
Let's get to the start it!!
๐ท๐๐๐๐ข ๐๐๐๐๐๐๐ โกโกโก
"Btw, gimana caranya kamu bisa masuk? kan di tutup gerbangnya"
2 sahabat sedang berbincang bincang selagi merasakan angin berhembus lembut menyentuh kulit mereka.
"Oh, aku lari, kamu tau kan Ka, kalo misalnya aku jago lari"Ucap perempuan berkerudung tersebut.
"Ternyata enak ya punya badan kecil kayak kamu, Al"
Ohok!!
Karna tusukan maut tersebut, roti lapis yang dipegang Aluka jatuh dan mengenai kepala seorang laki laki.
"Heh, itu yang diatas!"
"Nj*r gawat, Maap Ki, Ga sengaja, gara gara Yuka nih!"
"Weh!? Koq ane??"
"Awas Lo ya"
Lelaki bersurai emas itu berlari cepat menuju ke tempat mereka, Aluka segera bergegas pergi sebelum ia datang.
"Eh Aluka?! jangan tinggalin gue dewek!"
"Maap pren, saya harus pergi dulu"
Saat sampai, yang dia lihat hanya ada Yuka di sana.
"Mana Aluka?"
"Pergi no ke sana"
Segera Ia melanjutkan larinya mengejar perempuan tersebut yang sudah semakin mengecil (bukan badannya secara langsung gitu, tapi karna makin jauh)
"Ngapain Kiki ngejar Aluka?"
"Heh, gue kira siapa, tadi Aluka jatuhin sandwich ke kepala Kiki"
"Oh, ketangkep juga noh"
Yuka melirik ke bawah dan dilihatnya sang teman sedang di tahan oleh lelaki bernama Kiki.
"Harus tanggung jawab, sayang.."
"Hueek.. Sayang pala mu!"
(muntah pelangi)
"Kan bahasa dekat, gimana sih? intinya nih liat"
Aluka melirik kepala Kiki sejenak lalu memalingkan kepalanya.
"Gak mau, lagian ngapain Lo ada di sana?"
Aluka melihat orang yang tampaknya dapat menyelamatkan dirinya, seorang lelaki yang sudah dia anggap anak sendi-- eh keluarga
(dikira iklan Malika)
"Huweeee Tara, bantuin gue"
"Kenapa ini?"
Yuka dan Kao melihat dari atas tanpa ada niatan ikut campur sama sekali.
"Btw, Kai pinjemin contekan biologi ya"
(Kao is disapper)
"Lah mana anak itu?"
Di bawah sana, akhirnya Tara lah yang membersihkan kotoran di kepala Kiki membuat sang empu ngambek dengan memonyongkan bibirnya.
"Padahal kan mau sama Aluka"Gumam lelaki tersebut.
"Makasih, Bapak"
Aluka segera pergi setelah membungkukkan badannya.
"Kalo modus jangan sama Aluka"
__ADS_1
"Ampun bang jago.."
...||LEMBAR||...
"Kao, kasih contekan pliss"
"Gk"
"Kan Aluka juga minta"
"Bodo amat, not my business"
Gak ngerti bahasa Inggris anj*it-Yuka
Jam istirahat selesai, mereka langsung menyerbu kelas dan kantin keadaannya sudah kembali menjadi kuburan, hanya ada bungkus makanan yang berterbangan.
"Aluka... jangan marah sama aku ya?"
Aluka sedari tadi tak berbicara sama sekali dengan Kiki.
"Aluka... Maap"
"Oh ya, Tara udah ngerjain tugas biologi gak? bagi donk?"
Aluka tampak mengacuhkan temannya tersebut, memang sih tadi Kiki agak sarkas.
"Aluka nanti aku beliin bakpao"
"Apaan, Kiki?"
Weh lah, bakpao lebih mempan dari memelas-Kiki
"Maaf ya? Tadi aku cuma bercanda.."
Aluka mengangguk dan memalingkan wajahnya lagi untuk menyalin jawaban pr biologi milik Tara.
"Aluka, bagi donk"Yuka pun datang dan duduk di sebelah Aluka dengan santai dan ikut menyalin tugas biologi tersebut.
Setelah proses salin menyalinnya selesai, Aluka mengembalikan buku tersebut ke Tara dan memasang senyum di wajah sebagai kata terima kasih
"Sama sama"
Tanpa menurunkan senyuman, ia menatap ke arah Kiki.
"Hei, jangan lupa bakpaonya"
"Siip"
Sang guru masuk ke dalam kelas dan mendapati kelas yang seperti waktu berhenti.
