
Haaahhh... Lelahnya. Meladeni Alviria demi membuat hatinya kembali ceria sangat melelahkan, aku butuh liburan rasanya, staminaku terkuras habis! Aaaa!!!
"Hehe... Makasih, ya! Eril memang sahabat yang terbaik!" ucap Alviria yang tersenyum manis sembari menjinjing empat tas yang di dalamnya penuh dengan baju yang tadi kami coba.
"Bi-biasa saja kok, aku memang lagi kepengen saja nambah koleksi baju," jawabku yang sedikit tersipu malu dengan perlakuan Alviria yang terlalu baik.
"Heee... Koleksi, kah? Kukira bikini yang tadi itu gak jadi kamu ambil, tapi malah jadi," godanya yang menunjuk ke salah satu tas yang kujinjing.
"Ap-APASIH!-"
"Eril! Akhirnya ketemu juga!" panggil seseorang yang memotong perkataanku.
Akupun refleks menengok ke arah suaranya. Aku terkejut, kakakku Eve berada di Einkaufszentrum bersama seseorang di sebelahnya yang tentu saja langsung kukenali, Edwardian.
"Kak Eve!?" pekikku yang kaget melihatnya.
"Wah! Tuan Dragdrhurl!" ucap Alviria yang bersemangat. "Ah, Edward juga. Yahooo!"
"Siang juga, Vera," jawab Edwardian sambil melambaikan tangannya.
"Ah, kau pasti Nona Alviria Versteckt Wilhelm. Terima kasih telah menjaga adikku," salam Kak Eve padanya dengan tersenyum kecil.
"A-ah! I-iya! Suatu kehormatan bisa menjadi teman Eril," jawab Alviria yang semakin semangat hingga ia gugup. "K-kalau boleh, Tuan Dragdrhurl bisa memanggilku dengan sebutan Vera saja."
"Jangan terlalu formal, panggil saja aku dengan Eve," balas Kak Eve.
"Baik! Senior Evantz!" Jawab Alviria.
"Sudah kubilang, Eve saja juga cukup. Hahaha..."
Kak Eve membawa sebuah tas belanja di tangan kirinya, tetapi tidak dengan Edwardian. Aneh, mengapa mereka berdua bisa berjalan bersama ke Einkaufszentrum hari ini.
"Err... Tumben mau nya-nyapa," singgungku yang sedikit tidak enak dengannya karena kak Eve tidak menyapaku semenjak aku diterima di akademi, bahkan di hari pertama masuk saja dia berkata 'pura-pura tidak kenal saja deh' dengan entengnya.
"Wah, adik kecilku ini ngambekkan ya rupanya. Haha, ya, maafin kakak ya. Aku hanya malu saja jika terlalu terlihat akrab dengan adikku sendiri di akademi, yeah, begitulah," ucapnya yang tertawa lepas mendengar sindiranku.
"Ngambek adalah kegiatan tidak berguna bagiku," jawabku yang membuang tatapanku ke arah lain.
"Begitulah 'ucapnya' kira-kira, hehe," balas Alviria yang meledek.
"Vera!" balasku yang tidak terima ledekannya. "Omong-omong, kok Kak Eve bisa pergi bersama 'hal' ini?" tanyaku yang kemudian menunjuk kepada Edwardian.
"Oi, aku bukan benda!" sangkal Edwardian yang tersenyum tetapi matanya berkedut kesal.
__ADS_1
"Maksudmu Edward? Ya, dia salah satu juniorku di Klub Fran. Lagipula aku ke sini juga berkat dia," jawab kak Eve.
"Maksudnya?"
"Iya. Aku sebenarnya mau mengajakmu lihat peresmian Artefak Karminroter Mond, tapi aku bingung mau mengajakmu kapan enaknya agar tidak terlihat oleh siswa lain," ujar kak Eve yang kemudian merogoh sakunya yang terdapat empat buah tiket emas. "Kebetulan sekali tadi pagi saat kulihat ke jendela kelihatan si Edward ini sedang bicara dengan kalian, jadi sekalian saja kuajak. Makasih ya Edward."
"Tidak masalah, Ketua Eve," jawab Edwardian yang membungkuk sedikit pada kak Eve.
"Sudah kubilang berapa kali, jika di luar kegiatan klub tolong lupakan senioritas," tegur kak Eve pada Edwardian.
"B-baiklah, Tuan Eve, hehehe," jawab Edwardian yang kini menggaruk kepala disertai tawa kecilnya.
"Kan sudah kubilang," kesalnya. "Omong-omong, aku ada sesuatu untukmu." Kini kak Eve berbalik kepadaku. Ia memberikan tas belanja tersebut kepadaku.
