LETHIFEROUS

LETHIFEROUS
7 . DI HUTAN


__ADS_3

Fleur beringsut mundur. Matanya menatap lurus ke arah Lycan di depannya. Sesekali, dia melirik ke arah Hans yang sudah berubah menjadi manusia kembali. Luka-luka di sekujur tubuhnya bertambah sekarang.


Hans menatap gadis berambut merah itu. Dia memberi kode yang dimengerti oleh Fleur. Tangannya meraih beberapa potongan kayu. Pria itu berlari, lantas menusukkan potongan kayu berujung tajam di kedua tangannya


tepat di punggung sang Lycan.


Erangan terdengar menggema. Sebelum Lycan itu kembali berkutat pada Fleur, Hans segera menarik lengan gadis itu dan membawanya ke luar dari sana.


***


Keduanya berlari masuk ke hutan di mana atmosfer lembab menguasai. Setidaknya, dengan kemampuan Hans yang bisa mendeteksi lokasi membuat Lycan tadi tidak mengejar mereka. Napas keduanya tersengal. Sementara


itu, Hans bersandar di sebuah batang pohon, meringis meratapi lukanya.


“Hans!”


Fleur bergegas menghampiri pria itu. Dia memeriksa luka-luka Hans.


“Aku tidak apa-apa,” ucap pria itu.


Gadis berambut merah itu menatap Hans. “Bagaimana bisa?” tanyanya. “Lukamu parah!”


“Hanya istirahat, nanti akan sembuh sendiri.” Hans terduduk dan menghirup oksigen banyak-banyak.


Tidak perlu aba-aba, Fleur segera mengeluarkan obat-obatan dari dalam tas dan membubuhkannya ke luka pria berambut hitam itu. Hans sedikit berjengit.


“Ah, sial, perih!” erangnya.


“Aku kan sudah bilang, diobati,” ucap Fleur.


Hans menatap gadis bermata hijau itu. Warna matanya tampak berkilauan terkena temaram bulan malam ini. Sangat cantik, menurutnya.


“Aku berencana membawamu ke desaku,” ucap Hans.


Fleur memasukkan kembali obat-obatannya, lalu memandangi pria berambut hitam itu. “Untuk apa?” tanyanya.

__ADS_1


“Untuk memastikan soal kutukanmu itu,” jawab pria bermata biru tersebut. “Mungkin saja, kita bisa menemukan pemecah kutukannya.”


Gadis berambut merah itu terdiam seraya menunduk. “Kau tidak perlu melakukan ini, Hans,” katanya.


“Aku melakukannya karena inginku, Fleur,” timpal Hans. “Aku ingin menyelamatkanmu.”


Pria itu menyentuh dagu Fleur, membuat gadis itu kembali mengangkat pandangan sendunya. Mendapati sorot mata itu, hati Hans teriris seketika. Betapa tertekannya Fleur selama ini karena kutukan yang bahkan tidak diinginkannya itu.


“Kau bersedia, ‘kan?” lirih pria tersebut.


Fleur terdiam dan mengangguk. “Terima kasih,” balasnya. “Aku terlalu banyak merepotkanmu.”


Hans mengukir ceruk di sudut bibir. “Sudah menjadi tanggung jawabku untuk menyelamatkan calon istriku sendiri,” timpalnya.


Tanpa ragu, Hans merengkuh tubuh Fleur dan membawanya ke dalam pelukan. Perlahan, dia mengusap punggung gadis itu, berusaha memberikan energi positif padanya.


Malam terasa panjang. Udara dingin merasuk ke dalam diri. Area yang terletak di bagian tengah hutan itu mampu melindungi keduanya dari kejaran Lycan tadi. Namun, Hans masih mengawasi sekitar ketika Fleur mulai terlelap di pelukannya. Gadis itu sengaja melepas jubahnya dan meminta Hans untuk menangkupkannya menutupi tubuh mereka.


Hans menatap sang Luna yang terhalang oleh rerimbun ranting pepohonan. Tampak temaram dan sangat indah. Entah kenapa, dia merasa beruntung meski tubuhnya penuh luka. Perjalanannya atas rasa penasaran soal gadis di pesta itu terjawab sudah. Dia telah menemukan sebagian tulang rusuknya yang hilang.


***


“Sedang apa?” tanyanya.


Hans tersentak ketika mendapati Fleur telah duduk di sampingnya. Gadis itu menghirup aroma ayam bakar di atas api unggun. “Aku berburu sebentar tadi,” jawabnya. “Daripada kuberi kau daging anjing, ayam hutan jauh lebih baik.”


