Larme Brisée

Larme Brisée
Chapter 3: Symbiosis Mutualism [ part 1 ]


__ADS_3

TING ... TING ... TING ... TING ... TING ...


"Baik anak-anak, kelas telah usai. Selamat istirahat. Dan jangan lupa untuk mengerjakan tugas kelompok kalian. Dadah!" ucap Bu Stella yang langsung membereskan peralatannya dan segera berjalan cepat ke arah pintu. "Cheesecake, cheesecake, cheesecake! Jangan sampai habis!" Dan dengan tergesa-gesa ia tidak sadar mengucapkan cemilan yang ia incar di kantin. Penggila Cheesecake kurasa.


Huft... Jam pelajaran Ibu Stella berakhir juga. Lelah sekali jika harus berdua dengan si Edwardian. Hahhhh... Kurasa aku tidak akan mungkin akrab dengan pria ini, sikapnya itu terlalu sopan. Bagiku dia seperti memakai topeng yang gampang tertebak, sama sepertiku, namun aku tidak begitu suka topeng gentleman yang digunakan oleh si Edwardian ini. Apalagi namanya, sulit sekali di eja! Kenapa tidak Edward saja? Atau Edi gitu?


"Eril! Eril! Yuk makan siang bareng!" Panggil Alviria yang menghampiri dan segera memegang tanganku dengan kedua tangannya.


"Ummm... Aku ingin keliling akademi dulu sebenarnya, Wilhelm." Jawabku yang mencari-cari alasan agar menjauh dari Alviria, aku tidak nyaman dengan orang yang sok akrab begini.


"Ihh jangan kaku begitu dong! Panggil saja Vera. Lagian masih ada istirahat kedua nanti, aku temenin kok kelilingnya tapi sekarang mendingan kita isi perut dulu yuk!"


"Ehh..."


"Mau berkeliling? Kebetulan aku juga mau keliling akademi, ingin bergabung denganku?" Tiba-tiba Edwardian menyeletuk ke dalam obrolan kami berdua sambil tersenyum.


"Wah, tidak terasa sudah siang ya! Perutku lapar. Jadi, arah mana kantinnya, Vera? Yuk, buruan sebelum kita kehabisan kue!" Ucapku yang spontan berdiri dari kursi dan menarik tangan Alviria dengan tergesa-gesa. Malas sekali rasanya kalau sampai harus berkeliling bersama cowok menyebalkan ini.


"Eh? Eee? Ah, iya iya. Ayo! Samantha, ayo ke kantin bersama!" ajak Alviria pada gadis yang tadi datang bersama Edwardian, Samantha Von Meltere.


Samantha sedikit terkejut tetapi ia mengangguk dan mengikuti Alviria yang sedang kuseret keluar dari kelas sedangkan Edwardian hanya melambaikan tangan pada kami, ia kemudian beranjak juga dari kursinya dan mengajak ngobrol lelaki berkacamata yang duduk di sebelahnya Alviria, Thomas Shawn.


Dibutuhkan enam menit untukku menempuh tangga-tangga menyebalkan ini sambil menarik tangan Alviria yang tidak protes sama sekali, malahan ia hanya tersenyum namun senyumannya terkesan seperti tahu bahwa aku hanya menjadikannya alasan untuk menolak tawaran Edwardian secara tidak langsung.


Akhirnya sampai juga di lantai dasar. "Ehehehe... Ternyata kamu bisa salah tingkah juga ya di depan si Edward itu," celetuk Alviria yang terkekeh sambil menutupi mulutnya dengan telapak tangan kanannya.


"Tsk! Aku hanya berpikir ulang.. kalau berkeliling dengan perut kosong bukanlah pilihan yang bijak, bukan karena masalah pribadi. Huh..." Bantahku yang melepaskan genggaman dari tangannya.


"Hee... Begitu kah?" Tanya Alviria yang mendekatkan wajahnya kepadaku dengan nada yang menggoda.


"Sudah kukatakan, kan! Sudahlah ayo makan!" Balasku dengan jengkel dan jalan meninggalkan mereka berdua.


"Arahnya lewat sini." Sahut Alviria yang menarik bahuku dan menunjuk ke lorong yang satunya sambil tersenyum jahil, di sisi lain Samantha hanya cekikikan sambil menutupi bibirnya dengan tangan kanannya.