"Untukku?" tanyaku yang kemudian menerima tas tersebut dan memerika isinya ditemani kepala Alviria yang penasaran sehingga ikut mengintip ke dalamnya.
"Aku tau ini telat banget, tapi. Selamat ulang tahun, Eril,"
Terdapat dua buah kotak silver, kotak ini rasanya tidak asing. Karena penasaran maka aku segera duduk di bangku demi membongkar kotak tersebut, Alviria yang sepemikiran denganku pun juga dengan tegangnya duduk di sampingku yang menyaksikanku melakukan unboxing.
Alangkah terkejutnya aku dengan apa yang ada di dalamnya. Tas Tarachia tipe Volva terbalut oleh segel emas yang berkilau, Alviria yang melihatnya pun juga sangat terkejut sekaligus takjub dengan apa yang ia lihat.
"Kamu ingat kan pas ulang tahunmu minggu lalu? Cuma aku yang belum memberi hadiah," ucapnya yang menggaruk kepalanya disertai senyuman tidak enakan kepadaku.
"Silahkan, itu milikmu lagian," jawabnya yang tampak puas.
"Vera. Ini untuk kamu. Jadi kita punya tas yang sama," ucapku sambil memberikan kotak satunya lagi yang belum terbuka sama sekali.
Alviria pun terharu dengan hal itu, ia dengan brutalnya memelukku sambil berteriak "kamu memang sahabat terbaikku!" padahal kami berdua belum seakrab itu. Biarlah, kebahagian seperti ini memang terasa lebih menyenangkan jika orang sekitar pun turut berbahagia.
Kak Eve berkata bahwa sebelum kami berempat pergi ke museum lebih baik jika belanjaanku dititipkan terlebih dahulu ke kereta kuda yang sudah menunggu di luar Einkaufszentrum, Edwardian pun menawarkan diri untuk mengantarnya sedangkan kami bisa lebih dulu ke museum bawah tanah.
Kami pun pergi bersama menuju lorong dengan tangga yang mengarah pada lantai bawah tanah di Einkaufszentrum, Einkaufszentrum memiliki empat lantai bawah tanah di dalamnya dan di lantai ke empat merupakan museum Einkaufszentrum.
Lumayan lama juga harus menuruni anak tangga yang begitu banyak, apalagi ramai sekali orang-orang seperti pebisnis, saudagar sampai bangsawan berlalu-lalang. Kebanyakan pasti sedang menuju ke museum demi menyaksikan peresmian artefak tersebut, entahlah sebagus apa nanti peresmiannya tapi karena sudah dibelikan tiket oleh kak Eve maka dengan senang hati aku akan menyaksikannya.
Di saat kami sudah sampai di depan gerbang museum di saat itu juga si Edwardian berhasil menyusul kami, sejenak kupikir dia pasti berlari demi menyusul kami. Tapi entah kenapa dirinya tidak tampak seperti terengah-engah ataupun berkeringat, malahan terlihat seperti habis jalan biasa saja.
Kak Eve pun memberikan tiket tersebut ke loket. Di luar gerbang tertulis bahwa hari ini museum tidak dibuka untuk umum, melainkan hanya untuk peresmian khusus yang hanya bisa disaksikan oleh orang-orang terpenting.
"Sepenting itu kah acara peresmian ini?" gumamku yang heran dengan seberapa pentingnya acara ini, atau seberapa berharganya tiket ini.
"Kudengar sih katanya kalau jual tiketnya bisa beli rumah," jawab Alviria yang berbisik ke telingaku.
__ADS_1
"Se-seriusan!?" pekikku yang berusaha meminimalisir suara agar tidak terdengar oleh orang-orang sekitar.
Dari mana Kak Eve mendapatkan dana untuk membeli empat tiket sekaligus? Lagipula jika memang ingin mengajakku, kenapa harus sampai punya empat tiket segala? Kebetulan banget duanya lagi bisa untuk si Edwardian dan si Alviria.
"Nah, sudah selesai. Ayo masuk," ajak Kak Eve yang telah selesai menyerahkan tiket tersebut.
Di dalam museum ini sudah ramai sekali, banyak sekali bangsawan yang membawa juru foto ataupun pelukis di dekatnya. Mereka ingin mengabadikan momen di mana artefak akan segera diresmikan. Di samping itu ada sebuah podium megah yang di atasnya terdapat sebuah tirai merah yang menutupi siluet dari dua buah benda yang bentuknya seperti pilar.
