
Kami pun turun dari zeppelin dan langsung memesan kereta kuda yang membawa kami langsung ke Einkaufszentrum. Perjalanan yang ditempuh tidak terlalu lama, hanya memakan dua puluh menitan saja.
Kota Alx dikenal juga sebagai kota yang lumayan ketat. Memang sih kota ini membebaskan ras apapun untuk keluar masuk, tapi untuk mengurus izin memasuki kota ini terlalu ribet dan tidak boleh sampai kurang paspor ataupun identitas kita.
Beruntungnya kami hanyalah siswi akademi yang hanya perlu menunjukkan kartu identitas siswi saja sudah diperbolehkan berkeliaran- maksudku berkunjung sesuka hati ke mana pun di kota ini.
Akhirnya kami sampai di Einkaufszentrum, tempat itu sangat ramai di akhir pekan. Dari yang kulihat kebanyakan yang datang adalah kalangan kelas menengah - kelas atas, dapat terlihat dari bahan pakaian yang digunakan, ya sama saja sih sepertiku dan Alviria. Namun, entah mengapa aku memang tidak begitu suka ke tempat ramai seperti ini apalagi dengan para orang kaya ini.
Tempat ini begitu besar, sangat besar sampai kurasa memiliki sepuluh lantai. Gedungnya berwarna putih, memiliki pilar megah yang dihiasi ornamen emas di pinggirannya. Jujur saja jika aku tidak tahu bahwa ini adalah sejenis pusat perbelanjaan mungkin maka aku mungkin akan mengiranya sebagai sebuah istana atau perpustakaan nasional di Bumi.
"Nah, tunggu apa lagi? Ayo!" Tarik Alviria yang menggandeng lenganku dengan riangnya.
"Sarapan dulu, aku mau sarapan dulu," protesku yang sekarang menarik Alviria untuk masuk mencari restoran terkenal yang terus dibicarakan itu.
"Hehe, apa boleh buat. Kamu pasti udah dengar soal ToysRHere ya dari anak-anak di kelas? Kalau gitu kita kunjungi mereka dulu, ayo!" Kini Alviria yang memimpin jalan dan dengan riangnya menunjuk ke salah satu restoran.
ToysRHere? Namanya aneh sekali untuk sebuah restoran.
Kami pun sampai di restoran tersebut, ternyata restoran ini tidak mengambil tema apapun yang berhubungan dengan mainan seperti pada namanya, malahan tema yang diambil adalah restoran mewah ala Prancis. Aneh juga sih kalau di dunia ini juga ada kebudayaan Prancis.
Kami pun duduk di meja berdua dan pelayan memberikan menu kepada kami. Aku yang sudah tidak sabar menantikan menu sarapannya pun memesan menu spesial sarapan, agak mengejutkan memang ketika kulihat harganya yang lumayan mahal untuk sekedar sarapan. Tapi yasudahlah, aku memang penasaran banget jadi sesekali tidak apa.
Makanan pun tiba, makanan yang kami pesan beragam. Mulai dari pembukanya yaitu keju dan vin rouge atau anggur merah, lalu salad. Untuk hidangan utamanya disajikan steak beserta semoule.
Aku cukup kaget melihat si Alviria yang masih bisa makan, entah metabolismenya yang kencang atau memang perutnya yang karet. Tapi aku senang makan bersama dia, haha, terkadang dia tidak semenyebalkan itu.
"Liat Ewril, pewrut Edwward," ucapnya yang tidak jelas karena masih ada makanan yang ia kunyah. Ia memotong-motong steak tersebut hingga menyerupai potongan six pack, seperti otot.
"Ah... Pura-pura gak kenal aja deh," jawabku dengan tatapan jengkel. Kutarik kembali kata-kataku, dia memang semenyebalkan itu. Sepanjang waktu.
"Jwahat!" keluhnya yang menyendokan sesuap daging lagi tanpa nada bersalah.
Setelah selesai dengan hidangan utama, pelayan pun kembali datang dengan membawakan hidangan penutup. Ice cream keju, éclair, dan kopi panas pun disajikan. Sejauh ini memang menunya tampak biasa saja, tapi kuakui kalau rasa dari makanan mereka sangat enak. Entah kenapa setiap bahannya sangat segar di mulut bahkan rasa manisnya pun pas.
Mulai dari hidangan pembukanya hingga ke hidangan penutup, semuanya enak. Aku jadi merasa sedikit bersalah kalau membandingkannya dengan masakan ibuku, ya bukan karena ibuku tidak pandai masak, tapi ya gitu deh.