"Egh!? Aku tahu kok. Ayo."


Kami bertiga pun pergi bersama menyusuri lorong yang sudah banyak dibanjiri para murid dari kelas lain, mereka terburu-buru demi berburu makanan kesukaannya sebelum habis. Meskipun begitu sebenarnya mereka sangat teratur, tidak ada yang berdesak-desakan ataupun berlari dan saling dorong. Semuanya terlihat begitu elegan. Memang beda deh murid dari sekolah favorit.


...____________________...


Hahh... Setelah mengantri kurang lebih selama enam menit akhirnya aku bisa memesan delapan strawberry shortcake dengan vanilla milkshake, sungguh antrian yang menguji kesabaranku. Meskipun tadinya aku merasa tidak lapar tapi jika dilihat-lihat dari tampilannya, shortcake ini membuatku ingin melahapnya sebanyak mungkin sedangkan Alviria memesan panekuk dengan teh hangat dan Samantha memesan sup jamur dengan jus jeruk.


"Duduk di situ aja yuk!" Ajak Alviria sambil menunjuk ke meja persegi panjang yang memiliki dua kursi panjang yang saling berseberangan, ia duduk duluan dan meletakkan nampan makanannya dengan sedikit keras hingga terdengar bunyi seperti kaleng yang dipukul.


"Ssssst ... Berisik sekali," tukasku yang kemudian duduk di sampingnya sembari menaruh nampanku dengan perlahan dan anggun. "Selamat makan!" Dengan perlahan shortcake manis ini kugigit. Rasa shortcake di akademi ini memang sangat istimewa! Manisnya pas! Gurih, asam dan lembut. Astagaaa, oh Tuhan, rasanya sangat membuatku ketagihan! Hehehe...

__ADS_1


"Eril? Mukamu sampai senyum-senyum begitu kenapa? Shortcake-nya enak banget ya? Coba dong!" Ucap Alviria yang memecah konsentrasiku dalam menikmati shortcake ini, ia malah langsung mencoba mengambil salah satu shortcake-ku.


Plak!


"Aduh! Ihh. Pelit." Pekik Alviria yang menarik kembali tangannya yang kutepak sambil mengelus-elusnya seolah aku memukulnya sangat keras, padahal tidak terlalu keras.


"Glukosa yang cukup dapat membuatku fokus untuk pelajaran berikutnya. Kekurangan glukosa adalah hal yang tidak bisa di toleransi. Nyam nyam!" Jawabku yang masih memakan shortcake ketiga.


"Pffft... Padahal mah dia cuman gamau jatah cemilan manisnya berkurang tuh," kekeh Alviria yang lanjut menyendok panekuknya yang dengan mudahnya tersendok karena teksturnya yang begitu lembut. Dengan satu sendokan yang besar ia melahap panekuknya dan dirinya pun tersenyum-senyum menikmati rasa manis nan lembut itu. "Panekuk akademi bergengsi memang beda banget! Mentega gurih ditambah sirup maple dan adonan yang lembut banget! Rasanya jadi gak rela bagi-bagi. Hap! Hap!" Alviria berdecak kagum dan dengan lahapnya panekuk terdebut ia serbu tanpa ampun.


"Pelan-pelan, tidak baik makan terburu-buru," tegurku kepadanya yang hanya dibalas anggukan pelan diiringi senyumnya yang tidak bisa disembunyikan lagi. Yeah, aku pun tidak menyangkal bahwa makanan di kantin akademi ini terlalu lezat. Kurasa mereka sampai mempekerjakan koki terhebat demi gengsi akademi ini.


"S-sup ini juga kaya akan rasanya," ucap Samantha kepadaku dengan pelan dan suara yang gugup sambil melirik ke arahku sesaat sebelum ia menundukan wajah lagi.


"Ya. Sup di sini sudah pasti enak. Berbeda dengan buatan mamaku," sahutku seperlunya saja. Samantha Von Meltere, ia berasal dari keluarga bangsawan yang menguasai tambang varioumvator. Dia juga termasuk sepupu dari ibuku, karena ibuku berasal dari keluarga Meltere.


