
Fleur menggeleng. Mata hijaunya menatap pria berperangai tegas, tetapi lembut itu. Dia beringsut, menjauh dari Hans seketika.
“Tidak, tidak mungkin,” gumamnya. “Mana mungkin kalau aku ….”
Sementara itu, Hans memandang gadis berambut merah itu amat dalam. Sebenarnya, dia berharap kalau Fleur menerimanya. Namun, sepertinya harapannya mulai pupus perlahan. Tubuh Fleur gemetar, lebih gemetar dari tadi.
Sepertinya, gadis itu menyimpan sebuah rahasia.
“Kau kenapa?” tanya Hans hendak menyentuh pundak Fleur, tetapi urung karena gadis itu makin menjauh darinya.
“A-aku minta maaf,” ucap Fleur. Dia bergegas membereskan obat-obatan ke dalam tas. “A-aku harus segera pergi.”
Hans sontak menahan pergerakan gadis itu. Cekalan tangannya sangat erat, tetapi Fleur bisa merasakan kelembutan di sana. Pria itu tidak ingin dirinya pergi.
“Urusanku sudah selesai, Hans,” ucap gadis berambut merah tersebut. “Aku harus segera pergi sebelum orang-orang kembali mengejarku.”
Pria berambut hitam itu menghela napas. “Pergilah bersamaku,” ucapnya.
Fleur lantas berhenti. Perban yang hendak dimasukkannya ke tas, tertahan di genggaman. Dia menggeleng gemetar.
“Aku … aku tidak bisa,” lirihnya kembali terduduk dan tertunduk.
“Kenapa?” tanya Hans.
“Aku takut kutukan itu membunuhmu.”
Hans meneguk saliva. Mata birunya yang secerah langit tampak berkilat. Dia mengangguk paham, lalu melepaskan cekalannya di lengan Fleur. Namun, gadis itu justru menoleh ke arahnya, menyiratkan banyak arti pada sebuah tatapannya.
“Aku tidak peduli,” ucap Hans.
Fleur merasa seluruh waktunya direngkuh sosok pria di depannya. Dia terpaku dalam diam.
“Aku tidak peduli, Fleur,” ulang Hans. “Kalau kutukan itu bekerja padaku, seharusnya aku sudah menjadi debu sejak menyelamatkanmu tadi.”
Kali ini, gadis bermata hijau itu yang meneguk liur. Pernyataan Hans ada benarnya. Setelah dia menceritakan kisah hidupnya kepada pria itu, entah kenapa rasanya beban dalam benak sedikit berkurang. Namun, dia tetap saja takut. Takut kalau kutukan dari Selena justru melenyapkan pria yang dia lihat di visi tadi merupakan calon pasangan hidupnya itu.
“Tapi ….” Fleur melirih. Rasanya, dia sendiri juga sedikit memercayai ucapan Hans. “Tapi, meskipun aku tahu bahwa aku adalah pasanganmu ….”
Gadis itu memandang Hans sangat dalam. Membuat sorot kedua pasang mata berbeda warna itu penuh dengan ambiguitas.
__ADS_1
“Aku takut menikah,” lanjut gadis tersebut.
Hans menghela napas panjang. Dia mengangguk kembali. “Aku mengerti,” ucapnya. “Tapi, untuk alasan apa Selena mengutukmu? Memangnya, kau pernah berbuat apa?”
Fleur menggeleng pelan. “Tanda kutukan ini sudah ada sejak aku dilahirkan,” jawabnya seraya menyentuh dada, tempat di mana segel itu berada. “Ibuku hanya mengatakan sesuatu yang sebelumnya tidak kupercaya, sebelum akhirnya aku melihat semuanya di depan mataku.”
Perlahan, air mata Fleur menitik membasahi pipi. Hans dengan pelan menyeka butiran air tersebut. Rasanya, dia tidak ingin melihat gadis yang merupakan pasangannya itu menangis begini. Hatinya terasa teriris seketika.
Tanpa sadar, Fleur menangis. Dia menutupi wajah dengan tangan karena malu, malu terhadap takdirnya yang sangat tragis. Siapa pun ingin bertemu dengan pasangannya dan menikah, lalu menghabiskan sisa hidup bersama,
‘kan? Namun, bagaimana dengan dirinya? Meski dia bisa menikah dengan Hans karena takdir yang disebut mate itu, tetapi bagaimana jika Hans hendak menyentuhnya? Bagaimana nanti kalau pria itu bernasib sama dengan pria-pria lain?
Hans lantas merengkuh tubuh mungil Fleur dan membawanya ke dalam pelukan. Bahunya sangat kokoh dan cukup besar, sangat nyaman sebagai tempat bersandar. Dia mengusap pelan punggung gadis tersebut.
“Aku tidak peduli,” ucap pria itu. “Aku tidak percaya dengan kutukan yang diberikan oleh sang pembawa takdir itu sendiri.”
Tangis Fleur makin menjadi-jadi. Sudah lama dia tidak meneteskan air mata sedramatis ini. Terakhir, dia menangis karena Hera meninggalkannya untuk selamanya. Dan kali ini, dia menangis karena meratapi takdirnya sendiri. Miris.
