LETHIFEROUS

LETHIFEROUS
1. KUTUKAN SELENA


__ADS_3

Bulan purnama berdarah tampak dengan anggun dan berani di langit malam. Tidak ada hujan bulan ini. Hanya angin yang berembus dengan kencang, menerpa ranting pepohonan dan menimbulkan suara kemeresak kasar. Awan gelap menutupi sang Luna dengan perlahan, seiring dengan suara tangisan bayi yang tiba-tiba saja menggema, memecah keheningan.


Tangisan kejar itu berasal dari sebuah pondok tua di tengah hutan. Orang-orang tidak pernah menyambanginya karena banyaknya mitos yang beredar soal pemilik pondok tersebut. Hera, namanya. Dan orang-orang mengenalnya sebagai penyihir. Karena itulah dia diusir dari desa dan terpaksa tinggal di pondok tersebut.


Malam ini, tepatnya saat bulan purnama berdarah, Hera melahirkan bayi yang dikandungnya. Tidak pernah ada yang tahu siapa sosok ayah dari bayi perempuan manis tersebut. Kulitnya seputih ibunya. Bibirnya merah, seperti apel yang baru masak.


“Kamu cantik sekali, Sayang,” ucap Hera seraya mengecup kening putrinya yang baru saja dibersihkannya itu.


Ya. Daripada menyusahkan orang lain karena semua warga takut padanya, Hera lebih memilih untuk melahirkan sendiri bayinya. Beruntung, Selena memberkatinya malam ini hingga dia bisa melewati proses menyakitkan itu


seorang diri. Bayi yang diberi nama Fleur itu kini sudah terlelap dalam selimut yang membungkus tubuh mungilnya.


Namun, sesuatu membuat Hera terdiam. Sebuah cahaya kemerahan muncul dari balik selimut yang menyelimuti tubuh Fleur hingga membuat bayi itu menggeliat, lalu menangis. Tangannya menyikap kain tersebut hingga nampak sedikit tubuh mungil bayinya. Sebuah pola rumit terukir dengan sangat apik, tanpa cela, di dada Fleur.


“Ini ….” Hera bergumam, lalu menatap langit yang terlihat di luar jendela pondok yang terbuka. Menampakkan bulan purnama merah yang menaungi langit malam.


Hera kembali menatap putrinya dengan raut wajah cemas. Seolah sudah tahu arti dari segel di dada putrinya, tangan Hera tidak berhenti mengusap lembut pola tersebut. “Selena, apa maumu?” tanyanya, kembali memandangi sang dewi malam di luar sana.


***


Dua puluh tahun berlalu ….


Fleur, bayi perempuan dengan bibir merona itu kini sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat memesona. Kecantikannya menyaingi sang ibu dan yakin saja, jika dia keluar rumah sekarang, akan ada banyak pria yang terpikat padanya. Namun, sejak kelahirannya, Fleur tidak tertarik ke luar pondok. Dia lebih suka membantu Hera meracik obat dari tanaman yang dibudidayakan sang ibu di belakang rumah.


“Ah, sial.” Fleur menggerutu. Dia membuka beberapa kendi berukuran sedang yang tertata rapi di gudang penyimpanan di belakang pondok. Sekian menit tidak menemukan yang dicari, gadis itu mendengkus. Dia bangkit dari posisi berlutut, lalu berjalan menghampiri Hera.


“Ada apa?” Seolah sudah tahu maksud putrinya, Hera langsung menyahut. Dia tengah membereskan dapur.

__ADS_1


“Persediaan kita ada yang habis,” ucap Fleur setengah mengeluh. “Haruskah aku yang mencarinya?” tanyanya kemudian.


Hera menghela napas. “Biar Mama saja nanti,” jawabnya.


“Tapi kendi di tungku tidak bisa menunggu lama, Ma,” eyel Fleur.


Wanita yang masih sibuk mengelap peralatan dapur itu tidak menyahut. Membuat Fleur hanya bisa mendengkus lirih.


“Oke, biar aku yang mencarinya di luar,” ucap Fleur, lantas berbalik meninggalkan sang ibu.


“Fleur!” seru Hera. Namun, panggilannya tidak kunjung membuat anak gadisnya menoleh. “Fleur! Apa yang akan kamu cari di luar sana?”


“Ganoderma, Mama!” seru Fleur yang kini sudah kembali di gudang penyimpanan. “Jamur itu di kebun kita mati karena dimakan Ferguso minggu lalu! Apa Mama lupa?”


Ferguso adalah nama kambing peliharaan Hera. Hewan yang menemani wanita itu pada saat suka dan duka menghampiri. Ferguso hanya mengembik menimpali seruan Fleur. Sementara itu, Hera ke luar pondok dan menuju


gudang. Dia mendapati Fleur telah bersiap dengan tas selempang dengan tongkat sihir terselip di dalamnya.


“Tidak, Ma.” Fleur masih kekeuh. “Mama sedang sibuk, ‘kan? Biar aku saja. Aku akan segera kembali setelah mendapatkannya.”