Namun, hubungan kami dengan keluarga Meltere sedikit renggang akibat keributan memperebutkan varioumvator langka, Grenzenlos. Grenzenlos sebenarnya didapatkan ayahku dengan susah payah di perbatasan reruntuhan kekuasaan Meltere, tetapi karena reruntuhan itu pada bawah tanahnya bercabang hingga ke kekuasaan tanah keluarga Meltere maka mereka merasa lebih pantas untuk mendapatkan Varioumvator Grenzenlos.


Pada akhirnya demi mencegah keributan yang tidak diinginkan maka ayah menyerahkannya dengan berat hati ke tangan mereka, meskipun sempat menempuh jalur hukum.


Sejujurnya aku tidak begitu ingat seperti apa Samantha waktu kami dulu sering bermain bersama di umur delapan tahun, tetapi saat mendengar namanya di jam pelajaran membuatku teringat akan dirinya. Kurasa mengapa ia menjaga jarak denganku karena merasa tidak enak atas kelakuan keluarganya kepada Dragdrhurl.


"I-iya. Sup bibi Filena sangat mem-membuatku rindu. Semoga dewa weredragon selalu menyertainya d-dengan kesehatan," ucapnya lambat-lambat seolah takut membuatku marah kepadanya.


"Sudahlah, Mantha. Jangan kaku begitu. Lupakan saja masalah antar keluarga kita, itu urusan orang tua kita, bukan kita," ucapku yang memperlembut tutur kataku meskipun kupikir malah lebih ke arah tegas.


"I-iya semacamnya-"


"Bukan urusanmu," ucapku dengan ketus kepada Edward yang sekaligus memotong perkataan Samantha.


"Ah, maafkan kelancanganku. Omong-omong, bolehkah aku ikut makan siang bersama kalian?" Tanyanya dengan senyuman yang lembut, pffft... Seperti butler saja.


"Cari tempat lain saj-"


"Sini, sini, duduk di sebelah Mantha saja!" Alviria memotongku dan dengan spontan mempersilahkan Edwardian untuk duduk di meja kami.


Aku yang jengkel pun melemparkan tatapan sinis kepada Alviria yang tidak peka banget, atau mungkin memang sengaja dia mengambil inisiatif untuk mengerjaiku. Haizzz... Cewek ini nyebelin banget, bahkan ia sibuk menyantap panekuknya tanpa menunjukan ekspresi selain menikmati panekuknya.


Edwardian pun duduk dan ia mengeluarkan dua buah tongkat pendek berwarna cream cerah dari sakunya, rasanya sangat familiar namun aku tidak terlalu tahu gaya makan macam apa itu. Ia menggunakan tongkat itu sebagai pengganti garpu dan sendok.


Heh ... Masa bodoh. Kalau begitu aku akan menghabiskan shortcake ini secepatnya dan kembali ke kelas dari pada berlama-lama di depan cowok ini. Dengan demikian, satu per satu kulahap dengan cepat namun tanpa mengurangi sedikitpun ke sopananku karena akan repot kalau orang lain mengecapku sebagai cewek yang rakus.


"Nona Dragdrhurl? Makanmu banyak juga, ya," ujar Edwardian yang melirik pada shortcake-ku yang tersisa dua.


"Bukankah ada batasan bagimu untuk ikut campur? Dan tolong jangan pakai nona. Dragdrhurl saja sudah cukup." Bentakku yang menggebrak meja hingga Samantha terkejut sampai berdecit kecil sementara Alviria melirikku dengan pandangan yang bersemangat.

__ADS_1


"Ah, alas. Maafkan kelancangan saya-"


"Diam! Topeng formalmu membuatku muak! Jangan sok akrab, ya! Aku sangat risih dengan kelakuanmu sepanjang pelajaran tau gak??" Protesku yang menekan nada di tiap beberapa kata namun berusaha kuredam tinggi nadaku agar tidak menarik perhatian.


"Baiklah jika itu keinginanmu, tetapi aku tidak memakai topeng apapun. Lihat? 100% organik, uhum~" ledek Edwardian yang menunjuk pada pipinya dan beralih ke sekitaran wajahnya dengan nada yang masih terlalu sopan, maksudku dalam artian seperti pelayan saja.


"Persetan."