"Haduh... Mana ya? Haduhh..." Terdengar keluhan dari seorang gadis yang duduk di meja sebelah bersama temannya, karena penasaran maka aku sedikit menoleh ke arah mereka.
"Hah? Kenapa?" tanya temannya sembari meminum anggur merah.
"Ini lho, Tiket peresmian artefak museumnya hilang!" ujarnya yang panik sembari merogoh-rogoh ke dalam tasnya seolah tiketnya pasti tersempil di dalamnya.
"Tenang saja, nih ada di aku dari tadi," jawabnya yang mengambil tasnya lalu menunjukan dua lembar tiket berwarna emas. "Jangan panikan, kamu kalau panik suka sekali pikun."
"Ahh... Syukurlah. Hidupku hanya untuk tiket itu, hehe..."
"Huu, dasar." Temannya pun kembali memasukkan tiket tersebut.
Mereka berdua tampak seperti wanita pebisnis, dari pakaiannya yang mewah dan rapi. Mereka juga sangat menantikan peresmian artefak di museum, kah? Tiket ini seolah lebih penting dari pada diri sendiri.
"Ah, kenyang banget. Oh, sebentar lagi sudah mau buka toko tasnya. Penjualan perdana tipe terbaru dari Taraschia," ujar Alviria yang membuatku mengalihkan pandanganku dari dua wanita tadi, ia sedang mengelap bibirnya dengan serbet.
__ADS_1
"Hmmm, sebentar lagi ya," akupun merogoh jam saku di tasku, sudah menunjukan pukul 08:23. "Ok, ayo jalan."
Setelah membayar makanan, kami segera pergi ke toko tersebut. Toko ini memiliki toko baju dan juga tas. Alviria kemudian segera menyambar tanganku dan menarik masuk dengan cepat. "Hoi! Aduh, duh!" protesku yang kesakitan ditarik oleh dirinya.
Rupanya sudah terdapat antrian di dalam toko, antrian yang tidak begitu panjang. Sesaat setelah kami mengantri, tiba-tiba banyak sekali wanita yang masuk toko dan mengantri di belakang kami. Tidak. Antriannya sampai keluar dari Toko! Tajam juga intuisi nih anak.
"Hum-hum! Instingku hebat, ya kan?" Alviria mulai menyombongkan dirinya sendiri.
Tadinya aku ingin tetap memakai muka datarku untuk menanggapinya, tapi aku tidak sengaja kelepasan tertawa kecil. "Pfff.. fufufu... Ekhem! Kamu dah berjuang keras, kerja bagus." Untuk mengapresiasi dirinya, aku pun memberikan jempolku kepadanya dengan ekspresi bangga.
"Uwaaaahhhh... Pertama kali lho kamu senyu-"
"Sssst... Ssssst... Harap tenang selama mengantri." Aku menutup bibirnya dengan telunjukku, kutekan sedikit agar dia tidak membuka mulutnya lagi melainkan mengangguk. Herannya matanya seperti sangat bersemangat. "Lagi pula kurasa pertarungan kita belum selesai sampai disini," lanjutku yang menunjuk ke arah kasir yang di mana para wanita membeli tas tidak hanya satu buah saja.
Dari yang terlihat, beberapa wanita membeli empat sampai delapan buah tas Tarachia. Gawat nih, skenario terjeleknya sudah pasti saat giliran kami tiba malah persedian tasnya sudah habis. Aku bahkan tidak mau membayangkan rengekan macam apalagi yang akan nih anak lakukan kalau tasnya sampai habis.
"Waduh! Waduh! Bagaimana ini, Eril? Ada yang beli sampai dua belas tas lho itu!" Panik Alviria yang keningnya mengkerut ketika menyipitkan matanya untuk menghitung jumlah tas yang diborong.
"Kalau begitu kamu harus mulai berdoa pada Drachengott," ujarku yang menenangkannya dengan memegangi bahunya dari belakang.
"Harusnya kamu dong yang berdoa padanya, kan kamu sur-"
"Ssssst... Sudah kubilang, kan?" selakku yang meremas pundaknya sedikit keras hingga ia bergidik yang disertai anggukan.
Kami kemudian mengantri selama setengah jam, setiap kali seseorang selesai membeli Tarachia di saat itu juga si Alviria semakin tegang. Memang sih ya, yang membeli tas Tarachia itu selalu saja lebih dari satu yang membuatku pribadi mengernyit ngeri.
