Larme Brisée

Larme Brisée
Bilateral's Interlude [ part 1 ]


__ADS_3

30 April 2746


"Eril! Lewat sini!!" Seorang lelaki berteriak kepadaku untuk mengikutinya ke basement, rupa lelaki itu tidak jelas, sangat buyar, pemandangan di sekitar pun tampak seolah tertutup kabut.


Suara ledakan demi ledakan berdatangan dari belakangku. Aku hanya mengangguk dan berlari sekuat tenaga ke arahnya, tapi tetiba ada yang menahan tanganku. Tanganku digenggam begitu erat dari belakang sampai menarik dan membanting diriku ke tembok di lorong tersebut, aku berusaha melarikan diri tapi orang tersebut menendang tepat di rusukku hingga terdengar suara tulang patah yang renyah.


Dari kepulan asap terlihatlah sosok yang menendang, seorang pria yang memakai seragam seperti prajurit keamanan yang biasa ditugaskan untuk menjaga perbatasan EM Shield yang melindungi suatu negara dari serangan mutan di kehidupanku sebelumnya.


Kenapa prajurit ini ada di dunia lain!? Bukannya aku sudah bereinkarnasi ke dunia lain ya? Lalu apa tujuannya menyerangku??


Rasa sakit ini begitu hebat hingga aku memuntahkan darah, tangisku pecah, tanganku lemas dan aku pun ambruk di lantai. Orang tersebut mengangkat diriku yang gemetar tidak karuan karena sesak tadi, ia memakai helm berwarna merah dengan setelan pakaian ketat yang merah pula. Tangannya diangkat tinggi dan benda tajam pun mulai terbentuk dengan perlahan. Penciptaan benda.


"Bedebah!" teriak lelaki yang tadi memanggilku, sekarang ia menendang pria ini-


..._______________...


"Halo? Halo? Bumi pada Eril? Banguuuun! Ayo! Nanti keburu ramai Einkaufszentrum-nya!" rengek cewek menyebalkan ini sambil menggoyang-goyangkan diriku yang masih sangat mengantuk.


"Egh! Haaahhhh..." dengusku yang kesal karena cewek ini mengganggu mimpiku yang bagai film action, padahal lagi seru tadi. "Jam bewapaa... Se.. kawang- hoooaaamm..." ucapku dengan malas sembari mengucek sebelah mataku.


"Jam empat pagi," ujar Alviria dengan ringannya.


"Kalau minta disetrum ya bilang saja!" tukasku yang membalikkan badan dan menutupi kepalaku dengan selimut.


"Ihhh bangun dong, kan janjinya kita berangkat pagi," keluh Alviria yang mengambil selimutku dan melemparkannya ke lantai.


"Ini subuh bego," tukasku yang pada akhirnya duduk sembari menguap. "Sumpah dah, nyesel aku janji samamu kalau bakalan begini." Akupun beranjak dari kasur dan memungut selimut yang tadi dilemparnya. Sapu di samping tempat tidur pun kuraih, dua benda ini kemudian kualiri mana dan mengaplikasikan magic command layer yang sudah kuperbaiki sejak lima hari terakhir ini belajar cara menyusun rumus pola sihir ke kondisi yang lebih stabil.


Magic command layer adalah teknik di mana penyihir harus merancang lebih dari satu lingkar sihir dengan fenomena sihir yang lebih spesifik dan fokus akan suatu elemen yang lalu ditumpuk menjadi lapisan perintah sihir. Semakin banyak lapisannya maka semakin tidak stabil sihir yang dikeluarkan.


Biasanya kestabilan sihir bertambah seiring fokus sang penyihirnya juga kuat, tetapi batasan paling stabil yang sering digunakan adalah empat sampai delapan lapis lingkar sihir. Kombinasi dari lingkar sihir ini akan dialiri mana null dan einer secara simultan di tiap lapisannya, serangkaian cara kerja inilah yang disebut sebagai magic command layer.