***
Hans terdiam sambil menatap langit di luar gua. Mulut gua yang cukup kecil dan tertutupi oleh tanaman merambat memungkinkan mereka bersembunyi di sana amat lama. Orang-orang tadi pasti enggan mengejar keduanya setelah diserang oleh kawanan serigala yang dipanggil Hans.
dekatnya.
Sejak menangis tadi, Fleur sama sekali tidak melepaskan pelukan yang diberikan oleh Hans sampai dia tertidur. Hal itu membuat Hans berpikir berkali lipat untuk percaya dengan kutukan Selena yang diceritakan oleh Fleur. Seolah, Selena memang benar-benar ingin mempertemukan Fleur dengan orang yang tepat dan tidak terpengaruh oleh kutukan yang diberikannya.
Hans berdecak lirih. “Untuk apa?” gumamnya. “Aneh sekali!”
Pria itu keluar gua demi mencari beberapa potong kayu kering yang akan digunakannya untuk membuat api unggun. Kalau saja jarak dari gua ke perkampungannya sedikit lebih dekat, maka bisa saja pria itu menggendong
Fleur ke sana dan bertemu seseorang. Namun, luka di lengannya yang belum sembuh benar hanya bisa membuat pergerakannya terbatas. Hans juga masih belum bisa menyakinkan gadis berambut merah itu untuk turut serta dengannya.
Bentuk bulan yang masih separuh seolah membuat Hans teringat kembali dengan kutukan Selena. Bagaimana bisa?
“Argh! Makin kupikirkan, malah makin suram!” keluhnya. “Lagipula, untuk apa dan dengan alasan apa? Kenapa bisa begitu?”
Makin lama dipikir, lama-lama otak Hans penuh juga. Dia mendengkus, berusaha menetralisir kebingungannya sekarang. Namun, baru saja dia hendak kembali, tiba-tiba sebuah teriakan mengurai fokusnya.
Hans menoleh ke asal suara. “Fleur!”
__ADS_1
Pria itu langsung berlari begitu saja, masih membawa tumpukan kayu kering di salah satu tangannya. Seharusnya dia tidak lupa kalau gua liar di hutan itu bisa jadi sarang bagi hewan-hewan buas lainnya. Sial! Dia tidak ingin terjadi apa pun pada gadis yang merupakan calon istrinya itu!
“Fleur!!!”
Hans memekik. Teriakannya membelah kegelapan hutan. Sampai ketika dia berada di mulut gua, sebuah teriakan dari dalam kembali bersua. Hans masuk ke sana dan mendapati seekor Lycan berbulu berantakan tengah mengungkung gadisnya.
Pria itu melompat, lantas menusukkan salah satu batang kayu tepat di punggung si Lycan hingga makhluk itu beringsut mundur. Serigala itu mengaung dengan kasar. Mata merahnya tampak berkilat.
Hans berdecih. “Sial, mata merah,” gumamnya, lalu melihat ke arah Fleur yang meringkuk ketakutan.
Namun, belum sempat dia mendekati gadis berambut merah itu, Lycan tadi meraung dan menyambarnya seketika. Fleur memelotot ketika menyadari sosok penyelamatnya adalah Hans.
“Hans!!!” pekiknya histeris. Ketakutannya terhadap sentuhan bukan tanpa alasan. Namun, kali ini, rasanya dia harus bergantian menolong pria itu karena Hans mungkin saja tidak bisa berubah menjadi Lycan kembali karena lukanya belum sembuh benar.
Namun ….
Sekian detik kemudian, aungan keras dan panjang terdengar. Bukan dari mulut sang Lycan pendatang, tetapi dari Hans sendiri yang kini telah berubah sepenuhnya menjadi Lycan berbulu hitam. Mata birunya terlihat berkilat.
“Lari!”
Fleur tersentak. Hans seperti mengajaknya bicara melalui … telepati? Dia bahkan tidak pernah menggunakan cara seperti itu selama ini.
“Lari!”
Lycan berbulu cokelat itu mencakar Hans dengan tangannya yang berkuku tajam dan kasar. Hans meraung. Dia membalikkan dan langsung melempar tubuh Lycan itu hingga membentur dinding dan luruh seketika. Hans menghampiri Fleur yang masih terpaku di tempatnya.
“Ada apa denganmu? Larilah!” pintanya masih lewat telepati.
“A-aku ….”
“Fleur!” sentak Hans, membuat gadis bermata hijau itu menyalang.
Belum juga Lycan bermata biru itu membawa lari Fleur, Lycan yang tadi sempat tersungkur kini langsung menyambarnya. Menciptakan suara cairan merah yang muncrat dan mengotori sisi gua. Hans balas mencakar sang
Lycan, tetapi entah kenapa kekuatan Lycan itu lebih kuat dari dirinya yang merupakah Lycan Alpha.
Lycan itu membanting Hans ke salah satu sisi gua. Dia menoleh ke arah Fleur, menampakkan mata merahnya yang bengis.
***
__ADS_1