"Omong-omong, Dragdrhurl. Kamu mau mencoba osengan ini? Sayuran ini lezat dan bernutrisi, sangat baik untuk sebagai hidangan akhir-"


"Kubilang jangan campuri urusankuu- hagh!" Diriku tak bisa berkata-kata disaat tumisan sayur tersebut dipaksa masuk ke mulut dengan tongkatnya disaat aku ingin membentak cowok ini.


"Ah, rasanya lezat kan? Tidak apa, memang awalnya terkesan aneh tapi rasanya akan semakin enak jika dikunyah lebih lama, hahaha ..." Tawanya yang tidak terlihat nada ia mengusili atau tidak. Yang kubisa tangkap hanyalah nada penuh kebahagiaan telah membuatku memakan sayuran miliknya.


Ehhh... Ehh? Enak. Gurih. Hah!? Tumisan macam apa ini!? Gila gurih banget! Gurih namun tidak sampai membuatku enek, bahkan aku sampai mengikuti sarannya dan mengunyahnya lebih lama lagi. Ternyata seenak ini, bahkan aku belum pernah makan tumisan semenjak bereinkarnasi. Tumisan terakhir yang pernah ku makan berasal dari kehidupan lamaku yang dimana itu adalah hidangan murah meriah yang hambar jika biaya panti tidak mencukupi.


"Ahaha, Dragdrhurl tampaknya tidak keberatan. Kalau begitu aku akan membantumu menghabiskan satu shortcake-mu ini-" tangan Edwardian yang berusaha menyentuh shortcake langsung ku tepak sekeras mungkin sampai ia terkejut, tanpa kusadari wajahku rasanya sudah sangat merah padam sampai malu mengaliri setiap jengkal wajahku.


Cowok sialan. Mau sampai kapan mempermainkanku!! Ehh bentar... Ehh... Tunggu sebentar... Tongkat yang ia pakai itu... Lalu mengenai bibirku... Itu artinya... Heh?? HAH!? Apa itu dihitung sebagai ciuman tidak langsung!!? Heh! Jangan bercanda!


"B-b-be-" rintihku perlahan-lahan yang menundukan wajah sembari mencengkeram rok ku dengan kedua tangan.


"Maaf, aku tidak akan mengambil kue mu. Tapi aku tidak keberatan jika kamu ingin mencicipinya lagi," ujar Edwardian yang menawariku tumisannya lagi.


"A- um ... Ji-jika tidak keberatan ..." Samantha tiba-tiba menyeletuk dan menyodorkan mangkuk supnya yang kini telah kosong. Edwardian kemudian tersenyum dan memberinya sebagian tumisannya.


"Boleh kok, semoga cocok dengan lidahmu," balas Edwardian sembari memindahkan sebagian tumisannya ke mangkuk.


"Heeee... Aku juga! Aku juga! Bagi dong! Hehe," tutur Alviria yang menyodorkan piringnya yang kosong kepadanya yang tengah memberikan tumisan. Edwardian pun beralih dan memberikannya juga kepada Alviria. "Makacii." Ucapnya dengan riang gembira.


"Be-b-b-beee-" rasa malu dan kesal meluap tidak karuan di dadaku, cengkeraman tanganku pun semakin kuat pada rok ku.


"Hmmm? Ada apa Eril?" tanya Alviria yang tengah menyendok tumisan itu dengan ekspresi terkejut akan rasa lezatnya. "Wah enak!"


"Ya kan?" sahut Edwardian yang tampak senang dengan reaksi Alviria.


"BEGOOOOO!!" Akhirnya kuteriakan dengan mata tertutup dan langsung meminum sisa


milkshake-ku dan menyambar pergi dari hadapan mereka semua dengan perasaan malu luar biasa.


"Eril! Kuenya gimana?" Teriak Alviria yang berbalik badan padaku yang berjalan cepat menjauh dari mereka.


"Vera bego!" Sahutku yang masa bodoh dengan sisa shortcake-nya.


"Heee ..." Alviria pun kebinggungan atas respon Eril.

__ADS_1


Beberapa murid melihatku dengan tatapan penasaran, tetapi mereka tidak berkata apapun melainkan memerhatikan dalam diam seiring diriku berjalan melewati meja mereka. Persetan dengan shortcake, lebih baik sekarang kembali ke kelas saja, huh! Dengan demikian, aku pun kembali ke kelas dan menunggu bel pelajaran berbunyi.


__ADS_2