Sekarang antrian kami semakin dekat dengan kasir, aku dan Alviria pun tegang sekaligus tidak sabar. Yang paling tercampur aduk perasaannya sudah pasti si Alviria, mudah sekali menebak dari raut wajahnya yang tegang, senang, tidak sabaran, kesal dan segala macam. Nah, akhirnya kami berada di depan kasir.
"Ah, maaf Nona. Volva dari Tarachia sudah habis, nona yang tadi adalah pembeli terakhir," balas kasir tersebut.
"A-... Ah? aa-" Alviria tidak bisa berkata-kata lagi.
"Te-terima kasih pemberitahuannya! Ayo Vera sini!" ucap diriku kepada kasir tersebut sembari menarik lengan Alviria yang masih tergagap dengan kecewanya.
Alviria yang kecewa pun lemas tidak bisa melawan saat kutarik menjauh dari antrian, dia seperti kehilangan semangatnya setelah apa yang ia lalui demi mendapatkan tas itu, yeah, bangun subuh.
"Duduk sini dulu, yuk," ajakku sambil menariknya untuk duduk perlahan di bangku yang ada di dekat kamar ganti baju di bagian lorong yang penuh dengan pakaian modis.
Dirinya yang menundukkan kepala terlihat sangat lemas sementara tangannya mencengkeram bajunya dengan kesal, Alviria yang malang, apa ya yang bisa membuatnya merasa lebih baik? Mungkin dengan mengelus-elus punggungnya akan membuat dirinya merasa lebih baik.
Perlahan kuelus punggungnya dengan tangan kananku, tetapi reaksi yang ia berikan di luar dugaan. Ia perlahan terisak hingga air matanya menetes, cengkeramannya semakin kuat dan suara tangisnya terdengar sedikit.
"Sudah, sudah. Kuyakin minggu depan stoknya pasti ada lagi, nanti kutemani lagi ya minggu depan," ucapku yang menenangkannya.
"Hiks... Bukan... Bukan itu masalahnya..." jawabnya yang masih sesenggukan. "Volva... Hiks... tidak akan diproduksi lagi... Fueee... Mereka sengaja memproduksinya sekali saja..."
Ahh... Sial. Bakalan lama nih dia merajuk. Bisa-bisa setiap malam dia menangis sampai membuatku kesusahan untuk tidur. Aku harus segera memikirkan cara lain agar dia ceria lagi.
"Ver... Vera," ucapku yang berusaha menarik perhatiannya.
"Apwa? Hiks..." jawabnya yang menengadah kepadaku dengan matanya yang sembab.
__ADS_1
"M-mumpung kita sudah di sini... Eeee... bantuin aku pilih baju, yuk? Ehehe..." ajakku yang sangat canggung karena hal seperti ini bukan kegiatan yang kusukai, tapi ya terpaksa.
"Baju... Boleh," jawabnya lambat sembari membasuh matanya dengan sapu tangannya. Dengan cepat senyum kembali merekah di wajahnya. "Tidak. Yang benar itu adalah.. Ayo kita berburu baju! Yosh!" teriaknya yang semangat sampai mengepalkan tangannya dan memukulkannya ke atas. Kini dirinya berdiri dengan semangat sembari menganggukkan kepala.
"Eh? Ah, yo-yosh!" Aku tersentak dengan perubahan mood-nya yang mendadak ini sampai kebingungan menjawabnya.
Alviria pun langsung menarikku ke ruang ganti baju terdekat lalu ia segera keluar dari ruangan itu sambil berkata "Tunggu di sini ya!" dan segera berlari dari sana. Sepuluh menit kemudian dia kembali membawa beberapa pakaian bersamanya dengan ekspresi antusiasnya.
"Woghhh!! Ada kerlipan bintang rasanya di matamu," ucapku yang berlagak kesilauan dengan nada yang menggodai antusiasme dari dirinya.
"Bukan bintang! Tapi kusebut sebagai 'semangat muda!' begitulah, MWEHEHEH," jawabnya dengan nada berapi-api seperti anak kecil yang hanyut dalam perannya.
"Pffft... Kamu malah kedengaran kayak nenek-nenek. Jadi, ini yang harus kucobain dulu?" tanyaku sembari mengambil salah satu set pakaian dari tangannya.
"Hum hum!" Angguk Alviria dengan cepat. "Kutunggu di luar ya! Buruan ganti."