Untuk selimut sudah kusiapkan perintah sihir yang membuatnya merapikan posisinya di tempat tidur, sedangkan untuk sapu sudah kusiapkan beberapa perintah sihir. Sayangnya batas maksimalku untuk sekarang ternyata baru bisa mencapai tiga layer sihir sehingga kondisi perintah sihirku untuk sapu akan menjadi kaku.


"Aku mandi duluan yaw!" ucap Alviria yang berlari ke kamar mandi terlebih dahulu.


"Hah... Cewek itu.." Sudah lima hari tinggal seasrama dengannya dan aku masih belum terbiasa dengan sifatnya itu.


Semua mana yang diperlukan sudah kualiri ke selimutku, sekarang ia bergerak sendiri ke tempat tidurku. Sapuku memakan sedikit lebih lama karena urutan mana yang harus kualiri lebih rumit, meskipun begitu beberapa detik kemudian sapunya mulai bergerak maju-mundur dengan lambat dalam jalur garis lurus. Kuharap fokus sihirku bisa meningkat lebih baik lagi sehingga sapu ini bisa lebih efisien dalam membersihkan kamar kami.


Karena hal inilah aku terpaksa memesan beberapa sapu sebab sapuku hanya bisa membersihkan satu arah, begitulah hasil tiga layer sihirku. Empat sapu lagi kukeluarkan dari lemari dan aku pun mengaliri sihir satu per satu kepada mereka, memang kesannya jadi terlalu banyak tempat tapi yasudahlah, bisa kuanggap sebagai latihan saja.


Sembari menunggu Alviria selesai mandi mungkin sebaiknya kusiapkan baju untuk pergi, di dalam lemari terdapat lumayan banyak baju pergi yang kubawa. Masalahnya.. aku belum pernah pergi ke tempat lain selain bersama keluargaku.


Langsung kusambar beberapa bajunya dan kujejerkan di atas tempat tidur, aku pun kebingungan harus memilih gabungan baju apa yang cocok untuk pergi ke Einkaufszentrum. Einkaufszentrum mirip seperti tempat perbelanjaan super besar atau yang biasa kusebut mal di dunia lama, ya mal di dunia ini tidak sebegitu bagusnya sih tapi untuk ukuran penduduk dunia ini sudah pasti dianggap tempat mewah.


Alviria ingin mengantri membeli tas merek Taraschia yang terkenal itu, sudah selama tiga hari ini dia merengek terus-menerus untuk ditemani pada hari minggu ini untuk pergi ke sana bersama. Karena muak mendengar rengekannya pada akhirnya kuiyakan dan kubilang untuk pergi pagi saja, tapi dia malah membangunkanku sesubuh ini urgh! Nyebelin, nyebelin banget.


Pakai baju apa ya...


"Eril!" panggil Alviria yang keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk saja.


"Hmm? Oh sudah kelar?" sahutku yang berbalik ke arahnya. "Kecilkan suaramu, masih subuh ini," tambahnya sambil bertolak pinggang.


"Hehe... Aku kayaknya terlalu bersemangat, yasudah hayuk-hayuk buruan mandi, Eril!" ujar Alviria yang menarik tanganku ke kamar mandi.


"Tu-tunggu, aku masih memilih baju."


"Baju pergi? Ah. Serahkan saja padaku! Kupilihkan kombinasi baju terbaik untukmu. Nah, sambil menungguku mendingan mandi sana, syuh-syuh." Paksa Alviria yang mendorong punggungku hingga masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya.


Beberapa menit berlalu dengan diriku yang masih berendam di bathtub dengan bersandar pada pinggirannya sembari menghembuskan napas berat. Aku masih kepikiran tentang mimpi yang terasa sangat nyata itu, rasa sakit yang kualami juga tampak begitu nyata sampai rasanya aku masih bisa membayangkan sensasi saat tulang rusukku patah karena ditendang oleh prajurit misterius itu.


Sebenarnya lima hari belakangan ini aku merasakan mimpi yang tampak samar tapi terasa nyata sayangnya tidak bisa kuingat dengan jelas mengenai isi mimpi itu. Namun, kebetulan sekali hari ini mimpinya terlihat sangat jelas.


