Lembar!!

Lembar!!
EPISODE 9


__ADS_3

๐™ท๐šŠ๐š™๐š™๐šข ๐š๐šŽ๐šŠ๐š๐š’๐š—๐š โ™กโ™กโ™ก


Di lagi yang gelap, lebih tepatnya masih dini hari, seorang perempuan tengah tertidur dengan sangat pulas.


"Kak, Bangun"


"Zzzzzzzz..."


Seorang adik kecil mengetuk untuk kamar tersebut, ia mengetuk dengan keras.


"Bangun Kakak"


"Ngooook"


Sang adik pun emosi dan mendobrak pintu kamar sang Kakak hingga lepas dari tempat nya.


"Kak Bangun!!!!"


"NGROOOOK!!"


"BANGUN KAKAK LAK*AT!!"


***Brak..


Bruk***..


Yap, tentu saja Aluka tak akan bangun, bahkan dari hidungnya tampak darah mengalir segar.


"DEK, KOQ BERISIK?"


"KAKAK GAK MAU BANGUN BUNA!!"


"PANGGIL TETEH!!"


"TETEH!!!"


Aluka mengernyitkan dahinya tanda tidurnya terganggu oleh suara para hew-- keluarganya yang berkomunikasi dengan memakai toa.


"Kenapa?"


"Kamu Nanyak?"


"Lama lama gue sate juga lu"


"Ampun, Kakak gak mau bangun Teh"


Perempuan dewasa yang dipanggil 'Teteh' itu melirik ke arah adik kedua nya.


"N*jir, Ampe berdarah"


"Lagian Kakak, padahal udah aku lempar barbel punya Abang tai gak mempan"


Sang Teteh mendekatkan wajahnya ke telinga Aluka.


"Man Rabbuka"


""NGOOOK NGOOOK NGOOOK"


Mengetahui bahwa sang adik tak akan bangun ia segera pergi ke luar dan menarik adik kecilnya itu.


"Teh?"


"Ambil Panci Buna"

__ADS_1


Dengan polosnya dia mengangguk dan berlari mengambil panci sang Ibu dan kembali ke dirinya sembari membawa panci besar yang terbuat dari stainless.


"Dah sana kau mandi, siap siap sekolah"


"Tapi Teh--"


"Gak ada, udah cepet mandi siap siap sekolah terus"


Dengan pasrah sang adik mengangguk dan berjalan pergi.


"Dek, bangun kalo gak Lo gue gebuk"


"zzzzzzzzzzzzzzzzz"


"Huft... Yaudah"


Ia mengambil ancang ancang, tangannya terangkat ke udara dan meluncurkan serangan.


"Nawaitu bangunin Aluka lillahita'ala!!"


Bang!!


//Tetep gak bangun//


"TETEH, PANCI BUNA KEMANA?"


"GAK TAU BUNA!!"


//Melihat panci yang sudah penyok///


"Dek, Buna bikin mie goreng, telornya 10"


Zt!!


"Mana yang apa?"


"Mie gorengnya Buna"


"Lah? Buna belum bikin, soalnya pancinya ilang entah kemana"


"Panci, Buna?"


Mereka melirik ke ambang pintu kamar Aluka yang kini Teteh tengah berjalan sambil membawa sebuah panci yang sudah penyok.


"Giliran Mie aja, cepet ya Bun"


"Teh, itu ngapa Panci Buna ada di Teteh??"


//Sontak melihat kearah panci bersamaan//


//Loading//


"TETEH!! ITU PANCI KESAYANGAN BUNA!!"


"EH?!!!!"


"HUAAAAA INI TUH LIMITED EDITION TAU!! MANA HARGA NYA MAHAL PULA!!"


(Padahal dapetnya tiba tiba karna ketimpuk panci terbang)


"MAAP BUNA, LAGIAN ALUKA SUSAH DIBANGUNIN!!"


Alhasil untuk Teteh dikurangi setengah untuk membeli kembali Panci milik sang Ibu yang sudah dirusaknya.

__ADS_1


"Lagian sih Lo, Dek"


"Nani?? koq salahin aqu"


"Siapa suruh susah bangunnya, lagian Lo kan juga masuknya pagi kalo hari Senin, telat meninggal Lo nanti"


"Tapi kan hari ini hari Minggu, Teh"


//Terdiam//


"Dahlah"


...||LEMBAR||...


"Yuka!! main yok!!"


"Yuka ijin maen ya Umi!!"


"Heh!! CUCI BAJU DULU!!"


"NANTI PULANG MAEN!!"


Aluka dan Yuka bertos-an bersama.


"Kau ngajak yang lain kah?"


"Entah, tadi sih kata Kao bakal nyusul"


Mereka duduk sembari memakan es krim di bawah pohon yang teduh hingga 30 menit mereka menunggu tak ada siapa pun yang datang.


"Oasu lah! yang lain pada kemana N*Jing!!"


"Entahlah"


Mereka menunggu lagi selama 10 menit.


"Udah, maen duluan aja dah"


"y"


Mereka duluan maen namun siapa sangka di sebrang sana 3 orang lelaki sedang menunggu.


"Kemana mereka??"


"Tau, udah cape nungguin"


"Lo yakin nunggunya disini? siapa tau mereka di tempat lain"


"Kata Alu, 'Di bawah pohon yang teduh di lapangan yak!!' gitu katanya"


"Yodah maen duluan aja"


Jadilah maen bersama mereka gagal karna salahnya informasi yang didapat oleh Kao.


------------------------------------------------


...**Like...


Komen


Share


Follow

__ADS_1


TBC**..


__ADS_2