya yang panjang seperti duri ia sisir ke belakang. Dari dulu aku tidak terlalu banyak interaksi dengannya karena ia adalah seorang kutu buku, terlalu giat belajar.
__ADS_1
Tapi karena sekarang ingatan kehidupan lamaku sudah pulih, mungkin kami berdua bisa lebih dekat lagi sebagai adik-kakak kandung yang harmonis? Mengingat aku juga gadis yang gemar belajar... Itupun karena ingatan diriku yang lama baru pulih sih, Hihihi. "Selamat pagi. Mama, papa dan kak Eve." Ucapku yang memecah kefokusan kakak sehingga kayu yang dia tengah ciptakan langsung keropos dan berantakan ke mana-mana.
"Tsk! Bikin kaget saja. Hadehh... Padahal tadi hampir berhasil." Sahut kakak yang jengkel sambil membersihkan remah-remah kayu dari mejanya.
"Bagian 'hampir berhasil'nya sudah papa dengar enam puluh kali minggu ini. Lagian jangan menyalahkan orang lain atas kesalahanmu." Sahut ayahku yang menengok ke kakak dari balik korannya.
"Sudah, sudah, ayo bereskan Evantz. Eril sayang, ayo sarapan. Kita tidak boleh terlambat di hari pertamamu." Ucap Ibuku yang lembut sembari menyuguhkan telur mata sapi beserta daging cincang di piring kami masing-masing.
"Hah? Kita??" Tanyaku sembari duduk di kursi makan.
"Hahh... Maksudnya mereka akan mengantar naga kecilnya terbang dari sarang." Jawab Kak Eve dengan malasnya.
"Shush! Cepat habiskan sarapan kalian. Ayo." Ucap ayahku yang melipat korannya dan menyantap sarapan.
Aku dengan lahapnya memakan sarapan. Kami, weredragon, memiliki ciri khusus yang dapat dengan mudah dikenali. Tangan dan kaki kami memiliki warna kulit yang menjadi indikasi ras kami, untuk ras weredragon surgawi warna kulit di tangan dan kaki kami berwarna putih pucat. Warna ini hanya menjalar sampai setengah lengan kami, selebihnya warna kulit kami akan sama seperti manusia pada umumnya. Biasanya agar tidak ingin terlalu menarik perhatian saat mengunjungi negara manusia maka kami akan memakai sarung tangan dan kaos kaki panjang untuk menutupi bagian kulit kami yang berwarna putih.
Di dunia ini, sihir adalah hal lumrah yang bisa digunakan oleh siapapun. Kemahiran dalam bersihir itu beragam, karena sejujurnya sihir di dunia ini mengandalkan hukum sains juga sih. Sihir-sihir elemental pun tidak bisa digunakan jika pengetahuan akan sains, atau yang biasa mereka sebut sebagai teori sihir tidak cukup luas maka sihirmu akan terhenti atau bisa dibilang berjalan di tempat.
___________________
__ADS_1