
Kami pun berangkat bersama-sama menggunakan kereta kuda yang dikendarai oleh kusir sekaligus pelayan di kediaman kami, ia bernama Pak Clauson. Kami sesegera mungkin berangkat menuju akademi sihir Parádeisos Drákos yang berada di pulau sebelah, Pulau Arkheim.
Kami para weredragon surgawi memiliki wilayah kehidupan yang terpisah dari para manusia, tempat tinggal kami biasanya di pulau apung yang berada di ketinggian lima puluh kilometer di atas permukaan laut, ingat bukan berarti semuanya. Sekarang, kami sudah berada di zeppelin. Untuk menyeberang dari satu pulau ke pulau lain biasanya kalangan bangsawan akan menaiki zeppelin, sedangkan untuk golongan rakyat biasa,mau tidak mau mereka harus terbang dengan bertransformasi ke bentuk naganya.
Setengah jam berlalu dan kami pun akhirnya turun dari zeppelin lalu melanjutkan perjalanan menggunakan kereta kuda, jarak dari bandara zeppelin ke akademi tidak terlalu jauh, mungkin sepuluh menit saja sudah cukup untuk sampai jika memakai kereta kuda.
Benar saja, tidak terasa beberapa menit telah berlalu dan kami sudah sampai di depan akademi yang memiliki bentuk berupa kastil yang super besar dan megah, segalanya terlihat seperti abad pertengahan. Namun, di dunia ini peradaban tidak terlalu berkembang pesat, aku heran mengapa bisa begitu.
Pintu kereta kami terbuka dan Pak Clauson menjulurkan tangannya untuk menuntunku keluar. Aku pun turun sambil menenteng tas hitamku seraya tersenyum padanya sebagai ucapan terima kasih, tetapi Pak Clauson dengan muka kakunya tidak membalas senyumanku yang membuatku sedikit kecewa, yeah, lagi pula seumur hidupku juga biasanya aku tidak pernah tersenyum padanya sampai sebelum akhirnya ingatanku pulih. Karma deh...
"Sini, berikan mama pelukan perpisahan sebelum kamu menaiki tangga kedewasaan sayang." Ucap Ibu yang langsung merangkulku dan mengelus-elus belakang kepalaku.
"Mama, jangan ngomong hal yang ambigu gitu dong! Kasian tuh Eril sampai diliatin begitu sama yang lain." Bisik ayahku yang menyikut bahu ibu.
"Hahhh... Aku bakalan pura-pura tidak kenal saja lah." Dengus Kak Eve yang buru-buru pergi memasuki akademi. "Jangan terlalu akrab samaku ya nanti Eril. Tapi kalau ada masalah, jangan lupa beritahu aku. Sampai jumpa nanti!" ucap Kak Eve, sekilas terlihat senyuman tipis sebelum akhirnya lenyap dan ia berlari ke gerbang. Sebenarnya kurasa kakak hanya tidak ingin hubungan saudaranya terlihat mencolok bagi teman-teman seangkatannya?
"Mama, papa. Jaga kesehatan kalian juga ya! Papa, jangan kebanyakan begadang meskipun itu pekerjaan. Mama, jangan lupa hukum papa kalau dia diam-diam begadang untuk menyelesaikan pekerjaannya, ya!" Ucapku dengan riang seraya membalas balik pelukan ibu dan tersenyum jahil ke ayahku yang sedikit bergidik membuang muka, mukanya sedikit memerah, hihihi lucu! Mereka adalah keluargaku yang terbaik... Aku harus membahagiakan keluargaku ini sebisa mungkin.
"Ekhem! Ekhem! Papa gak begadang kok! Lagian kamu sudah besar, jangan bersikap kayak anak kecil dong. Buruan masuk, bentar lagi bel masuk lho. Nanti kopermu dan koper kakak akan diantarkan oleh Tuan Clauson ke asrama." Ucap ayahku yang tersipu malu sembari membuang muka. Ibuku yang melihatnya memasang senyum menggoda sambil melirikku dengan maksud untuk mengerjai ayah lebih jauh lagi.