"Kembali ke tempat"
Mereka bergegas kembali ke tempat masing masing untuk membuka buku biologi mereka, ya untuk belajar lah, nanya lagi..
"Pr kemarin dikumpulkan kecuali Kao"
"Koq?"
"Karna Udah pasti dia seratus, pusing bapak"
Mereka menatap tajam Kao dan yang ditatap bersiul seakan akan tak terjadi apa apa.
"Ketidak Adilan"
Aluka dan Yuka mengangguk menanggapi perkataan Tara yang ada benarnya.
"Sudah cepat kumpulkan, lama banget"
Mereka mengumpulkan buku PR dan dilanjutkannya pelajaran mereka.
Sampai sesuatu terjadi...
"Alu... hadep sini donk"
Aluka menoleh kearah namanya dipanggil dan tiba tiba sesuatu yang dingin menempel di pipinya.
"Apa yang?--"
Aluka melihat pipinya yang sekarang sudah terdapat coretan berwarna hitam yang tentunya menggunakan tinta.
"hahahaha Kena!"
Muncul perempatan di wajahnya dan tiba tiba Aluka berdiri dan berjalan ke meja guru.
__ADS_1
Sang Guru pun terfokus pada apa yang akan dilakukan Aluka selanjutnya dan siapa sangka? ia mengambil penghapus papan tulis lalu..
Plak.. Boom!
Penghapus itu tepat mendarat di wajah Qarisya dan membuat wajahnya seketika menghitam.
"Ohok ohok.. Aluka!"
Aluka tersenyum puas, namun ia merasakan sesuatu yang membuat punggung nya terasa panas.
"Ekhem, Aluka?"
"Maaf Bu, cuma mau itu aja koq"
Seisi kelas menahan gelak tawa, hanya Aluka saja yang berani seperti itu kepada teman sekelasnya di hadapan para Guru, karna pastinya Tara akan menyogok para guru agar tak menghukum dirinya.
"Aluka!! hueee muka gw jadi item semua !!"Qarisya segera berlari ke kamar mandi, niatnya mau bercanda malah apes sendiri kena ultimatum dari Aluka.
"Heh, kau ini ya, duduk dan kerjakan tugas mu!"
"Baik, Pak Guru"
Aluka mendaratkan tubuhnya di kursi dan segera mengerjakan, walau sesekali ia melirik tempat Yuka mengerjakan tugasnya yang tentunya Yuka dapat jawabannya dari Tara.
Kao? Dia sudah selesai sejak sang Guru selesai menulis tugasnya di papan tulis.
Toh dia tak diwajibkan
"Kao, tukeran tempat yok"
"Gak mau gak suka gelay"
Yuka melirik perbincangan Kao dengan Classmate nya, yang membuat dirinya mendelik kesal.
"Iri syekalih..."
Setelah tugas dikumpulkan, mereka menjadi riuh ricu akibat banyaknya anak perempuan yang menggosip, sedangkan anak laki laki ya... menggosip juga.
"Eh nanti kita pulbar ya?"Ucap Yuka membuka pembicaraan.
"Boleh"
"Ikut"
"Aku ikut aja"
"ngikut"
"Sip deh, oh ya kalian gak lupa kan besok hari apa?"
Mereka semua mengedipkan mata cengok kecuali Kao, dan inilah tanggapannya.
"Hari ultah guru kan? beres, udah syiap koq"
Semua anak terdiam dan menjadi ricuh kembali namun dengan suara samar samar dapat di dengar.
"Hei, kalian ngobrolin apa sih? koq gak ngajak Bu Guru sih?"
Mereka menengok dan tersenyum.
"Bu Guru, kita kira kado buat Pak Anton apa ya? Besok ultahnya soalnya.."
"Oh apa aja, kan sesuai keikhlasan kalian dalam memberinya"
"Ya contohnya?"
Sang guru tampak berpose sedang berpikir. Semua murid menanti jawabannya kecuali Kao and the geng.
"Jadi kita hadiahin Kue buatan Tara? patungan donk?"
"Kalian gantinya besok aja, aku ada koq buat nalangin"
"Oke deh! kalo gitu kue ya, yang gede biar bisa makan sekelas "
Tara besweat drop sambil mengiyakan ucapan Kiki.
"Kalian...mau ku foto gak? nanti ya pas istirahat ke dua! wajib kalo yang gak ikut gak kuanggap sahabat"ucap Yuka penuh penegasan.
"Siapa yang sahabat mu?"
"Kalian jahat.."
**Semoga suka ya..!
__ADS_1
Stay tune in my novel!
LEMBAR**