"Rasanya sepertinya di sini..." gumamku sambil meraba dadaku yang tertendang di mimpi. "Aneh. Tumben bisa ingat mimpi sejelas itu. Apa karena diganggu saat di fase REM, ya?"

__ADS_1


Kemungkinan besar memang saat fase REM atau yang biasa disebut rapid eye movement sedang terjadi dan si Alviria mengganggunya. REM merupakan fase dari siklus tidur saat di mana pergerakan mata dan otot yang mengatur pernafasan relatif bergerak cepat, biasanya otot tubuh yang lain akan mengalami kelumpuhan sementara tapi itu hal yang normal yang jarang dialami.


Jarang sekali orang terbangun dan REM masih terjadi, harusnya REM langsung berakhir di saat orang terbangun. Namun, jika REM masih terjadi di saat orang itu terbangun maka orang awam akan menyebutnya sebagai sleep paralysis atau malah menyambung hal ini ke hal gaib seperti iblis, hantu ataupun setan yang menjadi pelakunya. Konyol.


Yaaa berkat si Alviria bego itu aku jadi terbangun di fase REM yang di mana kondisi bermimpi dalam keadaan terjelasnya, hahhh...


Sudah dua puluh menit berlalu, kuakhiri mandiku dan memakai handuk. Saat pintu kamar mandi kubuka, terlihat Alviria yang sudah merapikan baju-baju yang tadinya kujejerkan di tempat tidur dan ia menyisakan satu set pakaian yang diraciknya. Dia pun berbalik ke arahku saat mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka.


"Hmmm tidak buruk juga," batinku saat melihat pakaian yang Alviria kenakan. Ia memakai kemeja putih berlengan pendek dengan argyle vest bewarna hitam yang bercampuran pink dan bawahannya adalah sebuah mini skirt berwarna hitam.


Nah, ini dia. Coba kamu pakai," ujarnya sambil menunjuk pakaian yang sudah ia siapkan dengan senyuman bangga.


"Ehhh... makasih," jawabku yang menyambar pakaian itu dan langsung kembali ke kamar mandi untuk memakainya.


Selera fashion si Alviria ini bagus juga, tidak terlalu ribet dan sangat mudah untuk kukenakan. Setelah beberapa menit berganti pakaian, akhirnya aku keluar dari kamar mandi dan menunjukkan pada Alviria pakaian yang sudah ia racik.


"Hihii, jadi keren banget kalau Eril yang pakai!" serunya yang kegirangan.


"Benarkah? Hmmm," tanyaku yang sedikit tersipu malu untuk mengakui pujian Alviria dengan tersenyum kecil.


Tak puas dengan kata-katanya saja, aku menghampiri cermin dan memutarkan tubuhku ke kanan dan kiri agar setiap sudut pakaian yang kukenakan terlihat. Aku mengenakan kemeja putih dengan celana pendek berwarna hitam serta outer blazer yang juga berwarna hitam, bahkan warna stocking-nya pun senada dengan celana pendek yang kukenakan.


"Mau dibolak-balik bagaimanapun sudah pasti keren Eril," ujar Alviria yang menggelengkan kepalanya dengan senyuman sangat puas seperti seorang ibu yang bangga sudah memilihkan baju untuk anaknya.


"Ap-apasih. Aku hanya ingin memastikan seleramu layak untuk kupakai atau tidak," sangkalku yang melihat ke arah lain dari tatapan Alviria.


"Iya, iya," balasnya disertai tawa kecil yang sangat puas sembari menyiapkan kartu destinasi untuk diserahkan ke penjaga gerbang.


Kartu destinasi adalah kebijakan akademi agar para siswa memberitahukan tujuan mereka pergi dari wilayah akademi, sehingga jika terjadi apa-apa maka akan memudahkan mereka untuk mencari keberadaannya. Bukan berarti bakalan kenapa-napa tapi ya begitulah.