Fleur terkekeh. Senyuman yang pertama kali dilihat oleh pria di depannya yang kini tercengang menatapnya. “Aromanya enak,” ucapnya.


Pria bermata biru itu gelagapan. Dia mengangguk dan kembali fokus pada ayam di depannya. “Sebentar lagi matang.”


Beberapa menit kemudian, ayam bakar pun telah siap. Hans memotongnya menjadi beberapa dan memberikannya kepada Fleur. Gadis itu makan dengan lahap. Sepertinya, sudah lama sekali dia tidak makan daging, tampak dari cara makannya yang fokus sampai tidak melihat pria di depannya yang sibuk memperhatikannya sejak tadi.


Hans mengulurkan tangan, menyeka noda di sudut mulut Fleur dan membuat gadis itu berhenti mengunyah. “Pelan-pelan makannya,” ucapnya.


Fleur hanya tersenyum menimpali. Dia kembali melanjutkan makannya hingga selesai. Setelahnya, mereka melanjutkan perjalanan menuju ke desa milik Hans. Menyusuri hutan berdua. Sesekali mereka mengobrol, memecah keheningan di antara suara serangga hutan.

__ADS_1


“Jadi, apa statusmu di sana?” tanya Fleur sambil menyisir semak di sampingnya.


Hans terdiam. “Aku bukan apa-apa,” jawabnya.


Gadis bermata hijau itu mencebik. “Mustahil,” timpalnya. “Lycan sepertimu, pasti kau adalah Alpha di sana.”


Pria itu kembali terdiam. Dia hanya mendongak, menatap langit hutan. “Mungkin begitu,” jawabnya. “Tapi, aku tidak pernah menganggap kalau diriku Alpha.”


Fleur mengangguk. Sepengetahuannya dari sang ibu, para Lycan hanya memiliki satu pemimpin dan itu Alpha. Dilihat dari gelagat dan perawakannya, pria di sampingnya kini pastilah Alpha yang dimaksud. Hanya saja, mungkin Hans tidak ingin berbangga diri padanya.


Apakah itu salah satu cara menarik perhatian Fleur? Gadis itu tidak mengerti. Terakhir kali, dia hanya jatuh cinta pada James. Namun, setelah peristiwa nahas itu, Fleur tidak pernah lagi percaya akan namanya cinta. Dia hanya ingin hidup dalam kedamaian, tanpa syarat, dan tanpa kutukan.


Sebuah desa mulai terlihat. Rumah-rumah panggung kayu beratap jerami kualitas bagus berjejer dengan rapi. Semua orang melihat kedatangan mereka dan langsung menyambut. Mereka tampak segan pada Hans.


Energi pria itu makin menguat ketika keduanya masuk ke desa dan disambut oleh seorang perempuan berambut putih. Pakaiannya juga bewarna putih, sampai ke matanya pula!


Fleur mengerutkan kening. Belum pernah dia melihat perempuan secantik ini.


“Dari mana saja kau, Hans?” tanya perempuan tersebut.


Hans menghela napas. “Maafkan aku, Zevanya,” ucapnya, lalu menoleh ke arah Fleur. Gadis itu menatapnya ambigu.


Zevanya pun turut mengarahkan pandangan pada gadis berambut merah di depannya, lalu kembali menatap Hans. “Ke mana pakaianmu?” tanyanya. “Masuk ke rumah dan benahi penampilanmu!”


Pria bermata biru itu mendengkus. Dia menarik lengan Fleur dan mengajaknya masuk ke sebuah rumah. Zevanya yang melihatnya lantas menepis tangan pria tersebut. Sementara itu, Fleur memicing. Entah apa yang ada dalam pikiran perempuan serba putih itu, sudah seperti mate Hans saja.


“Siapa dia?” tanya Zevanya ketus.


Hans menatap Fleur, lalu kembali memandang Zevanya. “Bukan urusanmu!”


“Kau tidak boleh membawa sembarang orang masuk ke rumah, Hans!” tegur perempuan berambut putih tersebut.


Pria bermata biru itu menghela napas. “Dia mate-ku,” timpalnya menatap lurus ke arah Zevanya.


Perempuan itu sontak terdiam. Terkejut dengan pernyataan Hans barusan. Sampai akhirnya, pria itu benar-benar membawa masuk Fleur ke rumah dan meninggalkannya di teras. Zavanya mendengkus.

__ADS_1


“Mate? Serius?”


***


__ADS_2