Terdapat cermin di ruang gantinya, setelah siap berganti aku segera bercermin dan memperhatikan pakaiannya. Hm... lagi-lagi harus kuakui bahwa seleranya Alviria memang bagus, kali ini ia memilihkanku sebuah cold shoulder cropped blouse berwarna putih dengan tali yang dikalungkan ke leher hingga membentuk bentuk V yang terbalik pada bajunya dan juga sebuah mini pencil skirt hitam. Set ini cocok dengan tubuhku, aku pun keluar dari balik tirai untuk menunjukkan pakaian yang kukenakan pada Alviria.
"Gi-gimana?" tanyaku pada Alviria.
"Wuoooohh!!! Cantiiik!!!" ucapnya sambil bertepuk tangan. "Dan sedikit seksi." tambahnya sambil mengedipkan mata kirinya. Aku pun langsung mengambil set baju yang lain dan segera masuk kembali ke ruang ganti sambil mendengus kesal.
"Udah yah? Yuk pulang," teriakku dari balik tirai yang kemudian saat kulihat di cermin, pipiku terlihat merah padam. "Dasar anak itu!" umpatku.
"Jangan donggg! Masih banyak loh baju-baju yang sudah kupilihin khusus untukmu!" balasnya.
"Haaaah... oke, selanjutnya." Hmmm.. sebuah kemeja berlengan pendek yang berwarna cokelat dan ... ruffle skirt berwarna hitam dengan sedikit motif polkadot putih yang pudar. Oh, ternyata ada tali pingang besar yang berwarna hitam dan sebuah cardigan putih. Setelah kupakai seluruh setnya, tali pinggang tadi jadi terlihat seperti sebuah pita di pinggangku.
Saat keluar dari ruangan, Alviria menyodorkan sebuah kacamata hitam dan sebuah.. buku? Hah? Dari mana ia mendapatkan barang-barang ini? "Humm? Ayo pakaiii," ucap Alviria sambil memberikanku kacamata jenis cat-eye yang berwarna hitam dan buku tersebut.
"Gi-gimana?" ucapku setelah memakai kacamatanya sambil memegang erat buku tersebut di dekat mulutku, sumpah ini memalukan sekali.
"Whoahhh!!! Gemess bangett aaAAA!!!" pekiknya sembari mendekap mulutnya untuk meredam suaranya.
"Aku langsung ganti ke selanjutnya ya!"
"Eh tunggu-tunggu-tungguuu..." tahannya "APAKAH ADA SEORANG FOTOGRAFER DI SINIIII? TOLONG DONG FOTOI- ACK!" ucapannya terhenti karena buku ini mendarat tepat di mukanya.
"B-BEGO!" Pekikku sehabis melempar buku tersebut.
Aku pun menutup tirainya dengan kasar dan segera mencoba beberapa sisa pakaian. Tidak terasa sudah dua jam berlalu hanya untuk mencoba berbagai set pakaian yang ia sarankan, sampai akhirnya tersisa satu lagi set pakaian. Saat kuperhatikan lagi set pakaian terakhir tersebut, ternyata merupakan sesuatu yang tidak terduga.
"Bi-bi-bikini?!" bisikku karena malu. Aku sangat ingin menolak yang ini, tapi jika aku menolaknya maka sebuah perdebatan yang sia-sia akan terjadi dan sudah tidak banyak lagi energi yang tersisa di diriku karena sudah DUA JAM aku meladeninya. Haaaah... yasudahlah..
Aku memberanikan diri untuk bercermin dengan bikini ini. Saat kuperhatikan di cermin ternyata ini bukanlah sebuah bikini, melainkan onepiece hitam yang terbuka di bagian samping badannya. Tidak hanya itu, kain di bagian depannya begitu tipis hingga pusarku kelihatan. Namun, ini terlihat lucu dan... seksi?
AAAAAAA apa yang kupikirkan?! Tidakk. Okey, ayo Eril segera selesaikan hal ini. Akupun membuka tirai dan menunjukkannya pada Alviria. "Wahhh, mukamu seperti cumi rebus," celetuknya. Wajahku semakin memanas, dan langsung menutup kembali tirainya.
Dasar! Alviria bego! Dasar! Dasar! Aghhh! "Erilll kamu terlihat lucu dan... sangaaat seksi kok" teriaknya dibalik tirai.
"Veraaaaa cukuppp!" bentakku padanya.
__ADS_1
"Huh aneh, padahal aku hanya ingin memujinya," gumamnya yang terdengar olehku. "Yasudah, buruan gantinya yaa!" tambahnya.