Hmmm... Einkaufszentrum.. Kudengar dari beberapa siswi bahwa tempatnya memiliki restoran yang menyajikan menu sarapan yang lezat, terutama bagian hidangan penutupnya. Hmmm... dan katanya menu tersebut terbatas hanya sampai jam tujuh pagi... Sekarang sudah hampir jam setengah enam. Oh tidak, benar kata Alviria. Tidak ada salahnya bangun pagi dan sekarang jika masih berlama-lama maka kita akan kelewatan menunya!


"Ayo! Buruan, makin cepat makin baik. Kartunya sudah siap?" tanyaku yang sudah selesai bercermin dan mengambil tas kulit selempangku yang berwarna coklat.


"Kutunggu di depan asrama," ujarku yang segera keluar dari kamar tanpa menunggu lebih lama lagi dan meninggalkannya sendirian.


Lima menit berlalu dengan diriku yang mondar-mandir di teras asrama sendirian di pagi buta. Belum ada satu siswi pun yang ada keperluan sepagi ini, aku mulai sedikit merinding karena terlalu lama menunggu sendirian. Ditambah lagi langit masih gelap pula dan udaranya dingin. Bukan berarti aku takut dengan hal gaib atau hantu dan semacamnya, tapi udaranya saja yang terlalu dingin hingga membuatku merinding.


Terdengar suara pintu depan asrama yang terbuka dan Alviria muncul dari dalamnya, ia melambai-lambaikan kartu destinasi dengan riangnya. Aku hanya mengangguk dan langsung berjalan meninggalkannya.


"Tungguin ih, Eril," panggilnya yang merangkul lengan kananku. "Mhm~ belanja pertama kita sebagai sahabat ya. Hum hum~" ucapnya lagi yang kegirangan karena suasana hatinya sedang bagus.


"Hemmm," gumamku yang malas meladeni ataupun menyangkal celotehannya, bisa panjang jika aku menyahutnya nanti.


Letak asrama cewek jaraknya lebih jauh jika ingin mencapai gerbang akademi ketimbang asrama cowok yang sebentar lagi akan kami lewati. Enak sekali letak asrama cowok, hanya butuh semenit saja jalan kaki lalu sampai di gerbang sedangkan kami para cewek harus menempuh selama lima menitan untuk sampai di depan asrama cowok.


Akhirnya kami sampai di depan pagar asrama cowok. Sama seperti asrama cewek, sepi. Siapa pula yang akan keluar jam segini kalau bukan cowok yang sama seperti si Alviria, orang aneh.


"Liat, Eril. Itu Edward!" seru Alviria yang menarik-narik lenganku untuk menarik perhatianku.


Kutarik ucapanku. Memang ada lebih dari satu orang aneh selain Alviria.


"Apa sih? Yaudah cuman si Edwa- aah-..." Aku tercengang. Edwardian yang berada di halaman dalam asrama cowok itu sedang berolahraga, bukan olahraga biasa.


Lebih tepatnya dia sedang melakukan pull-up di sebuah tiang yang tinggi. Dirinya tidak memakai baju alias telanjang dada dan hanya memakai celana pendek sedengkul.


Keringat bercucuran, dirinya melakukan pull-up dengan santai dan stabil. Kecepatannya konstan, mukanya sangat serius dalam melakukannya. Yang membuatku terkejut adalah otot-ototnya itu lho, sangat berbentuk, kelihatannya sangat keras. Apalagi otot perutnya yang six pack itu, entah kenapa... entah kenapa aku suka saja melihatnya.


Otot pundak dan dadanya pun terlihat sangat kencang, mungkin dia selalu melakukan ini dari dulu. Sebenarnya aku tidak begitu peduli tentang perototan, tapi entah mengapa melihat dirinya dengan otot yang bagus seperti itu membuatku tidak bisa melepaskan pandanganku darinya, seperti candu.


"Otot-ototnya seksi, ya? Eril," celetuk Alviria yang tersenyum jahil padaku.


"Ap-apa? Apa? Oh. Hah, biasa saja," sialan, hampir saja aku menyetujui pernyataannya.


"Biasa saja? Iya biasa saja, saking biasanya sampai ngilerpun itu biasa ya?" goda Alviria yang menunjuk ke bibirku.