Aku pun mengangguk dan menghampiri ayah dengan cepat ke samping dirinya, aku berjinjit untuk mengecup pipi ayah dan tersenyum sambil melambai kepadanya. Mukanya terkejut sekali hingga tangan kanannya menyentuh pipi bekas kecupanku, ia seperti tidak percaya dengan apa yang baru dilakukan putri kecilnya ini yang sekarang sudah beranjak dewasa.
"E-eril! Jangan sembarangan memberi ke-ke-kecupan!" Nada suaranya sangat lucu, ia seperti bergetar tetapi tetap berusaha untuk menjaga wibawanya di depan orang-orang yang sebenarnya dari penglihatanku mereka tidaknmemperhatikan kami sama sekali.
"Okey! Aku berangkat!" Seruku kepada mereka berdua dan berlari kecil ke arah gerbang sembari melambai pada mereka yang balas melambai kepadaku dengan senyuman lembutnya.
__ADS_1
Aku bergegas menyusuri lorong demi lorong yang mulai ramai dilalui oleh para murid dari berbagai kelas, kutarik keluar catatan kecil yang sudah kusiapkan. Di sini tertulis bahwa ruang kelasku akan berada di vertrauen der klasse eins yang berada di lantai enam gedung Himmlisch. "Hari pertama tidak boleh telaaaat!" Gumamku sambil berlari kecil di lorong yang kini menuju ke tangga besar yang melingkar naik ke atas dengan dihiasi kaca warna-warni yang membentuk pola gambar sebuah naga besar agung yang menjadi lambang dari weredragon surgawi itu sendiri.
Huft... Huft... Huft... Tangga ini rasanya terlalu banyak, aku baru sampai di lantai empat dan sekarang aku kesulitan menarik napas. Kuperhatikan lorong-lorong sudah mulai sepi, tandanya sebentar lagi kelas akan dimulai! Panik akan hal itu, akupun lari terburu-buru di tangga sampai tidak mempedulikan sekitarku.
Bam!
"Aduh, sakit, sakit..." Aku menabrak seseorang di lantai lima hingga tasku terjatuh ke lantai, diriku juga hampir terjatuh tetapi tanganku berhasil ditangkap oleh pria tersebut.
"Kau tidak apa-apa?" Tanyanya padaku dengan nada yang sangat sopan, pria ini terlihat sepantaran denganku, ia memiliki wajah Asia dengan pipi yang sedikit tirus beserta rambut hitam pekat, kulitnya berwarna sawo matang, matanya berwarna biru cerah bagaikan langit dengan alis yang sedikit tipis.
"Aa-" kurasa aku pernah melihat wajah yang serupa. Hal ini membuatku sedikit ternganga, sepertinya aku pernah melihat wajahnya dulu. Dulu sekali. Mungkin di kehidupan lamaku? Sebuah kebetulan yang sangat gila.
"Ah, Alas. Maafkan aku yang terlalu lambat berjalan. Ada bagian yang sakit?" Ucap pria itu sambil menarik diriku untuk berdiri tegap ke dekatnya, ia melepaskan genggaman tangannya dan membungkuk meminta maaf.
Astaga kenapa aku ini? Hanya karena aku merasa wajahnya seperti yang pernah kulihat bukan berarti aku harus bersikap canggung seperti itu! Aaaaaaaa.. Citraku bisa buruk jika dia menyebarkan isu yang aneh tentangku, apa mungkin bisa saja dia sekarang menganggapku sebagai gadis yang aneh dan sombong? Aku harus meminta maaf kepadanya nanti pas jam istirahat siang. Akhirnya sampai! Vertrauen der klasse eins!
TING... TING... TING... TING... TING...
Bel sekolah pun berbunyi tepat saat aku menginjakkan kaki ke dalam kelas, entah mengapa bunyi bel ini sangat mirip dengan suara bel ibu panti asuhan yang selalu membangunkan kami setiap pagi, bedanya ini memiliki jeda dan bunyinya lebih menggema. Sejenak, tubuhku bergidik merinding mendengarnya, perasaan yang tidak enak kembali terasa di dadaku. Rasanya seperti mencengkeram dengan sangat kuat, aku merasa sedikit mual.
"Kamu gapapa?" Seorang gadis menyapaku dari belakang dengan menepuk pundakku. "Kamu mual? Mau kuantarkan ke UKS? Nanti akan kuberitahu guru kalau kamu sakit." Tanyanya. Secara refleks aku menoleh ke arahnya, ia gadis yang manis bermata kuning cerah dengan memakai kacamata persegi panjang, rambutnya yang berwarna pirang dan sedikit bergelombang terurai dengan indah.