Terdapat banyak sekali meja bundar beserta bangku dengan nomor di mejanya, kami berempat mendapatkan nomor 25 yang berarti kami harus duduk di meja dengan urutan nomor ke-25. Tepat setelah kami duduk, seseorang naik ke atas panggung yang sepertinya merupakan seorang pembawa acara.
"Tes, tes, satu dua tiga, tes, tes. Baiklah. Ahem! Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, selamat datang di peresmian Artefak Karminroter Mond dan Auge des Westens!" ucapnya yang segera dibalas dengan tepukan meriah dari para penonton.
"Hari ini merupakan salah satu momen bersejarah yang kalian tunggu-tunggu, momen di mana artefak paling langka yang baru ditemukan pada Reruntuhan Karfait, salah satu reruntuhan yang menjadi sumber ditemukannya artefak yang mengungkap asal mula sihir dan kutukan." Pembawa acara tersebut kemudian memberikan sebuah sinyal tangan kepada kru di balik podium yang membuat mereka menarik tirai tersebut hingga terbuka.
Terlihatlah kedua artefak tersebut. Terdapat seperti pilar berbentuk seperti peluru yang lancip ke atas dengan dihiasi oleh berbagai permata merah bulat, terdapat pula ukiran aneh di sekujur artefak tersebut. Terlihat ada sebuah cekungan seperti piringan di sekitar area bawah artefak tersebut disertai dengan ukiran dan lubang kecil.
"Kedua artefak tersebut ditemukan hanya dengan selisih seminggu saja satu sama lainnya. Artefak yang paling kanan adalah Karminroter Mond, artefak ini sangat sulit terdeteksi karena mengacaukan sihir di sekitarnya," ucapnya yang menunjuk pada artefak yang seperti pilar tersebut.
"Eril, Edward, Alviria. Aku rasa lebih enak kalau kita liatnya dari sana saja yuk. Pasti bakalan terlihat lebih jelas," ajak Kak Eve yang segera bangkit dan menunjuk ke pinggir dari tempat peresmian.
Kami pun beranjak dan mengikutinya.
Aneh, mau dilihat bagaimanapun kalau dari sudut disini justru malah kelihatan lebih susah terlihatnya yang Karminroter Mond nya, tapi untuk Auge des Westensnya terlihat sangat jelas detailnya.
"Sedangkan yang di kiri adalah Auge des Westens. Artefak ini sangat bereaksi kuat terhadap anomali yang dipancarkan oleh Karminroter Mond," lanjutnya lagi sembari menunjuk pada artefak dengan bentuk kubus yang memiliki segitiga kecil di setiap sudutnya beserta ukiran yang seperti motif rantai di sekujur kubusnya.
"Jujur saja, kami sudah mengusahakan yang terbaik untuk menerjemahkan bahasa kuno yang terukir padanya, tetapi kami sangat kesuli-"
Dwaaaaaar!
Groaaaaaaaaaargh!!!!
Terdengar suara yang memekikkan telinga dari atas. Terdengar seperti suara bangunan meledak disertai oleh suara raungan sesuatu yang besar. Dalam hitungan detik terlihat sosok raksasa yang jatuh dari atas dan mendarat di belakang podium.
Sosok tersebut memiliki sayap serta sorot mata hijau terang yang mengintimidasi, kurasa itu sebuah naga. Napas beratnya membuat uap terlihat hingga suaranya pun dapat terdengar sangat jelas. Sejenak orang-orang diam mematung, kurasa ini merupakan sebuah hiburan untuk memeriahkan acara ini. Mereka semua sempat kaget, tetapi kembali tenang karena mungkin sepemikiran denganku.
"Aa-AAAAAAAAA!!" Pembawa acara tersebut teriak histeris hingga lari terbirit-birit dari podium tersebut
Naga tersebut terlihat seperti membuka mulutnya dan sambaran petir yang menyambar keluar dari mulutnya ke lantai di sekitarnya pun terlihat, petir biru keunguan yang menyilaukan menggelegar.
"Kalian bertiga, ke belakangku sekarang!!" teriak Kak Eve yang merentangkan tangannya berusaha melindungi kami.
Kakiku menjadi kaku, entah kenapa tubuhku mematung tidak mau menuruti perintahku untuk bergerak. Aku bergetar begitu hebat, ketegangan ini membuatku tidak bisa mendengar teriakan kak Eve dengan jelas. Naga itu pun menyemburkan sihir petirnya ke segala arah tanpa ampun yang membuatku ketakutan, yang bisa kulakukan secara refleks hanyalah memejamkan mata seerat-eratnya.
__ADS_1