__ADS_1


Tanpa kusadari salivaku mengalir sedikit dari bibir mungilku, kenapa ini? Aku padahal tidak berpikiran yang aneh-aneh. Kurogoh tasku dan mengelap bibirku dengan sapu tangan putih, memalukan sekali. "I-ini kesalahan teknis, aku lapar. Belum sarapan, ayo buruan. Kamu sarapan di zeppelin saja," ajakku yang kelar mengelap dan memasukkan kembali sapu tanganku sembari menarik tangan Alviria.


"Halo nona-nona, mau ke mana kalian sepagi ini?" Secara mengejutkan dari balik pagar terlihat Edwardian yang menghampiri kami dengan sembari mengelap dirinya dengan handuk di lehernya, meskipun begitu keringatnya masih terus bercucuran.


"Bu-b-bukan urusanmu-"


"Kami mau belanja di Einkaufszentrum! Edward sendiri kenapa pagi banget olahraganya?" selak Alviria.


"Setiap hari aku selalu begini kok," jawab Edwardian yang masih menyeka pelipisnya sambil tersenyum lembut padaku.


"A-ayo Vera. Kita tidak punya banyak waktu lagi," ujarku yang salah tingkah sembari menarik tangan Alviria menuju gerbang.


"Heee... Padahal tadi dia sendiri yang berhenti duluan," keluh Alviria dengan nada yang disengaja untuk meledekku. "Dadah Edward! Nikmati pagimu," ucapnya yang melambaikan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya kutarik lebih cepat lagi biar ini anak tidak banyak omong.


"Bersenang-senanglah!" sahut Edwardian yang kembali melanjutkan olahraganya.


Kami berdua pun tiba di depan pos penjaga gerbang, tapi tiada seorang pun yang berjaga. Ada tulisan yang tergantung di posnya berupa 'istirahat pergantian shift' yang biasanya akan memakan waktu setengah jam lebih, maka aku meminta kartu destinasi kepada Alviria dan menaruhnya begitu saja ke dalam kotak yang berada di pos tersebut. Kami pun segera keluar dari akademi.


Setengah jam berlalu dan kini kami sudah berada di zeppelin. Alviria sempat beberapa kali menyarankanku untuk sarapan saja di bandara sembari menunggu penerbangan. Namun, aku menolaknya karena aku ingin mencicipi menu sarapan khas yang ada di Einkaufszentrum. Alviria pun akhirnya tetap memesan sarapan khusus untuk dirinya sendiri di zeppelin.


Pemandangan di luar jendela sangat membuatku nyaman. Pagi yang berkabut dengan sedikit lampu remang-remang dari perkotaan di pulau apung. Einkaufszentrum sendiri dibangun di Kota Alx yang berada di daratan, bukan pulau apung.


Di tengah lamunanku, aku merasa tadi pagi sepertinya ada yang janggal. Aneh, rasanya ada yang mengganjal pikiranku... Tapi apa ya? Hemmmm... Rasanya seperti ada sesuatu yang tidak biasa dan terasa samar-samar... Oh!


"Omong-omong, Alviria," panggilku yang memecah keheningan saat ia sedang sibuk menyendok panekuk kesukaannya, dirinya sedikit kaget dengan sirup maple yang menempel di pinggiran bibirnya.


"Hmmm?" sahutnya.


"Tadi pagi pas kamu ngebangunin dengan brutal- maksudku dengan tidak ngotak- emmm... maksudku dengan waktu yang tidak tepat."


"Gak usah dikoreksi juga memang dah nyelekit idih bahasanya," protes Alviria yang menghentikan sendokannya dan mengembungkan pipinya melihatku.


"Ya, intinya nyebelin lah. Tapi bukan itu yang mau kubicarakan," jawabku sembari meneguk segelas jus jeruk. "Kamu sempat nyebut 'Halo? Halo? Bumi pada Eril?' itu maksudnya apaan? Bumi?" Memang ada yang tidak beres dengan gangguan dia tadi pagi, anehnya dia menyebut kata-kata 'Bumi' dengan gamblang.