Hera terdiam. Dia menggenggam tangan putrinya dengan perasaan cemas berkecamuk.


“Ma, aku sudah dua puluh tahun sekarang,” ucap Fleur. “Aku pikir, sudah saatnya aku ke luar rumah.”


Hera mengangguk. Dia menatap Fleur, lantas mengusap kepala putrinya itu. “Kamu harus ingat pesan Mama,” ucapnya. “Jangan pernah mencoba dekat dengan siapa pun, apalagi itu pria.”


Fleur terdiam. Tentu dia ingat dengan pesan Hera yang selalu berulang kali terngiang olehnya. Di usianya yang menginjak 10 tahun, dia pernah bertanya perihal segel di dadanya dan Hera mengatakan jika dirinya terkena kutukan dari Selena. Ibunya itu bilang bahwa dia tidak akan pernah bisa menikah. Jika memaksakan diri, pasangannya akan mati terbakar nanti.

__ADS_1


Gadis itu menghela napas. “Mama tidak perlu khawatir begitu,” ucapnya. “Aku akan pintar-pintar menjaga diri di luar sana.”


Selepas sang ibu mengijinkan, Fleur berpamitan. Sebenarnya, dia tidak percaya dengan ucapan sang ibu terkait kutukan tersebut. Sejak dulu, Hera yang memang mantan penyihir, sempat memuja Selena. Entah apa yang dia perbuat sampai segel yang katanya kutukan itu tersemat di dada putrinya. Namun, Fleur tetap saja meneguhkan hati bahwa kutukan itu tidak ada. Dia masih bisa menikah dengan pria yang dicintainya suatu saat nanti.


***


“Di mana, ya?” gumam gadis 20 tahun itu.


Helaian rambut merahnya tampak menjuntai ke luar dari tudung jubah. Berkibar lembut diterpa angin siang hari. Kilau matahari menyorot iris hijau mata gadis itu. Siapa pun pasti tidak menyangka jika gadis secantik Fleur ternyata adalah putri seorang penyihir. Meski hidup menyendiri, sang ibu juga mengajari dirinya tentang merapal mantera dan beberapa cara bertahan hidup di alam liar ala penyihir. Hal itu berguna bagi dirinya di saat genting seperti ini.


Fleur sesekali berlutut. Tangannya menyibakkan semak yang menutupi bongkahan kayu yang sudah lapuk. Ganoderma biasanya menjadi pathogen bagi tanaman berkayu. Jamur ini menyebabkan pembusukan pada akar dan batang sehingga membuat tanaman cepat mati. Namun, sang ibu sering menggunakannya sebagai pereda nyeri, menurunkan tekanan darah, bahkan penyakit mematikan seperti kanker. Fleur cukup banyak belajar soal tanaman dan jamur obat dari Hera dan dia dengan mudah mencarinya di alam liar jika persediaan di kebun dan di gudang sudah habis—seperti sekarang contohnya.


“Ah, akhirnya!” seru Fleur beberapa saat kemudian.


Mata gadis itu berbinar-binar ketika menemukan sesuatu yang dicarinya. Jamur itu tumbuh dengan baik di salah satu pohon yang sudah mati. Cukup besar pohonnya dan Ganoderma yang tumbuh pun banyak. Fleur mengambilnya satu per satu dengan perasaan bahagia. Sebentar lagi, dia akan pulang membawa jamur-jamur tersebut.


Namun, sebuah suara menghentikan pergerakan tangannya. Geraman lirih dari arah belakang membuat tubuhnya gemetar. Fleur berbalik dengan pelan. Tubuhnya kaku ketika lima ekor serigala telah bersiaga tidak jauh dari posisinya kini.


Satu jamur di genggamannya terlepas dan jatuh mendarat di permukaan tanah begitu saja. Suara gesekan kaki-kaki para serigala mulai terdengar seiring geramannya yang makin keras. Fleur yang masih pemula dalam hal bertahan hidup di alam liar, lantas terduduk seketika.


“A-apa yang kalian inginkan?” tanyanya gemetar dengan satu tangan meraih tongkat sihir dari dalam tas.


Satu ekor serigala yang terlihat memimpin mengaung kencang. Memecah kesunyian hutan dan membuat beberapa ekor burung terbang menyeruak dari sangkar. Serigala bermata keemasan itu menatap tajam ke arah gadis di depannya.


Fleur berhasil meraih tongkat sihir. Dia mengarahkan dengan cepat alat sucinya itu ke depan. “Brenne!”


Cahaya menyilaukan tersorot begitu saja dari ujung tongkat dan terarah pada gerombolan serigala di depannya. Serigala itu memejamkan mata, kecuali satu ekor yang mengaung tadi. Dia kembali mengaung, bahkan lebih keras dari sebelumnya.

__ADS_1


Fleur berdecih. “Sial! Ini tidak mempan!”


***


__ADS_2