"A-aku gapapa! Hanya kecapean karena naik tangga tadi, ehehe..." Balasku sembari menggaruk-garuk belakang kepalaku disertai senyuman janggal karena terlalu tiba-tiba.
__ADS_1
"Kalau begitu, mau duduk bersama kami? Meja kami masih kosong tiga kursi lagi." Sambut gadis itu menunjuk ke arah meja yang ada di pojok kelas.
"Bo-boleh..?"
Gadis tersebut menuntunku ke meja lalu menarik jari-jemariku dengan semangat, aku mengikutinya dan meletakkan tasku di atas kursi yang berada di pinggir meja. Di kelas ini ada enam meja besar dengan lima kursi di setiap mejanya, jadi murid di kelas ini bertotal tiga puluh siswa.
Gadis itu kemudian duduk di kursi yang ada di sebelahku dengan wajah yang ceria, ia pun menjulurkan tangannya kepadaku. "Salam kenal, aku Alviria Versteckt Wilhelm. Tapi biasa dipanggil Ria, Viri ataupun Vera. Salam kenal!" Ucap Alviria dengan nada yang ceria disertai senyuman yang merekah.
Aku kemudian menjabat tangannya dan menyambut salamnya. "Sa-salam kenal, Eril Von Dragdrhurl.. Mohon bantuannya." Balasku sambil memasang senyum canggung, bagaimana tidak? Alviria terlalu cepat mendekatkan diri, seolah kami bisa langsung akrab begitu saja. Yaaa... Bukannya aku tidak suka sih, tapi aku sedikit risih saja dengan orang yang terlalu sok akrab.
Tidak lama kemudian murid-murid yang masih tersisa di lorong kini masuk ke dalam kelas. Alviria pun kembali ke kursinya yang berjarak dua kursi kosong di samping kirinya Eril, mereka satu meja. Alviria duduk di sebelah lelaki berkacamata bulat dengan rambut yang panjangnya sebahu, lelaki tersebut tengah sibuk membaca buku yang kemudian diganggu oleh Alviria yang dengan akrabnya atau sok akrabnya bertanya-tanya seputar isi buku yang dibacanya.
Aaaahh... Aku tidak bisa akrab dengan gadis ini. Dia terlalu berlebihan dalam bersikap kepada orang baru, mungkin dia tipe orang yang akan berusaha mencari teman sebanyak mungkin? Entahlah, yang pasti aku tidak terlalu suka dengan tipe ekstrovert yang seperti itu. Huft...
Tidak lama kemudian, dua orang menghampiri dua kursi kosong yang tersisa di samping kiriku dan bertanya. "Permisi, apakah kursi ini sudah ada yang menempati?" Eril sedikit bergidik, orang yang bertanya tersebut adalah pria yang tadi ia tabrak di lantai lima.
"Ha!... Ti-tidak ada." Lagi-lagi aku bertingkah aneh di depannya! Argh!!! "Silahkan duduk saja." Ucapku yang berusaha membenarkan intonasiku agar terdengar normal.
"Terima kasih. Silahkan duduk." Ucap pria tersebut mempersilahkan seorang gadis yang ia bawa bersamanya untuk duduk di meja ini.
"A- i-iya. Permisi..." Ucap gadis tersebut yang tersipu dan menunduk setelah menjawab pria ini. Sepertinya ia menyukainya.
Gadis tersebut mengangguk disertai senyuman dan duduk di kursi sebelah Alviria, ia berparas cantik, mata dan rambutnya berwarna cokelat tua dengan sedikit cokelat pucat di ujung rambutnya yang dikepang ke belakang. Kulitnya seputih susu, ia sangat menawan bagiku.
Sedangkan pria ini malah duduk di sebelahku. Semakin kuperhatikan malah semakin yakin bahwa aku seperti pernah melihatnya di kehidupan lamaku, bukan, malahan kupikir sepertinya aku pernah bertemu dengannya. Tapi kapan ya?
__ADS_1
Pria tersebut menoleh ke arahku dan menjulurkan tangannya yang hendak berjabat tangan untuk berkenalan denganku.