"Lho? Justru aku yang harusnya nanya. Itu kan kata-katamu setiap malam saat kamu ngigau. Yaudah aku tiru aja, kukira itu ada makna khusus buatmu. Nyam!" jawab Alviria yang kembali menyendok panekuknya dengan lahap.


"Ehh? Aku ngigau begitu? Hmmm... Entahlah. Seingatku aku tidak pernah dengar kata-kata itu," sanggahku yang berusaha menutup topik ini karena ternyata diriku yang membuat Alviria tahu, haduh parah.


"Tiketnya sudah kamu siapkan, kan?" Tiba-tiba terdengar suara dari kursi di belakangku, suara lelaki.


"Astaga sayang, sudah berapa kali kubilang kalau tiketnya aman kok di tas. Masa aku harus terus-menerus periksa tas tiap kali kamu khawatir sama tiketnya, aku istrimu lho, bukan si tiket," keluh wanita yang diajak bicara oleh lelaki tersebut.


"Iya aku tahu sayang, tapi rasanya aku tidak bisa tenang jika tiket sepenting itu sampai hilang. Entah tertinggal di kereta, di kursi zeppelin atau bahkan di rumah." Jika kuperhatikan, si suami terlalu paranoid. Pasti tiket tersebut sesuatu yang sangat ia nantikan.


"Iya, iya. Nih, ada tuh kan. Sabar saja sayang, lagi pula kita baru sampai di Kota Alx sekitar setengah jam lagi. Kemungkinan artefak Karminroter Mond dan Auge des Westens belum sampai di museum bawah tanah Einkaufszentrum," ujar wanita tersebut untuk menenangkan suaminya.


Hmmm artefak? Museum bawah tanah?


"Baiklah sayang. Aku tidak akan terlalu khawatiran. Maaf, ya. Aku sangat semangat sekaligus gelisah, soalnya artefak ini katanya memiliki bahasa kuno yang sulit dipecahkan oleh para arkeolog." Pria tersebut kemudian berhenti sejenak untuk menghela napas sembari meminum sesuatu dan meletakkan gelasnya cukup keras ke meja. "Ahh... Ada kemungkinan artefak itu merupakan rekaman peradaban kuno yang menceritakan awal mula pembentukan dunia itu sendiri," lanjutnya.


Pembentukkan dunia? Momen penciptaan maksudnya? Sudah pasti itu semua atas kehendak Tuhan bukan? Tapi sepertinya artefak yang dia bicarakan ini sedang dalam perjalanan untuk dipindahkan ke museum ini, ditambah lagi aku baru tau kalau Einkaufszentrum mempunyai museum di bawah tanahnya.


"Einkaufszentrum punya museum, ya?" tanyaku pada Alviria yang sudah selesai menghabiskan sarapannya.


"Hmmm? Kamu gak tau? Itu salah satu museum dengan aset benda bersejarah paling mahal lho di dunia," jawab Alviria yang mengelap bibirnya dengan serbet putih.


"Dan setiap benda baru yang dibeli mereka memangnya se-menggemparkan itu?" tanyaku kembali yang kali ini berbisik sembari menunjuk kursi belakang dengan jempolku sebagai tanda kalau sedang membicarakan lelaki yang paranoid itu.


"Pffft... Pastilah. Dari yang paling terkenal akan sejarah sihirnya, kutukannya dan bahkan sampai bekas dipakai oleh tokoh terkemuka pun ada. Benda yang terdapat ukiran cerita kuno pun juga banyak," jawabnya yang juga berbisik.


Alviria kemudian mendekatkan dadanya ke meja hingga mukanya cukup dekat denganku dan kembali berbisik. "Itu yang membuat para penggila sejarah seperti si 'tuan khawatiran' sangat gelisah jika tiket mahal untuk menyaksikan peresmian benda tersebut sampai hilang, huhuhu..."


Yeah, bukan main gelisahnya lelaki tadi.


"Pemberhentian berikutnya, Bandara Alx. Terima kasih telah setia bersama penerbangan kami." Terdengar suara dari pengeras suara di sepanjang zeppelin.

__ADS_1


__ADS_2